41. Ending yang Menggantung
BLOG NURLAELI UMAR- ‘’Kamu yang nyuruh Rayan buat mata-matain dan ngasih
laporan ke kamu?’’ tanyaku kepada Yazi.
‘’Aku cemburu. Apa itu salah?’’
‘’Tapi, aku gak pernah nyuruh siapa pun buat mantau
kamu. Kalau Riana ngasih tahu ini dan itu soal kamu, itu karena kemauannya
sendiri.’’
‘’Itu karena aku lebih sayang ke kamu, Laura.’’
‘’Jadi, maksudmu aku gak sayang ke kamu? Dan, asal
kamu tahu Riana rela ngelakuin itu semua karena dia tahu cerita kamu dari zaman
SMP dulu. Dan, bisa-bisanya kamu pacaran sama teman sebangkunya setelah
semuanya.’’
‘’Itu cuma seminggu dan gak benar-benar ada hubungan.
Aku kan tadi udah bilang, kalau aku habis nemuin temannya Riana dan bilang gak
usah ngedeket lagi, karena aku mau sama kamu.’’
‘’Seenggaknya dia lebih beruntung dari pada aku.’’
‘’Laura!’’
‘’Iya.’’
‘’Udah jangan ngambek lagi. Gimana kalau kita mulai
dan pelan-pelan aja. Kita jadian, sebulan boleh. Kalau kita cocok, kita jalan
terus. Kalau kamu gak ngerasa nyaman, kita putus.’’
‘’Bukan aku gak mau, Yazi. Aku itu sayang banget sama
kamu, tapi …’’
‘’Kalau kamu sayang, gak perlu tapi-tapi lagi. Apa
iya, aku harus langsung minta ke orang tuamu? Kita masih sekolah, atau kamu
pengen aku ikat resmi setelah kita lulus nanti?’’
Aku menggeleng. Sebulan percobaan setelah tiga tahun
aku menyukainya dan lima tahun Yazi menyukaiku? Ini semua lebih terlihat
seperti main-main. Mungkin ini berbeda dengan seminggu hubungan Yazi dengan
temannya Riana. Tapi, jatuhnya sama saja, hanya percobaan.
Gimana kalau yang seminggu kemarin, ternyata Yazi
benar-benar jatuh cinta sama temannya Riana? Apa itu sebanding sama aku yang
bakalan memperpanjang setelah sebulan aku dan Yazi cocok? Lalu, hari-hari
sebelumnya aku itu apa dan siapa buat Yazi?
Apa ada jaminan Yazi bisa stay dengaku saja, dan gak bakalan menerima temannya Riana lagi, apalagi di keseharian Yazi lebih sering bertemu dengan temannya Riana.
Lebih baik aku menerima Def dari pada Yazi, meski aku
gak ada hati buat Def. Kukira Yazi bakalan bersikeras kalau dia akan datang
dengan tawaran yang lebih baik dari pada uji coba sebulan saja.
Entah bagaimana aku merasa tawaran jalan sebulan dari
Yazi membuat aku illfeel. Seolah aku lupa kalau aku menyukai Yazi sebelumnya.
‘’Seperti yang
kubilang, aku udah lelah. Kemarin banyak banget waktu, dan aku cuma cinta
sendiri. Aku bahkan gak nuntut kamu jadian dan kita pacaran. Sekadar main kamu
aja enggan. Kamu selalu ke rumah Rayan, bahkan ibuku juga tahu. Belum lagi
masalah kepastian, kamu tahu aku sayang sama kamu dari kita kelas sembilan,
tapi kamu malah jadian sama temannya Rani yang tadinya gak ada apa-apa di
antara kalian. Kamu bisa mikir di posisiku enggak, sih? Aku itu apa? Gak ada
apa-apanya, bukan?’’
‘’Bukan itu aja, tentang temannya Riana, bahkan kamu
ngasih kesempatan dia, sebelum aku. Sialan kamu, Yazi! Aku benci kamu
sekarang.’’
Yazi mentapku. ‘’Benci aja aku! Tapi aku yakin kamu
masih sayang sama aku dan gak mungkin kamu ada hubungan sama temanmu tadi.’’
‘’Dasar egois! Tadinya aku berpikir kamu itu malu dan
gak punya keberanian datang ke rumahku atau sekadar bilang tentang perasaanmu
sama aku. Tapi, kamu bisa ada hubungan sama temannya Riana. Aku gak bisa marah
meski aku ingin. Terlalu konyol gak, sih? Bisa-bisanya kamu ngasih kesempatan
sama dia buat jadian sama kamu.’’
‘’Iya, aku salah. Aku minta maaf.’’
‘’Kamu gak salah, Yazi. Kamu dan aku bukan sepasang
kekasih. Jadi, kamu ada hubungan dengan siapa pun, itu gak masalah. Yang
penting, sekarang atau nanti, kamu gak nyoba lagi deketin aku. Itu aja mauku.
Aku gak peduli kamu mau jadian sama siapa, balikan sama temannya Riana atau
putus, atau siapa pun. Aku bukan siapa-siapamu.’’’
Tiba-tiba aku ingin menjadi hewan yang sangat besar
dan mengoyak tubuh Yazi, terus kumuntahkan. Aku benar-benar marah. Aku sangat
terluka. Aku benar-benar gak ingin melihat wajah Yazi buat selamanya. Tapi, aku
cinta. Itu yang bikin luka di dadaku terasa sangat sakit.
Handphoneku bordering, ada panggilan masuk. Aku
meraihnyna dari meja di sampingku, di mana sampingya lagi Yazi duduk sambil memperhatikanku.
‘’Syukurlah. Salam buat mamamu.’’
‘’Enggak, aku lagi duduk-duduk aja.’’
‘’Makasih udah ngajak aku makan. Makasih buat
traktirannya. Makasih udah nganterin aku ke rumah.’’
‘’Oke. Selamat istirahat, sampai ketemu lagi di
sekolah.’’
‘’Enggak. Tetep gak boleh. Bandel, yaa.’’
‘’Bye!’’
Yazi bersikap biasa saja. Dia menatapku setelah
menunduk ketika aku menerima panggilan masuk dari Def. ‘’Ya, udah, aku pulang
sekarang. Kamu juga harus istirahat, bukan? Besok mesti sekolah. Tapi, urusan
kita belum selesai.’’
‘’Urusan yang mana? Kan, udah final, kalau aku sama
kamu itu gak ada apa-apa.’’
Yazi tertawa. Senyumnya manis seperti biasa. ‘’Kamu
itu gak pernah kelihatan marah. Kali ini aku tahu kamu kesal, tapi kamu gak
marah. Karena kamu tahu, aku gak pernah bisa pacaran sama siapa pun dari dulu
sampai nanti. Kamu tahu banget, kalau aku ada hubungan sama temannya Riana
hanya sebatas status dan itu cuma sebentar. Aku gak ngapa-ngapain sama sekali.
Kalau aku mau, sudah habis itu temannya Riana. Tapi, aku gak ngapa-ngapain dia,
karena aku cuma sayang dan suka sama kamu.’’
‘’Terserah kamu, Yazi. Pokoknya aku bilang kita udah
final. Kita dua orang asing dulu sampai nanti.’’
‘’Aku juga terserah kamu. Butuh keberanian sampai aku
bisa datang ke rumah ini, karena aku selama ini berpikir aku bakalan datang
nanti pas lulus SMA buat ngiket kamu. Aku pulang dulu, istirahatlah!’’
Yazi ingin izin ke ibuku, tapi aku bilang gak usah.
Yazi tersenyum dia sangat tenang menghadapiku. Aku mengantarnya sampai dia naik
ke motornya. ‘’Daa, Laura!’’
Aku diam saja. Aku berbalik badan ketika Yazi sudah
menjalankan motornya. Aku tidak mengikuti motor Yazi dengan mataku seperyi
mobil Def. Aku kesal. Bisa-bisanya dia
datang dan bilang ini-itu, nyebelin! gerutuku .
Ibuku keluar dengan platik merah yang sama, ‘’Mana
temanmu?’’ tanya ibuku. Aku tahu Yazi yang menyebalkan itu juga akan mendapat
bagian yang sama seperti Def dan Rayan. Baguslah Yazi pulang lebih cepat dari
Ibu yang keluar dari arah dalam rumah.
‘’Dia temannya Rayan. Nanti kukasih ke Rayan aja.
Kalau dia gak datang ke rumah Rayan, Rayan yang bakalan main ke sna, Bu.’’
‘’Ya, udah, kalau gitu, kamu kasih ini ke Rayan
sekarang. Sayang udah dibungkus.’’
Aku mengangguk. Aku mengambil plastik berisi ketipik
dan pergi mengantarkannya ke rumah Rayan. Ah,
Ibu, andai dirimu tahu, aku baru saja patah hati untuk yang kesekian kali.
Untuk
membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel
di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul
Contoh;
Bab 1 : Aku
Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku
Bab 1 Aku
Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku










Komentar
Posting Komentar