Cerpen; 1. Di Dingin Deras Hujan Kita Bercerita Tentang Seandainya

 



Di Dingin Deras Hujan Kita Bercerita Tentang Seandainya

 

Aku terpaksa berteduh di sini di sebuah warung kopi tanpa tamu, kecuali aku dan pemulung tua. Hujan mengguyur kota ini sedari pagi. Entah karena musim, entah karena ingin. Sepertinya hujan benar-benar rindu berat kepada tanah-tanah dan daun-daun yang beberapa bulan ke belakang kesepian, sama seperti pelukan pertemuan sepasang kekasih yang enggan untuk dilepaskan setelah sebuah perpisahan yang teramat memilukan.

Teh manis yang masih mengepul sedikit kusesap. Aku tidak sedang ingin minum kopi. Pisang goreng yang baru diangkat dari minyak mulai kuambil dan kugigit. 

"Orang-orang di kota ini ketika hujan begini akan tidur seperti mati. Sedang mereka yang dekat dengan kali akan siap-siap untuk mengungsi karena banjir tidak bisa diprediksi."

Aku manggut-manggut.

"Tentu saja banjir. Mereka yang tinggal di pinggir kali kerap membuang sampah di kali," kataku memberi pengertian agar pak pemulung ini tahu dan paham siapa biang keladi banjir. Aku tidak suka orang menyalahkan musim apalagi Tuhan.

"Ya, benar. Tapi, belum tentu semua salah orang yang tinggal di pinggir kali. Mereka yang tinggal di tengah padat penduduk juga kerap menjadi pelaku penyebab banjir. Mereka tidak mau berbagi tempat dengan air. Semua demi kenyamanan hidup sampai-sampai air mesti parkir kemudian mengantri untuk sampai di laut."

 


"Pola hidup masyarakat kita memang begitu. Mereka akan sadar setelah banjir datang mengetuk pintu dan merendam."

Pemulung tua di sampingku merapatkan kemeja lengan panjang berwana hitamnya. Hawa dingin begitu menusuk.

"Kenapa Sampeyan gak libur saja? Tadi sore banyak motor yang mesinnya mati karena terendam. Ini sudah malam, bagaimana Sampeyan bisa pulang?"

Aku mengangguk. Hujan memang membuat aku terdampar di sini. Mungkin sebentar lagi aku akan mengutuki semua yang menjadikan aku tidak bisa pulang. Hujan deras begini akan lebih baik menggulung badan di bawah selimut, atau memasak mie instant dan memakannya panas-panas sambil menonton film dari aplikasi berbayar.

 


"Perusahaan tidak mau tahu, karena kalau satu diizinkan semua pasti merasa pantas diizinkan."

"Bicara sampah itu pelik. Kalau tidak ada sampah plastik saya tidak mendapat uang, yang berarti malam-malam saya akan saya habiskan dengan bercengkrama sampai bosan."

Aku tertawa. Ada benarnya juga, para pemulung jika tidak ada sampah plastik mereka akan memulung apa.

"Yang disalahkan jika banjir menurut Sampeyan, seharusnya siapa? Orang miskin yang membuang sampah atau orang kaya yang rumahnya mewah?"

Tentu saja tanpa pikir panjang aku menjawab orang miskin yang membuang sampah sembarangan.

 


Pemilik warung yang menahan kantuk ikut nimbrung agar kantuknya pergi, "Orang miskin tentu saja. Orang kaya mana pernah membuang sampah di kali. Dia tahunya membuang sampah di tong sampah."

Bapak tua itu terkekeh. 

"Yang membikin banjir itu jelas-jelas orang kaya."

Pemilik warung terlihat seperti antara berpikir dan bingung. Sementara aku memilih memakan pisang-pisang karena takut menjadi dingin.

"Bisa begitu? Gimana nyambungnya?"

 


"Kalau orang tidak butuh plastik, tidak akan ada yang membangun pabrik plastik. Membangun pabrik plastik itu butuh modal. Yang punya modal itu orang kaya. Kalau tidak ada pabrik plastik tidak akan ada sampah plastik. Sama seperti penggundulan hutan entah untuk diambil kayunya atau untuk dijadikan lahan sawit. Ada sebab ada akibat. Kalau disalahkan salah semua, kalau dibenarkan benar semua."

Pemilik warung manggut-manggut, sementara aku hanya tertawa saja. Encer juga otak pemulung satu ini, jangan-jangan dia adalah pahlawan lingkungan hidup yang sedang menyamar.

Ada seseorang yang datang. Dia memakai jas hujan lengkap dengan sepatu botnya.

Dia mencopot jas hujannya dan bergabung dengan kami.

 


"Ada rumah yang hanyut dan jalan longsor di sebelah utara." Dia bersemangat sekali menceritakan kronologinya. Aku bersyukur rumahku tidak berada di daerah yang dia maksud. Terkadang manusia sepertiku sebenarnya lalim, di saat orang lain susah masih bisa bersyukur.

"Seperti itulah namanya musibah," jelas pemulung itu, "ketika terjadi harus diterima, meski mungkin dia tidak pernah terlibat menjadi penyebab."

"Tapi, dia salah membangun rumah di daerah rawan bencana." Pemilik warung urun bicara.

"Tempat yang tadinya sawah dibangun perumahan mewah. Mereka yang tidak punya uang melipir dan membangun rumah di daerah yang tadinya hutan. Hutan digunduli dari atas, air turun tidak terserap tanah. Tanah terkikis. Ujung-ujungnya longsor dan banjir bandang."

 


Aku meneguk tehku yang tidak panas lagi. Pemulung itu benar dan pintar.

"Seharusnya pemerintah membuat aturan tegas dan terperinci berikut undang-undang dan hukumannya." Laki-laki yang baru datang itu terlihat kesal. 

 Laki-laki pemulung itu terkekeh. "Siapa bilang tidak membuat aturan tegas? Peraturan itu sudah ada, hanya …."  Dia meneguk tehnya yang tinggal penghabisan.

 "Hanya apa?" tanya pemilik warung penasaran.

 "Hanya biasa diakal-akali oleh oknum dan tidak dijalankan." Kami berempat tertawa lepas. Entah menertawakan apa. Yang jelas kalimat pemulung itu masuk kategori kalimat 'tahu sama tahu' jadi tidak perlu dibahas.

 


"Jadi, intinya semua tidak perlu saling menyalahkan karena sudah terlanjur, begitu Pak De?" tanya pemilik warung kepada pemulung itu.

 "Iya, benar. Semua harus ikut andil menanggulanginya. Dan, saya sudah melakukannya. Hahaha." Pemulung itu tertawa sendiri setelah menyanjung dirinya sendiri.

 "Dan, Pak De juga dapat uang," orang yang baru datang ikut membuat senang.

 "Benar, ini saya juga bingung, antara masuk kategori pahlawan atau justru menaguk keuntungan dari sebuah kesalahan. Hahaha."  Lagi-lagi dia tertawa. Aku dan laki-laki yang baru datang tersenyum, sedangkan pemilik warung manggut-manggut.

 Hujan mulai reda. Aku mungkin sebentar lagi akan pulang. Semoga saja air mulai surut.

 


Laki-laki pemulung itu pamit pulang. Alasannya malam ini bagiannya dirampas air deras. Dia mengeluarkan uang lima puluh ribuan. Ketika hendak diberikan kembalian dia menolak. 

 "Sekalian sama Mas ini dan Mas ini, kalau ada sisanya tulis saja untuk minum teh atau kopi lain hari." 

 "Monggo saya duluan!" Aku melongo sampai lupa mengucapkan terima kasih.

 "Dia memang begitu, Mas, kerap mentraktir teman minumnya," kata pemilik warung.

 Aku semakin bingung, seorang pemulung mentraktir?

 


"Jangan bingung, Mas. Beliau itu dosen di kampus yang ada di belokan itu." Pemilik warung menunjuk ke satu arah, "dia memulung untuk mengisi waktu saja. Karena bosan di rumah. Hitung-hitung ibadah ngurangin sampah. Siapa tahu bisa ngurangin penderitaan orang akibat sampah."

 Aku terhenyak karena aku sempat memandangnya beda, aku yang pekerja dan dia yang pemulung saja. Aku merasa malu dan harus mengakui dia adalah pahlawan lingkungan menurut versi yang lebih nyata, lebih dari sekadar teori dari seminar satu ke seminar lainnya. Lalu aku apa dan siapa?



 

 

Komentar