Bab 3.
Menyiram Api dengan Bensin
BLOG NURLAELI UMAR- Jalanan kota
ini sedikit menjadi ramai setelah guyuran hujan deras usai. Mobil berwarna
merah tua dengan merk yang membuat orang melirik ada di antara mobil-mobil di
jalan tol dalam kota. Di dalam mobil itu A sang pengacara muda yang semakin
berkibar namanya mengemudi dengan tenang, musik mengalun menemaninya. Sebuah
lagu rock lawas yang evergreen. Itu lagu kesukaannya, mungkin juga lagu
kesukaan zaman muda generasi sebelumnya.
A memacu
mobilnya dengan kekuatan sedang. Semua berjalan seperti itu sampai pengacara
muda itu melihat ada mobil dengan nomor polisi yang tidak asing. Dia menambah
kecepatan mobilnya, karena mobil dengan nomor polisi tidak asing itu
menyalipnya. Terjadilah seperti sebuah balapan tidak resmi, A menikmatinya.
Semua terjadi
hanya beberapa menit saja. Tangan kanan A memegang kemudi, sementara tangan
kirinya menyentuh hapenya yang diletakkan di car holder ‘’Halo, di mana?’’
tanya A tanpa banyak basa-basi.
Seseorang
yang ditelepon A menerima panggilannya. ‘’Halo, ada apa? Pertanyaan macam apa
itu? Tentu saja aku ada di kantor. Aku sedang ada klien.’’
‘’Baiklah,
aku hanya ingin tahu siapa yang membeli mobilmu yang berwarna silver?’’ A
menyebutkan nomor polisinya dan merk mobil itu.
‘’Aku ada di
kantor. Oke?’’ Hanya itu jawaban yang diberikan oleh seseorang yang ditelepon A.
Setelah itu
oanggilannya dihentikan, karena orang itu memutuskan sambungannya. A tertawa.
Dia membiarkan mobil yang tadi disalipnya beberapa kali ada di depannya berjarak
. A mengikutinya sampai mobil itu akhirnya berhenti di sebuah mal mewah.
Begitu
seseorang yang berada di mobil warna silver itu turun, A langsung turun. Dia tersenyum,
dan mengangguk. A memantau orang itu dan membiarkannya masuk mal, baru dia ikut
masuk.
A tidak
mengikuti orang itu, lebih tepatnya perempuan itu. Dia memperhatikannya dan
duduk di sebuah gerai sambil memesan minuman. Meski dia terlihat sibuk dengan
android keluaran terbaru yang mewah di tangannya, matanya tetap memperhatikan
seolah perempuan itu, tidak boleh lolos.
Benar saja,
setengah jam kemudian peremuan itu masuk ke sebuah restoran dan A dengan segera
masuk ke dalamnya. Perempuan itu hanya sendiri saja. Sendirian berkeliaran di
jam kantor dengan mobil mewah, dan sekarang berkeliaran di mal mewah juga
sendirian. Sayang, A tahu mobil yang dipakai perempuan itu bukan mobilnya,
tetapi milik R.
A langsung
duduk di depan perempuan itu hanya dengan modal senyum. ‘’Duduklah, aku juga
sendirian.’’ Perempuan itu mempersilakan dengan hormat kepada tuan pengacara
muda yang ingin bergabung.
‘’Lmayan
juga kemampuan menyetirmu,’’ kata A begitu pesanan untuk perempuan di depannya
dan dirinya datang. ‘’Tenang saja aku bayar sendiri, ‘’ lanjut A.
’Jadi, tadi
Anda yang menyalip saya, dan hamour membuat saya jantungan?’’ tanya perempuan
itu gemas. A mengangguk.
‘’Tentu
saja. Karena kukira orang yang di dalamnya adalah R, bosmu itu.’’ A mulai
mengaduk makanannya dan mencicipinya, kemudian menambahkan sedikit lada dari
botol kecil di depannya.
‘’Aku meminjamnya,
Tuan Pengacara. Bagaimana kalau tadi terjadi tabrakan? Berapa uang yang mesti
saya keluarkan untuk memperbaiki mobilnya? Tentu saja saya harus menggantinya
dengan gaji saya seumur hidup, bukan? Apa itu yang Anda inginkan?’’
A mulai
menyuap, dan perempuan di depannya juga melakukan yang sama atas makanan yang
dia pesan. ‘’O, aku bukan mereka yang hanya tahu kamu karyawan. Kamu itu tidak
miskin, kamu memegang empat perusahaan terdaftar resmi dengan omset tidak bisa
dibilang miskin.’’
O mngehentikan
makannya. Dia menatap A. ‘’Apa yang ingin Anda katakan sebenarnya?’’ tanya O
tidak berkedip.
‘’Makan saja.
Kita bicara sambil makan. Kamu tidak akan mutung meninggalkan makananmu, lalu
kabur dengan mobil pinjaman, bukan? Kamu itu tipe-tipe perempuan
penghitung bahkan sampai nol rupiah sekalipun. Apa memakai mobil sendiri
memalukan, sampai tidak malu memakai mobil selingkuhan?’’
Baru saja O
hendak membuka mulutnya, ‘’Benar-enar tidak mau rugi, sampai mobil saja pinjam,
yang berarti mengirit pengeluaran untuk bensin, dan berkeliaran di jam kerja
dengan alasan apa pun itu tidak benar, apalagi memakai fasilitas yang kamu
tidak berhak memakainya. Karena AM itu temanku. Hati-hati!’’
O menunduk.
Dia membiarkan semua perkatan Andrian dan masih tetap diam. Dia menyuap
makanannya sambil matanya menghindar dari tatapan orang di depannya.
Akhirnya,
‘’Tuan Pengacara, kita tidak pernah bermasalah sebelumnya, bukan? Aku tidak
meyinggungmu, dan aku juga tidak pernah membuatmu merugi.’’
A tertawa.
Dia melanjutkan makan lagi. ‘’Tuan Pengacara, Anda sedang menjatuhkan harga
diri Anda sendiri dengan mengejar saya sampai ke sini. Bukankah begitu?’’ tanya
O terdengar mengejek.
A tertawa ringan. Dia sudah terbiasa bersilat
lidah, perkataan O membuatnya merasa geli.
‘’Aku
sebenarnya kecewa, karena kecewa jadi aku ingin memberimu sebuah nasihat. Aku
tadi menyalipmu karena kupikir kau itu R, aku hafal nmor mobil yang kamu pakai.
Aku sudah menelpon ke kantor, dan R sedang ada pertemuan dengan klien yang
kukira itu adalah sumber uang. Sepertinya itu klien penting. Aku hanya
menanyakan siapa pemakai mobil miliknya. Kalau itu adalah tunangannya dia akan
dengan bangga mengatakn kalau yang memakai mobil miliknya itu adalah tunangannya
di depan klien. Kesannya dia adalah laki-laki yang penyayang dan menghargai
hubungan. Mendengar dia memutuskan sambungan telepon dengan tidak menjelaskan
siapa yang memakai mobilnya, aku langusng terpikir itu adalah kamu. Seseorang
yang malu disebutkan di depan klien, karena hanya akan membuat namanya buruk,
meski kami laki-laki beruang bisa mendapatkan banyak wanita dalam satu
genggaman, tetapi menjadi laki-laki selingkuh di depan klien itu adalah
aib. Kami itu pemain juga golongan orang yang menjaga imej. Jenis laki-laki
biadab, tetapi tetap ingin dikatakan beradab.’’

Muka O
memerah. Belum sampai di situ saja ‘’Belilah mobil yang sekelas jangan pelit
dengan dirimu sendiri. Sudah meminjam tidak mengisi bensin, mengakui tunangn
orang, dan aku sedang menunggu apa yang akan kamu lakukan setelah ini. Lihat
saja, aku tudak segan menggringmu ke penjara. Akan kubuat begitu.’’
O bersikap
seolah pembicaraan mereka direkam. Dia menyentuh layar android di tangannya.
‘’Rekam saja dan sebarkan ulimatumku. Aku akan mengejarmu sampai ke neraka. Kau
sudah mengusik kehidupan temanku. Kau itu, aku melakukan ini sebenarnya kecewa,
karena kupikir aku bisa minum kopi tanpa janji dengan R, ternyata mobilnya kamu
yang membawanya. Rekam saja, akan kubuat hidupmu sengsara. Aku akan menunggu
moment itu. Catat perkataanku, atau rekam, karena kamu akan melakukan semuanya
seperti yang kumau. Kau akan menemui kematianmu sendiri, kecuali berhenti
mengganggu tunangan teman baikku.’’

O
tercengang. Dia terlihat hampir menangis. Ini semua tidak pernah terlintas di
kepalanya. Hari in sangat buruk, lebih buruk dari ketika dia bertemu AM dan MR
saat itu. A makan dengan lahap, setelahnya bangun meninggalkan O seolah tidak
terjadi apa-apa sebelumnya. Sangat tenang dan terlihat berkelas. A memang
sesempurna itu. Bahkan, O sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak
akan berani mengadukan semua ini kepada R.
Setelah A tidak
lagi terlihat, O menangis. Dia
benar-benar menangis. Ini tidak pernah dilakukan siapa pun dalam hidupnya,
bakan oleh J yang menolak cintanya. Ini benar-benar pukulan telak.
Andrian
kembali ke mobilnya dn menghilang dari pelataran parkir mal mewah sepi ini. Mal
yang hanya terlihat satu dua saja yang datang, tidak seramai mal pada umumnya.
Mal yang menjaga pemilik uang bisa berbelanja dengan tenang, tetapi tidak
memberi ketenangan kepada O, sama sekali tidak.
Komentar
Posting Komentar