Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan dicetak dalam buku kumpulan cerpenku berjudul MEMBACA MATAMU
Mengintip Dada Bapak
Oleh: Nurlaeli Umar
Tembakau iris itu sedang dibubuhkan pada kertas manis, kami di sini menyebutnya papir.
Mungkin dulu orang-orang mendengar kata paper, dan dimudahkan pelafalannya menjadi papir.
Memang, Holand saja menjadi Bekanda, atau Japan menjadi Jepang. Ya, begitulah. Tapi
anehnya meski kita tahu itu salah, tetap saja kita ikut memakainya. Alasannya? Aku tidak tahu
pastinya, yang jelas jika aku menyebutnya dengan benar, lawan bicaraku akan terbahak, dan
mengataiku: sok Inggris.
Aku sudah meminta untuk berhenti merokok berulangkali, tapi hal itu tetap saja masih
dilakukannya. Mungkin, karena ibu yang lebih dulu bersamanya saja tidak pernah melarang
secara keras. Dia melihat ke arahku, dan aku hanya bisa menggelengkan kepala saja. Ternyata
orang tua adakalanya susah dinasihati. Sama seperti aku. Bahkan meski yang membuat aku tahu
banyak adalah hasil keringatnya.
“Kamu harus bisa mencari uang yang banyak, Nduk. Karena, pengajen manusia itu ada pada
uangnya.”
“Tapi Bapak bilang, pengajen manusia itu ada pada seberapa dia bisa menghargai dirinya
sendiri dengan benar. Bertindak tidak menyalahi aturan agama dan darigama.”
“Itu benar, tapi tetap saja, kenyatan hidup itu sedikit menyeleweng dari teori.”
“Bapak itu mancla-mencle. Jadi yang benar mana?”
“Uang, Nduk, dia itu sakti. Bisa menjadikan yang ada menjadi tidak ada, yang tidak ada menjadi
ada, Dari dulu sampai nanti.”
“Lebih sakti dari Bapak?”
“Kamu itu.”
Aku hanya bisa tertawa, karena bagiku hal seperti itu akan berubah ketika aku mendapatkan
uang banyak, tentu bapak selalu mengingatkan tentang moral.
Orangnya open. Ini Bahasa Jawa. Open sama artinya seperti dalam kamus Bahasa Inggris. Bapak
sangat terbuka. Dia selalu ingin membuat orang lain senang. Terkadang membuatku cemburu
merasa orang lain itu lebih dipedulikan daripada aku, anaknya. Rambutnya sudah memutih,
tentu saja bulu matanya juga, kulitnya sudah mengendur, tapi sisa ketampanan itu masih terlihat
jelas.
Dia bapakku, seharusnya apa yang kutahu tentang masa lalunya, sebagian adalah hakku.
Bukankah begitu? Bagaimana mungkin aku tidak boleh tahu tentang siapa orang tua bapakku?
Tapi, sayang, sampai detik ini tak sedikit pun aku tahu tentang mereka, kecuali namanya saja.
Kakekku berasal dari Purwokerto. Sebuah kota tempat aku menghabiskan masa kecilku yang
indah. Pancuran, gemerisik daun bambu, kacang benda, kacang tanah di wajan besar yang
kunikmati gratis, temlek, dage, bunderan patung Diponegoro, dan bunga pukul empat.
Diabernama Nilam, lengkapnya Nilam Sastomihardjo, seorang lurah yang sangat dihormati, dan
istrinya biasa dipanggil Bu Mendan. Konon katanya, kakekku di masa perjuangan merupakan
komandan Tentara Republik. Aku pernah melihat gambar mereka berdua, tentu bukan di
rumahku. Mereka tampak serasi dan berwibawa.
Aku akhirnya tahu, rumah bergaya kolonial di samping komplek kuburan Berkoh itu adalah
bekas milik kakekku. Rumah yang sekarang beralih kepemilikan. Penghuninya seorang dokter.
Dulu aku sering memandangi rumah itu lekat-lekat. Aku selalu ingin tahu siapa pemiliknya,
sayang bapak selalu memarahiku.
Sampai akhirnya saat menjelang remaja, ketika aku berkesempatan ke kota itu lagi, seseorang
yang konon katanya adalah bekas kawula di rumah kakek, dan berjualan sroto Sukaraja, sejenis
soto yang bersambal kacang, menceritakan kepadaku sedikit gambaran tentang mereka. “Nduk,
andai saja Mbahmu masih hidup, kau tidak akan sesengsara ini. Termasuk kami.”
“Kami?”
“Semua kawula di rumah itu. Jongos.”
“Siapa Mbahku itu? Bapak tidak pernah bicara tentang mereka.”
“Sudah, lupakan saja. Kau memang tidak perlu tahu banyak perihal mereka. Hanya ada air mata.
Lupakan, dan jangan tanyakan kepada bapakmu, nanti dia akan memarahiku habis-habisan! Tapi
satu hal yang harus kamu tahu, bahwa kedua mbahmu itu sangat mencintai bapakmu. Andai dia
masih hidup dan bisa melihatmu sudah sebesar ini, tentu dia akan sangat bahagia.” Dia
mengusap air matanya cepat-cepat, karena kemudian bapak muncul menemaniku.
Ada yang aneh dari cara orang itu bersikap. Penjual sroto itu membungkukkan badannya dan
sikapnya hormat sekali. Padahal aku merasa tidak ada yang bisa dibanggakan dari kami. Kami
hanya orang miskin yang diberikan anugerah hidup dengan mensyukuri setiap tetes keringat
yang keluar, dan selalu bekerja keras tanpa bisa mengeluh.
Bapak hidup mengikuti ibu di kampung ini. Setahuku nenek dari ibu selalu saja menyalahkan
keadaan dan menghina bapak. Sampai aku terkadang marah. Marah karena bapak yang laki-laki
tidak punya nyali sekadar membantah. Nenek sudah keterlaluan, bahkan untuk sebutir kelapa
pun aku harus membayarnya.dan ketika nenek minta bantuan, bapak dengan sigap melakukan
semuanya.
Bukan itu saja, ketika teman bapak menghinanya dengan mengatakan bahwa bapak tidak akan
pernah bisa mendapatkan uang sebanyak miliknya bapak juga hanya terdiam. Bapak memang
keterlaluan.
Akhirnya yang terjadi adalah, orang yang mendengar dan ada di saat itu yang marah-
marah, menghardik orang yang menghina bapak. Orang itu pun memarahi bapak. “Sampeyan itu,
kalau dihina seperti itu, sebaiknya ambil air seember, siramkan saja, kalau tidak bisa
membalasnya. Jangan sampai hal itu terjadi dua kali. Sebab aku yang akan membungkam
mulutnya dengan tamparan kursi, dan juga akan memukul sampeyan agar tidak mati. Sampeyan
laki-laki atau banci?”
Bapak hanya tertawa getir. Dia mengalihkan pembicaraan untuk meredakan semuanya.
Bapak sudah pernah menjadi apapun. Kurasa dia lebih hebat dari seorang super hero sekalipun.
Dari jualan soto, kue bakpao, pengijon, tukang loak, penjual biji mangga, tukang cuci mobil,
sampai juragan beras. Jualan sotonya berhenti hanya gara-gara, disuruh mengolah sawah milik
nenek sepanjang hari bersama ibu, usaha bakpaonya mati gara-gara ada orang yang
memproduksi bakao yang sama persis, bahkan tanda titik hijau di tengah yang jadi ciri khasnya,
tapi rasa dan isinya jauh berbeda. Menjadi pengijon juga gagal karena sering tidak tega saat
memberi harga, belum lagi uangnya ditilep oleh teman bisnisnya, lalu usaha berasnya gagal total,
karena terlalu percaya dengan tangan kanannya. Semua usahanya gagal total, dan habis seiring
waktu, meski pernah menikmati masa kejayaan, hanya karena tidak mau berselisih dengan teman
yang mencuranginya. Andai saja aku sudah sebesar ini, aku tentu tidak akan membiarkan semua
itu terjadi.
Bapak sekarang hanya mengandalkan jualan bibit tanaman. Aku menikmati semuanya dengan
tanda tanya besar. Mengapa bapak sampai kehilangan nyali?
Kemarin, saat ibu sedang memarut kelapa untuk ketan kukusnya, aku berusaha mengorek
keterangan. Sampai saat ini aku masih penasaran dengan kakek dan nenekku dari pihak bapak.
“Bu, biarkan aku membantu!’
“Baiklah, parut memanjang, karena ini bukan untuk santan.” Ibu terlalu apik, parutan kelapa
harus sesuai denngan jenis kebutuhannya, tidak boleh tertukar. Untuk santan akan diparut pendek
dan lembut, sedang untuk urap, atau taburan makanan kukus akan diparut memanjang. Jika
salah, ibu akan mengulang dengan kelapa yang baru. Hasil akhir masakannya akan berbeda,
begitu katanya.
“Boleh aku bertanya, Bu?”
“Oh, iya. Uang darimu sudah dibelikan baju untuk bapakmu, dan untuk tambahan beli biji cabe
untuk bibitan. Cabe sekarang mahal, orang-orang ingin menanam sendiri saja katanya.”
“Ini bukan tentang cabe dan uangku. Pakai saja, itu kan rezeki Bapak dan Ibu juga.”
“Apa ada yang salah dengan Ibu?”
“Bukan, tapi tentang orangtua bapak. Apa benar, makam yang dulu ditunjukkan oleh bapak itu
makan ayahnya? Kenapa bapak tidak pernah berziarah atau membawaku ke sana lagi?”
Awalnya ibu terdiam, tapi demi melihatku penasaran akhirnya dia bercerita, dengan syarat aku
tidak akan berbicara apapun kepada bapak.
“Kenapa?”
“Dengarkan dan patuhi saja!”
Bapak adalah anak paling dimanja oleh ibunya, Bu Mendan, apapun yang diminta selalu
dipenuhi. Bapak tinggal satu rumah bersama sepupunya, keponakan-keponakan Bu Mendan.
Saat itu bapak adalah anak tunggal. Mereka orang terpandang di Purwokerto.
Sampai suatu saat Bu Mendan meninggal, dan Pak Lurah itu menikahi pembantunya, dengan pertimbangan dia yang paling tahu seluk-beluk keluarga dan anaknya. Tapi tidak berlangsung lama Pak Lurah meninggal dunia, menyusul istri tercintanya.
Akhirnya terjadilah perebutan warisan. Saat itu baru terungkap, ternyata bapak hanyalah anak pungut dari keluarga terpandang itu. Bapak terluka. Dia merasa sendiri. Dia juga membenci ibu tirinya yang dirasa telah mengkhianati ayahnya, karena menikah lagii dengan kekasihnya setelah Pak Lurah meninggal.
“Jadi bapak itu anak orang kaya?”
“Ya, dan nenekmu tidak tahu tentang masa lalu bapakmu sampai saat ini. Bapak tidak mau
menceritakan siapa dia sebenarnya, pun padamu.”
“Lalu makamnya?”
“Makam yang dulu pernah ditunjukkan padamu memang benar makan kakekmu, tiap hari
Bapakmu itu selalu datang ke sana, sampai suatu saat semua yang mendapat warisan
memindahkan ke kuburan Berkoh, di samping bekas rumah beliau. Tapi Bapak tidak pernah mau
berkunjung ke sana, karena makamnya selalu dipenuhi oleh mereka yang mendapat warisan.
Bapakmu tidak ingin bertemu mereka.”
Pantas saja ketika suatu waktu kami pernah melewati pemakaman di samping rumah bergaya
kolonial itu, bapak langsung menarikku.
Aku baru tahu luka bapak. Pasti itu sangat dalam. Mungkin saat pembagian warisan, kenyataan
bahwa dia hanya anak pugut itu yang paling menyakitkan. Kenyatan bahwa mereka bersaudara
hanyalah sandiwara.
Belum lagi perebutan warisan itu pasti sangat kacau dan penuh intrik.
Parutan kelapa sudah siap untuk dikukus, agar tidak cepat basi. Sebentar lagi bapak akan pulang.
Dia tentu akan menghabiskan tiga sampai empat bulatan ketan, dan akan melewatkan makan
malam.
“Itulah sebabnya bapakmu tidak pernah ingin bertengkar dengan orang lain, dan ingin kau punya
anak banyak nantinya. Dia kesepian.” .
(Kepada Untung Waluyo).

Komentar
Posting Komentar