Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 16) TAMAT

 


16. Aku Baik Baik Saja

Dua hari lagi pembagian rapor dan aku akan naik ke kelas lima. Seperti biasa aku tetap ke warung jajanan dekat gerbang sekolah dan memebelanjakan uang jajajnku. Langkah kakiku semakin cepat, aku tidak lunglai lagi ketika pulang sekolah, bahkan aku sudah bisa berlari dengan cepat dibanding teman yang lain. 

Tentu saja lututku menghitam, karena mendapatkan banyak tanda cinta dari jalanan. Aku sering meringis dan mendapati kakiku berdarah, karena belum sembuh benar koreng yang satu, koreng baru sudah siap sedia mengantri dengan merobek koreng lama menjadi lebih besar. Aku tidak berhenti, malah kecanduan berlari.

Aku menjadi sedikit berhati-hati di hari selanjutnya itu juga karena aku pernah pingsan berlari di kegelapan, terantuk reruntuhan dan bangun dua jam kemudian. Aku merasakan dadaku nyeri dan ingin tidur saat itu. Semenjak itu semua sedikit berubah., meski aku tetap menyukai berlari.



Dua hari lagi pembagian rapor, seperti biasa lagi aku selalu menjadi pusat perhatian anak-anak yang seharusnya tidak perlu memperhatikanku. Aku senang dengan duniaku, tetapi teman-teman yang lain senang membuat dunianya dengan menggangguku. Anak kelas lima dan enam yang bahkan sudah mulai mendaftar ke sekolah lanjutan menjagokan temanku yang pandai di kelas untuk menjadi juara. Mereka berbicara begitu malam selepas keluar dari tempat mengaji. Bagus itu, hanya saja namaku terseret, mereka tidak setuju kalau aku juga menjadi juara di kelas.

Aku semenarik itu ternyata. Sesuatu yang bahkan aku tidak memikirkannya, bagiku aku naik kelas itu sebuah hadiah. Aku masih ingat bagaimana aku dikatakan bodoh karena tidak bisa membaca, teman-temanku tidak mau berteman karena takut tertular bodoh. Mereka menyalahkan uang jajanku yang banyak dan meminjamnya, dan ternyata akhirnya aku tahu tidak ada hubungan antara jajan dan bodoh. Yang ada adalah saat kelas satu aku sudah bodoh terlambat bisa membaca dan aku juga bodoh karena uang jajanku dihabiskan teman-temanku.



Aku pernah bangga ketika aku sudah sedikit pandai membaca karena rankingku saat itu depalan belas dan teman sebangkuku ranking dua. Aku merasa aku lebih pandai saja dibanding hari sebelumnya, meski aku ditertawakan dan yang lain mengatakan kalau ranking semakin kecil angkanya itu semakin besar kepandaiannya. Aku bahkan untuk hal seperti itu berpikir lama bagaimana hal itu bisa terjadi. Sesuatu yang bagi orang lain mudah dipahami, bagiku tetap saja menjadi misteri dan sulit kumengerti. Dan, aku tetap bangga dengan rankingku yang delapan belas.

Sekarang aku mulai paham apa yang dikatakan teman-temanku, Tetapi, aku tidak pernah mempermasalahkan aku ranking berapa. Aku hanya ingin bisa jajan banyak, karena di kantin semakin hari semakin banyak saja  makanan baru yang enak. Dan, yang terakhir aku bisa berlari sepuasku. Mungkin saja besok aku bisa bersepeda seperti teman yang lain yang suka memamerkan kebisaannya di jalanan.



Tiba hari pembagian rapor. Bu guru membacakan ranking kelas dari yang terakhir sampai ke yang pertama, aku biasa saja, berapa saja rankingku yang penting nanti bacaannya aku naik ke kelas lima. ‘’Sekarang Ibu akan membacakan lima besar, dengarkan baik-baik!’’ Tiba-tiba aku merasa sedih namaku belum disebut, jangan-jangan aku tidak mendapat ranking dan harus tinggal kelas. Tapi, aku percaya aku akan naik kelas, karena ketika nilaiku di kelas satu banyak merahnya juga aku bisa naik ke kelas dua.

‘’Dan, ranking pertama adalah ….’’ Satu kelas berteriak, ‘’Bunga!’’ Aku menatap bu guru tidak percaya. Aku ingin menagis saja. Ternyata aku meraih ranking pertama.

Seisi kelas berebutan menyalamiku, tidak terkecuali dua temanku yang kemarin sempat membuang muka. Semua memberiku ucapan selamat. Aku tergugu, aku berpikir ke mana perginya mulut jahat mereka. Apa mereka menyalamiku karena aku ranking pertama? Ternyata ranking pertama itu lebih menyenangkan mereka dibanding keberadaanku sebagai Bunga.



Aku pulang dengan persaan bahagia, bukan karena ranking pertama, tetapi karena bu guru memberiku hadiah tiga buah buku tulis tebal. Buku tulis yang sudah lama kuincar ketika aku datang ke warung untuk membeli gula.

Aku pulang tidak dengan mengabarkan kalau aku ranking pertama, itu tidak akan menarik ibuku. Ibuku hanya tertarik dengan memasak, adikku, ayahku, dan teman-temannya saja. Aku memilih diam. ‘’Naik tidak?’’ tanya ibuku ketika aku mencopot sepatuku sepulang sekolah.

‘’Ini rapornya.’’  Ibuku melihat raporku dan tidak mengatakan apa-apa.  Padahal jelas tertulis di sana kalau aku mendapat ranking satu.

Aku tidak berharap mendapat selamat dari ibuku. Aku hanya ingin berganti pakaian, lalu makan. Aku lapar sekali. Aku belum makan nasi dari pagi.



‘’Hari ini Ibu tidak memasak lauk dan sayur,’’ kata ibuku ketika aku mengambil piring untuk makan. ‘’Ini uang, beli saja sayur matang. Tadi ada teman Ibu datang ke sini dan adikmu rewel susah tidur.’’

Aku menerima uang itu dan siap berlari karena aku ingin cepat pergi dan sampai di warung nasi di pojok pasar. Aku takut tidak kebagian, soalnya hari ini hari pasaran. Pasti banyak orang makan tidak seperti hari biasanya.

Ketika aku kembali dan mengembalikan kembalian uangnya, ibuku menerimanya. ‘’Kamu itu disuruh beli sayur langsung lari saja, apa kamu tidak bisa berjalan? Apa kamu ingin pamer kepada dunia kalau kamu itu ranking satu? Sombong sekali!’’

Aku terhenyak, itu menyakitkanku. Pencapaianku menyakitkan ibuku ternyata. Aku tidak tahu di mana letak kesalahannya. Pasti kesalahan itu adalah aku. Aku yang salah menjadi bunga tetapi berayah anjing dan beribu serigala. Tenang saja aku sudah terbiasa. ‘’Aku minta maaf Ibu untuk itu. Aku ingin makan sekarang, aku lapar.’’



Untuk membaca bab yang l;ain dari novel ini, ketika; judul novel (bab yang diinginkan) atau Bab spasi judul novel.

Contoh; Namaku Bunga Ayahku Anjing Ibuku Serigala (Bab 1) atau Bab 1 Namaku Bunga Ibuku Anjing Ayahku Serigala

 

 

Komentar