Bab 4. Novel Monster Pembunuh

 

Aku Akan Kembali

 

 

BLOG NURLAELI UMAR- M bangun pagi dan mendapati J tidur di sofa depan. Ada sedikit perasaan menyesal yang tiba-tiba datang. Menyesal mengundur-undur waktu dirinya diikat secara syah oleh J. Andai saja, dia mengiyakan sedari lama, sudah pasti J tidak akan tidur sengasara di sofa, padahal ini rumahnya sendiri. Ada kasur dan semua yang berhubungan dengan tempat tidur yang mewah di kamar J.

 

‘’Tidak usah sedih begitu. Aku baik-baik saja,’’ J bicara dengan jelas padahal matanya masih tertutup. M sedikit kaget, ada perasaan malu juga karenanya. Merasa malu karena terbaca dengan jelas apa yang tidak dia katakan, bahkan Jmasih dalam keadaan terpejam.

 

‘’Aku akan bikinkan kamu kopi, setuju?’’ tanya M menawarkan diri membuatkan kopi, padahal biasanya juga tidak perlu sampai begitu. Apa pun yang M buatkan untuk J selalu diminum J. J tidak pernah memprotes.



 

J tidak menjawab, entah apa alasannya. Mungkin memberikan waktu agar M tidak merasa tertangkap dan pipinya memerah. M beranjak ke dapur membuatkan secangkir kopi. Dia juga mengeluarkan donat yang diletakkan masih dengan dusnya ke dalam lemari pendingin. M mengeluarkan donat itu dan meletakkannya di piring, ditata rapi dan terlihat cantik.

 

M kemudian sibuk membuat jus setelahnya. Meski dia sudah membuatkan kopi untuk J, tetap saja dia membuatnya dua gelas. Dia menggoreng sebungkus nughet dan sosis, kemudian menata semuanya di meja makan. Kali ini dia tidak mengeluarkan roti tawar entah untuk dipanggang atau untuk menggapit sosis. Hanya sebotol saus tomat pedas diletakkan di antara semua yang ada di meja makan.

 

J sudah mandi dan berpakaian rapi, meski hanya dengan kaus berkerah dan celana putih. Celana yang akhir-akhir ini sering dia pakai, karena menurut M dia akan sangat terlihat tampan dengan celana putih. J bahkan memesan setengah lusin dengan model yang hampir sama, dan setengah lusin dengan bahan jeans. Semua demi M.

 


M tersenyum mendapati J sudah duduk, sementara dia masih dengan pengering rambut di tangan dan tubuh yang dibalut baju handuk. J bangun dan mengambil pengering rambut itu. Dia menyuruh M duduk dan dia yang mengeringkan rambutnya.

 ‘’J, aku bisa sendiri.’’

J tertawa. ‘’Aku juga bisa masak dan membuat kopi sendiri, jadi apa salahnya aku melakukan ini. Selama itu adalah kamu dan bukan orang lain.’’

 M mengangguk, dia tersenyum, dan membiarkan J melakukan itu semua. Marie merasa J akhir-akhir ini berubah. Sangat berubah.

‘’J, apakah kamu berselingkuh?’’ tanya M.

J menghentikan mengeringakan rambut M. Dia mematikan mesin pengering di tangannya.

‘’Jangan terkecoh dengan anggapan kalau laki-laki tiba-tiba baik itu karena menutupi sesuatu. Tidak selamanya benar. Apalagi kalau itu adalah aku. Aku hanya tidak ingin kau kembali dari kotamu nanti tidak datang ke sini lagi.’’

 M menoleh ke arah J, ‘’Bagaimana bisa terjadi? Aku rasa ada yang salah dengan kepalamu, J. Apa ada yang mengancammu dan mengatakan aku akan melakukan semua itu?’’ tanya M yang akhirnya benar-benar memutar badannya menghadap J.

 ‘’Apa ini karena aku belum juga mau kita menikah?’’

 

J menggelengkan kepalanya. Dia memeluk M. Ini tidak biasa. J memang romantis, tapi tidak pernah secengeng ini, batin M.

 ‘’J,’’ kata M sambil dalam pelukan J, ‘’Rambutku jadi kacau kalau kau memelukku begini erat. Bukan itu saja, kepalaku dan isinya akan jadi kacau, karena sikapmu. Dengar, aku kalau tidak kembali padamu, akan kembali ke mana? Aku hanya punya kamu di hatiku. Kau tahu itu.’’

 ‘’Aku juga,’’ balas J masih tetap memeluk M. 

‘’Kalau begitu aku tidak usah pulang saja. Aku akan mengundur waktunya, atau ayah dan ibuku suruh datang ke sini saja.’’

 Akhirnya J melepaskan pelukannya. ‘’Pulang saja. Kita yang muda yang harus datang ke sana. Aku ingin ikut, tapi tidak hari ini. Atau, kau ingin hari ini?’’

J mengatakan itu dan M tahu itu artinya J akan mempercepat menikahinya. M menggelengkan kepalanya. ‘’Tidak, J! Tahun depan saja kau datang ke sananya. Kali ini biar aku sendiri. Aku janji akan datang ke sini, ke rumah ini, sebagai calon nyonya J. Bagaimana? Apa itu menenangkanmu?’’

 


J mengangguk. Mereka kemudian sibuk menikamati sarapan. Tepatnya sepuluh menit sebelum berita pembunuhan disiarkan di televisi. Kali ini pembunuhan terjadi di apartemen tempat tinggal J. J terlihat mengerutkan keningnya. Dia menatap M. ‘’Benar J, itu di apartemen tempat tinggalmu. Dia yang terbunuh ada di dua lantai di atas roommu.’’

 J menatap layar televisi memastikan siapa pelakunya. Ternyata tidak ada jejak yang mengarah ke mana pun, tapi polisi jelas mengatakan kalau itu adalah pembunuhan bukan bunuh diri.

 ‘’Bagaimana polisi mengatakn ini itu padahal kejadian diperkirakan semalam, dan penyelidikan belum tuntas, J?’’ tanya M memprotes sebelum dia meneguk jus buatannya itu.

 ‘’Polisi punya standar sendiri, M. Mereka paham benar mana tanda bunuh diri dan dibunuh. Toh, pihak kepolisian tidak mengatakan siapa pembunuhnya, itu syah-syah saja. Mereka sudah bekerja dengan benar. Hal itu dilakukan untuk memberi ultimatum kepada pembunuhnya agar waspada, karena geraknya pasti terpantau.’’

 


‘’Terpantau katamu? Pembunuhan gadis di bar mewah itu, pembunuhan suami bibi gadis itu, lalu beberapa kasus pembunuhan lain dari pengusaha sampai ketua partai itu sampai hari ini bahkan belum terungkap. Itu bagaimana menurutmu, J?’’

 J tahu siapa yang M maksud. Itu adalah L, pamannya, ketua partai dan beberapa hasil kerja J dan anak buahnya. J tidak boleh biacara asal, karena M itu otaknya brilian. ‘’Tapi, di semua kasus itu meski pelum terungakap, polisi sudah mengatakan itu hasil pembunuhan.’’

 ‘’Kau benar, J. Aku penasaran saja, karena banyak rumor yang mngatakan itu hasil kerja pembunuh bayaran profesiaonal. Seprofesional itu sampai polisi kehilangan jejaknya, bahkan setelah diumumkan ada titik terang, semua menjadi gelap kembali. Apa ada orang penting di balik semuanya, atau pembunuh professional itu yang sangat bagus kerjanya? Aku kadang berpikir apa tidak bisa menyelesaikan masalah tidak dengan membunuh?’’

 


J hanya tertawa. M paham dengan tertawa J yang menyiratkan bahwa pemikirannya terlalu polos dan seperti anak kecil saja. Tapi, M akan selalu begitu, pikir J, dan J membiarkannya.

 J tahu M itu perempuan yang sangt baik, cantik, dan berkelas. Tapi, M juga tidak bisa disalahkan kalau ternyata ada yang tidak sama dengannya, karena pelaku hidup itu berbeda-beda. Seperti ada yang menjadi pembunuh bayaran, ada yang memesan kematian, dan banyak yang memang pantas dibunuh.

 M sudah membereskan semua yang ada di meja makan, J membantu mencuci cangkir dan gelas yang mereka pakai. Jus yang satu gelas dan tidak diminum J, M pindahkan isinya ke botol kecil setelah ditambahi batu es. Dia mengatakan akan membawanya untuk bekal di kereta.

 


J memperhatikan dari duduknya sambil sesekali melihat ke layar televisi, bagaimana M menyiapkan bekal untuknya dan untuk J bawa ke kantor. Hari ini J sudah izin berangkat setelah jam makan siang. Dan, M mengambil keputusan pulang ke kotanya di hari orang-orang bekerja. Semua jadwal J sudah dpindahkan, selain satu janji tidak ada lagi, kecuali dia akan ada di kantor sampai jam tujuh malam menemani R sambil menyelesaikan pekerjaannya sendiri.

 ‘’Berjanjilah akan memberiku kabar, dan pastikan kau tidak kekurangan uang. Kalau kau ingin dijemput telepon aku. Kenapa kau tidak membawa mobilmu pulang? Itu akan lebih menyingkat waktu dan kau bisa banyak istirahat di sana atau bisa pergi ke mana yang kau suka.’’

 ‘’J, bisakah kau berhenti bicara dan mengatakan ini dan itu? Aku ingin pulang naik kereta saja. Dan, aku akan kembali ke rumah ini, karena cuma aku yang bisa menjadi nyonya J. Paham?’’ J mengangguk senang dari duduknya.



 

Komentar