Aku dan Perahuku ketika Ombak Tak Tenang
Oleh; Nurlaeli Umar
(Kepada hati yang tercabik)
Semenjak ayahku tak menjadi cahaya, malam-malam ibu menjadi
lentera.
Tak mengapa api tak besar, sedikit cahaya cukup dirasa
berkobar.
Tak ada yang dijerang kecuali air mata ibu di atas doa.
Tak ada yang keringat yang diperas kecuali kesedihan di mata
ibu.
Aku berdoa diam-diam di kapal yang tengah karam:
agar ayahku saja yang dimakan ombak.
Cukup dia.
Tak perlu lagi
apalagi ibu.
Ayahku mendayung perahuya menuju pulau yang entah.
Kelak beranak pinak menjadi asing.
Aku hanya punya ibu, begitu keluhku pada ombak.
Berhentilah menghempas
Ayah, aku lupa dari mana kapal kita dulu bermula.
Dari negeri derita atau neraka.
Sampai-sampai setiap aku menyebut namamu,
leherku tercekik seketika.
Berlayarlah perahuku, kami yang ditinggal bisa berganti
menjadi nahkoda.
Berlayar sampai ke negeri bersenang-senang di seberang
Menghapus lengking sedih dan temberang hingga sisa kenang.
dan aku merasa menang
Komentar
Posting Komentar