Kesalahan dan Meminta Maaf
Manusia tidak ada yang tidak bersalah. Kesalahan kerap dilakukan manusia entah itu disengaja atau tidak disengaja.
Kesalahan yang disengaja bisa disebut juga kejahatan. Karena, kesalahan itu memang diniatkan terjadi.
Kesalahan terjadi berarti ada pihak yang menjadi korban dari kesalahan, selain pelaku kesalahan.
Kesalahan yang bisa ditolerir biasanya akan selesai dengan permintaan maaf saja. Sedangkan kesalahan yang tidak dimaafkan oleh pihak korban kesalahan biasanya akan naik menjadi kasus dengan peuntutan yang diawali dengan pelaporan kepada pihak berwajib, dan selanjutnya akan diproses secara hukum dengan diusut dan sebagainya, sampai kepada akhirnya dijatuhkan sanksi.
Kali ini aku ingin bicara soal memaafkan, yang berarti kesalahan itu bisa ditolerir oleh pihak yang dirugikan.
Untuk menyelesaikan permasalahan yang bisa ditolerir orang seharusnya meminta maaf, dan pihak yang dirugikan memaafakan. Sehingga masalah bisa dianggap selesai.
Meminta maaf begitu diagungkan, jadi ketika seseorang bersalah dan sudah meminta maaf seolah sukses, lalu merendahkan orang yang dizdalimi dengan berkata; yang penting aku udah minta maaf, terserah dia mau maafin atau enggak.
Padahal dari nada bicaranya dia tidak benar-benar menyesal atas apa yang dia lakukukan, bahkan merasa bangga. Dan, orang yang dizdalimi seolah menjadi pelaku kejahatan karena belum bisa memafkan.
Ada yang paling parah dari memafkan yang salah kaprah, itu adalah orang yang playing victim. Dia bersalah, tidak mau minta maaf, apalagi menunggu sampai korban kesalahan itu memaafkan. Alih-alih meminta maaf dan merasa bersalah malah terang-terangan menuding korban sebagai pelaku, dan pelaku mengaku sebagai korban.
Mari memainta maaf dengan tulus, dan belajar memaafkan meski berat untuk perkara yang bisa ditolerir!
Komentar
Posting Komentar