Kapok
Oleh: Nurlaeli Umar
BLOG NURLAELI UMAR- Kami tidak punya ayam. Apa karena kami tidak punya kandang? Tidak juga. Mungkin memang Tuhan tidak menakdirkan kami harus punya ayam. Tetapi seharusnya aku tetap bisa makan ayam, karena untuk makan ayam tidak ada syarat hau punya ayam atau bahkan kandang ayamnya. Karena intinya adalah harus punya uang.
Pilihannya adalah ayam goreng ala resto cepat saji di depan gang, atau membeli ayam yang sudah dibumbui dan tinggal digoreng saja dari pedagang keliling, mereka biasa menamakannya ayam kuning. Kata ibuku terkadang warna kuningnya bukan hanya memakai kunyit, tetapi memakai pewarna tekstil, kurasa tak mengapa sesekali tidak akan berbahaya.
Ibuku lucu, mana ada pedagang yang ingin mencelup warna ususku, sehingga mereka memakai pewarna kain untuk makanan? Dan lebih anehnya lagi, ibuku bilang terkadang ayam yang dikuningi itu adalah ayam potong yang dagingnya sudah tidak segar lagi. Untuk menyamarkannnya maka diberi warna kuning, agar tidak merugi.
Yang kutahu tentang warna kuning, itu matahari yang kugambar di buku, permen, dan mangga di gerobak dekat warung yang jajanannya segudang itu. Karena setiap aku makan, dan mencecap manis asamnya, lidahku berwarna kuning. Aku suka itu, meski ibuku kerap kali marah. Aku biasa memamerkan lidahku selepas memakannya, berbalas dengan teman-temanku.
Tapi setelah aku naik kelas, aku sekarang sedikit tahu apa alasan pasti dari semua alasan yang coba ibu katakana kepadaku. Ibu tak punya uang cukup untuk membeli ayam. Ibu tahu benar aku suka ayam. Membeli satu potong, berarti keempat abangku tidak akan memakannya. Tidak membeli satu pun, aku begitu menginginkannya. Katakan saja aku memimpikannnya, meski aku benar-benar kerap bermimpi makan ayam sampai puas bersama keempat abangku.
Aku tidak pernah mengatakan jika ibu berbohong dengan alasannya. Karena aku tahu, semua dilakukan untuk kebaikan kami semua, aku dan kakakku. Seperti ketika ibu melarang aku agar tidak terlalu banyak minum es. Dulu kupikir ibu berbohong jika terlalu banyak minum es keliling di hari panas akan membuatku panas dalam, bagaimana mungkin makanan sedingin itu membuatku panas apalagi di dalam. Tapi ternyata ibu benar, dan rasanya sungguh tidak enak sama sekali.
Tapi, pantang bagiku untuk meminta gratisan. Tidak akan ada orang yang memberi cuma-cuma. Bahkan untuk hasil kendurian saja, butuh sarung dan peci yang pantas untuk datang ke sana, walaupun yang mempunyai hajat butuh doa, dan yang datang kadang bingung dan merasa asing dengan doa-doa itu karena mulutnya tak pernah digunakan untuk berdoa, kecuali sumpah serapah dan bicara tak berguma.
Akan lain halnya jika aku laki-laki dan dewasa. Mungkin sedikit bisa berbohong, atau kerja malas-malasan saja bisa menghasilkan uang. Contohnya menjadi calo depan terminal sana. Aku pernah bersama ibuku tertipu dengan janji mereka yang mengatakan bahwa mobil akan langsung jalan, tapi bahkan sampai aku hampir tertidur karena kehausan, mobil tetap menunggu penumpang hingga kami bertumpuk seperti ikan asin saja layaknya.
Atau tukang obat yang menjual serbuk gosok gigi di pasar kemarin lalu. Mereka menjual obat gosok gigi yang katanya tidak mengandung alkohol, dan lebih baik dari yang pabrikan. Semua orang akhirnya tahu mereka tertipu. Karena, ternyata serbuk itu adalah permen yang ditumbuk. Terang saja tidak mengandung alkohol. Tetapi mereka tidak bisa disalahkan secara penuh, karena kami membelinya dengan sukarela. Mereka tidak memaksa kami, hanya merayunya dengan sedikit pentas tari. Kebodohan itu terkadang terbaca geli.
Dan, bapakku bahkan sangat pelit, kecuali ibuku mengajaknya sedikit bertengkar, maka lauk tempe dan tahu bisa terhidang. Dia lebih suka berbicara lama di warung bersama teman-temannya, warung yang hanya dikunjungi oleh mereka yang sudah dewasa. Entah apa yang dilakukan, kakakku selalu bilang agar aku menghindar kalau bapak datang, karena kaca bisa pecah, bahkan langit bisa runtuh. Tapi itu tak pernah terjadi, karena aku lebih suka pergi, dan kembali saat bapakku sudah pergi lagi.
Rumah sebelah kanan adalah rumah adik ibuku, Kami berlima memanggilnya bibi. Jangan tanya apa aku dan mereka bersaudara dalam arti sebenarnya atau tidak. Yang kutahu, wangi goreng ayam kerap menguar dari dapurnya, dan yang dihantar cuma rumah nenek saja yang ada di kiri rumahku. Tapi nenek tidak pernah mengantarnya ke rumahku. Mungkin nenek juga suka ayam sepertiku. Dia perempuan sama sepertiku.
Karena kerap mengirim dan berbalas, nenek lebih sayang dengan anak bibi. Ini semua salah orangtuaku. Mengapa mereka tidak pernah berkirim sesuatu? Mungkin karena kami tak punya kandang ayam, dan ibuku tak pernah membeli sesuatu banyak. Mungkin saja. Nenek tidak pernah tersenyum kepadaku semanis nenek tersenyum kepada anak bibi yang sebaya denganku. Muka nenek langsung kaku-kaku ketika aku meminta sedikit kayu kering, karena ibu belum punya uang untuk membeli gas.
Pernah suatu kali, aku disuruh ibu meminjam beras satu rantang, dan nenek bilang tidak punya beras, belum menggiling. Tapi saat aku membawa uang sore harinya, nenek langsung memberiku beras. Uang saja bisa membuat nenek memberikan beras, pasti kalau nenek diberi ayam goreng, aku akan mendapat banyak seperti anak bibi. Aku dan nenek sama-sama perempuan dan suka makan ayam, aku tahu apa yang dipikirkan nenek pasti sama denganku.
Nanti kalau aku besar, aku akan membuat kandang yang besar dan memelihara ayam yang banyak, supaya nenek bisa tersenyum padaku, mukanya tidak kaku-kaku. Setiap hari akan kugorengkan ayam sebanyak yang nenek dan aku mau. Kami berenam akan makan ayam sampai puas, dan ibuku pasti cuma berkata, “Makan yang banyak, biar Ibu nanti saja.” Ah, ibu sepertinya tidak pernah punya kata-kata lain selain itu. Ibu tidak sepintar aku waktu kecil dulu.
Hari ini wangi ayam goreng menguar. Oh, Tuhan, itu seperti membuatku terbang! Ayam itu dipotong besar-besar, diberi bumbu kuning, direbus sebentar, kemudian digoreng setengah kering. Makan ayam seperti itu dengan nasi hangat, dan sambal. Enak sekali. Terbayang lezatnya, dan bunyi keruyuk diperutku reda seketika.
Ibu sudah pergi ke sawah, dia tidak akan pulang cepat. Nenek kulihat pergi ke pasar, dia membawa tas belanjanya. Bibiku sudah pergi dengan motor, entah ke mana. Aku tidak terlalu tahu tujuan orang dewasa pergi selain ke pasar, ke warung depan jalan raya, dan ke tempat ayahku biasa pergi. Mungkin banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi orang dewasa, aku tidak peduli.
Aku membuka salah satu kandang ayam milik nenek. Aku menabur pakan, dan tiga ekor ayam langsung datang. Aku dengan sigap menangkap satu yang paling besar, ayam jantan dengan bulu berwarna indah. Mungkin dia kelaparan, atau mungkin dia tahu hari ini adalah takdirnya mati.
Aku membawa ayam itu ke rumah, keempat kakakku melihatku dengan takjub. Bola mata mereka membulat besar. Aku sepertinya hebat di mata mereka. Mereka terdiam saling berpandangan. Aku memberi isyarat dengan telunjuk tangan di mulut. Ayam akhirnya mati disembelih, dan direbus agar bulunya bisa dicabut.
Aku perempuan kecil, tapi aku peremuan desa yang banyak tahu tentang memasak tanpa harus membeli buku dan kursus dulu. Pekerjaan ibu-ibu sudah menjadi tugasku, seperti kakakku yang harus mencari kayu bakar dan bekerja sebagai buruh pabrik bata paruh waktu sepulang sekolah.
Ayam sudah dimasak dengan bumbu yang seharusnya. Aku yakin sekali. Wanginya menguar, tapi tak seorang pun akan menciumnya. Tak ada orang selain kami berlima. Kami siap dengan piring dan makan sepuasnya.
“Ada yang salah dengan bumbunya kah?”
“Kenapa?
“Rasanya tidak seenak seharusnya.”
“Tidak! Aku tahu semua bumbu yang harus ditambahkan.”
“Coba kau ingat-ingat! Atau mungkin takarannya salah.”
“Tidak! Ingatanku tajam. Begini cara ibu kita memasak ayam.”
Kami berlima mulai makan lagi, sedang kepala kami penuh dengan pertanyaan.
“Ada yang salah.”
“Apa lagi?”
“Makan saja, ini memang tidak seenak seharusnya. Tapi ini tetap ayam dan bisa dimakan.”
“Mungkin karena ayam ini ayam curian.”
“Tapi kita mencurinya dari rumah nenek sendiri.”
“Itu bukan mencuri!”
“Iya, itu bukan mencuri, kita hanya lima cucu yang ingin memakan sedikit milik nenek sendiri.”
“Kalau tidak begini mana mungkin kita akan makan ayam milik nenek. Menunggu lebaran? Masih lama. Itu juga kalau masih ada sisa dan sepupu kita sudah kenyang.”
“Apa kau tidak ingat, ketika akhirnya tiga potong ayam bagian kita itu cuma kepala dan kaki saja?”
“Tapi kenyataannya ayam curian tidak seenak ayam masakan ibu, hasil jerih payah kita sendiri, meski hanya dibumbui garam dan direbus saja.”
“Iya, itu benar.”
“Atau jangan-jangan Tuhan tidak ingin kita mencuri. Ibu selalu bilang biar kita miskin, kita tidak boleh mencuri, tetapi harus kerja sendiri.”
Kami semua berpandangan. Hening untuk beberapa saat. Kami mengangguk berbarengan. “Benar, mungkin juga.”
Kami saling berpandangan lagi, kemudian mata kami tertumbuk pada wajan tempat ayam itu berada. Sejurus kami bergegas menghabiskan, ibu tidak boleh tahu apa yang telah terjadi, tidak sama sekali, dan menangis karena ulah kami ini.
Namaku dan nama keempat abangku tak usah dihirau, tapi benar ini cukup buat pelajaran sampai mati, kami tidak akan mencuri apapun itu. Barang curian tidak enak!
Komentar
Posting Komentar