Ular-Ular yang Mematuk
Oleh: Nurlaeli Umar
Langkah kaki Surti terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Sisa mabuk perjalananannya masih terasa, perutnya mual, tapi dia melupakan itu untuk sementara waktu. Mbakyu Watini yang saudara jauhnya barusan menelpon seseorang dengan hape canggihnya itu menyuruhnya lekas. “Ayo, jangan terlambat! Bos yang akan mempekerjakanmu tidak punya waktu luang banyak seperti kita! Sebentar lagi dia akan ke terbang ke luar negeri.”
“Apa aku tidak perlu mandi dulu?”
“Tidak usah, begitu saja sudah cukup rapi. Soal rapi-merapikan itu gampang. Kamu bisa mandi dan tidur di dalam. Cepat, jangan banyak bertanya lagi!”
Benar juga, seandaianya mandi dia tidak tahu harus di mana. Surti mengerutkan keningnya bigung, lengannya terasa sedikit sakit setengah diseret paksa oleh perempuan yang membawanya dari kampung. Dia tidak ingin terlihat seperti seekor kambing yang diseret pemiliknya, mengembik tak dipedulikan. Langkahnya bergegas mengikuti langkah di depannya. Tidak terlalu jauh ternyata. Hanya beberapa puluh langkah dari tempat dia turun dari mobil angkutan berwarna merah. Semoga saja bos itu tidak mengeluhkan bau minyak angin, mukanya yang pucat, dan rambutnya yang sedikit masai.
“Ayo, belok kiri! Kita sudah sampai.”
Ratri mengamati bangunan di depannya. Apakah aku akan bekerja sebagai seorang pembantu? Gedung ini pasti rumah majikan yang dipanggil bos oleh mbakyunya. Tapi tunggu! Sayang tidak terlihat dari sini. Gedung milik majikan bernama. Tidak mengapa tidak jadi kerja di salon seperti janji mbakyunya itu. Menjadi tukang pel di sini itu lebih baik. Selain dapat uang, rumah majikannya megah. Dalam hati Ratri berdoa dengan khusuk semoga kali ini majikannya tidak akan banyak protes. Umurnya baru lima belas tahun, belum berpengalaman apa-apa selain lulus SD dan mengangur tiga tahun tanpa kegiatan yang bisa menghasilkan uang.
“Aku gak mau kawin muda, Mbok. Aku ingin bekerja di Jakarta, atau di mana saja.Yang penting dapat uang.” Dia selalu mengajukan pendapat atau jawaban yang sama ketika dua juragan yang terkenal doyan kawin berlomba menaklukan hatinya. Mungkin kalau dia sudah punya pacar, akan ada tambahan alasan lain yang lebih baik.
Bingkisan yang selalu dibawa kedua orang yang mengejarnya tidak disentuh sama sekali, meski isinya bukan barang haram. Menolak lalu mengembalikannya jelas akan menimbulkan masalah.
“Wah…!” Dia mendeguk sambil terheran-heran. Di pagar, di depan pintu rumah sekalipun bahkan ada yang menungguinya, semacam petugas dengan seragam.
“Mbakyu, disuruh langsung naik!” Ternyata mbakyunya yang sudah lama tidak mengunjunginya terkenal di sini. Pantas saja sekarang mbakyunya terlihat ngota. Dia berpakaian sama seperti yang pernah Ratri lihat di koran bekas, artis-artis yang sedang ngetop.
Ratri sejenak menghitung dengan taksirannya sendiri, kaca mata, pakaian yang dikenakan, sepatu, tas, dan pastinya lembaran seratus ribuan yang tertata rapi ada di dalam sana, akan sama nilainya dengan sepetak sawah yang bisa ditanami padi dan sepetak kebun yang bisa ditanami pohon pepaya, juga rumah rumah kecil yang permanen.
Iya seperti itu. Berarti uang yang dimiliki mbakyunya sangat banyak. Cukup, Ratri hanya ingin bisa memenuhi itu saja! Kekayaan yang nilainya sama dengan yang dipakai mbakyunya sekarang. Dia tidak ingin mobil, rumah mewah, atau kesenangan lain. Senyum si mbok adalah mimpinya.
Dia bersama mbakyunya masuk ke gedung itu. “Kamu di sini dulu.nanti kalau kupanggil baru ikut masuk!” Ratri mengangguk, matanya berbinar. Astaga! Ini bukan rumah, tapi istana. Lantainya bagus sekali, perabotan ruang tamunya mewah. Ini sepuluh kali lipat bagus dan luasnya dari rumah Haji Badrun, orang terkaya di kampungnya. Ini juga jauh lebih bagus dari rumah Juragan Tasman yang ingin melamarnya.
Sepagi ini, suasana sepi sekali. Mungkin bosnya menyuruh dia bekerja di sini lewat mbakyunya karena pasti lelah mengurus rumah sebesar ini sendiri. Semoga ada teman yang juga bekerja di tempat ini nantinya. Akan melelahkan sekali menggosok lantai hingga licin berkilau, belum lagi kaca-kacanya nanti.
Mbakyunya keluar dari pintu ruangan bosnya. Dia melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Di ruangah itu seorang laki-laki berpakaian rapi duduk di sebuah kursi yang bagus. Ratri menaksir umurnya, tidak bisa. Orang itu tampan sekali, entah dengan umurnya.
Tapi, dia masih muda. Berbicara dengan orang kaya membuatnya gugup. Merasa dirinya jauh terlempar ke negeri penuh rasa tahu diri, dia bodoh dan miskin. Tidak banyak pertanyaan, hanya sekitar tiga atau empat. Hanya nama dan apakah benar dia ingin bekerja. Selebihnya mbakyunya yang berbicara beberapa kalimat dengan istilah yang asing.
Yang terakhir sebelum meninggalkan ruangan itu dia disuruh berdiri, kemudian menghadap belakang. Selembar kertas bermaterai disodorkan untuk ditandatangani.
Belum sempat membaca, “Sudah, tanda tangani saja. Kamu hanya tahu bekerja, dan semua urusan biar mbak yang tanggung.” Ballpoin itu terlihat bergetar, menggambarkan amukan jantung antara senang dan bingung. Ratri resmi bekerja!
Ruangan yang dilewati satu demi satu membuatnya tertegun. Ternyata isi dalamnya lebih luas. Ratri bingung di bagian sebelah mana nantinya dia bekerja.Ada banyak ruangan di sini. Semua mewah dan luas.
“Ayo masuk!” Sebuah kamar yang bagus sudah menantinya. “Ini kamarmu. Kamu tinggal sendirian. Pintu kamar yang tertutup di sepanjang lorong ini juga ada penghuninya.”
“Ini terlalu bagus untuk saya, Mbakyu. Bagaimana saya bisa membayar untuk kamar sebagus ini? Apa saya tidak boleh ikut nebeng sama Sampeyan saja.”
Muka perempuan yang disapa mbakyu tampak tak acuh. Dia melanjutkan pembicaraannya. “Kamu akan bekerja sebagai cleaning service. Membantu bersih-bersih. Ikuti saja peraturan di sini. Kau ingin bekerja di salon, bukan? Gajimu di sini besar, anggap saja tempat ini salon itu. Patuhi semua peraturan, jangan membangkang apalagi berulah! Jika kamu keluar dari sini sebelum tiga bulan, aku harus membayar ganti rugi sebesar tiga puluh lima juta.”
“Tiga puluh lima juta? Kenapa begitu?”
“Karena itu kesepakatannya, dan kamu sudah menandatanginya.” Ratri terdiam tak mengira.
Menjelang siang sebuah ketukan di pintu datang membawa jatah makan. Pengantar makanan memerhatikannya. Dia seorang laki-laki yang ramah. Usianya sekitar tiga puluh tahun.
“Anak malang. Baru datang pagi ini?”
“Benar.”
“Ambilah makan jatah siangmu. Aku akan mengantarnya tiga kali sehari. Boleh aku tanya sesuatu?” Ratri mengangguk.
“Apa kau benar-benar ingin bekerja di tempat seperti ini?’
“Apa ada yang salah? Saya hanya ingin bekerja membantu Si Mbok.”
“Itu mulia, Nak. Semoga saja ular-ular itu tidak mematukmu, membuatmu menangis semumur hidupmu. Kau masih terlalu suci untuk tahu bisa-bisa yang akan membuatmu jatuh ke dalam kehancuran.”
“Tapi saya tidak bekerja untuk menangkap ular, hanya sebagai clean …”
“Iya, pekerjaan membersihkan.”
Sayang laki-laki itu datang bukan untuk berbincang. Dia menghilang bersama kereta dorong berisi makan siang, mengetuk pintu-pintu yang lain. Sambil menikmati makan siang yang jauh lebih enak dari masakan di rumah yang itu-itu saja, gadis itu menjadi begitu tertarik dengan siapa yang bekerja di sini, siapa penghuni kamar sebelah, berapa besar salon yang akan dia bersihkan, apa dia juga harus membersihkan kolam renang yang tadi pagi dilewatinya?
Mungkin juga, mungkin kolam renang itu berpenghuni seekor ular. Atau jangan-jangan pemilik istana ini suka menyuguhkan seseorang untuk dijadikan tumbal ular-ular miliknya? Entahlah. Makanan ini terlalu sayang dilewatkan dengan dugaan-dugaan yang mungkin saja keliru. Tempat ini terlalu mewah untuk dugaan kotornya.
Menjelang sore. Sebuah ketukan datang lagi. Apa pengantar makanan itu kelebihan makanan, atau ingin menakutinya lagi? Saat pintu dibuka, seseorang yang lain datang mengantar pakaian untuk bekerja. Sekarang saatnya bekerja.
Itu seragam untuk pekerja, tidak ada sedikit pun tanda bahwa ini adalah pakaian penangkap ular. Benar-benar konyol pembawa makanan itu. Besok gadis itu akan protes. Mungkin saja semua hanya untuk membuatnya seperti anak kecil, menangis ketakutan, dan itu akan membuatnya tertawa saat bertemu karena dia berhasil mengerjai.
Ups! Baju ini kelewat kecil, roknya hanya setengah paha, tapi baju atasannya pas. Orang di sini aneh-aneh. Tapi tidak mungkin protes, karena ke mana hilangnya pengantar baju itu pun dia tidak tahu. Sepatunya berhak tinggi. Ratri suka sekali. Dia tampak beberapa centi lebih tinggi dan tidak terlihat seperti anak kecil lagi.
Lima menit lagi dia harus keluar kamar, bosnya bilang jam kerjanya dari jam tiga sore sampai jam sepuluh malam. Dia menyisir rambutnya dan memberi gincu pada bibirnya. Pengantar pakaian memberi bedak dan gincu yang harus dipakai. “Aku mirip mereka yang bekerja di kantor-kantor. Rapi.”
Bibir terasa menebal tapi apa hendak dikata itu keharusan. Langkah yang tertatih dan hati-hati takut limbung karena belum terbiasa membuatnya terlihat berbeda. Pekerja di sini banyak dan cantik-cantik. Tamunya ramai, suasananya hidup. Ada tempat fitness, bar, sauna, kolam renang, café, karaoke, dan panti pijat. Dia melihat daftar itu di dinding samping pintu pertama dari arah kamarnya setelah deretan kamar pekerja.
Hanya dua hari pelatihan memijit, dan lulur. Tidak ada pelatihan cleaning service, tidak ada kain pel, tidak ada cara menyapu, tidak ada pelatihan cara menggunakan penyedot debu yang aman. Hanya bagaimana membuat seeorang merasa nyaman dengan sentuhan tangan, dan cara berkomunikasi dengan pelanggan. Itu semua lebih mudah dari yang dibayangkan.
Pagi dini hari. Lampu kamar sengaja dimatikan. Ratri tidak bisa tidur. Dia menjalin jari-jarinya. Air matanya mengalir deras. Tiga puluh iam juta sialan! Batinnya. Malam ini apa yang dikatakan pengantar makan itu benar. Para pelanggan itu memaksanya membantu ular-ular peliharaannya untuk muntah. Ular-ular yang nantinya pasti akan mematuknya. Lalu bisanya akan membuatnyan terkubur hidup-hidup dalam lumpur. Dia merasa kalah dan hancur. Ah, simbok mungkin lebih baik aku dinikahi juragan itu daripada di sini. Terlambat!
Komentar
Posting Komentar