Cerpen ini dimuat di
KORAN PANTURA PROBOLINGGO, dan termasuk salah satu cerpen yang dikumpulkan
dalam buku MEMBACA MATAMU.
Paket
Lebaran
BLOG NURLAELI UMAR- Kopi
di cangkirnya belum habis, bapak mulai lagi dengan ocehan bangganya, dan itu menyakitiku.
Sebuah photo berukuran sedang diberikanya padaku, seseorang.tampak cantik sekali
dengan senyum menawan di sana. Kepalanya bertoga--sebuah benda yang selama ini menghantui
mimpiku dan aku tak pernah bisa menjangkaunya. Tertera di bawahnya keterangan
wisuda bla-bal-bla lengkap dengan tanggal dan lokasi wisudannya.
Masih belum cukup
membanggakan anak orang yang notabene adalah temansebangkuku sewaktu masih SD,
bapak menunjuk sebuah kardus yang masih tersegel dengan perekat kertas berwarna
sama dengan warna kardusnya. Itu bukan segel dari pabrik, tetapi kardus bekas
yang disegel sendiri dengan rapi.
“Itu paket lebaran yang
dititipkan oleh Lina kepada bapaknya sebagai hadiah atas jasa bapakmu menolong
mereka.”
Mamak pernah bercerita jika bapak
diminta oleh bapaknya Lina membantu agar anaknya dapat lulus masuk ke sebuah
persaingan mendapatkan kedudukan. Aku tidak begitu tertarik, apalagi cerita itu
sampai di telingaku setelah Lina benar-benar masuk dan mendapatkan kedudukan
yang penting.
“Dia bekerja di mana?”
tanyaku mati rasa.
Pernahkah bapak menyadari
kalau kesuksesannya adalah mimpiku yang terampas kemiskinan? Entahlah, dan aku
tidak peduli.
Aku sudah menerima
nasibku yang hanya tamat sampai SMA, dan itu pun sampai berdarah-darah. Adikku
mesti menjalani kehidupan keras sebelum masanya hanya karena dia ingin aku mendapatkan
ijazah SMA. Setiap Sabtu sore menjadi kernet mengawal dan naik-turunkan barang
dari kota kecil ini menyeberang sampai Lampung.
“Dia menjadi dosen dan
staff ahli di sebuah departemen.”
“Departement store?”
“Apa itu department
store?”
“Pusat perbelanjaan.”
“Tidak, tentu saja tidak.
Untuk bekerja di sebuah tempat kerja seperti katamu itu, untuk apa bapak dan
ibunya memintaku membawanya sowan ke seorang Kyai? Kerja di tempat seperti
katamu itu akan dia dapatkan bahkan tanpa melamar. Kau kan tahu dia itu tamatan
sebuah perguruan tinggi ternama dengan gelar sarjana dan nilainya cum laude.”
“Seharusnya dia percaya
diri dengan potensinya, dan datang ke Kyai itu untuk memantapkan rasa
kehambaannya,” sahutku masih dengan nada dingin.
“Kau itu selalu berpikir
apatis, tidak perlu kita merasa kalah karena memang Bapakmu tidak mampu
menyekolahkanmu. Tapi itu bukan berarti kita berhenti membantu orang lain. Dia
bekerja kepada pemerintah, dan sekarang posisinya membuatnya kerap ke luar
negeri.”
Nada suara itu di satu
sisi membela dirinya sendiri, di sisi yang lain meremehkan tanggung jawab.
Katakan saja aku tidak suka, aku cemburu.
“Apa hebatnya ke luar
negeri, banyak orang melakukannya dan itu biasa. Sekarang ini pergi ke luar
negeri tidak perlu menjadi pejabat, tetangga kita yang tidak bersekolah tinggi pun
sudah menjelajah Hongkong, Singapura, bahkan ke Arab Saudi bertahun yang lalu.”
“Tentu saja itu berbeda,
karena mereka ke sana sebagai buruh, sedang temanmu itu untuk bertugas. Membawa
tugas negara!”
Ingin kukatakan banyak
bahwa mereka yang ke luar negeri untuk menjadi buruh migran itu adalah
penyumbang devisa terbesar dan lebih bermartabat meski beresiko tinggi, daripada
mereka yang ke luar negeri tetapi malah menghabiskan uang negara dan hasilnya belum
tentu, tentang korupsi, tentang pemanfaatan fasilitas yang tidak semestinya,
tapi kuurungkan.
Posisiku bukan sedang
berdebat politik dengan temanku, atau mereka yang bersebrangan pandangan. Aku
sedang berhadapan dengan bapakku dan aku sangat menyesal dengan semuanya.
Terutama paket lebaran itu.
Aku merasa sangat lelah
dengan perjalaan kemarin, dan hari ini tidak ingin memperparah dengan
perdebatan yang tidak akan kumenangkan, kecuali akan membuat susasana besok
pagi menjadi ada jarak.
Aku pulang bukan untuk
itu, terlebih untuk mendengarkan bapak membanggakan orang lain dan
membandingkannya denganku.
Bunyi takbir diiringi
talu bedug terdengar dari toa masjid, kardus itu belum dibuka juga. Benda itu
menjadi begitu keramat bagi bapak. Dia sangat bangga dengan sikapnya yang sering
membantu orang lain. Apalagi jika orang yang dia bantu memberinya tanda mata.
Itu bukan salahnya, aku tahu benar bagaimana dia berusaha tampil sempurna di
depanku.
Iya, aku yang di matanya
tidak pernah merasa bangga karena mempunyai bapak sepertinya. Mungkin perasaan
bersalah karena aku tidak mampu menggapai impianku, mungkin juga karena merasa
berdosa menggantungkan hidupnya kepada aku, ibu, dan adikku.
Aku membiarkannya tanpa
rasa penasaran untuk tahu isinya, dan menyibukkan diri dengan mengangkati
kardus-kardusku sendiri yang belum sempat kupindahkan dari mobil kreditku. Di
sana aku memasukkan keleng-kaleng biskuit yang menurutku mahal dan enak rasanya,
aku juga memasukkan beberapa potong pakaian untuk adikku, mamakku,dan bapakku.
Tidak lupa kubelikan juga kopi dan creamer-nya--bapak pernah menunjuk itu
ketika kami melihat tv dulu.
“Nanti kalau kamu dewasa
dan punya uang sendiri, Bapak mau kamu belikan yang seperti itu. Pasti rasanya
enak.bapak ingin kamu yang beli bukan orang lain.”
Aku menyetujuinya,dan itu
masih saja kuingat. Dan bahkan setiap aku melewati rak- rak swalayan berisi
kopi dan creamernya selalu teringat bapak.
“Banyak sekali barang
bawaanmu, apa kamu membelikannya untuk kami. Bukankah itu memboroskan uang.
Kamu ingat kamu juga punya anak dan suami. Apa kamu memberikannya pada mertuamu
barang yang sama? Itu tidakbaik, maksudku tidak baik jika hanya mementingkan
keluargamu tanpa peduli dengan keluarga suamimu.”
Mamak datang dengan
bajunya yang sedikit basah karena sibuk di dapur, padahal sudah kubilang aku
pulang bukan untuk makan, tapi untuk bertemu dengan mereka, makan apa adanya
saja yang penting tidak merepotkan.
“Tenang saja, Mak. Semua
ada bagiannya tersendiri. Ini mungkin tidak pantas, tapi terimalah sebagai buah
tangan anakmu. Andai punya uang lebih banyak mungkin akan kubelikan yang lebih
banyak dan mewah.”
Kuserahkan sebuah amplop
berisi sedikit uang yang mungkin bisa dipergunakan untuk masa sesudah lebaran.
“Tidak perlu, bukan itu
yang kuharapakan darimu. Tapi kamu baik-baik saja, anak- anakmu sehat, dan bisa
bertemu di lebaran meski tidak harus setiap tahun.”
Aku tersenyum mendengar
perkataan mamak. Tiba-tiba aku teringat kedua anakku yang akan datang besok menyusul
bersama suamiku.
“Iya. Apa Lina selalu
memberikan paket lebaran setiap tahun?”
“Sudah tiga tahun ini,
setiap lebaran.”
“Biasanya apa saja yang
dia berikan.”
Ibu sedikit terkejut
mendengar nada bicaraku. “Bapakmu memang begitu, dia merasa bangga dan itu
menyakitimu. Temanmu itu selalu menanyakanmu jika pulang kampung. Tentang yang
diberikannya ada sarung, biskuit dan amplop.”
Aku mengangguk-angguk,
jadi temanku itu memberikan barang yang sama dengaku. Sudah dua lebaran aku
tidak pulang. Pasti barang-barang itu lebih mahal daripada yang kubeli. Aku
menaksir gajinya karena kudengar rumahnya mewah dan jabatannya tinggi. Aku mendengarnya
dari mamakku. Aku merasa malu, sungguh aku harus mengakui aku kalah dari teman
sebangkuku. Teman yang setiap pagi kutunggu di pintu pagarnya dan kami pergi bersekolah
bersama. Dia beruntung karena bapak dan ibunya mampu membiayai kuliah sampai
bergelar.
Adikku datang dari luar,
melihat kardus-kardus yang kubawa dia berinisiatif untuk membukanya. Bapak yang
kemudian bergabung mengusulkan untuk membuka lebih dulu paket dari temanku.
Ternyata selain mimpiku yang tidak tercapai, aku juga harus mengakui kalah
dengan perhatian bapakku.
Aku tidak pernah mempermasalahkan
ketidakmampuannya memenuhi impianku, meski nilai-nilai sekolahku pantas untuk
mendapatkan masa depan. Aku menyadari dan menerima semuanya sebagai garis
hidup. Aku tidak pernah menyalahkannya atau siapa pun. Tapi kali ini sungguh aku
merasa sedih sekali.
Ibu menatapku, dan aku
menyetujuinya. Bapak tampak senang sekali. Kardus itu diambil dari tempat
semula. Tangan bapak yang membawanya.
“Peso, aku butuh peso
untuk membuka perekat kertasnya.”
“Ini,” kataku. Aku
menjulurkan pisau yang tadinya ingin kugunakan membuka kardus-kardusku.
Satu, dua, tiga. Aku
menghitung sendiri dalam hati. Tiba-tiba aku menjadi penasaran. Ini antara
ingin tahu dan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar melihat bapak begitu
bersemangat dan bahagia.
Aku memerhatikan semuanya
tanpa terlewatkan. Bagaimana bunyi pisau itu mengiris keras kardus itu, lalu
bapak yang tertawa penuh kemenangan dengan membuka dan mengangkat isinya. Ada
tiga kaleng biskuit, dan satu buah sarung, serta sebuah amplop.
Aku meraih kaleng itu,
tangaku gemetar. Kuletakkan kaleng itu ke dalam kardus lagi, kemudian kuambil
sarungnya. Aku semakin terlempar. Sekarang berganti dengan amplop.
“Boleh kubuka?” tanyaku
kepada ibu.
“Buka saja,” bapak
menjawabnya dengan kesombongan yang disembunyikan tapi aku membacanya jelas.
Kutarik napas dalam-dalam
perlahan mencoba tidak terlihat. Amplop itu dilem dan aku merobeknya. Paket
lebaran itu sudah membuatku semakin tenggelam dalam sedih tak berkesudahan. Aku
tidak ingin menunjukkan itu kepada semuanya. Andai suamiku ada di sini sudah
kuhamburkan tangisku padanya.
Paket itu berisi biskuit
murah yang bahkan aku tidak tega untuk memberikannya kepada tetanggaku, lalu
sarung itu, sarung terburuk yang pernah kutemui di pasar. Sedangkan uang dalam
amplop itu. Untuk seorang dengan pangkat tinggi dan sering bepergian ke luar negeri,
bahkan uang itu hanya tips untuk pramusaji sebuah restoran pinggir jalan.
Aku bangun dari dudukku.
Kukatakan aku mengantuk, dan mereka bisa membuka kardus-kardusku tanpa adaku.
Setiap langkahku menujuju kamar terbayang olehku satu per satu wajah dengan
senyum dan toga itu, photo-photo perjalannanya ke luar negeri yang diunggah di
sosial media yang sempat kubuka karena kami berteman, kemudian ekspresi bapak
ketika bercerita tentang dia dengan bangga.
Aku ingin pagi segera
tiba, kami pergi ke masjid kemudian bermaaf-maafan untuk melupakan.Allahhu
akbar, allahhu akbar, allahhu akbar. Laa ila ha ilallahu wallahu akbar.allahu akbar
walillahilhamd.
Komentar
Posting Komentar