Sebungkus Daging dan Penyesalan
Pemuatan: Koran Pantura, Senin, 22 Agustus 2016, dicetak dalam buku kumpulan cerpen berjudul; Membaca Matamu
Parfum dengan wangi kayu. Sebenarnya, tidak masalah baginya parfum beraroma apa dan merknya apa, yang penting bisa menyamarkan bau asam keringatnya.
Sudah berulangkali dia mengganti merk dan aroma, tetapi dengan parfum aroma kayu itu istrinya baru memujinya.
Sebuah plastik hitam juga tergeletak di sana, dipojokan.. Dia mengingat-ingat tapi, ingatannya buntu, sama sekali tidak ada kemungkinan. Dia membukanya dan terkejut.Sebungkus daging berada dalam bagasi mobilnya. Itu pasti milik penumpang yang tertinggal.
Bagaimana mungkin dia akan mengembalikan kepada pemiliknya, sedangkan nama pemilik dan alamatnya saja dia tidak tahu. Hari ini penumpang cukup ramai. Selesai dengan yang satu kemudian satunya lagi datang.
“Jangan suka melik! Karena orang yang kehilangan itu pasti sedih, dan mengharapkan barangnya kembali ke tangannya!” Dia masih akan selalu ingat nasihat dan kisah yang diceritakan ibunya yang sekarang sudah berpulang tentang anak Ratu Sima.
Daging di bagasi itu akan membusuk begitu saja, jika dibiarkan. Akan tetapi, jika diambil dan dibuang sayang. Bukankah membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan itu namanya mubazir?
Dia mengangkat bungkusan itu keluar bagasi. Kemudian, menaksir berapa kira-kira beratnya. Tidak ada pilihan lain kecuali membawa pulang. Akan dibuat alasan kepada istrinya. Cukup untuk lauk tiga hari. Istrinya akan memasaknya dengan bumbu lengkap..
Tiga hari berselang. Mimpi semalam membuatnya bergidik. Mimpi yang baru kali ini terjadi seumur hidupnya. Di dalam mimpinya, dia terdampar di sebuah negeri di mana daging busuk bertumpuk-tumpuk.
Mobil berbelok ke arah kanan, melintas ke depan sebuah rumah sakit. Seorang penumpang melambaikan tangan. Mobil menepi. Setelah penumpang masuk, mobil dipacu melewati kemacetan yang merebak di mana-mana..
“Bapak masih ingat saya? Tiga hari yang lalu, yang bayar kurang seribu.”
“Oh, iya…iya. Sudah biarkan saja. Cuma seribu saja, kok. Saya ikhlas.”
“Kalau begitu, apa Bapak tahu, di mana sekantung daging yang saya simpan di bagasi dan tertinggal?”
“Saya akan menggantinya dengan harga yang sama, saya berjanji dan mengaku salah.”
“Bukan itu masalahnya, Pak, daging itu … daging itu adalah tumor yang diangkat dari perut istri saya dan hendak dikuburkan.”
Lelaki pengemudi taxi itu lunglai di belakang kemudi. Jadi dia, istrinya dan pemilik wajah lucu itu sudah memakan …? Bayangan wajah ibunya melintas di hadapannya. “Ibu, aku melik.”
*melik (bahasa Jawa) = mengakui milik orang lain yang tertinggal sebagai milik sendiri.






Komentar
Posting Komentar