BLOG NURLAELI UMAR- Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan dicetak dalam buku kumpulan cerpen MEMBACA MATAMU.
Ayam
Kuah Santan
Oleh;
Nurlaeli Umar
Gadis
kecil itu berharap bapaknya pulang, rindu yang dititipkannya pada bilik bambu
sekujur
rumahnya sebelum dia tertidur berselimut malam harus terlunasi. Tiga hari bukan
perkara
mudah, karena waktu di kepala anak kecil itu terasa lambat berjalan daripada
semestinya.
“Bapakmu
kembali hari ini, apa kau tahu?”
“Iya,
Bu? Bapak bilang akan membelikanku dage.”
“Apa
bedanya dage dengan tempe biasa? Kalau dimakan dengan nasi sama saja
rasanya.”
“Tapi
aku mau dage saja, kalau tidak… besok aku akan ikut Bapak kalau pergi lagi.”
Perempuan yang dipanggil ibu tersenyum menyaksikan keras kepala yang dimilikinya benar-benar telah menurun dari dirinya.
Pukul
setengah empat sore. Seekor ayam jantan yang dimasukkan kedalam keranjang dengan
kepala menyembul menyertai kepulangan bapaknya, ayam jantan hadiah untuk gadis kecil
dari kerabat di kota lain, ayam jantan yang sebentar lagi akan menjadi penghuni
kuali,karena akhirnya gadis kecil itu memaksanya untuk menyembelih, meski
keringat lelah belum tuntas menetes.
“Besok
saja, masih ada hari, Nak,” nasihat Ibunya.
“Aku hanya ingin makan ayam malam ini, kata Bapak itu ayam untukku, jadi aku bisa meminta dipotongnya kapan saja.”
“Besok
saja, masih ada hari lagi dan biarkan Bapakmu menuntaskan lelah.”
“Biar saja, Bu. Ini masih siang, aku bisa beristirahat nanti. Kalau ayam itu harus dipotong, ya… dipotong saja, itu ‘kan ayam miliknya.”
Gadis
kecil itu melihat sisa kucuran darah dan bulu ayam ditimbun dengan tanah. Dia tak
mengira bahwa untuk menikmati ayam berkuah kesukaannya harus ada pembunuhan. Selama
ini dia hanya tahu ayamnya diolah, tanpa melihat langsung kejadiannya. Seribu
sesal bergeming dalam dadanya dan mungkin menjadi tangis yang diam-diam akan
dia gulirkan di bantal nanti, saat orang tuanya tidur.
“Kenapa
terdiam? Makanya jangan suka melihat ayam disembelih, tidak bagus untuk anak-anak
seusiamu, seharusnya ayam itu disembelih besok saat teman bermainmu datang.”
Kepulan
asap bercampur aroma rempah menyebar, melewati dapur, seisi rumah, kisi-kisi
jendela, lubang-lubang kecil di bilik bambu, melintasi pekarangan terserap
dedaunan, dan sebagian lagi menguar liar memasuki hidung-hidung tetangga bahkan
juga kambing-kambing di kandang.
Ashar
bergulir ke Maghrib, lalu menyusul Isya dan akhirnya malam menjelang. Daging
ayam yang empuk berwangi bakaran kayu dan tanak karena panas yang cukup siap menunggu
memasuki kerongkongan.
“Ibu!”
teriaknya gadis kecil itu sambil menghambur ke dapur.
“Ada apa teriak-teriak? Ini ayamnya sudah matang, duduk manis saja."
“Obor!
Di depan rumah, banyak sekali obor.”
“Obor?
Pak …coba lihat!”
Lelaki
yang dipanggil bapak yang sedang menemani istrinya di dapur dan duduk di balai
bambu menikmati lelah, bangkit membetulkan sarung dan berjalan menuju pintu
depan. Satu, dua … bahkan lebih dari dua puluh, hitungnya. Ada apa ini?
“Keluar,
maling! Setan alas!”
Ada
yang tak benar begitu kelebat lelaki yang dipanggil bapak itu. Pintu dibuka, sepasang
tangan langsung mencengkeram leher bajunya.
“Ada
apa ini? Apa salah saya?”
“Apa
salahmu? Dasar maling!”
Sebuah
tendangan menghajar perut Sang Bapak. Laki-laki itu jatuh terlentang.
“Sebentar,
saya mohon!”Lelaki itu memohon, berusaha bangun sambil menahan sakit.
“Ayam?
Benar saya memang sedang memasak ayam, bahkan darah dan bulunya masih ada. Saya
baru membawanya dari perjalanan menemui kerabat saya. Ayam itu milik anak saya,
karena dia minta dipotong, ya saya potong.”
“Coba
kita lihat ayamnya, apa betul itu ayam Kang Yahya yang sore ini tidak pulang?”
Laki-laki
itu berjalan untuk menunjukkan tempat bulu-bulu itu dikubur. Untung belum
sempat dijadikan unggun malam.
“Ayam
saya, ayam jago. Apa punya Kang Yahya juga jago?”
“Tidak
usah banyak bicara. Sudah jelas buktinya benar, bulu dan darah ini, ayo kita arak
ke rumah Kepala Desa. Biar beliau yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuk
maling seperti dia!”
Lelaki
setangah tua yang tiba-tiba menjadi tersangka melirik ke arah seseorang yang sangat
dikenalnya. “Lik Kamin? Sampeyan adalah paman istri saya. Ada apa ini? Tapi baiklah,
saya ganti baju dulu dan pamitan kepada istri saya.”
“Gak
usah, kalau perlu kita telanjangi! Atau kita habisi saja saat ini.” sahut
seseorang entah siapa.
Laki-laki
itu masuk ke rumah, mengganti sarung dengan celana panjang, dan memastikan
kepada dua perempuan yang dicintainya bahwa tidak akan terjadi apa-apa
“Bu?”
“Makan
dulu ayamnya, jangan menangis seperti itu! Bapakmu akan baik-baik saja. Makan,
terus cuci kaki dan gosok gigi, kemudian berdoa. Percaya, bapakmu akan
baik-baik saja.”
“Bagaimana
jika bapakku mati?”
Gadis
kecil itu tidur dengan isakan sesekali yang terdengar menyakitkan, Entah keputusan
apa yang akan dihadapi nanti.
Arakan
obor itu sampai di depan rumah Kepala Desa. Beberapa yang datang terbakar benci
dan ingin menghabisi. Maling memang tidak patut dikasihani!
Semua
masuk memenuhi ruangan. Sang Kepala Desa memakai wibawa di kepalanya, terlihat
berusaha untuk terlihat tenang. Sikapnya menjadi ambigu, antara membela atau mengenyahkan.
Permasalahan
dibuka ikatannya, semua pihak dan bukti memberatkan laki-laki itu, menyudutkan
pada kata salah, tak satu pun yang berniat membela, bahkan saudara!
“Saya
bersumpah, jika saya salah menuduh, saya akan angkat kaki dari kampung ini. Saya
yakin benar, jika dia memang maling! Saya merasa takut sekaligus benci, apalagi
rumah saya paling dekat dengan dia.”
“Tapi
itu berlebih,” sahut laki laki itu, “bahkan selama kita bertetangga, justru
barang- barang dan uang saya yang sering Bapak pinjam. Beberapa bahkan tidak
diakui. Saya ikhlaskan demi kerukunan bertetangga, Pak Joyo.”
“Jangan
mempermalukan saya dengan mengatakan hal yang tidak benar, saya yakin sekali
jika dia yang mencuri ayam Kang Yahya, siapa lagi coba yang masak ayam
sementaraayam tetangga hilang? Ini fakta, bisa dikatakan pengakuan atau
pengumuman secara terbuka.Bukan begitu saudara-saudara?”
Terdengar
bunyi koor mengiyakan ditambahi dengan teriakan, “Usir dia, atau kalauperlu
kita habisi!”
Tidak
ada yang membela, sungguh sebegitu benci atau memang sebaiknya begitu untuk
mempermudah penyelesaian masalah tanpa masalah? Membela berarti cari mati!
Sang
bapak sampai menangis, yang terbayang adalah istri dan anak perempuannya. Bagaimana
bisa mereka hidup dengan baik, bahkan ketika ada dirinya saja orang sekitar
ingin menyakiti.
“Baiklah,
saya tidak ingin berdebat panjang. Membela pun salah, sebab bukti ada, meski
yang dikatakan adalah apa adanya. Tapi saya berani bersumpah jika saya tidak mencuri”
“Iya
sumpah saja biar jelas, kalau salah akan kelihatan dan kalau benar pun akan kelihatan,”
sahut seseorang yang sebenarnya diam-diam takut mengetahui akan ada sumpah di
bawah kitab suci. Yang berarti masalah akan melibatkan Tuhan secara langsung.
Di
bawah kitab suci dengan kaki telanjang menapak bumi, laki-laki itu mengucapkan
sumpah, “Demi Allah, jika saya benar-benar mencuri, saya disaksikan seluruh
warga, dengan ikhlas dan tanpa pembelaan akan menerima sanksi, lahir-batin
dunai-akhirat.”
Semua
wajah terlihat takut, entah karena merasa bertuhan, entah karena sadar bahwa mereka
hanya mengikuti nafsu. Tapi beberapa masih penasaran untuk menghabisi.
Setelah
itu semua pulang tanpa keberatan. Pulang menuju rumah masing-masing termasuk
laki-laki itu yang sepanjang jalan menangis karena merasa kebaikannya selama
ini sia-sia, bahkan hari-hari mencari nafkah yang dikorbankan untuk membela
saat pencalonan Kepala Desa tidak membelanya sama sekali. Semua terlupa
terlipat bersama waktu yang pergi.
Baru
seteguk air penenang yang diberikan istrinya, pintu rumah diketuk dengan kerasnya.
Lemas rasanya persendian laki-laki itu. Entah kejadian apalagi yang akan dihadapinya,
tenaga dan emosinya sudah habis terkuras.
“Pak,
tolong buka pintu!”
Saat
pintu dibuka, beberapa orang tampak membawa obor, muka mereka ketakutan setengah
mati.
“Ada
apalagi? Apa lagi yang akan dituduhkan kepada saya? Apa sumpah saya tidak dipercaya?
Bukankah kalian percaya Tuhan?”
“Bukan!
Bapak harus ke rumah Kang Yahya, saya mohon dengan sangat!”.
Dengan
langkah cepat mereka membawa laki-laki itu menemui Kang Yahya, di sana ramai
sekali orang menangis. Ada istri dan anak Kang Yahya, bahkan sampai mertuanya segala,
juga para tetangga yang datang berkerumun dan sesekali ikut mengusap air mata.
“Beri
jalan, biar dia masuk!”
“Ampuni
kakak saya, yang telah lancang menuduh. Ampuni dia, saya mohon!”
Tangisnya
melolong, laki-laki itu terdiam. Ingin rasanya dia mengucapkan kata tidak, tapi
pelukan di kaki dan darah segar yang berhamburan di bawah ranjang, juga suara muntahan
Kang Yahya yang masih mengeluarkan darah membuatnya bingung. Kang Yahya bisa
mati, tapi di sini banyak orang yang membelanya. Sedang jika dia mati tadi
semua orang yang di sini akan menyorakinya. Laki-laki itu masih terdiam sambil
mengedarkan pandangannya meneliti wajah-wajah di sekitarnya.
“Tidak
perlu meminta maaf kepada saya, saya bukan sesiapa. Saya bahkan bukan yang
membuat dia kesakitan begini dan hampir mati. Semua ini tidak ada hubungannya dengan
saya. Apa yang ingin kalian lakukan dan tuduhkan lagi?”
“Saya
atas nama Kang Yahya, meminta maaf yang sebenar-benarnya telah menuduh dan
membuat Bapak hampir mati terbunuh. Semua memang salah kami. Bahkan saya yang mengajak
orang-orang untuk mendatangi dan menghakimi. Ternyata … Bapak tidak bersalah, ayam
itu masih ada sedang mengerami anaknya. Dia bersembunyi di kandang yang tidak terpakai.
Tolong ampuni kami agar Yahya tidak mati karena kesalahan ini!”
Laki-laki itu hanya bisa mengangguk. Dia ingin cepat-cepat pulang untuk memeluk istrinya, memberinya tahu bahwa semua baik-baik saja. Dia bahkan ingin masuk ke dalam mimpi putrinya meyakinkan bahwa besok ayam kuah santan harus dihabiskan bersama karena dia pun menyukainya, lalu menghapus semua ingatan tentang darah, bulu ayam, obor yang mengular, teriakan untuk membantai, Kang yahya yang hampir terbunuh karena ulahnya sendiri, termasuk kenyataan besok keluarga Pak Joyo yang pindah karena sumpahnya.
Komentar
Posting Komentar