Cerpen; 5. Di Sini Tuan Tepat di Kaki

 



Di Sini Tuan Tepat di Kaki

Pairun pernah bemimpi menjadi tekenal. Dia penah bercita-cita menjadi penyanyi dangdut dengan jutaan fans dan gemuruh tepuk tangan. Tapi, semua berakhir setelah dia disuruh turun oleh penonton beramai-ramai hanya gara-gara suaranya sumbang dan lirik yang dia nyanyikan selalu balapan dengan musik pengiringnya pada pentas petamanya di panggung tingkat Rt. 

Sebenarnya dari pihaknya itu tidak berarti apa-apa, dia meyakini bahwa gugup adalah penyakit yang bisa menjangkiti siapa saja, bahkan penyanyi senior pun. Kenyataannya gugup adalah penyebab semua kesialannya itu. 

Dia yakin jika diberi kesempatan ulang, semua akan hilang, dan dia akan terbiasa dengan kesempurnaan layaknya bintang. Meski itu tidak pernah tejadi, dan semua kesempatan seperti berlari menjauh, orang-orang juga tidak peduli, tetapi Pairun tetap memendam keyakinan suatu saat nanti dia akan terkenal. 



Semenjak kejadian nahas didaulat turun di tengah lagu, dia kerap mendendangkan lagu-lagu yang dia tahu di setiap kesempatan; di rumah, di pematang sawah, di dekat kolam sambil melempar pakan, di kandang ayam meski terkadang menimbulkan kegaduhan karena beberapa ayam betina yang sedang mengerami telurnya merasa terganggu. Tetapi,  Pairun punya kebiasaan yang tidak orang biasa lakukan, dia pantang bernyayi di kamar mandi, di jamban, atau di dekat mushala.

“Kenapa bisa begitu, Run?”

“Dua tempat pertama menandakan seseorang itu pengecut, hanya berani di kandang sendiri, dengan pendengar dan penonton dinding, air juga gayung saja, apalagi di jamban sambil ngedan, bayangkan saja mukamu saat itu jelek sekali, bukan?”



“Masa,hanya karena itu?”

“Tidak juga, belum cukup. Di kamar mandi dan saat buang hajat, kita nyanyi sementara mulut bawahmu mengeluarkan kotoran. Berarti lagunya sama dengan kotoran. Atau setidaknya kamu bernyayi untuk melepas kepergian kotoranmu.”

“Saru itu namanya. Kamu berarti berani menghakimi orang-orang se-dunia yang melakukan itu.”

“Terserah, toh, ketika aku meyakini itu tidak ada orang yang berdemo karenanya.”

“Kamu bukan orang terkenal! Bagaimana mungkin kamu akan didemo, apalagi hal-hal sepele seperti itu?”



“Terus alasanmu tidak mau bernyayi di dekat mushala?”

“Ini nih, orang tahu tapi tidak mau tahu. Sudah jelas yang pantas keluar dari toa mushala itu pengajian, adzan, kalau gak adzan ya … pengumuman kematian."'

“Wah, iya, aku kok tiba-tiba menjadi gak paham padahal aslinya aku tahu.”

“Begitulah yang merusak dunia, tahu tapi tidak mau tahu. Giliran yang tidak tahu malah pura-pura tahu. Itu juga yang terjadi ketika aku didaulat turun panggung.”

“Itu kenyataan. Suaramu tidak memenuhi kriteria suara yang enak di telinga, dan kamu harus tahu diri tidak boleh sakit hati. Orang yang cepat sakit hati akan cepat mati. Setidaknya mati dari tersenyum dan kemungkinan terbaik.”



“Aku tidak sakit hati. Hanya saja, aku yakin suatu saat aku terkenal.”

“Terserah padamu, Run, yang jelas kita sudah salat dhuhur, dan makan, paculan harus kita selesaikan, supaya bayarannya lebih cepat keluar.”

Perkara itu sudah menjadi buah bibir semenjak masuk dalam berita di televisi, surat kabar, sampai media online. Orang-orang sibuk memberi dukungan, sebagian mencibir, sebagian lagi tidak ambil peduli. Itu bukan kasus korupsi! 

Ada yang merasa ingin membantu, ada yang gemuruh dengan isyu kebangkitan partai terlarang, hanya karena pelakunya rakyat kecil, ada juga yang sibuk menggalang tanda tangan untuk membantu melepaskan.



Semua berawal dari telapak kaki yang harus diamputasi karena cangkul. Entah bagaimana cangkul itu malah mencangkul kaki sang mandor. Sang mandor merasa harga dirinya dilangkahi, dan menjadi korban kriminal. 

Beberapa bawahnnya mandor menyalahkan pemilik cangkul yang menjadi buruh itu. Pemilik cangkul digelandang ke kantor polisi. Sebuah proyek raksasa yang sedang mengerjakan pembangunan kondominium tercoreng kasus yang seumur hidup Painah tidak pernah sekalipun hinggap di mimpinya. Apalagi pelakunya mantan pemimpi penyanyi dangdut terkenal yang terjegal bahkan sebelum sempat menyelesaikan satu lagunya itu.

Pairun tetuduh! Warman tidak menyalahkan Pairun, begitu juga dengan puluhan buruh yang lain. Mereka hanya buruh pemindah tanah-tanah sisa dari mesin pengeruk, pekerjaan tambahan selain menjadi kernet dari buruh tetap. Mereka berkumpul memberikan semangat, meski beberapa lebih khawatir karena akhirnya Pairun diseret ke meja pengadilan. Tidak ada kata damai, karena luka yang diderita mandor.



“Kita ada di pihakmu, Run!” ucap Warman sambil menatap tajam ke mata Pairun meyakinkan.

“Aku tahu itu, tapi dengan mudah kita akan dipecundangi karena kita rakyat kecil.”

“Tapi, kudengar beberapa pengacara tanpa bayaran akan membantumu.”

“Entahlah, aku tidak berrsalah, tapi setidaknya satu keinginanku terkabul.”

“Kau ingin membunuh mandor yang kerap bertindak seenaknya sendiri, dan suka cari muka atasan itu?”



“Bukan, aku tidak mempunyai darah pembunuh bahkan dari leluhurku, begitu juga dengan cangkulku. Mengapa cangkulku justu yang menjadikanku seterkenal ini, bukan suaraku?”

“Kamu masih waras, bukan? Kalau suaramu yang melakukannya, akan lebih banyak orang yang terbunuh. Semua orang yang bisa mendengar akan mati karena suaramu itu, Dan, kau akan digantung tanpa diadili, meski terkenal. Dasar bodoh!” Warman merangkul Pairun, dan keduanya bertangisan.

“Apapun yang terjadi nanti, kamu harus yakin kamu bukan pembunuh, dan aku yakin kam tidak bersalah.”

“Sayang hakimnya bukan kamu, Man. Tapi, akan kubuktikan aku tidak bersalah. Tolong sesekali kamu longok bersama istrimu, rumahku. Kalau ada uang sedikit beri hutangan pada istriku, katakana padanya aku akan bebas.”



 Jam kunjungan habis. Warman ingin menemani Pairun lebih lama andai bisa. Hanya saja ada yang harus mendapat giliran kunjungan yaitu; anak dan istri Pairun.

Warman tidak peduli dengan semua yang bekembang di luaran. Dia yakin seyakin-yakinnya kalau Pairun tidak bersalah. Teman yang rela menahan lapar karena tidak mau anak temannya kelaparan, dan tidak bersekolah, atau bahkan bernyayi di kamar mandi saja pantang, tidak akan mungkin melakukan hal sekeji itu meski kenyataannya mandor tak punya hati itu haus diamputasi kakinya.

Semua berjalan dengan semestinya, sampai pada tahapan pembuktian. Satu tahapan ini akan menjadi kunci kebenaran itu terungkap. Mulut bisa saja berbusa, tapi bukti tidak bisa dipungkiri. Semua orang ingin menjadi saksi kasus ini. Bahkan, warga desa yang menjadi tetangga Pairun menyewa beberapa mobil untuk datang langsung ke pengadilan sampai putusan jatuh. Mereka menggalang dana untuk membantu dapur Pairun dan dukungan moral, merasa berempati. Orang yang sesekali berselisih paham dengan Pairun melupakan semuanya,merasa saat ini dia dan Pairun adalah satu tubuh, satu rasa, satu tuntutan ingin dibebaskan dari jerat hukum dan ketidakadilan.



Semua mata ingin menjadi saksi, para pembaca berita ingin mendengar kabar mujizat, hingga perkara ini akan memihak kepada Pairun. Air mata istrinya terus membanjiri pipi,membasahi sapu tangan, sementara anaknya tetap bermain sepeti biasanya. Tidak ada kesedihan sama seperti bapaknya yang selalu berpikir bahwa dia tidak bersalah.

“Saya bersama kernet perkerja lain sedang berada di bawah gubuk tempat beristirahat sementara kami. Pekerjaan sudah saya selesaikan sesuai perintah. Saat itu jam istiahat. Waktu untuk istirahat masih sekitar tiga puluh menit lagi. Tiba-tiba, Mandor datang sambil berkacak pinggang. Dia melambaikan tangan. Beberapa teman ingin bangun, tapi saya melarangnya. Dua orang ini datang bersama saya pada akhirnya untuk menemui Mandor. Mandor itu  berbicara dengan memaki-maki. Saya tentu tidak mau disalahkan, saya membela diri. Pekerjaan kami sudah selesai, dan itu memang betul.” papar Pairun ketika dirimya diminta menjelaskan kejadian di depan majelis hakim.

“Mengapa sampai terjadi peristiwa itu dan bagaimana kejadiannya?”



“Karena Mandor memaki-maki, beberapa bawahannya datang, mereka menjelaskan jika pekerjaan saya dan kawan-kawan memang benar sesuai petunjuk dan sudah selesai. Entah bagaimana, mungkin karena merasa malu mandor itu  kemudian datang lagi ketika jam kerja masuk. Dia mendekati saya, sambil menghardik. Dia bahkan memanggil saya dengan kata tolol. Terang saja saya tersinggung, tapi saya tahu diri, saya hanya karyawan kernet yang bisa diputus kerja kalau memang mandor sudah tidak menghendaki. Lalu mandor itu menyuruh saya mencangkul tanah untuk membuat sedikit lubang. Dia menunjukan sepatunya sambil berkata; Coba kamu cangkul ini! Saya bertanya yang mana Tuan? Dia menunjukan lagi sepatunya. Saya mengulangnya sampai empat kali. Lagi-lagi mandor itu menunjukkan sepatunya. Dengan cepat saya ayunkan canngkul saya ke arah sepatunya seperti perintahnya. Saya tidak bersalah. Kalau saja Tuan Mandor menunjuk dengan tangan, dia tidak akan saya cangkul, tapi dia menunjuk dengan sepatunya, bukankah berarti dia ingin kakinnya dicangkul? Apa yang Tuan Hakim lakukan jika ada orang menjulurkan kakinya kemudian berteriak cangkul ini? Tentu Tuan akan berpikir orang itu meminta kakinya dicangkul, bukan? Seperti ketika telunjuk kita menunjuk ke punggung dan meminta digaruk, maka yang digauk adalah pungggung, tapi ketika kaki yang dijulukan berarti kita meminta kaki yang digaruk, bukan?”



“Begini konkritnya,” ujar Paiun sambil memperagakan kejadian sebenarnya. Senyap beberapa saat. Sidang bahkan dihentikan sampai satu hari kemudian. Ini adalah pekara yang mudah tapi pembuktiannya itu juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.

Pairun akhirnya bebas. Warman adalah orang pertama yang memeluknya. Suara syukur terdengar seperti koor. Orang-orang di luaran masih ramai bersilat lidah, mereka ada yang berpendapat ini pengadilan terkonyol, sebagian lagi merayakan dengan suka cita; ternyata keadilan belum mati, kata mereka.

“Kita pulang Run, anak istrimu pasti akan senang, begitu juga dengan kerabat dan tetangga. Apa langkahmu ke depan?”



“Aku tidak ingin terkenal, apalagi dengan jalan seperti kemarin. Aku juga tidak bermimpi untuk menjadi penyanyi dangdut lagi. Aku ingin mencangkul tanah, bukan kaki orang. Tapi, orang itu akan belajar seumur hidup untuk menghargai orang lain. Aku sudah jengah dengan kesewenang-wenangannya sejak lama, pencurian upah, dan mulut busuknya. Tapi, tidak pernah terlintas olehku untuk mencangkul kakinya, sungguh! Ia yang meminta, bahkan meski aku mengulangnya sampai empat kali tentang perintahnya itu. Dia ternyata berkeras hati ingin kakinya hilang. Aku hanya ingin seperti kemarin sebelumnya.”

“Kamu salah kali ini.”

“Apa orang-orang mengucilkan keluargaku?”



“Bukan, orang-orang kali ini bahkan ingin memberi kesempatan sekali seumur hidupmu agar kamu nyumbang lagu di acara penyambutan kepulanganmu nanti malam.”

“Tidak! Ini bukan kemenangan atau apapun. Dan, seperti katamu dulu, jika aku bernyanyi satu lagu di atas panggung, akan banyak orang yang terbunuh karena suaraku. Aku tidak mau diadili lagi. Besar kemungkinan aku akan terjebak di penjara seumur hidupku.Cukup sekali saja berurusan dengan pengadilan, karena nanti masih ada pengadilan di alam kubur dan akhirat, itu lebih berat.”

“Kamu benar. Ayo kita pulang!”

Pairun menyeruput kopi. Sebuah pesan dia kirim kepada pengacaranya; Terima kasih banyak. Saya tidak tahu mengapa saya bisa lolos, meski saya yakin apa yang saya lakukan tidak salah.

Pengacara itu membalas; Pak Pairun sudah melakukan apa yang saya suruh, bicara apa adanya dan membuktikan apa yang sesungguhnya terjadi. Tidak ada celah untuk Pak Pairun lolos, kecuali menjelaskan semuanya seadanya. 




Komentar