Bab 42. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


Ada yang Datang di Saat yang Tepat

BLOG NURLAELI UMAR- Def ada di depan gerbang. Sudah kuduga dia menungguku. ‘’Laura!’’ panggilnya, dan aku menghentikan langkahku. Aku tahu Def akan melakukan ini, setelah sebulan belakangan dia tidak menemaniku ke statsiun atau mengantarku ke staiun usai bel pulang berbunyi. Di kelas pun kami jarang bicara banyak, begitu juga di jam istirahat, karena aku akan ke perpustakaan.

‘’Iya, Def, ada apa?’’ tanyaku pura-pura tidak tahu dengan berita yang tengah beredar di antara para cewek-cewek. Berita mengenai Def yang sekarang sedang dekat dengan adik kelas. Aku tidak mau terlalu ikut campur urusan pribadi orang lain, termasuk Def.

‘’Kamu belum pulang?’’ tanyaku agar lebih meyakinkan aktingku yang purur-pura.



‘’Belum, kita pulang bareng?’’ tawar Def kepadaku. Aku mengangguk. Def yang ada di atas motornya menyuruhku duduk di belakang. Motor dipacu melewati terik siang. Anak-anakyang lain sepertinya sekarang sudah makan siang di rumah dan sedang beristirahat, atau bahkan sibuk dengan hapenya. Aku pulang terlambat, tidak lama hanya setengah jam telat dari anak-anak lain. Ada urusan dengan guru matematika.

Sepanjang jalan aku diam saja. Biasanya Def bicara dan aku menyahut, Kurasa kali ini berbeda dan memang harus berbeda. Def sudah punya pacar.

Motor masuk ke area depan statsiun, aku turun. ‘’Kamu mau turun juga?’’ tanyaku pada Def. Def mengangguk. Aku membiarkan Def memarkir motornya di tempat parkiran, dan aku menunggunya. Setelahnya aku dan Def masuk ke dalam statsiun.



‘’Kita duduk di sni saja, ini hari Sabtu. Banyak anak-anak dari sekolah lain yang naik kereta. Kurasa di dalam penuh sesak.’’ Def mengangguk. Dia menunjuk dua bangku berdampinagn yang kosong. Aku dan Def akhirnya duduk di sana.

‘’Ada apa, Def?’’ tanyaku, karena biasanya Def aktif bicara dan bertanya. Kali ini untuk beberapa saat kami berdua terdiam. Ini menggelikan, sekaligus menyedihkan. Aku sudah siap dengan kehilangan Def. Aku salah karena tidak menyambut tawaran Def sebelumnya untuk hubungan lebih dari teman. Tapi, aku tidak mengira akan sesedih ini. Aku lebih sedih karena kehilangan tawa Def, belum lagi Def pasti akan menjadi asing setelah hari ini.

‘’Laura, kamu tahu kalau aku sekarang sudah jadian sama adik kelas itu, bukan?’’ tanya Def hati-hati.

Aku mengangguk. ‘’Iya, tahu kabarnya, tapi tahu jelasnya baru kali ini. Dari kamu.’’

‘’Kamu gak mau ngasih aku selamat?’’ tanya Def parau.



‘’Selamat kalau gitu. Aku udah prepare akan seperyi ini ujungnya. Aku minta maaf atas semuanya yang  bikin kamu keki atau apa pun selama kita deketan.’’

‘’Ini lebih sedih dari perkiraanku.’’

‘’Def, kamu berhak sayang sama orang lain. Kan, aku juga udah pernah bilang sebelumnya, kalau aku udah punya pacar. Jadi, kamu udah melakukan yang terbaik. Toh, kita tetap berteman, bukan?’’

Hening antara aku dan Def, Yang terdengar hanya deru kereta dari arah dalam stasiun, seperti ada kereta yang tiba dan berangkat.

‘’Iya, tapi tetep aja, ini gak mudah. Aku tahu kamu sayang sama aku, dan aku sayang sama kamu. Aku tahu kamu gak pernah benar-benar jadian sama pacarmu itu. Ini mungkin terakhir kita bisa sedekat ini, karena kalau besok-besok pasti kamu akan ada dalam masalah. Teman-teman bakalan bilang kalau kamu adalah orang ke tiga di antara aku sama pacarku. Ya, seperti itu. Meski, sebenarnya yang orang ke tiga itu adalah pacarku.’’



Aku mengangguk-angguk. Apa yang Def katakan itu benar adanya. Tapi, kurasa semua ini lebih baik. Aku tidak memberikan kepastian dan Def berhak mendapatkan yang terbaik buat dia, sesimple itu dan sesakit ini ternyata.

‘’Apa aku boleh meminta sesuatu?’’ tanya Def di antara diamku.

‘’Aku gak tahu apa aku bisa ngasih yang kamu mau atau enggak.’’

‘’Aku mau kita masih tetap deket di kelas, aku gak mau hari-hari menjelang kita ngadepin ujian menjadi terasa lebih berat. Jujur, aku sebenarnya menyesal, kenapa harus sekarang di saat menjelang ujian. Aku gak mau hasil yang kamu dapetin buruk, hanya karena aku punya pacar.’’



Aku tertawa. Aku mengeleng-gelengkan kepalaku. ‘’Def, kamu tahu aku gimana, bukan?Atau, sebenarnya kamu memang gak tahu aku. Mungkin benar kamu gak tahu aku, jadi kamu lantas khawatir kalau aku akan terpengaruh karena sedih kamu punya pacar. Santai aja, aku B-aja.’’

Def terdiam, dia tidak mengiyakaan apa yang kukatakan padanya. Hapenya berbunyi, ada panggilan masuk. ‘’Halo, Nadia. Iya, aku lagi ketemu sama temanku. Nanti kita ngomong lagi. Di sini sangat bising. Nanti kukabari kalau aku sampai rumah.’’

Def menerima teleon dari Nadia. Iya, nama adik kelas itu Nadia. Dia cantik, tinggi, dan langsing. Dia memang banyak yang menaksir, ternyata pemenangnya adalah Def. Aku ikut senang, karena Deflah yang menang. Aku kira hanya sampai di situ saja. Maksudku, Def punya pacra dan kami menjauh. Kembali dengan setelah teman seperti di awal, tapi sekarang tiba-tiba aku merasa kehilangan.



Aku gak boleh egois, karena untuk ada hubungan dengan Def, aku memang tidak mau. Entah mengapa, padahal sudah kuyakinkan kalau Yazi itu gak ada apa-apanya dibanding Def. Tapi, masalah hati aku sendiri angkat tangan. Aku tetap tidak bisa mempunyai rasa sama seperti yang aku kasih ke Yazi.

Kalau sekarang aku merasa sedih dan kehilangan, bisa saja aku mengemis kepada Def untuk balikan, dan Def memutuskan hubungannya dengan Nadia, kurasa akan berhasil, tapi itu namanya aku serakah dan menyakiti Def dua kali lipat

‘’Laura!’’

Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku tercekat, Yazi? Yazi ada tidak jauh dari dudukku dan Def, dia sendirian. Wajahnya terleihat senang bisa melihatku. Dia mengangguk, dan mendekat. Yazi mengulurkan tangannya kepada Def. Def bangun dari duduknya.



‘’Aku, Yazi.’’

 ‘’Aku, Def.’’

‘’Kalian masih mau ngobrol atau mau masuk ke dalam?’’ tanya Yazi tenang.

‘’Aku udahan, kok. Def, makasih udah nganterin, aku kayaknya bakalan masuk sekarang.’’ Aku merasakan ini sebuah pertolongan untukku untuk lepas dari situasi sedih ini.

Def mengangguk. Aku bangun dari dudukku. ‘’Ayo!’’ ajak Yazi. Aku mengangguk dan mengekor Yazi, dan sebelum benar-benar masuk, aku mengangguk ke arah Def. Def balas mengangguk.



‘’Kita langsung ke kereta. Gimana?’’ tanya Yazi menoleh kepadaku. Aku mengiyakan dengan mengangguk.

Aku berjalan berdua dengan Yazi, ini kali pertama dia seberani ini kepadaku. Semoga ini buan tanda yang sama, kalau Yazi juga akan mengatakan selamat tingal sama seperti Def. Tiba-tiba aku menjadi takut sedih.

Yazi naik, dilanjutkan dengan aku. Dia membantuku naik dan dia yang menunjukkan di mana dia ingin duduk. Maksudku akau dan dia duduk. Kami duduk berdampingan. Dia mengluarkan sesuatu dari tasnya.



‘’Aku beli ini, kamu pasti suka.’’

‘’Bakwan?’’

‘’Iya, aku tahu kamu suka bakwan. Aku udah lama pengen gini, duduk deket kamu, lalu kita makan barenag di kerera. Aku kangen lihat kamu senyum.’’

‘’Yaz!’’ seruku mengingatkan.

‘’Mereka gak bakalan denger. Lagian kalau denger juga biarin.’’

Aku menerima plastik yang berisi bakwan, aku mengambil salah satunya dan mengambil cabainya. Aku sudah melupakan Def, aku dan Yazi makan bersama. Dia bercerita, dan aku sesekali tertawa kecil dan dia menataoku dengan mata berbinar.

Yazi tetap berada di dekatku sampai penumpang naik semua dan peluit terdengar nyaring. Yazi sangat berbeda hari ini, dia bahkan tetap berada di sisiku, ketika teman sebangku Riana yang dulu waktu kelas sembilan lewat di hadapan kami untuk mencari tempat duduk.

Teman-temanku yang lain sepertinya biasa saja dan welcome dengan adanya Yazi di sampingku. Mereka bersikap seperti biasa saling lempar jokes. Kurasa mereka merestui aku dan Yazi. Apa, ya? Pacaran mungkin nantinya.



  Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul

Contoh; 

Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

 

 

Komentar