SATU
“Tifa, gimana photo yang aku kasih kemarin?”
Randi berusaha menjajari langkah Tifa. Pertanyaan yang
dilontarkannya itu gak
terdengar di telinga cewek yang baru saja memasuki gerbang
sekolah dan tengah menikmati
‘Menemukanmu’ milik Seventeen dari earphonenya. Dia
menyentuh lengan kanan cewek itu
dan membuatnya membuka earphone.
Ayunan kaki cewek itu terhenti. Dia menoleh. “Ada apa loe?”
tanya Tifa kepada anak
cowok itu.
“Photo yang aku kasih kemarin.”
Kening cewek itu berkerut, matanya memandangi cowok yang
berada di sisi
kanannya dari atas sampai bawah berulang-ulang dengan mata
menyelidik.
“Kenapa?” tanya anak cowok itu dengan sedikit heran.
Sepertinya cewek
dihadapannya sedikit bingung atau malah lupa sama sekali
kejadian kemarin. Randi merasa
serba salah sendiri melihat reaksi Tifa, dia menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal.
“Gak, tapi ….” Jawaban itu menggantung, membuat Randi
penasaran.
“Gue ganteng hari ini?” tanya Randi mencoba menebak kemungkinan dari reaksi Tifa
yang gak biasanya. Biasanya cewek di depannya itu cepat
tanggap, bahkan bisa disebut super
kilat untuk kecepatannya merespon sesuatu, siapa yang gak
tahu keenceran otak cewek yang
juga sabeum taekwondo itu.
“Bukan, cuma aneh aja, gak biasanya loe pakai kata aku,”
terang Tifa sambil nyengir.
Cewek itu ngeloyor meninggalkan Randi yang bengong.
“Gila loe, Tif! Kirain …. Reaksi loe itu bikin gue speleng pagi-pagi. Lagian sih, ribet
banget.. Kenapa loe mesti jadi senior gue sih?
Aku-kamu-saya, dan kemarin gue setengah
mati mesti bilang saya.” Randi mengejar cewek itu dan merasa
kecele.
“Tapi itu bukan salah gue tahu!” jelas Tifa setelah Randi
berhasil menjajari
langkahnya.
Cowok itu mengangguk-anggukan kepala, ”Iya gue
ngerti, tapi gak enak aja,
habis biasa loe-gue di kelas. Jadi ngerasa ada sedikit jarak.”
“Hah?” tanya Tifa menghentikan langkah lagi, mukanya meyakinkan dengan mimik
heran, ”memang diantara kita ada apa?” Wajah dengan mata
yang dilebarkan dan terlihat
membulat membuat cowok itu sadar kalau Tifa menggodanya.
“Huh, ngeledek aja. Gue cuma mau nanya gimana photo yang
udah gue kasih
kemarin.”
Tifa kembali berjalan lagi. Saat cewek itu berhenti serta-merta Randi pun
menghentikan langkahnya, ketika cewek itu berjalan Randi pun
demikian. Sekarang Tifa
menepuk menepuk keningnya, ”Photo?”
“Iya, photo yang gue kasih kemarin.”
“Iya, aduh gue lupa gak dibawa. Emang itu photo siapa? Kok
diakurin ke buku
anggota, gak ada yang punya wajah itu. Terus kok berwarna?
Kan gue bilang hitam-putih.
Ukurannya juga salah. Lagian namanya juga siapa? Gue lupa nanya kemarin.”
“Namanya Haris, dia teman yang gue ceritain kemarin-kemarin.”
“Oh, yang dibilang anak silat dan sahabat baik loe itu. Pantesan. Terus photo itu buat
apa?”
“Jadi gue salah ya? Gue kira loe mau kenal dekat, karena loe
kemarin-kemarin
antusias banget nanggapinnya,” mimik muka kecewa terlihat
kentara sekali.
“Loe itu udah salah ngasih, sekarang pake ngira gue pengen
kenalan. Sejak kapan loe
jadi gitu, gini … maksud gue gak harus pakai kasih photo
kali, mirip ngelamar kerja aja.
Terus masalah antusias, gue rasa loe lebay. Bukannya setiap
loe cerita gue selalu antusias
nanggapin, ya? ” Tifa yang terus berjalan bersama Randi,
sesekali membalas “hai” atau
sekadar senyum membalas sapaan teman yang lain.
“Gimana menurut loe?”
“Gimana apanya? Jujur gue gak sempat merhatiin lebih,
kemarin cuma ngasih ke
bagian pencatatan, karena gak ada yang cocok terus ….”
“Terus apa?”
“Jadi penghuni tas gue. Tapi bukan tas yang ini, tas yang gue bawa buat latihan.
Tadinya sih niat mau gue balikin. Tapi lihat tampang loe
kusut gitu, gak jadi deh.”
“Terimakasih Seonbae, hyungrye!” Randi berhenti lalu bersikap memberi hormat
dengan membungkuk gaya taekwondo.
“Dasar loe, ini bukan di dojang, kita sepantaran di sini.
Basi!” Sebuah tinju Tifa
melayang pelan ke arah lengan atas lawan bicaranya.
“Sakit, gila! Dasar pendekar!”
“Apa kata loe?”
“Pendekar, pendek dan kekar!”
Anak cowok itu berlari mendahului sengaja meledek Tifa dan
mencoba untuk gak
dapat tinju ke dua.
“Awas ya!” ujar Tifa sambil mengepalkan tangan di depan
mukanya. Dia gak ngejar
Randi, tetap berjalan dan sedikit tertawa kecil.
“Awas apa? Iya deh, gue angkat tangan, ampun … ampun
Sabeum!” Anak laki-laki
itu berhenti gak begitu jauh, hanya sekitar enam langkah,
kemudian mengangakat kedua
tangannya dan bersikap membungkuk memberi hormat tanda
menyerah.
“Dasar jelek! Udah ah, apa-apaan lagi.”
Mereka berdua tertawa. Akhirnya kaki-kaki mereka sampai di
ruang kelas XI.
Percakapan selesai.
Jam istirahat. Randi, nama lengkap anak lelaki itu adalah
Randi Dewana. Siapa yang
gak kenal dia. Dengan tinggi menjulang sekitar seratus tujuh
puluh, kulit bersih dan otak
encer, karena meski baru menginjak semester kedua masuk di
sekolah ini, dia sudah
menyumbang dua medali di kejuaraan KIR antar SMA se-DKI,
ramah sudah pasti, dan yang
paling menonjol adalah dia termasuk dalam daftar cowok yang
pantang buat gak diacuhkan.
“Ajari aku matematika ya, Ran. Please!”
Randi menikmati pemandangan indah di depannya terlalu
serius, jadi waktu Liana
mengetukkan sendok ke gelas, cowok itu sedikit gelagapan dan
mencoba masuk lagi ke
frekuensi yang seharusnya.
“Iya.”
“Iya, apa? Serius kan?” Suara Liana terdengar bersemangat di
telinga Randi.
“Iya, mau. Tapi privat dan ada fee-nya.”
“Tenang saja, aku gak suka yang gratisan karena biasanya gak
bermutu dan tidak
bertanggung jawab.”
“Baiklah, kapan pun. Loe bisa cari nomor telepon gue di
medsos apa pun.”
“Maksudmu?”
“Gue suka murid yang sedikit kreatif, jadi tugas pertama loe
untuk mencari nomor
telepon gue.”
“Baiklah.”
“Langsung terima tantangan gue?”
“Karena aku tahu, kamu orang yang tidak sembarangan menerima
murid les-mu.
Begitu yang kudengar.”
“Dari angin yang berembus? Wah …ternyata gue lumayan
terkenal.”
“Begitulah.”
“Ups, bercanda. Jangan masukin ke hati, tapi gue suka jika
tantangannya loe terima.
Harinya terserah loe, yang penting gak Jumat sama Sabtu. Itu
jatahnya Tifa.”
“Tifa? Oh … iya”
Liana tersenyum getir mendengar nama Tifa disebutkan oleh
Randi. Apa yang
istimewa dari Tifa?
Benar saja sepulang sekolah akhirnya Liana dengan senang
hati menyalakan laptonya,
sambil tetap mengenakan seragamnya. Bahkan tasnya masih
penuh dengan buku dan PR
yang mungkin akan disentuh setelah pencarian nomor telepon
Randi, atau paling parah akan
dikerjakan besok.
Dinyalakannya laptop itu, klik ini klik itu akhirnya
sekarang dia masuk di jejaring
sosial facebook. Setelah sempat membaca beberapa notif yang
masuk, lalu memeriksa jempol














Komentar
Posting Komentar