Puisi; 1. Aku dan Perahuku ketika Ombak Tak Tenang

 

Aku dan Perahuku ketika Ombak Tak Tenang

Oleh; Nurlaeli Umar




(Kepada hati yang tercabik)

Semenjak ayahku tak menjadi cahaya, malam-malam ibu menjadi lentera.

Tak mengapa api tak besar, sedikit cahaya cukup dirasa berkobar.

Tak ada yang dijerang kecuali air mata ibu di atas doa.

Tak ada yang keringat yang diperas kecuali kesedihan di mata ibu.

Aku berdoa diam-diam di kapal yang tengah karam:

agar ayahku saja yang dimakan ombak.

 Cukup dia.

 Tak perlu lagi apalagi ibu.

Ayahku mendayung perahuya menuju pulau yang entah.

Kelak beranak pinak menjadi asing.

Aku hanya punya ibu, begitu keluhku pada ombak.

Berhentilah menghempas

Ayah, aku lupa dari mana kapal kita dulu bermula.

Dari negeri derita atau neraka.

Sampai-sampai setiap aku menyebut namamu,

leherku tercekik seketika.

Berlayarlah perahuku, kami yang ditinggal bisa berganti menjadi nahkoda.

Berlayar sampai ke negeri bersenang-senang di seberang

Menghapus lengking sedih dan temberang hingga sisa kenang. dan aku merasa menang



Komentar