Bab 2. Novel Monster Pembunuh
Peringatan S
BLOG NURLAELI UMAR- Minggu, delapan lebih tujuh menit pagi. S sudah sampai di
depan rumah O. Sudah tiga bulan ini dia memutuskan untuk pindah tidak tinggal
di rumah O lagi. Tidak ada perselisihan, hanya saja dia merasa lebih nyaman
tinggal di rumah yang miliknya yang dibeli seminggu setelah dia keluar dari
rumah O.
Dua jam yang lalu O memintanya untuk datang ke rumanya lewat
pesan. Dia menyanggupinya. Jam delapan saja kamu datanganya, kata O dipesan
yang dikirim kepada S. Tetapi, sepuluh menit yang lalu ketika mobilnya sudah
mendekat telepon darinya kepada O tidak diangkat. Kali ini setelah sampai di
depan gerbangya, dia menelpon lagi, sama saja tidak diangkat.
S mencoba menekan bel di samping pintu gerbang tidak ada
respon. S heran, biasanya selalu saja ada orang di rumah O, sekarang tidak satu
pun terlihat, ke mana orang-orang itu, dan ke mana O. Dicobanya sampai tiga
kali, tetap tidak ada reaksi. S memutuskan untuk pergi saja, mungkin O salah
mengirim pesan.
Baru saja S balik badan, seseorang menggeser pintu gerbang dan membukanya. ‘’S, tunggu! Mau ke mana?’’ tanya O mencegah S pergi.
S berbalik badan, ‘’Kukira kau sudah mati, dan rumah ini
sudah dijual kepada orang lain,’’ jawab S sekenanya.
O yang datang mendekat untuk memeluk S memprotes apa yang S
katakan, ‘’Sialan! Hati-hati kalau bicara! Aku hanya ketiduran, dan dua orang
pembantuku ikut keluargaku menginap di villa. Rumah sepi dan kosong, kecuali
aku. Ayo, masuk!’’
O dan S masuk. ‘’Mobilku biarkan di luar saja?’’ tanya S
kepaad O.
O melongok ke arah mobil S, ‘’Gila, mobil baru! Di dunia ini cuma aku saja yang masih memakai mobil keluaran lama. Baiklah, aku akan mendorong gerbagnya dan mobilmu sebaiknya dimasukkan saja.’’
O mendorong pintu gerbang, sementara S memindahkan mobilnya
ke dalam.
Setelahnya mereka berdua masuk. ‘’Kau bisa membeli mobil
kapan saja, bukan? Mengapa tidak kau lakukan? Jangan mengeluhkan mobilku baru,
yang kemarin masih ada dan kubiarkan di rumah. Kalau bosan dengan yang ini baru
aku memakainya. Kau tahu, tidak ke semua tempat mobilku yang ini atau yang itu
bisa dibawa. Aku akan melihat-lihat dulu tempatnya.’’
‘’Bukan begitu, aku masih nyaman dengan mobilku yang lama.
Hanya saja aku merasa kesal, karena aku disindir tunangan R, karena aku memakai
mobilnya, sementara dia memakai mobil baru.’’
O berharap S berempati kepadanya, tetapi tidak terjadi, S
tertawa tertahan, dan itu lebih menyakitkan untuk O.
‘’Kenapa tertawa?’’ tanya O akhirnya.
‘’Jelas saja itu
kesalahanmu, seharusnya kamu bukan marah tetapi malu. Kamu memakai mobil
tunangan orang lain dan orang lain itu memaki mobil baru sambil mengejekmu
pasti. Kurasa kau juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan
tunangan R, mengaku saja. Jadi, jangan marah, sedikit kesal boleh. Nasihatku,
lain kali pakai mobilmu, atau beli lagi yang lebih mahal dari mobil tunangan R.’’
‘’Kau itu. Memang benr, sih, apa yang kamu katakan. Tapi,
aku benar marah sekaligus terhina. Karena itu memang salahku, aku diam saja,
pura-pura tidak mendengar. Yang lebih parah adalah ada dua orang bersamaku saat
itu terjadi.’’ O mengatakan itu sambil meembuka pintu rumahnya.
O membawa S ke ruangan tengah. Sudah ada minuman dan makanan
tersedia, sepertinya memang O berniat mengundang S.
‘’Makanan ini buat siapa?’’ tanya S sambil menunjuk semua yang ada di meja. Keduanya tidak membahas tentang mobil lagi, mungkin keduanya merasa itu hanyalah lelucon yang menyedihkan saja.
‘’Úntuk kamu sama aku,’’ jawab O sambil mengecilkan volume
televisi yang menyala.
‘’Kamu, dengan
makanan sebegini banyak, laptop yang menyala, lalu televisi juga, memang kamu
sedang kesepian atau sengaja agar rumah tidak sepi?’’ tany S yang menjatuhkan
badannya ke sofa, lalu mengambil satu makanan dari piring-piring di meja.
‘’Bukan, aku memang sedang mengerjakan beberapa urusan,
tetapi sambil memantau percobaan pembunuhan terhadap perempuan pejabat yang
beritanya sedang naik daun. Aku ingin tahu siapa dia, sampai-sampai dijadikan
berita utama dan dibahas. Konon, ada kabar kurang sedap.’’
S tertawa, ‘’Kurasa kabar tentangmu dan pembunuhan di depan
gedung presmian usaha kita , belum cukup untuk membuatmu trauma mendengar
pembunuhan.’’ S mengatakan itu kemudianmemakan kue yang dia ambil tadi.
‘’Eh, jaga bicaramu, S! Kamu pikir aku tidak trauma dengan kematian L? Pembunuhan di depan gedung itu juga membuatku trauma, aku meliahat bagaimana dia mati, darah, dan jeritan yang hampir sama dengan kejadian L di bar itu. Aku justru mengikuti pemberitaan itu karena ketakutan di dalam diriku makin lama maikn mengejarku. L, lalu suami bibinya L dan kemarin itu sepupunya L. Sekarang pejabat perempuan itu. Kurasa mereka semua saling kenal. Dan, kau tahu sekarang mau tidak mau aku juga mengenal mereka. Apa tidak ada kemungkinan aku juga ikut diincar? Tentu saja ada. Motifnya apa aku tidak tahu. Bisa saja kesenangan, dendam, dengki, atau random saja.’’
S mengangguk membenarkan. ‘’Aku juga berpikir sama
sepertimu, hanya saja aku tidak mau memikirkannya. Semakin kupikirkan, semakin
menakutkan. Aku mesti keluar rumah dan mencari uang, bukan? Bukan berarti aku
tidak trauma, tetapi tidak ada jalan lain kecuali mengahadapinya. Apa kau pikir
kedekatanmu dengan bosmu itu tidak membuatku ketar-ketir? Aku sangat khawatir.’’
S menekan kalimatnya dan mengubah mimiknya.
A mendengar dan melihat itu, tetapi dia sepertinya tidak
ingin merasa disalahkan. “Tapi, tidak mungkin pembunuh itu orang suruhan A. Dia
tidak mengenal korban sebelumnya dan tidak ada kepentingan dengan para
korban.’’ O mengatakan itu dan itu fakta yang dia tahu.
‘’Memang, kalau dirunut urusanmu dengan R tidak ada nada
sambungannya dengan kasus pembunuhan keluarganya L. Tetapi, apa yang kamu
lakukan bisa memancing orang melakukan itu. Sakit hati motifnya. Bisa jadi
pelakunya bukan A atau orang-orang suruhannya A, tapi kamu pernha mendengar
tidak, atau menonton film di mana mereka membunuh untuk memuaskan rasa di dalam
dadanya entah itu kesakitan atau apa pun. Mereka merasa berempati dengan A,
alau mengejarmu. Bagaimana kalau hal itu terjadi?’’
Apa yang dikatakan S benar-benar tidak pernah melintas di
kepala O. Dia terhenyak mendengar apa yang S katakan. Secara logika hal itu
memang bisa terjadi. Karena, sampai saat ini pun A seolah tutup mata dengan apa
yang dilakukanku, batin O, tapi, bagaimana dengan orang lain?
‘’Äyo, kita makan kue-kue ini!’’ ajak O kepada A yang sedang mengambil kue ke dua, ‘’Aku belum memakannya, hanya memesan saja. Kalau kau suka, aku akan mencobanya.’’ O bangun dari duduknya dan pergi ke dapur. Dia membawa coke dan dua gelas es batu dengan dua tangnnya. S bangun dan membantunya.
‘’Ini enak, makanlah. Apa yang kamu kerjakan sebenarnya
dengan laptopmu?’’ tanya S tanpa berusaha ingin tahu banyak, dia hanya bertanya
sekadar ingin tahu saja.
‘’Beberapa urusan, kurasa aku ingin mendapatkan lebih banyak
lagi uang. A sangat kaya, aku tidak tertarik dengan Ron sebenarnya. Aku lebi tertarik
dengan kekayaan A.’’ O mengatakan itu sambil menuang coke dalam gelas berisi es
batu.
‘’Hati-hati itu namanya obsesi. Apalagi kau sudah mengambil
tunangannya. Sekarang kau ingin kekayaannya. Tetap waraslah, aku takut kau
nanti terjebak dengan hal-hal yang buruk. Obsesi itu seperti minum air garam,
aku kira akan menghilangkankan hausmu, malah memancing dahaga tidak berkesudahan.
Semakin diminum semain haus saja.’’
Contoh;
Bab 1. Novel Monster Pembunuh









Komentar
Posting Komentar