Cerpen; 6. Dua Amplop dalam Sakuku

 

Dua Amplop dalam Sakuku

Dimuat di Koran Pantura Probolinggo dan dicetak dalam kumpulan cerpenku; Membaca Matamu


“Terimakasih undangannya, semoga saya bisa datang.”

Aku bangkit dari dudukku, kemudian mengantar pengantar undangan sampai ke depan pintu. Bulan-bulan seperti ini sungguh pengeluaran menjadi dua atau bahkan tiga kali lipat. Ditolak itu tidak mungkin, diikuti tentu saja resiko tanggung sendiri. 

Kalau datang hanya memberi doa saja itu jelas tidak masalah, tapi yang diminta pihak yang memangku hajat itu doa dan restu. Dulu dua ribu masih pantas untuk menjadi tanda restu, sampai-sampai ada istilah mohon doa rebu sebagai plesetan mohon doa restu yang selalu tersemat di kalimat undangan.

Sekarang doa itu dinomorduakan, meski tidak diakui secara blak-blakan. Karena, aku kerap seperti itu, tersadar ketika sudah sampai di rumah. Aku lebih mendahulukan restunya. Ingin terlihat hadir dan menghormati undangannya.

Sudah menjadi kebiasaan di kampung ini, jika diundang memakai makanan atau istilahnya sorogan, isi amplop akan berbeda dibanding ketika mereka diundang hanya dengan kertas undangan saja. 

Sorogan berlauk daging dengan berlauk telor tentu saja berpengaruh. Kertas undangan yang murah, biasanya malah dicopy dengan cara stensil tentu akan berbeda dengan kertas undangan yang dicetak. Semakin mahal kertas undangan memperngaruhi isi amplopnya juga.

Sekarang malah yang lebih ekstrem, dan membuat yang diundang berpikir ulang jika tidak datang adalah diberikannya tempelan sebungkus rokok saat undangan itu sampai ke tangan. Bayangkan saja, andai satu bungkus rokok diberi harga lima belas ribu, berarti tidak mungkin orang yang diundang akan mengisi amplopnya dengan uang senilai itu. 

Tentu saja mereka akan menambahi, dan lima belas ribu itu sebagai batas minimal andai orang itu memang sama sekali tidak punya uang tapi masih bernyali untuk datang.

Memang ringan, cuma lima belas ribu saja. Tapi, di musim seperti ini biasanya undangan itu rata-rata dua sampai tiga per harinya. Lalu kalau sebulan? Tapi, jurus memberi itu lebih baik daripada menerima akan tetap berlaku di dada-dada manusia seperti kita. Toh, memberi tidak akan pernah membuat kita miskin. Tapi jika memberi dengan batas minimal dan keadaan paceklik?

“Kau akan datang jam berapa ke undangan Wak Haji, Dun?”

“Jam delapan malam saja.”

“Itu akan membuat kita kegelapan di jalan, bagaimana kalau bada ashar saja?”

“Aku ingin melihat bintang biduan grup yang tersohor itu.”

“Kamu gak kira-kira, Rim. Yang ngundang itu haji, mana ada acara musik seperti itu? Kau tahu sendiri, kan? Biduan dari grup itu tampilannyanya seronok-seronok.”

“Tapi kita bukan anak kecil lagi, meski aku belum menikah.”

“Kalau begitu acara seperti itu di pernikahanmu saja, undang biduan yang kausebut

tersohor dari grup itu!”

“Mana mungkin? Bisa-bisa aku semalaman duduk di kursi pelaminan tanpa mau beranjak, dan istriku mencak-mencak.”

Dia tertawa mendengar jawabanku seolah mengiyakan. Bukan rahasia umum lagi, tampilan dan goyangan para biduan yang tampil itu seronok memanjakan mata lelaki dewasa. Tapi itu dulu, sekarang bahkan di jam sehabis maghrib mereka tidak malu-malu lagi mempertontonkannya. Istilah tengah malam panas berubah menjadi sore panas.

Bukan masalah waktu sebenarnya, tapi penonton di jam sore kebanyakan adalah anak di bawah umur. Dulu itu tabu, karena bisa membuat anak kecil menjadi tua dalam semalam, tapi sekarang semenjak pohon tebu sudah berkurang, tabu itu tidak ada. Orang-orang akan menertawakan jika membawa kata itu dalam pergaulan. Sekarang bukan zamannya lagi apa-apa dilarang begitu alasannya. Sama menghilangnya dengan pamali yang dulu menjadi batasan orang-orang untuk berhenti. 

Waktu maghrib yang dulu wingit dengan sandyakala di mana anak-anak di bawah umur akan lebih memilih lari ke surau daripada bermain kemudian dibawa kalong wewe, atau memedi sebangsanya sudah kadaluarsa. Sebab mereka sudah mengenal zombie.

“Lha, apalagi ini, yang hajatan seorang bergelar haji!”

“Entahlah, mudah-mudahan yang mencetak undangan salah cetak saja. Dia mungkin mau menuliskan kasidah, marawis atau hadrah sebenarnya.”

“Jadi, ada keterangan bahwa grup musik itu akan tampil di bagian hiburan?”

Aku tidak menjawabnya, kubiarkan saja. Aku hanya ingin melihat biduan nomor satu yang sering diperbincangkan orang. Aku merasa ketinggalan zaman. Sepengetahuanku selama ini semua yang mengundangku tidak pernah memanggil grup musik dengan biduan yang membelalakkan mata itu. 

Kalaupun ada, katakan saja aku kurang beruntung tidak pernah melihatnya, aku selalu memenuhi undangan sehabis ashar saja, sahabatku tidak bisa melihat dalam kegelapan, apalagi mengayuh sepeda di jalanan yang aspalnya sebagian hilang dan banyak berlubang.

“Bagaimana kalau kita tidur di sana selepas acara musik itu?”

“Maksudmu, tidur di bawah pohon pisang? Aku tidak mau! Kalau begitu aku akan datang satu jam lagi ke sini. Terserah kau mau ikut pergi denganku atau jalan malam dan pulang pagi.”

Aku menimbang dua tiga kali, tapi tak kutemukan jawabannya. Keduanya bukan masalah bagiku, hanya saja itu berarti aku akan sendirian. Dan berarti pula, besok-besok ketika aku tidak punya uang, dan undangan datang, tidak ada tempat aku mendapat pinjaman tanpa agunan. 

Dia datang seperti janjinya, dan aku yang sudah mandi dari tadi hanya merapikan rambuku saja.

“Sudah, Rim?”

“Iya.”

“Apa kautulis nama di belakangnya, di amplopmu?”

“Tidak usahlah, kalau nyumbang itu ‘kan mesti ikhlas. Tangan kanan memberi tangan kiri sembunyi.”

“Kau itu. Ikhlas, sih ikhlas, tapi kalau kejadiannya seperti di undangan sunatan adikku, bisa berabe.”

“Maksudmu?”

“Amplop yang tak diberi nama itu banyak, biasanya isinya kalau gak dua ribu, ya …daun pisang kering.”

“Yang benar?”

“Memang kenapa, apa kamu juga pernah melakukan hal itu?”

“Bukan! Jangan-jangan orang-orang yang mengundangku mengira aku bagian dari mereka, meski aku tidak pernah mengisi amplopku seperti itu. ”

Itu tidak biasa bagiku, selama ini setiap aku memberi amplop selalu saja tidak kuberi nama. Bagiku memberi itu seperti membuang ludah, tidak perlu semua orang tahu dan dijilat kembali. Selain memalukan, aku ingin sedikit mempraktikan ilmu ikhlas, yang sampai sekarang ini justru belum juga kugapai. Apalagi mendengar keterangan sahabatku barusan.

Jangan-jangan mereka yang kusumbang akan berpikiran bahwa aku datang dengan amplop berisi dua ribu atau daun, karena tidak satu pun selama ini tertera namaku di belakangnya.

“Kau tahu? Sebentar lagi kau akan menikah.”

“Ya, doakan saja, tapi nada bicaramu?”

“Maksudku begini, jika kau menyumbang dua ribu, jangan harap orang yang datang akan menyumbang lebih dari itu.”

“Bagaimana orang tahu aku menyumbang berapa? Kalau berniat memestakan ya pesta saja, berapa pun orang menyumbang itu bukan tujuanku, aku tidak akan mengambil untung.”

“Tentu saja mereka akan menuliskan di buku, siapa yang menyumbang dan berapa jumlahnya. Biasanya mereka menganggap itu hutang. Dan akan mengembalikannya sesuai jumlah yang kita sumbang jika kita undang nanti. Baiklah, tapi kalau mereka mengisinya dengan daun?”

“Sudahlah, kau terlalu berpikir jauh dan tidak masuk di akal.”

Aku sungguh tidak berpikir sejauh itu. Kedatangan teman yang lain membuatku berhenti memikirkannya. Juga, dengan pilihan melihat acara musik sampai pagi, dan rencanaku untuk menginap di bawah pohon pisang.

Tenda biru yang ternyata berwarna pink sudah kumasuki. Seperti biasa, baju orang-orang di sana terlihat menarik mata, makanan terhidang wah dan berbeda, wajah-wajah terlihat bahagia. 

Aku kembali dengan kalimat sahabatku tentang amplopku yang selama ini tanpa nama. Pesta sesederhana apa pun tetap saja membutuhklan biaya. Bagimana jika mereka mengira amplopku adalah daun pisang kering saja, atau berisi dua ribu?

“Apa kau tidak makan, atau tidak sedang berselera?”

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Kau bahkan membiarkan makanan yang kauambil dari meja prasmanan, seolah kau adalah dukun penunggu periuk di dalam.”

“Baiklah, kita makan!”

Kunikmati makanan yang sudah berada di piring. Lumayan. Rasanya pas di lidah. Biasanya kalau begini aku akan memberikan isi amplop yang lebih besar, jika makanannya kurang enak dan sambutan yang kuterima kurang memuaskan, aku akan memilih amplop satunya lagi.

 Jangan tanya bagaimana aku bisa membedakannya meski tanpa melihat isinya lebih dahulu. Aku sudah terbiasa dengan trikku seperi ini bertahun-tahun semenjak aku terbiasa menerima undangan. Ampolp berisi uang yang lebih banyak akan kuletakkan di saku celana sebelah kiri.

“Kaulihat, Rim!” tunjuk sahabatku, selepas bersalaman dengan pemilik hajat untuk pulang.

Aku melihat ke arah panggung yang sudah tersedia, panggung yang cukup megah menandakan pengisi acaranya luar biasa.

“Benar, kan?” tanyaku merasa di atas angin, karena aku tidak salah baca jika hiburannya adalah grup musik yang biduannya ingin kulihat jauh hari.

“Benar apanya?”

“Maksudmu?”

“Hari ini kita akan datang ke dua undangan. Pengisi acara di undangan ini adalah pengajian dari ustadz yang sering masuk TV. Sedangkan undangan ke dua, hiburannya adalah… tidak ada sama sekali. Mungkin hanya memutar lagu-lagu, kemudian dipakaikan pengeras suara saja.”

“Jadi aku salah baca? Oalah.

“Kenapa?”

“Tidak, aku hanya membawa amplop untuk ke undangan ini saja.”

“Jadi?”

“Kau tahu, aku baru sadar kalau aku memberikan amplop itu dua sekaligus. Entah bagaimana aku menaruhnya di sebelah kiri dua-duanya.”

“Tenang, aku bawa amplop kosong. Kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang serius jadi yang lain terabaikan. Atau jangan-jangan kau sedang berkhayal jika yang di pelaminan tadi adalah dirimu? Aku tahu benar dia dulu mengejarmu sebelum akhirnya menemukan yang lebih baik, tentu saja.”




Aku terdiam. Kalimat terakhirnya kutanggapi dengan menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan itu membuatnya merasa menang. Aku masih dengan masalahku sekarang. Dua amplopku telah kuberikan ke tangan pemilik hajatan dan lupa tidak kuberi nama. Bukan berisi dua ribu saja, apalagi daun pisang kering. Semoga saja sahabatku atau satu di antara rombongan yang bersepeda dengaku membawa uang cadangan. Atau kali ini untuk undangan yang ke dua aku mungkin benar-benar akan mengisi amplopku dengan daun pisang kering?

Komentar