Ada yang
Datang di Saat yang Tepat
BLOG NURLAELI UMAR- Def ada di
depan gerbang. Sudah kuduga dia menungguku. ‘’Laura!’’ panggilnya, dan aku
menghentikan langkahku. Aku tahu Def akan melakukan ini, setelah sebulan
belakangan dia tidak menemaniku ke statsiun atau mengantarku ke staiun usai bel
pulang berbunyi. Di kelas pun kami jarang bicara banyak, begitu juga di jam
istirahat, karena aku akan ke perpustakaan.
‘’Iya, Def,
ada apa?’’ tanyaku pura-pura tidak tahu dengan berita yang tengah beredar
di antara para cewek-cewek. Berita mengenai Def yang sekarang sedang dekat
dengan adik kelas. Aku tidak mau terlalu ikut campur urusan pribadi orang lain,
termasuk Def.
‘’Kamu
belum pulang?’’ tanyaku agar lebih meyakinkan aktingku yang purur-pura.
‘’Belum,
kita pulang bareng?’’ tawar Def kepadaku. Aku mengangguk. Def yang ada di atas
motornya menyuruhku duduk di belakang. Motor dipacu melewati terik siang.
Anak-anakyang lain sepertinya sekarang sudah makan siang di rumah dan sedang
beristirahat, atau bahkan sibuk dengan hapenya. Aku pulang terlambat, tidak
lama hanya setengah jam telat dari anak-anak lain. Ada urusan dengan guru
matematika.
Sepanjang
jalan aku diam saja. Biasanya Def bicara dan aku menyahut, Kurasa kali ini
berbeda dan memang harus berbeda. Def sudah punya pacar.
Motor masuk
ke area depan statsiun, aku turun. ‘’Kamu mau turun juga?’’ tanyaku pada Def.
Def mengangguk. Aku membiarkan Def memarkir motornya di tempat parkiran, dan
aku menunggunya. Setelahnya aku dan Def masuk ke dalam statsiun.
‘’Kita
duduk di sni saja, ini hari Sabtu. Banyak anak-anak dari sekolah lain yang naik
kereta. Kurasa di dalam penuh sesak.’’ Def mengangguk. Dia menunjuk dua bangku
berdampinagn yang kosong. Aku dan Def akhirnya duduk di sana.
‘’Ada apa,
Def?’’ tanyaku, karena biasanya Def aktif bicara dan bertanya. Kali ini untuk
beberapa saat kami berdua terdiam. Ini menggelikan, sekaligus menyedihkan. Aku
sudah siap dengan kehilangan Def. Aku salah karena tidak menyambut tawaran Def sebelumnya
untuk hubungan lebih dari teman. Tapi, aku tidak mengira akan sesedih ini. Aku
lebih sedih karena kehilangan tawa Def, belum lagi Def pasti akan menjadi asing
setelah hari ini.
‘’Laura,
kamu tahu kalau aku sekarang sudah jadian sama adik kelas itu, bukan?’’ tanya
Def hati-hati.
Aku
mengangguk. ‘’Iya, tahu kabarnya, tapi tahu jelasnya baru kali ini. Dari
kamu.’’
‘’Kamu gak
mau ngasih aku selamat?’’ tanya Def parau.
‘’Selamat
kalau gitu. Aku udah prepare akan seperyi ini ujungnya. Aku minta maaf atas
semuanya yang bikin kamu keki atau apa
pun selama kita deketan.’’
‘’Ini lebih
sedih dari perkiraanku.’’
‘’Def, kamu
berhak sayang sama orang lain. Kan, aku juga udah pernah bilang sebelumnya,
kalau aku udah punya pacar. Jadi, kamu udah melakukan yang terbaik. Toh, kita
tetap berteman, bukan?’’
Hening
antara aku dan Def, Yang terdengar hanya deru kereta dari arah dalam stasiun,
seperti ada kereta yang tiba dan berangkat.
‘’Iya, tapi
tetep aja, ini gak mudah. Aku tahu kamu sayang sama aku, dan aku sayang sama
kamu. Aku tahu kamu gak pernah benar-benar jadian sama pacarmu itu. Ini mungkin
terakhir kita bisa sedekat ini, karena kalau besok-besok pasti kamu akan ada
dalam masalah. Teman-teman bakalan bilang kalau kamu adalah orang ke tiga di
antara aku sama pacarku. Ya, seperti itu. Meski, sebenarnya yang orang ke tiga
itu adalah pacarku.’’
Aku
mengangguk-angguk. Apa yang Def katakan itu benar adanya. Tapi, kurasa semua
ini lebih baik. Aku tidak memberikan kepastian dan Def berhak mendapatkan yang
terbaik buat dia, sesimple itu dan sesakit ini ternyata.
‘’Apa aku
boleh meminta sesuatu?’’ tanya Def di antara diamku.
‘’Aku gak
tahu apa aku bisa ngasih yang kamu mau atau enggak.’’
‘’Aku mau
kita masih tetap deket di kelas, aku gak mau hari-hari menjelang kita ngadepin
ujian menjadi terasa lebih berat. Jujur, aku sebenarnya menyesal, kenapa harus
sekarang di saat menjelang ujian. Aku gak mau hasil yang kamu dapetin buruk,
hanya karena aku punya pacar.’’
Aku
tertawa. Aku mengeleng-gelengkan kepalaku. ‘’Def, kamu tahu aku gimana,
bukan?Atau, sebenarnya kamu memang gak tahu aku. Mungkin benar kamu gak tahu
aku, jadi kamu lantas khawatir kalau aku akan terpengaruh karena sedih kamu
punya pacar. Santai aja, aku B-aja.’’
Def
terdiam, dia tidak mengiyakaan apa yang kukatakan padanya. Hapenya berbunyi,
ada panggilan masuk. ‘’Halo, Nadia. Iya, aku lagi ketemu sama temanku. Nanti
kita ngomong lagi. Di sini sangat bising. Nanti kukabari kalau aku sampai
rumah.’’
Def
menerima teleon dari Nadia. Iya, nama adik kelas itu Nadia. Dia cantik, tinggi,
dan langsing. Dia memang banyak yang menaksir, ternyata pemenangnya adalah Def.
Aku ikut senang, karena Deflah yang menang. Aku kira hanya sampai di situ saja.
Maksudku, Def punya pacra dan kami menjauh. Kembali dengan setelah teman
seperti di awal, tapi sekarang tiba-tiba aku merasa kehilangan.
Aku gak
boleh egois, karena untuk ada hubungan dengan Def, aku memang tidak mau. Entah
mengapa, padahal sudah kuyakinkan kalau Yazi itu gak ada apa-apanya dibanding
Def. Tapi, masalah hati aku sendiri angkat tangan. Aku tetap tidak bisa
mempunyai rasa sama seperti yang aku kasih ke Yazi.
Kalau
sekarang aku merasa sedih dan kehilangan, bisa saja aku mengemis kepada Def
untuk balikan, dan Def memutuskan hubungannya dengan Nadia, kurasa akan
berhasil, tapi itu namanya aku serakah dan menyakiti Def dua kali lipat
‘’Laura!’’
Aku menoleh
ke arah sumber suara. Aku tercekat, Yazi? Yazi ada tidak jauh dari dudukku dan
Def, dia sendirian. Wajahnya terleihat senang bisa melihatku. Dia mengangguk,
dan mendekat. Yazi mengulurkan tangannya kepada Def. Def bangun dari duduknya.
‘’Aku,
Yazi.’’
‘’Aku, Def.’’
‘’Kalian
masih mau ngobrol atau mau masuk ke dalam?’’ tanya Yazi tenang.
‘’Aku
udahan, kok. Def, makasih udah nganterin, aku kayaknya bakalan masuk sekarang.’’
Aku merasakan ini sebuah pertolongan untukku untuk lepas dari situasi sedih ini.
Def
mengangguk. Aku bangun dari dudukku. ‘’Ayo!’’ ajak Yazi. Aku mengangguk dan
mengekor Yazi, dan sebelum benar-benar masuk, aku mengangguk ke arah Def. Def
balas mengangguk.
‘’Kita
langsung ke kereta. Gimana?’’ tanya Yazi menoleh kepadaku. Aku mengiyakan dengan
mengangguk.
Aku
berjalan berdua dengan Yazi, ini kali pertama dia seberani ini kepadaku. Semoga
ini buan tanda yang sama, kalau Yazi juga akan mengatakan selamat tingal sama
seperti Def. Tiba-tiba aku menjadi takut sedih.
Yazi naik,
dilanjutkan dengan aku. Dia membantuku naik dan dia yang menunjukkan di mana
dia ingin duduk. Maksudku akau dan dia duduk. Kami duduk berdampingan. Dia
mengluarkan sesuatu dari tasnya.
‘’Aku beli
ini, kamu pasti suka.’’
‘’Bakwan?’’
‘’Iya, aku
tahu kamu suka bakwan. Aku udah lama pengen gini, duduk deket kamu, lalu kita
makan barenag di kerera. Aku kangen lihat kamu senyum.’’
‘’Yaz!’’
seruku mengingatkan.
‘’Mereka
gak bakalan denger. Lagian kalau denger juga biarin.’’
Aku
menerima plastik yang berisi bakwan, aku mengambil salah satunya dan mengambil
cabainya. Aku sudah melupakan Def, aku dan Yazi makan bersama. Dia bercerita,
dan aku sesekali tertawa kecil dan dia menataoku dengan mata berbinar.
Yazi tetap
berada di dekatku sampai penumpang naik semua dan peluit terdengar nyaring. Yazi
sangat berbeda hari ini, dia bahkan tetap berada di sisiku, ketika teman sebangku Riana yang
dulu waktu kelas sembilan lewat di hadapan kami untuk mencari tempat duduk.
Teman-temanku
yang lain sepertinya biasa saja dan welcome dengan adanya Yazi di sampingku.
Mereka bersikap seperti biasa saling lempar jokes. Kurasa mereka merestui aku
dan Yazi. Apa, ya? Pacaran mungkin nantinya.
Contoh;
Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku
Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku











Komentar
Posting Komentar