Cerpen; 8. Tamu dari Tanah Surga

 



BLOG NURLAELI UMAR- Cerpen Tamu dari Tanah Surga

Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan dicetak dalam buku kumpulan cerpen MEMBACA MATAMU

                Aku pernah berjalan berkilo-kilo jauhnya dan ternyata di kejauhan keramaian ada sebuah desa. Tidak pernah terpikir olehku tentang desa ini. Kupikir setelah sawah yang membentang yang ada hanyalah hutan. Tidak ada kehidupan selain monyet, hewan yang lain, dan pepohonan yang meraksasa.

               Itu tidak benar sama sekali, di desa itu kutemui banyak kebun buah yang lebih luas dari yang pernah kulihat. Lalu orang-orang yang bekerja dengan giat merawat semuanya. Kedamaian yang tidak pernah kutemui ada di sini, rumah-rumah dengan halaman luas dan tidak dipagari. Anak-anak yang bermain dengan riang, berlari ke sana-ke mari.

              Tidak itu saja, keanehan yang kulihat adalah di sana anak-anak bermain akrab dengan gamelan dan alat-alat kesenian. Mereka seolah menyatu.dan aku datang ke negeri baru. Ini sangat berbeda dengan tempat asalku, di balik sana menyebrangi sawah semua sudah terkontaminasi dengan kekinian.

                Aku menceritakannya kepada sanak saudara, bahwa di dekat bukit yang bertumpuk, dan aliran sungai yang memeluk ada surga yang tidak terjamah. Mereka menertawakanku.

             “Itu daerah terbelakang. Di sana orang hanya tahu tuhan yang berdiam di pohon pohon, kau hanya akan mencium asap kemenyan, dan wangi bunga setaman. Orang-orangnya lugu, tidak berpendidikan. Mereka hanya tahu ….”



               “Sudah, sudahi saja semua cara merendahkan! Tidak semua yang kita lihat di sini itu lebih baik. Kita sama dengan tanah yang kita pijak, adakah tanah ini pantas kita rendahkan? Kita bisa terbang, tapi rumah abadi kita nanti ada di sini, di dalam tanah yang kita injak setiap hari.”

                Aku menyimpan semua yang kulihat sendiri. Sesekali jika ada yang ingin kuceriakan tentang surga itu, aku akan meyakinkan diriku bahwa orang itu bukan orang yang lupa kalau dia berasal dari tanah

                Aku menyimpan semuanya dalam kotak memoriku dan mengguncinya rapat-rapat. Mereka pantas bicara apa saja, karena mataku yang menyaksikan semuanya, bukan mata mereka. Toh mereka pun akan merendahkan apa yang terlihat indah di layar gadget sekalipun. Layar yang membuat mereka menjadi manusia kekinian.

              Saat janur-janur kuning menghias sebuah rumah, dan orang-orang berkerumun mengadakan pesta. “Apa itu hiburannya? Apa itu tidak membahayakan?” tanyaku ingin tahu.

            “Tidak! Hiburan itu memang hampir punah dimakan kekinian. Orang-orang sekarang bukankah menyukai sesuatu yang lampau? Sama seperti orang lampau yang menyukai kekinian? Ya, orang-orang menyukai sesuatu yang berbeda, bukan?”



           “Tidak masalah selagi bukan sebagi pengusir bosan. Tapi karena memang menyukai atau menghargai.”

          “Lupakan masalah menghargai, semua sudah menjadi komoditi yang bisa menghasilkan uang. Tidak lagi karena mencintai. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja kepada pelakunya.”

          “Apa mereka berasal dari tanah di mana bukit-bukit ditumpuk, dan sungai memeluk?”

         “Ya. Kau ternyata masih ingat daerah itu. Daerah itu seperti dikutuk karena masih memeluk cinta kepada alam, mereka tidak mau tersentuh peradaban sekarang. Tapi kau benar, bagaimana kau tahu banyak? Bukankah dalam peta daerah itu bahkan tidak tampak.”

             “Aku pernah ke tanah surga itu. Wangi kemenyan, bunga setaman, topeng-topeng, jaranan, dan gamelan. Mereka menari, ya, anak-anak itu seolah dirasuki oleh cinta yang aku sendiri tidak tahu rupanya.”

               Semua menjadi kembali teringat masa yang telah berlalu, dulu, bahkan dulunya lagi. Kendang, gong, lalu kostum-kostum, penari, jaranan, dan tak lupa bunga dan kemenyan. Asapnya menguar, wangi, mengusir segala rintangan yang melayang di udara sekitarnya. Sang tetua berkeliling, tangannya ikut mengusir asap agar lekas naik terbang.

              Sebaris penari dengan jaranan memulai pertunjukan. Aku menyukai salah satunya. Lelaki itu terlihat tampan setelah asap kemenyan dia isap dan ditaburkan ke wajahnya. Aku tersedot masuk ke alam yang tak kukenal, hanya indah dan indah. Aku dengan ragaku di sini sementara jiwa dan khayalanku ikut menari dengan gerakan gemulai mengikuti gamelan. Semakin gong itu dipukul aku tenggelam semakin jauh.



              Aku tersentak ketika penari kembali ke tepi. Aku merasa lelah sekaligus indah. Kostum itu dilepas, aku pun terbebas.

             “Kau kenapa? Kau sepertinya tersihir penari yang berkulit putih itu?”

            “Tidak, aku hanya hanyut saja dalam bunyi gamelannya.”

             “Hati-hati, sudah banyak orang yang tergila-gila karena menonton pertunjukan seperti ini. Apa kau tahu, asap kemenyan itu akan mengubah pandangan semua orang, penarinya akan terlihat seperti bidadari jika perempuan, dan seperti Arjuna jika laki-laki.”

           “Itu takhayul. Aku sadar tidak sampai selarut itu.”

          “Apa benar, kau sadar? Beberapa mungkin hanya akan menganggapmu terkesima, tapi tidak denganku. Pertama karena kau meyakinkan dalam hatimu tentang tanah surga itu. Kemudian matamu tak bisa lepas dari memandang penari itu. Asal kau tahu bahkan saat ini, saat kau berdiri di depanku dan kuajak berbicara.”

               Usapan tangannya di wajahku terasa kasar sekali. Aku tergagap. Dia mengajakku berpindah menjauh. Dia kemudian membisikkan sesuatu yang sungguh ketika aku menyadarinya membuatku malu hati. Tadi aku terlihat benar seolah ingin menari, berdiri paling depan dari lingkaran orang-orang yang menyaksikan. Tatapan mataku berbinar seolah aku benar-benar tengah kasmaran.



               Dalam jeda yang hanya tiga puluh menit saja, aku mendapati gamelan itu dibunyikan lagi. Kali ini aku sedikit menjauh. Beberapa penari selain si Arjuna tandang ke tengah-tengah pementasan, awalnya menari kemudian kehilangan kesadaran. Mereka berloncatan, memakan beling, dan mencabuti serabut kelapa dengan giginya.

             “Ingin menari lagi?”

            “Tidak, kau pikir aku penari?”

           “Kalau begitu, kita beli es serut saja. Kau paling suka, bukan?

                Kubiarkan suara gamelan itu menarikku lagi ke alam magisnya. Tapi tidak denganragaku, kerongkonganku terlalu kering untuk mendekat. Udara di sekelilingku seperti memanggilku, kemudian berbisik menggamitku. Aku tidak tahu, mengapa aku begitu menikmati semua ini, seolah aku tidak hanya berada di antara manusia yang makin banyak, tapi juga makhluk lain yang kasat mata.

                 Pedagang es itu baru saja datang. Laki-laki yang mengenalku karena aku adalah pelanggannya. Dia setiap hari berkeliling dengan sepeda tuanya, derit rantai dan gerobak kayunya terdengar biasa di telingaku, apalagi loncengnya. Dia membunyikannya setiap melintas, dan membuatku lari mendekat.

                  “Kang, dua gelas, ya?”



                  Seseorang datang menyuruhnya pergi. Jelas aku tersinggung. Ini tempat bebas, siapapun boleh berjualan, apalagi ada tontonan. Siapapun boleh mendulang rezeki, sama seperti pemilik hajat yang akan mendulang uang dari amplop-amplop, kemudia menghitung untung-rugi dibanding dengan modal yang setengahnya biasanya didapat dari berhutang.

                 Baru saja dia hendak menyendokkan pesananku dari dalam termos aluminiumnya, belum sama sekali dengan tapai dan gula cantingnya—aku selalu memesan tapai singkongnya ditaruh di atas, karena ketika diletakkan di bawah dia tidak tersendok kecuali setelah es yang manis itu tinggal sedikit. Sendoknya terlalu kecil menjangkau dasar—dia meloncat menjatuhkan diri. Badannya menggelepar-gelepar, matanya terpejam rapat. Semua orang di sana termasuk aku menjerit tertahan.

              Sesaat kemudian bersamaan dengan bunyi gong yang dipukul bertalu, pedagang es itu bangun tangannya menggapai-gapai awan. Matanya terbeliak, seperti ada amarah besar di dadanya. Seekor harimau yang dibangunkan dari tidur nyenyaknya. Orang-orang ketakutan, kecuali temannya. Dia hanya menyuruh orang-orang minggir memberinya jalan ke tengah arena.

              Setelah berputar-putar, laki-laki itu berlari dengan kencang. Kemudian dia menari berkeliling. Matanya semakin liar dan merah. Gerakanya menandak-nandak seperti seseorang yang dirasuki oleh sebuah amarah dari dunia kasat mata. Sementara aku tetap berdiri di samping gerobak es.



              “Tadi beli berapa?”

            “Dua gelas. Apa Mas tidak takut? Apa semua tidak membahayakan dirinya?”

             “Tidak. Tadi sudah saya peringatkan agar tidak ke sini. Bahkan barusan saya mengusirnya, Tapi memang semua harus terjadi.”

            “Jadi?’

             “Dia berkilah itu kisah sepuluh tahun yang lalu. Jadi tidak mungkin akan terjadi. Dia bahkan sudah melupakannya. Tenang saja, di sana ada tetuanya, pasti semua baik-baik saja.”

               Aku kembali berada di tepi lingkaran dengan segelas es. Gerobak itu dipenuhi pembeli yang sebagian besar membeli untuk mendapatkan es sekaligus informasi tentang masa lalu yang datang menarik jiwa si pedagang es.

            Es sudah habis, pedagangnya di tengah pentas terlihat sangat lelah setelah asap kemenyan menyadarkannya. Tetua itu sudah berusaha sedari awal, tetapi sesuatu dalam diri pedagang es itu enggan pergi sebelum puas rupanya. Bajunya kotor dan basah oleh keringat.



             Setelah dia tersadar mukanya memerah malu, dia melihat sekitar, dan tertunduk. Dia pergi setelahnya bersama teman pedagang yang tadi menggantikannya.

             “Apa dia berasal dari tanah surga itu?”

           “Mungkin juga. Mungkin juga tidak. Sebelum orang-orang di daerah kita menjadi kekinian mereka sama seperti orang-orang dari tanah surga yang kautemui.”

          “Apa mereka juga akan menjadi seperti kita, dan pergi menjauh dari tanah surga itu?”

          “Tidak! Mereka akan tetap menjadi mereka, tapi setidaknya mereka nanti akan menjadi lebih berpendidikan saja. Aku berharap seperti itu. Di tanah surga itu mereka seperti satu keluarga besar, satu dengan yang lain merasa satu penderitaan, aku berharap setelah mereka menjadi kekinian, tanah itu tetap menjadi tanah surga yang pernah kaulihat.”

            “Tapi di kekinian semua orang saling berlomba: saling menusuk, saling menjegal, saling membinasakan.”



         “Tapi kita tidak mati sia-sia, bukan? Kenyatannya kita masih hidup. Jadi kau tak perlu cemas dengan mereka yang mempunyai akar kuat.”

          Aku kembali menekuni arena. Arjuna yang membuatku terpesona kemb bertandang. Dia menarikan sebuah tarian mengikuti bunyi gamelan.Tiba-tiba aku takut dia akan menjadi seperti tukang es itu, tidak sadar dan kemudian menjadi kacau. Aku tahu tetua

 itu orang yang bijak dan baik, dia akan menyadarkan anggota perkumpulannya. Dia tidak akan membiarkan Arjunaku-dirasuki. Aku tiba-tiba memohon dalam hati.

                “Ayo kita pulang! Aku takut kau ikut bertandang, menari dan bergoyang. Yang kutahu kau bahkan tidak bisa menari dengan baik, aku takut semua yang suci dari tanah surgamu menjadi teracuni. Terlebih hatimu. Kurasa panah-panah dari asap kemenyan itu sudah membuatmu tersihir.”

              Aku harus pergi, temanku benar. Aku tersihir. Baru dua langkah berbalik meninggalkan semua keramaian, kudengar keributan dari dalam hajatan. Istri pemangku hajat kesurupan.



 

 

 

 

Komentar