Di Dingin Deras Hujan Kita Bercerita Tentang Seandainya
Aku terpaksa berteduh di sini di sebuah warung kopi tanpa tamu, kecuali aku dan pemulung tua. Hujan mengguyur kota ini sedari pagi. Entah karena musim, entah karena ingin. Sepertinya hujan benar-benar rindu berat kepada tanah-tanah dan daun-daun yang beberapa bulan ke belakang kesepian, sama seperti pelukan pertemuan sepasang kekasih yang enggan untuk dilepaskan setelah sebuah perpisahan yang teramat memilukan.
Teh manis yang masih
mengepul sedikit kusesap. Aku tidak sedang ingin minum kopi. Pisang goreng yang
baru diangkat dari minyak mulai kuambil dan kugigit.
"Orang-orang di
kota ini ketika hujan begini akan tidur seperti mati. Sedang mereka yang dekat
dengan kali akan siap-siap untuk mengungsi karena banjir tidak bisa
diprediksi."
Aku manggut-manggut.
"Tentu saja banjir. Mereka yang tinggal di pinggir kali kerap membuang sampah di kali," kataku memberi pengertian agar pak pemulung ini tahu dan paham siapa biang keladi banjir. Aku tidak suka orang menyalahkan musim apalagi Tuhan.
"Ya, benar. Tapi,
belum tentu semua salah orang yang tinggal di pinggir kali. Mereka yang tinggal
di tengah padat penduduk juga kerap menjadi pelaku penyebab banjir. Mereka
tidak mau berbagi tempat dengan air. Semua demi kenyamanan hidup sampai-sampai
air mesti parkir kemudian mengantri untuk sampai di laut."
"Pola hidup masyarakat kita memang begitu. Mereka akan sadar setelah banjir datang mengetuk pintu dan merendam."
Pemulung tua di sampingku
merapatkan kemeja lengan panjang berwana hitamnya. Hawa dingin begitu menusuk.
"Kenapa Sampeyan gak libur saja? Tadi sore banyak motor yang mesinnya mati karena terendam. Ini sudah malam, bagaimana Sampeyan bisa pulang?"
Aku mengangguk. Hujan
memang membuat aku terdampar di sini. Mungkin sebentar lagi aku akan mengutuki
semua yang menjadikan aku tidak bisa pulang. Hujan deras begini akan lebih baik
menggulung badan di bawah selimut, atau memasak mie instant dan memakannya
panas-panas sambil menonton film dari aplikasi berbayar.
"Perusahaan tidak mau tahu, karena kalau satu diizinkan semua pasti merasa pantas diizinkan."
"Bicara sampah itu pelik. Kalau tidak ada sampah plastik saya tidak mendapat uang, yang berarti malam-malam saya akan saya habiskan dengan bercengkrama sampai bosan."
Aku tertawa. Ada benarnya juga, para pemulung jika tidak ada sampah plastik mereka akan memulung apa.
"Yang disalahkan
jika banjir menurut Sampeyan, seharusnya siapa? Orang miskin yang membuang
sampah atau orang kaya yang rumahnya mewah?"
Tentu saja tanpa pikir
panjang aku menjawab orang miskin yang membuang sampah sembarangan.
Pemilik warung yang menahan kantuk ikut nimbrung agar kantuknya pergi, "Orang miskin tentu saja. Orang kaya mana pernah membuang sampah di kali. Dia tahunya membuang sampah di tong sampah."
Bapak tua itu
terkekeh.
"Yang membikin banjir itu jelas-jelas orang kaya."
Pemilik warung terlihat seperti antara berpikir dan bingung. Sementara aku memilih memakan pisang-pisang karena takut menjadi dingin.
"Bisa begitu?
Gimana nyambungnya?"
"Kalau orang tidak butuh plastik, tidak akan ada yang membangun pabrik plastik. Membangun pabrik plastik itu butuh modal. Yang punya modal itu orang kaya. Kalau tidak ada pabrik plastik tidak akan ada sampah plastik. Sama seperti penggundulan hutan entah untuk diambil kayunya atau untuk dijadikan lahan sawit. Ada sebab ada akibat. Kalau disalahkan salah semua, kalau dibenarkan benar semua."
Pemilik warung manggut-manggut, sementara aku hanya tertawa saja. Encer juga otak pemulung satu ini, jangan-jangan dia adalah pahlawan lingkungan hidup yang sedang menyamar.
Ada seseorang yang
datang. Dia memakai jas hujan lengkap dengan sepatu botnya.
Dia mencopot jas
hujannya dan bergabung dengan kami.
"Ada rumah yang hanyut dan jalan longsor di sebelah utara." Dia bersemangat sekali menceritakan kronologinya. Aku bersyukur rumahku tidak berada di daerah yang dia maksud. Terkadang manusia sepertiku sebenarnya lalim, di saat orang lain susah masih bisa bersyukur.
"Seperti itulah namanya musibah," jelas pemulung itu, "ketika terjadi harus diterima, meski mungkin dia tidak pernah terlibat menjadi penyebab."
"Tapi, dia salah membangun rumah di daerah rawan bencana." Pemilik warung urun bicara.
"Tempat yang
tadinya sawah dibangun perumahan mewah. Mereka yang tidak punya uang melipir
dan membangun rumah di daerah yang tadinya hutan. Hutan digunduli dari atas,
air turun tidak terserap tanah. Tanah terkikis. Ujung-ujungnya longsor dan
banjir bandang."
Aku meneguk tehku yang tidak panas lagi. Pemulung itu benar dan pintar.
"Seharusnya
pemerintah membuat aturan tegas dan terperinci berikut undang-undang dan
hukumannya." Laki-laki yang baru datang itu terlihat kesal.
"Jadi, intinya
semua tidak perlu saling menyalahkan karena sudah terlanjur, begitu Pak
De?" tanya pemilik warung kepada pemulung itu.
Laki-laki pemulung itu
pamit pulang. Alasannya malam ini bagiannya dirampas air deras. Dia
mengeluarkan uang lima puluh ribuan. Ketika hendak diberikan kembalian dia
menolak.
"Jangan bingung,
Mas. Beliau itu dosen di kampus yang ada di belokan itu." Pemilik warung
menunjuk ke satu arah, "dia memulung untuk mengisi waktu saja. Karena
bosan di rumah. Hitung-hitung ibadah ngurangin sampah. Siapa tahu bisa
ngurangin penderitaan orang akibat sampah."
Komentar
Posting Komentar