Bab 39. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


39. Dating Berlima

BLOG NURLAELI UMAR- Rayan sudah ada di depan rumahku ketika aku keluar dari pintu pagar. ‘’Mau ngapain?’’ tanyaku kepada Rayan.

Aku gak ada janji setelah pulang dari rumah Yazi. Aku kemarin pulang setelah mamanya Yazi datang. Aku pulang dengan seplastik kedondong dan empat sisir pisang. Mamanya Yazi yang memberikan dengan setengah memaksa. Rayan menolak kubagi, karena dia sudah dibawakan Yazi ketika Yazi pusing dan akhirnya gagal menginap.

‘’Mastiin kamu gak bohong. Kata Yazi kamu ada janji ketemu sama calon pacarmu. Yazi masih penasaarn, apa itu bohongan atau beneran.’’

‘’Beneran. Kamu mau ikut sekalian?’’

‘’Emang boleh?’’

‘’Boleh aja.’’

‘’Iya, deh.’’



Benar-benar orang suruhan Yazi ternyata. Mana ada orang mau kencan terus ditemani tetangga. Dan tetangganya dengan polosnya  mengatakan mau ketika ditawari ikut. ‘’Oke, kamu begitu aja, atau mau ganti baju?’’ tanyaku kepada Rayan.

‘’Aku pulang dulu nuker sandal sama sepatu. Aku juga belum bawa duit.’’

Benae-benar ‘lawak’, Rayan bahkan mau menukar sendalnya dengan sepatu. Tapi, karena aku terlanjur menawarinya aku akhirnya mengiyakan. ‘’Ya, udah sana pulang. Aku tunggu di sini. Jangan lama-lama, tapi.’’

Rayan benat-benar pulang. Aku tertawa setelahnya. Aku menelpon Def. Def gerak cepat menerima pangilanku. ‘’Halo, iya, Laura, kenapa?’’



‘’Halo, juga, Def. Iya, ada sedikit masalah. Pacarku nyuruh mata-matanya nemenin aku buat ketemuan sama kamu. Apa kamu keberatan?’’

‘’Enggak, santai aja. Tapi, bukannya kamu putus kemarin?’’

‘’Ya, udah putus. Mungkin dia penasaran. Mata-mata itu tetanggaku yang sahabatnya dia. Mereka sahabatan dari kelas tujuh.’’

‘’Gak masalah. Ajak aja. Biar rame.’’

’Nanti aku yang bayar makanannya.’’

‘’Ngomong apa, sih, kamu, Laura? Santai aja. Aku yang ngajak.’’

‘’Oke. Anaknya udah datang, Dan, mobil angkutannya juga udah datang. Sampai ketemu di sana. Aku gak jadi naik kereta.’’

‘’Kasih tahu aku kalau udah sampai terminal, ya. Aku jemput ke sana.’’

‘’Okee.’’



Rayan mendekat, dia sekarang terlihat rapi. ‘’Sebenarnya aku gak mau, Laura. Tapi, Yazi lagi sakit. Dan, dia sedih banget kayaknya. Emang kamu sama Yazi kemarin berantem? Kalian kemarin pegang-pegangan tangan padahal.’’

‘’Iya, Yazi mastiin kulitku korengan apa enggak.’’

‘’Dasar, Laura!’’

 Aku tertawa, dan Rayan hanya menggeleng-gelengkan kepala saja setelahnya.

Mobil datang. Aku masuk disusul Rayan. Tetapi, Rayan lebih memilih duduk di depanku dan kami saling berhadapan dari pada duduk di sebelahku, padahal masih ada satu tempat kosong. Dia membiarkan ibu-ibu lain yang ikut masuk untuk duduk di sebelahku. Aku mendapatkan tempat duduk di paling belakang.

‘’Memang ada apa?’’ tanya Rayan kepadaku.

‘’Gak ada apa-apa.’’

‘’Yazi maksudku.’’

‘’Emang dia gak cerita?’’



‘’Belum karena dia kayaknya sedih banget. Semalem kutelepon dia cuma bilang tolong temenin kamu yang mau ketemuan sama calon pacarmu. Apa kamu sama Yazi berantem? Atau kamu nolak dia?’’

Aku tertawa saja, aku menggelengkan kepala. Rayan mengangguk-angguk. Kami berdua berhenti bicara setelahnya sampai terminal.

Begitu sampai terminal aku turun dari mobil dan menepi. Rayan mengikutiku, berjalan tanpa protes. Aku menelpon Def. Def mengatakan dia sudah sampai terminal. Aku menyebutkan posisiku. ‘’Iya, kamu puter kiri, deh!’’

Aku memutar kiri badanku dan benar saja Def sudah ada tidak jauh di depanku. Aku berlari ke arahnya. Entah kenapa aku tiba-tiba memeluk Def, dan Def balas memelukku erat.

‘’Maaf, Def,’’ kataku ketika tersadar. Def hanya tertawa, tapi, dari wajahnya dia terlihat senang. Def memberi tanda dengan matanya. ‘’Oh, iya, ini Rayan. Seperti yang kumu bilang?’’ Aku mengangguk mengiyakan.

Def menguluran tangannya, Rayan menyambutnya. Mereka bersalaman. “’Def.’’ Rayan balas menyebut namanya, ‘’Aku Rayan, tetangganya Laura.’’



‘’Kita pesen ojek?’’ tanyaku kepada Def.

‘’Aku bawa mobi. Di mobil udah ada Nino sama Dini. Ayo!’’

Aku mengangguk. Aku, Rayan, dan Def berjalan menuju mobilnya Def. Benar saja di dalam sudah ada Nino dan Dini. Mereka tetap di dalam. ‘’Kamu duduk di depan barenga aku.Temanmu, Rayan di belakang bareng Nino sama Dini.’’

Setelah Rayan masuk ke dalam mobil, aku dan Def naik dan duduk di depan. Aku bicara dengan Def, sementara Rayan, Nino dan Dini mereka juga bicara seolah mereka berteman sudah lama.

‘’Kenapa?’’ tanyaku kepada Def, yang sudah turun setelah mobilnya diparkirkan di depan sebuah restoran. Aku dan Def berjalan bersisian, sementara mereka bertiga Rayan, Nino, dan Dini berjalan di depan. Def tersenyum. ‘’Kamu cantik banget hari ini.’’

Aku tertawa. ‘’Makasih.’’



Kami semua masuk ke dalam restoran. Aku duduk di samping Def, Sementara di depan Def ada Nino, kemudian Dini, dan setelahnya Rayan. Kami memesan baso dan minuman. Menu makanan pesananku sama dengan Def, tetapi tidak dengan minumannya. Sementara pesanan mereka bertiga berbeda-beda. Def yang membayar semuanya tentu saja.

‘’Def, boleh nambah pangsit goreng enggak?’ tanya Dini. Def mengangguk.

‘’Kalau mau nambah yang lain, pesen aja. Gak masalah.’’

Sambil makan Def bertanya tentang sekolah Rayan dan game. Nino dan Dini juga ikut nimbrung. Sementara aku menjadi pendengar yang baik, yang hanya tertawa ketika mereka mulai menyahuti jokes-jokes gilanya Nino.

Def memindahkan beberapa baso miliknya ke mangkukku. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia menyuruhku dengan matanya agar aku memakan baso-baso itu.

‘’Ini coba esku, enak!’’ Def memindahkan gelasnya ke depanku.



‘’Punyaku belum diminum.’’

‘’Coba dulu, Laura!’’ Aku mengangguk mencoba minuman dari gelas milik Def. Aku mengangguk.

 ‘’Enak.’’ Def kemudian meminumnya. ‘’Def?’’ Def hanya tersenyum.

Aku meminum minuman pesananku, dan setelahnya Def mengambil gelasku dan meminumnya. ‘’Ini terlau asam. Kamu minum punyaku aja.’’ Aku mengangguk. Def juga mengambil kuah baso dari mangkukku. Dia mengangguk, ‘’Baguslah gak terlalu pedas.’’

Nino dan Dini bersikap biasa saja melihat Def melakukan itu semua. Hanya Rayan yang terlihat memperhatikan sesekali. Def tahu itu dan bersikap biasa saja. ‘’Nanti pulangnya aku antar.’’ Def mengatakan itu kepadaku dan Rayan.

‘’Diantar ke stasiun? Tapi masih agak lama jadwal keretanya. Mungkin ke terminal aja. Kita bisa pulang naik mobil.’’

‘’Gak, aku antar ke rumah, tapi aku gak mampir. Paling ketemu ibumu, habis itu pamit. Kamu gak keberatan, kan?’’



‘’Aku? Enggak. Terima kasih banyak.’’

‘’Aku ikut, maksudku aku sama Nino. Iya, kan.Nino?’’ Dini mengatakan itu dan Nino mengangguk setuju. Aku tertawa.

‘’Gak papa, asal besok kamu gak bocor aja di kelas,’’ kataku sambil tertawa.

‘’Gak janji. Tapi, tetep boleh ikut, kan, Def?’’ tanya Dini memastikan. Def mengangguk.

Akhirnya satu meja ini terbagi menjadi dua kubu. Aku tukeran tempat duduk dengan Nino. Aku bicara dengan Def, sementara Rayan, Dini , dan Nino, mereka bertiga di kubu yang satunya saling bertukar jokes dan bercerita seru sambil sesekali tertawa.

‘’Masih sedih?’’ tanya Def kepadaku. Aku mengangguk.

‘’Kenapa putus?’’

‘’Selingkuhannya datang juga ke rumahnya. Dia sakit kemarin.’’

‘’Kamu jambak-jambakan sama dia?’’ ledek Def sambil tertawa.



‘’Gila aja, aku suruh jambak-jambakan. Gak banget. Aku ngomong baik-baik kita udahan.’’

‘’Terus tetanggamu?’’

‘’Biarin aja, nanti dia laporan sama sahabatnya.’’

‘’Yakin?’’

Aku mengangguk.

‘’Tadi kenapa meluk? Kangen, ya?’’

‘’Khilaf. Aku mita maaf.’’

‘’Aku juga besok bakalan khilaf tetep nganterin kamu ke stasiun habis pulang sekolah.’’

‘’Kok, gitu?’’

‘’Gak papa, kan? Dari pada aku khilaf meluk kamu besok pas ketemu di sekolah. Pilih yang mana?’’

‘’Iya, deh. Tapi jangan tiapa hari juga.’’

‘’Kenapa?’’

‘’Bensin mahal.’’


’Tapi, boleh, kan, tiap sebulan sekali ngajak makan begini?’’

‘’Gak boleh.’’

‘’Kenapa?’’

‘’Belum pinter cari duit sendiri.’’

‘’Coba, kalau kamu mode manja begini tiap hari. Aku bakalan seneng,’’

‘’Oke, kalau gitu mode galak aja sekarang.’’

‘’Bosen.’’

Aku tertawa. Dan, Def menatapku sambil senyum-senyum. Aku melakukan kesalahan kenapa tadi begitu turun dari mobil aku memeluk Def. Kalau sudah begini aku sendiri merasa susah untuk kembali ke mode galak jadinya. 


 

  Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul

Contoh; 

Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

 

 

Komentar