40. Tiba Tiba Aku Merasa Harus Menyudahi
BLOG NURLAELI UMAR- Def turun dari mobil setelah aku, Rayan, Nino,
dan Dini turun. ‘’Gak papa aku parkir di sini, bukan?’’ tannya Def kepadaku.
Aku mengangguk.
‘’Ayo,
masuk!’’
Aku
membukakan pintu gerbang, masuk berjalan ke beranda rumah dan mengetuk pintu
rumahku. Aku berbalik badan dan mengangguk ke arah mereka berempat, karena
mereka bertahan di di pintu gerbang.
Mereka
mendekat bersamaan pintu rumah terbuka. Ibuku membuka pintu rumah dan keluar menemui kami. Ibuku seperti biasa ramah
dan menyenangkan.
‘’Ini
temannya Laura?’’ tanya ibuku. Def, Dini, dan Nino mengangguk. Mereka
bersalaman, Def, setelahnya memperkenalkan diri mereka masing-masing.
‘’Saya
juga teman, dan tetangganya Laura,’’ kata Rayan yang terakhir menyalami ibuku.
Kami semua tertawa.
‘’Ayo,
masuk! Laura, ajak semua temanmu masuk!’’ Aku mengangguk, mereka semua kuajak
masuk termasuk Rayan.
Ibuku
mengilang sebentar, aku tahu pasti sibuk di dapur. Benar saja sebentar kemudian
keluar dengan teh manis dan dua buah toples bening berisi keripik pisang dan
peyek kacang. ‘’Ini makanan orang sini. Semoaga kalian mau mencicipi dan
suka.’’
Aku
yang masuk menyusul ibuku ke dapur setelah isi nampannya kuletakkan di
meja. Ibuku menanyakan siapa saja mereka
itu. aku menjelaskan kalau mereka bertiga teman sekelasku. Ibuku kemudian sibuk
sendiri, dan aku keluar lagi.
‘’Laura
kita gak lama,’’ ucap Def. Aku mengangguk.
‘’Rayan,
temani mereka makan biar gak kikuk!’’ kataku kepada Rayan.
Rayan
menyeruput teh manis dan mulai membuka toplesnya, mereka bertiga akhitnya mau
mencicipi suguhan ibuku.
‘’Rumah
Rayan rumah ke dua dari sini. Lain kali kalau main dan Rayan sedang di rumah
aku akan ajak kalian ke rumah Rayan. Boleh, kan, Rayan?’’ Rayan mengangguk,
kemudian mengatakan; boleh banget.
Ibuku
keluar dengan tiga plastik kresek besar berwarna merah. ‘’Ini nanati kalian
bagiannya satu-satu. Ibu hanya punya ini untuk buah tangan tanda terima kasih
sudah mau main ke rumah Laura.’’
Def,
Nino, dan Dini terlihat senang sekaligus kaget. ‘’Itu plastiknya kami
masing-masing satu?’’ tanya Dini. Ibuku mengangguk. ‘’Tapi, itu besar-besar
plastiknya. Kami merepotkan Ibu.’’
Ibuku
tertawa. ‘’Enggak. Itu isinya ada keripik ubi, keripik sukun, dan keripik pisang.
Mau Ibu bawakan rengginang mentah, tapi belum kering benar.’’
‘’Gak
usah Ibu! Buah tangan yang Ibu kasih udah cukup banyak. Maaf, kami datang tanpa
membawa apa-apa.’’
‘’Lihat
kalian datang saja Ibu sudah senang. Silakan dicicipi, kalau mau pulang gak usah
pamitan. Soalnya Ibu mau pergi ke mushola antar nasi buat pekerja yang lagi
ngerombak atapnya, Bapaknya Laura juga lagi di luar. Ibu pergi dulu. Rayan temenin
Laura sampai mereka pulang, jangan pulang dulu.’’
Rayan
mengangguk mengiyakan permintaan ibuku. Ibuku pergi keluar, Rayan tetap duduk
menemani Def , Nino, dan Dini sampai mereka bertiga akhirnya pulang. Sekitar
sepuluh menit setelah ibuku pergi ke mushola.
‘’Aku
juga mau pulang,’’ kata Rayan setelah mobil Def menghilang dari pandangan.
‘’Kamu
juga dapet bagian. Tunggu sebentar!’’ Aku masuk dan mengambil plastik yang
ibuku siapkan untuk Rayan. Ibu tadi memberitahuku ketika aku mengantar ibuku
keluar dari rumah untuk ke mushola, kalau di dalam, ada plastik bagian Rayan.
‘’Ini!’’
kataku setelah keluar dari rumah.
‘’Bagianku
banyak sekali.’’ Rayan mengatakan itu setelah membuka plastik yang kuberikan.
‘’Sama
kayak yang lain.’’
‘’Makasih
Laura. Aku boleh nanya sebelum aku pulang?’’
Aku
mengangguk. ‘’Def itu pacarmu?’’
Aku
diam saja. ‘’Kenapa?’’ tanyaku ingin tahu mengapa sampai Rayan berpikir kalau
Def itu pacarku.
‘’Kamu
gak kayak gitu ke Yazi. Kamu meluk Def dan Def meluk kamu, dari situ sebenernya
aku udah bisa ngambil kesimpulan. Beda kalau cuma kamu yang nganggap dia pacar,
atau Def aja yang suka sama kamu. Tapi, kurasa mending sama Def dari pada Yazi.
Def meski aku gak kenal, kurasa naik. Dua temanmu yang lain juga baik.’’
‘’Tapi,
kamu kan sahabatnya Yazi, kenapa bisa bilang gitu?’’
‘’Seenngaknya
Def udah berani setor muka ke rumahmu, dan dia ngasih tahu ke temen-temennya
kalau kamu sama dia itu pacaran. Gak diem-diem. Belum lagi Yazi sama temennya
Riana, mereka gak jelas dan Yazi gak berani ngasih garis jelas kalau dia sama
itu cewek gak ada apa-apa. Cuma itu aja.’’
‘’Terus
kamu bilang apa ke Yazi tentang aku sama Def?’’
‘’Aku
bakalan bilang kalau Def itu tinggi, cakep, dan sayang sama kamu, soal ada
hubungan atau enggak biar Yazi sendiri yang nanya ke kamulah. Gitu kan?’'
Aku
mengangguk mengiyakan. Aku tahu Rayan gak mau terlibat banyak, mungkin juga dia
kesal dengan Yazi dan mantan teman sebangkunya Riana itu.
Rayan
pulang dengan plastik kresek berwarna merah dari ibuku, aku berbalik badan
menuju pintu pagar. Sebuah motor terdengar berhenti. Aku balik badan urung masuk.
‘’Yazi?’’
Dia mengangguk.
‘’Baru
pulang?’’ tanya Yazi santai. Aku mengangguk.
‘’Kamu
udah mendingan?’’ ranyaku sambil meneliti wajah dan tubuh Yazi dengan kataku.
‘’Tadi
itu pacarmu?’’ tanya Yazi. Aku mengangguk.
‘’Kamu
lihat?’’ tanyaku ingin tahu, karena aku gak memperhatikan sekitar apalagi melihat
keberadaan Yazi di dekat rumahku.
‘’Iya.
Aku baru ketemuan sama temennya Riana, ada Riana juga tadi. Aku bilang ke dia
kalau aku sama kamu pacaran, jadi dia jangan ngedeketin aku lagi.’’
Aku
menarik napas panjang. ‘’Kamu gak pernah berhenti bermain-main. Kamu pernah
ngerasain gak waktu kecil dulu, kalau habis main sama temen itu kamu pengen
pulang ngerasain capek dan haus? Aku juga gitu, Yazi.’’
‘’Tapi,
kamu sama dia belum jadian.’’
‘’Kalau
udah?’’
‘’Aku
tahu kamu. Kamu sama dia belum jadian, dan kamu masih ada hati buat aku. Yang
kamu suka itu aku. Yang pengen kamu jadiin pacar itu aku.’’
‘’Tapi,
sekarang udah enggak. Aku gak peduli kamu udahan sama temennya Riana atau masih
ada hubungan juga. Aku lelah sama kamu. Pacar bukan, tapi korban perasaan
terus-terusan. Kamu terus ada di kepalaku, tapi kamu gak mau ngelepas mereka,
dan terus jadi bayang-bayang.’’
‘’Tapi
sekarang kita bisa jadian.’’
‘’Terima
kasih udah bilang begitu. Kamu bener aku sama Def belum jadian, aku sama Def
gak ada hubungan kayak aku sama kamu. Aku gak sesayang ke kamu sama Def. Tapi,
seenggaknya Def ada kasih support ketika aku butuh temen yang bisa diandelin.’’
‘’Aku
juga bisa dari dulu sampai sekarang. Kamu yang gak pernah ngasih kesempatan
buat aku ngedeket.’’
‘’Iya,
aku yang salah, aku yang terlalu suka dan sayang sama kamu. Jadi, aku ngebiarin
hatiku cuma buat kamu. Tapi, mulai saat ini aku bakalan berusaha berhenti.
Meski sakit, aku harus bisa. Ini bukan tentang Def, tapi ini tentang aku yang berubah,
dulu selalu pakai rasa, sekarang aku pakai logika. Kalau kamu mau main, ayo,
kita duduk di beranda. Aku gak mau ngajak kamu duduk di dalam, ibuku lagi pergi
ke mushola, paling bentar lagi datang. Tapi, kalau kamu mau pulang atau ke
rumah Rayan, aku gak bakal nahan.’’
Yazi
mengangguk. Dia menepikan motornya dan menguncinya. ‘’Aku mau ke sini. Udah
lama aku pengen ke sini. Aku gak tahu bisa jadi ini yang pertama dan terakhir,
atau mungkin aku bakalan datang lagi. Tapi, aku gak mau ngelewatin kali ini.’’
Aku
mengangguk, dan Yazi mengekor di belakangku. ‘’Duduk dulu, aku ambili minum.’’
Aku msuk dan keluar dengan minuman dan makanan
yang sama dengan yang ibuku berikan kepada Def, Nino dan Dini.
Ibuku
baru pulang. ‘’Oh, ada tamu. Ini kan temennya Rayan, Ibu sering lihat kamu sama
Rayan. Ibu gak salah lihat, kan?’’
Yazi
bagun dari duduknya menyalami ibuku. ‘’Benar, saya temannya Rayan.’’
‘’Temannya
Rayan, temannya Laura juga, bukan? Kenapa gak pernah main ke sini? Padahal
rumah Rayan dekat dari sini. Kalian bertiga bisa ngobrol di sini. Kamu dan
Rayan sama-sama pemalu.’’ Yazi tersenyum mendengar ibuku bicara panjang seperti
itu.
‘’Ibu
tinggal dulu ke dalam. Kalian ngobrol saja. Barusan, temannya Laura juga main kemari,
mereka bertiga.’’ Yazi mengangguk dan ibuku pergi ke dalam.
Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul
Contoh;
Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku
Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku














Komentar
Posting Komentar