Cerpen; 2. Mengintip Dada Bapak

 Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan dicetak dalam buku kumpulan cerpenku berjudul MEMBACA MATAMU






Mengintip Dada Bapak

Oleh: Nurlaeli Umar


 Tembakau iris itu sedang dibubuhkan pada kertas manis, kami di sini menyebutnya papir.

Mungkin dulu orang-orang mendengar kata paper, dan dimudahkan pelafalannya menjadi papir.

Memang, Holand saja menjadi Bekanda, atau Japan menjadi Jepang. Ya, begitulah. Tapi

anehnya meski kita tahu itu salah, tetap saja kita ikut memakainya. Alasannya? Aku tidak tahu

pastinya, yang jelas jika aku menyebutnya dengan benar, lawan bicaraku akan terbahak, dan

mengataiku: sok Inggris.



Aku sudah meminta untuk berhenti merokok berulangkali, tapi hal itu tetap saja masih

dilakukannya. Mungkin, karena ibu yang lebih dulu bersamanya saja tidak pernah melarang

secara keras. Dia melihat ke arahku, dan aku hanya bisa menggelengkan kepala saja. Ternyata

orang tua adakalanya susah dinasihati. Sama seperti aku. Bahkan meski yang membuat aku tahu

banyak adalah hasil keringatnya.

“Kamu harus bisa mencari uang yang banyak, Nduk. Karena, pengajen manusia itu ada pada

uangnya.”



“Tapi Bapak bilang, pengajen manusia itu ada pada seberapa dia bisa menghargai dirinya

sendiri dengan benar. Bertindak tidak menyalahi aturan agama dan darigama.”

“Itu benar, tapi tetap saja, kenyatan hidup itu sedikit menyeleweng dari teori.”

“Bapak itu mancla-mencle. Jadi yang benar mana?”

“Uang, Nduk, dia itu sakti. Bisa menjadikan yang ada menjadi tidak ada, yang tidak ada menjadi

ada, Dari dulu sampai nanti.”

“Lebih sakti dari Bapak?”

“Kamu itu.”

Aku hanya bisa tertawa, karena bagiku hal seperti itu akan berubah ketika aku mendapatkan

uang banyak, tentu bapak selalu mengingatkan tentang moral.


Orangnya open. Ini Bahasa Jawa. Open sama artinya seperti dalam kamus Bahasa Inggris. Bapak

sangat terbuka. Dia selalu ingin membuat orang lain senang. Terkadang membuatku cemburu

merasa orang lain itu lebih dipedulikan daripada aku, anaknya. Rambutnya sudah memutih,

tentu saja bulu matanya juga, kulitnya sudah mengendur, tapi sisa ketampanan itu masih terlihat

jelas.

Dia bapakku, seharusnya apa yang kutahu tentang masa lalunya, sebagian adalah hakku.

Bukankah begitu? Bagaimana mungkin aku tidak boleh tahu tentang siapa orang tua bapakku?


Tapi, sayang, sampai detik ini tak sedikit pun aku tahu tentang mereka, kecuali namanya saja.

Kakekku berasal dari Purwokerto. Sebuah kota tempat aku menghabiskan masa kecilku yang

indah. Pancuran, gemerisik daun bambu, kacang benda, kacang tanah di wajan besar yang

kunikmati gratis, temlek, dage, bunderan patung Diponegoro, dan bunga pukul empat.


 Diabernama Nilam, lengkapnya Nilam Sastomihardjo, seorang lurah yang sangat dihormati, dan

istrinya biasa dipanggil Bu Mendan. Konon katanya, kakekku di masa perjuangan merupakan

komandan Tentara Republik. Aku pernah melihat gambar mereka berdua, tentu bukan di

rumahku. Mereka tampak serasi dan berwibawa. 



Aku akhirnya tahu, rumah bergaya kolonial di samping komplek kuburan Berkoh itu adalah

bekas milik kakekku. Rumah yang sekarang beralih kepemilikan. Penghuninya seorang dokter.

Dulu aku sering memandangi rumah itu lekat-lekat. Aku selalu ingin tahu siapa pemiliknya,

sayang bapak selalu memarahiku.

Sampai akhirnya saat menjelang remaja, ketika aku berkesempatan ke kota itu lagi, seseorang

yang konon katanya adalah bekas kawula di rumah kakek, dan berjualan sroto Sukaraja, sejenis

soto yang bersambal kacang, menceritakan kepadaku sedikit gambaran tentang mereka. “Nduk,

andai saja Mbahmu masih hidup, kau tidak akan sesengsara ini. Termasuk kami.”

“Kami?”

“Semua kawula di rumah itu. Jongos.”

“Siapa Mbahku itu? Bapak tidak pernah bicara tentang mereka.”




“Sudah, lupakan saja. Kau memang tidak perlu tahu banyak perihal mereka. Hanya ada air mata.

Lupakan, dan jangan tanyakan kepada bapakmu, nanti dia akan memarahiku habis-habisan! Tapi

satu hal yang harus kamu tahu, bahwa kedua mbahmu itu sangat mencintai bapakmu. Andai dia

masih hidup dan bisa melihatmu sudah sebesar ini, tentu dia akan sangat bahagia.” Dia

mengusap air matanya cepat-cepat, karena kemudian bapak muncul menemaniku.



Ada yang aneh dari cara orang itu bersikap. Penjual sroto itu membungkukkan badannya dan

sikapnya hormat sekali. Padahal aku merasa tidak ada yang bisa dibanggakan dari kami. Kami

hanya orang miskin yang diberikan anugerah hidup dengan mensyukuri setiap tetes keringat

yang keluar, dan selalu bekerja keras tanpa bisa mengeluh.


Bapak hidup mengikuti ibu di kampung ini. Setahuku nenek dari ibu selalu saja menyalahkan

keadaan dan menghina bapak. Sampai aku terkadang marah. Marah karena bapak yang laki-laki

tidak punya nyali sekadar membantah. Nenek sudah keterlaluan, bahkan untuk sebutir kelapa

pun aku harus membayarnya.dan ketika nenek minta bantuan, bapak dengan sigap melakukan

semuanya.



Bukan itu saja, ketika teman bapak menghinanya dengan mengatakan bahwa bapak tidak akan

pernah bisa mendapatkan uang sebanyak miliknya bapak juga hanya terdiam. Bapak memang

keterlaluan.


 Akhirnya yang terjadi adalah, orang yang mendengar dan ada di saat itu yang marah-

marah, menghardik orang yang menghina bapak. Orang itu pun memarahi bapak. “Sampeyan itu,

kalau dihina seperti itu, sebaiknya ambil air seember, siramkan saja, kalau tidak bisa

membalasnya. Jangan sampai hal itu terjadi dua kali. Sebab aku yang akan membungkam

mulutnya dengan tamparan kursi, dan juga akan memukul sampeyan agar tidak mati. Sampeyan

laki-laki atau banci?” 


Bapak hanya tertawa getir. Dia mengalihkan pembicaraan untuk meredakan semuanya.



Bapak sudah pernah menjadi apapun. Kurasa dia lebih hebat dari seorang super hero sekalipun.

Dari jualan soto, kue bakpao, pengijon, tukang loak, penjual biji mangga, tukang cuci mobil,

sampai juragan beras. Jualan sotonya berhenti hanya gara-gara, disuruh mengolah sawah milik

nenek sepanjang hari bersama ibu, usaha bakpaonya mati gara-gara ada orang yang

memproduksi bakao yang sama persis, bahkan tanda titik hijau di tengah yang jadi ciri khasnya,

tapi rasa dan isinya jauh berbeda. Menjadi pengijon juga gagal karena sering tidak tega saat



memberi harga, belum lagi uangnya ditilep oleh teman bisnisnya, lalu usaha berasnya gagal total,

karena terlalu percaya dengan tangan kanannya. Semua usahanya gagal total, dan habis seiring

waktu, meski pernah menikmati masa kejayaan, hanya karena tidak mau berselisih dengan teman

yang mencuranginya. Andai saja aku sudah sebesar ini, aku tentu tidak akan membiarkan semua

itu terjadi.

Bapak sekarang hanya mengandalkan jualan bibit tanaman. Aku menikmati semuanya dengan

tanda tanya besar. Mengapa bapak sampai kehilangan nyali?



Kemarin, saat ibu sedang memarut kelapa untuk ketan kukusnya, aku berusaha mengorek

keterangan. Sampai saat ini aku masih penasaran dengan kakek dan nenekku dari pihak bapak.

“Bu, biarkan aku membantu!’

“Baiklah, parut memanjang, karena ini bukan untuk santan.” Ibu terlalu apik, parutan kelapa

harus sesuai denngan jenis kebutuhannya, tidak boleh tertukar. Untuk santan akan diparut pendek

dan lembut, sedang untuk urap, atau taburan makanan kukus akan diparut memanjang. Jika

salah, ibu akan mengulang dengan kelapa yang baru. Hasil akhir masakannya akan berbeda,

begitu katanya.



“Boleh aku bertanya, Bu?”

“Oh, iya. Uang darimu sudah dibelikan baju untuk bapakmu, dan untuk tambahan beli biji cabe

untuk bibitan. Cabe sekarang mahal, orang-orang ingin menanam sendiri saja katanya.”

“Ini bukan tentang cabe dan uangku. Pakai saja, itu kan rezeki Bapak dan Ibu juga.”

“Apa ada yang salah dengan Ibu?”

“Bukan, tapi tentang orangtua bapak. Apa benar, makam yang dulu ditunjukkan oleh bapak itu

makan ayahnya? Kenapa bapak tidak pernah berziarah atau membawaku ke sana lagi?”

Awalnya ibu terdiam, tapi demi melihatku penasaran akhirnya dia bercerita, dengan syarat aku

tidak akan berbicara apapun kepada bapak.

“Kenapa?”

“Dengarkan dan patuhi saja!”


Bapak adalah anak paling dimanja oleh ibunya, Bu Mendan, apapun yang diminta selalu

dipenuhi. Bapak tinggal satu rumah bersama sepupunya, keponakan-keponakan Bu Mendan.

Saat itu bapak adalah anak tunggal. Mereka orang terpandang di Purwokerto. 


Sampai suatu saat Bu Mendan meninggal, dan Pak Lurah itu menikahi pembantunya, dengan pertimbangan dia yang paling tahu seluk-beluk keluarga dan anaknya. Tapi tidak berlangsung lama Pak Lurah meninggal dunia, menyusul istri tercintanya.

 Akhirnya terjadilah perebutan warisan. Saat itu baru terungkap, ternyata bapak hanyalah anak pungut dari keluarga terpandang itu. Bapak terluka. Dia merasa sendiri. Dia juga membenci ibu tirinya yang dirasa telah mengkhianati ayahnya, karena menikah lagii dengan kekasihnya setelah Pak Lurah meninggal.


“Jadi bapak itu anak orang kaya?”

“Ya, dan nenekmu tidak tahu tentang masa lalu bapakmu sampai saat ini. Bapak tidak mau

menceritakan siapa dia sebenarnya, pun padamu.”



“Lalu makamnya?”

“Makam yang dulu pernah ditunjukkan padamu memang benar makan kakekmu, tiap hari

Bapakmu itu selalu datang ke sana, sampai suatu saat semua yang mendapat warisan

memindahkan ke kuburan Berkoh, di samping bekas rumah beliau. Tapi Bapak tidak pernah mau

berkunjung ke sana, karena makamnya selalu dipenuhi oleh mereka yang mendapat warisan.

Bapakmu tidak ingin bertemu mereka.”


Pantas saja ketika suatu waktu kami pernah melewati pemakaman di samping rumah bergaya

kolonial itu, bapak langsung menarikku.


Aku baru tahu luka bapak. Pasti itu sangat dalam. Mungkin saat pembagian warisan, kenyataan

bahwa dia hanya anak pugut itu yang paling menyakitkan. Kenyatan bahwa mereka bersaudara

hanyalah sandiwara. 


Belum lagi perebutan warisan itu pasti sangat kacau dan penuh intrik.

Parutan kelapa sudah siap untuk dikukus, agar tidak cepat basi. Sebentar lagi bapak akan pulang.

Dia tentu akan menghabiskan tiga sampai empat bulatan ketan, dan akan melewatkan makan

malam.


“Itulah sebabnya bapakmu tidak pernah ingin bertengkar dengan orang lain, dan ingin kau punya

anak banyak nantinya. Dia kesepian.” .

(Kepada Untung Waluyo).





Komentar