Sendiri Dulu Novel

Buku ini sudah diterbitkan dan ber-ISBN.

Penulis; Nurlaeli Umar

Penerbit; AE Publishing



Ucapan Terimakasih

 

Allah segala puji untuk-Mu yang telah memberikan segalanya, umur, kesempatan,

kemudahan, dan kelancaran.

Kepada suamiku Lukmanul Hakim yang telah memberikan kebebasan untuk

menggeluti kesukaanku akan menulis, aku menyebut diriku penyuka aksara, kepada tiga

anakku:

 Hai Umar! Terimakasih sudah memberi semangat kepada mamamu ini.

Buat Nurul: Zahra terimakasih gadis cantikku atas pijitan dan kopinya. 

Buat Si Bungsu Laura: terimakasih atas ketidaksabaranmu ingin melihat hasil tulisan mamamu ini. 

Terimakasih kepada sahabat dari dunia maya yang selalu ada waktu untuk aku bertanya, kepada sahabat lain dan grup-grup kepenulisan di facebook yang terlalu banyak untuk kusebut satu per satu yang banyak menularkan semangat dan berbagi ilmu. 

Buku ini selesai karena kalian!

Penulis




Prolog


Pagi yang semangat. Taman di perumahan mewah ini ramai. Semua tumplek blek jadi satu.

Di lapangan basket ibu-ibu yang aerobik apalagi, instrukturnya yang kemayu bikin

suasana seru. Ada yang main bulutangkis, main bola, ada yang cuma jalan-jalan atau

makanan di kantin. Kantin selalu penuh, mungkin mereka memang datang kemari sebenarnya

buat cari sarapan.



Ini termasuk kelompok yang lumayan banyak juga, datang cuma buat nonton semua

kegiatan di sini. Datang pakai motor dan tetap berada di atasnya, cuci mata lalu pulang.

Cukup luas untuk sebuah taman di ibu kota yang padat. Sebuah kebaikan dari

pengembang yang jujur lebih banyak dimanfaatkan oleh orang dari luar perumahan. Meski

kelihatan beberapa dari mereka yang merupakan warga perumahan elite ini. Jangan ditanya

gimana membedakannya.



Di sisi sebelah timur ada klub karate sibuk berlatih, di sisi barat banyak terlihat

seragam putih juga. Mereka anggota taekwondo. Sekilas kalau gak paham akan terlihat sama

seperti klub yang berada di sisi timur, tapi kalau diperhatikan dari detail seragam dan tulisan

di punggung juga di dada sebelah kiri atas, mereka dua aliran bela diri yang berbeda.



Di sisi barat. Photo berukuran enam kali delapan itu dikasih ke Tifa. Dia memandang

lurus ke arah pemberinya dengan tatapan gak ngerti.

“Ini orang yang gue, eh … saya maksud kemarin.”



Musik yang cukup keras dari bagian aerobik dan beberapa yang koor dari arah kantin-

-anak-anak Vespa karena kelihatan banyak Vespa di parkiran depan kantin yang lagi

gitaraan—bikin kalimat itu gak terdengar Tifa. Kening Tifa terlihat sedikit berkerut,

membuat pemberi photo itu mengulang kalimatnya dengan sedikit lebih keras..



“Tapi ukurannya dan warnanya gak sesuai dengan persyaratan.” Kalimat itu keluar

menanggapi dengan volume yang sama.

Hari ini ada acara latihan gabungan, ada dojang lain yang datang. Menjelang

kejuaraan memang sering diadakan kunjungan persahabatan buat mengukur kemampuan dan

mencari titik lemah yang harus diminimalkan. Kejuaraan dengan perolehan medali lebih

banyak akan membuat satu dojang unggul dibanding dojang lain. Selain mendapat

kehormatan mereka akan menarik anggota baru lebih banyak.



Cowok yang terlihat seumuran dengan Tifa itu sekarang tertawa, gigi putihnya

terlihat, dan kepalanya menggeleng memberitahu ada sesuatu yang salah. Nilai delapan itu

pantas, dia tinggi dan berwajah lumayan. Dari sabuk yang dikenakan dia junior, kuning strip

hijau satu, sedang Tifa bersabuk hitam.

“Seonbae, maaf ini bukan peserta yang akan ikut kejuaraan besok.”

“Lalu?”

“Seonbae, ini teman saya dari klub lain. Orang yang ingin ….”



Tifa menoleh ke arah lain, dia melihat seseorang melambaikan tangan dari kejauhan.

Sesi pemanasan akan segera dimulai.

“Maaf, nanti aku urus lagi, ya? Ayo kita bergabung! Photo ini akan kusimpan, hari ini

akan lumayan sibuk karena harus menjamu klub lain.”

Pembicaraan harus ditunda, terlihat sedikit kecewa di wajah junior yang tampan itu.***



 

 


Komentar