Ini bukan
Kencan, Aku Serius!
BLOG NURLAELI UMAR- Aku dan Yazi
turun dari kereta. Tidak ada yang berlebihan, di dalam sana tadi. Jokesnya pun
sangat biasa. Iasa untuk aku dan teman-temanku. Tidak ada yang menyinggung aku
dan Yazi. Yazi turun dari kereta setelah aku.
‘’Aku gak
ngater kamu sampai rumah, gak papa, kan?’’ tanya Yazi menunggu aku mengangguk.
Aku
mengangguk. ‘’Pulang aja, kamu, Yaz. Ini udah sore. Makasih bakwannya.’’
Yazi
mengangguk, Dia mendekat. ‘’Makasih, meski cuma menemaniku makan bakwan.
Makasih udah mau tertawa buat aku. Aku pengen begini lagi, tapi kamu tahu kita
bakalan sibuk sampai ujian selesai. Seenggaknya kamu udah ngasih aku semangat.
Makasih.’’
Aku harus
menghargai keberanian Yazi mendekatiku dan membiarkan teman Riana berlau begitu
saja. Itu pasti gak mudah. Aku memilih diam, dan membiarkan kebahagiaan Yazi,
dan harus kukatakan aku juga merasa senang.
‘’Laura!’’
panggil yang lain. Aku pergi meninggalkan Yazi yang katanya akan dijemput
kakaknya. Iya, kakaknya Yazi, Yaza. Yaza sudah lulus karena dia kakak kelas
kami.
Aku pulang dengan
temanku dan Yazi mungkin benar dengan Yaza, aku tidak ingin mencari tahu itu
benar atau tidak. Toh, aku dan Yazi hanya berteman. Iya, teman tapi saling
menyukai.
Menjelang
malam, sekitar jam delapan handphoneku berbunyi, ada panggilan masuk. Kukira itu
dari Yazi, ternyata dari Def. Kemarin-kemarin sebelum peristiwa tadi siang, aku
sangat senang dengan telepon dari Def, meski itu bukan telepon antara kekasih
dengan pasangannya. Entah mengapa, kali in aku sedikit malas.
Teleponku
berbunyi lagi dan lagi. Ibuku sudah ada di depan pintu. Pintuku tidak dikunci.
Aku tahu itu ibuku, tanpa menoleh, karena kudengar dia memangilku, ‘’Laura!’’
Aku
menoleh ke arah pintu, ‘’Iya, Bu.’’
‘’Ibu kira
kamu tertidur. Teleponmu berdering berkali-kali, apa itu temanmu, dan kalian
sedang tidak saling sapa?’’
Aku tertawa.
‘’Iya, Bu. Ini aku angkat. Makasih, Bu.’’
Ibuku pergi
dari pintu kamarku. Aku mengangkat telepon dari Def. ‘’Halo, iya, Def. Ada
apa?’’
‘’Cuma mau
tahu kau baik-baik aja, kan? Apa aku mesti putus sama Nadia? Aku khawatr kamu
sedih keterusan.’’
Aku tertawa.
‘’Gak harus gitu juga.Lanjutin aja. Sedih wajar, Def. Aku terbiasa sama kamu,
mulai sekarang kamu harus jauh meski kita sekelas. Karena, kalau kita deket itu
berarti aku gak menghargai pacarmu dan diriku sendiri.’’
‘’Apa aku
mesti putus?’’ tanya Def sekali lagi.
‘’Gak, Def.
Percaya sama aku. Aku bakalan baik-baik saja. Toh, kalau kamu putus kita juga
belum tentu jadian. Posisi kita tetap sama begini-begini aja.’’
Terdengar
Def menarik anpas panjang. Aku semakin merasa sedih. ‘’Def, jangan sampai putus
sama Nadia. Janji! Kalau kudengar kamu putus sama Nadia, aku bener-bener gak
mau nanya kamu, meski kita sekelas.’’
‘’Kok,
gitu? Gak adil buatku.’’
‘’Kita
balapan belajar lebih rajin aja, biar kita nilainya bagus. Nilai bagus kamu
udah cukup jadi tanda kalau kita tetp temenan meski gak bisa deket lagi.’’
‘’Boleh,’’
kudengar suara DEf meringan, ‘’tapi janji, kamu gak boleh djadian sama Nino.’’
Aku
tertawa. ‘’Apalah Def, kok, Nino diajak-ajak, Biari aja, Nino bahagia dengan
dunianya sendiri. Lagian dia kalau deket sama aku dia cuma bercanda. Dan, yang
terhibur gak cuma aku aja, tapi kita sekelas.’’
‘’Gimana
sama pacarmu yang tadi siang?’’
‘’Baik. Apa
jangan-jangan kamu pengen mutusin Nadia, gara-gara naksir pacarku?’’
‘’Sembarangan!’’
semprot Def dari seberang sana. Dari nada suaranya Def terdengar sangat-sangat
lebih baik.
‘’Def,
udahan dulu. Aku ada perlu, Makasih udah nelepon.’’
Aku
langsung memutuskan panggilan, tanpa menunggu jawaban Def. Aku membuat
seolah-olah aku sibuk dan terburu-buru.
Baru lma
menit aku meletakkan handphoneku di meja, hapeku berdering lagi. Aku mengangkatnya,
ternyata itu dari Yazi. ‘’Iya, Yaz. Halo, selamat malam!’’
‘’Belum
tidur, Laura?’’
‘’Belum.’’
‘’Aku mau
makan baso dekat rumahmu. Aku sekarang ada di rumah Rayan. Kamu mau kuajak?’’
‘’Tapi aku
baru makan. Aku kenyang.’’
‘’Ayolah!
Aku udah keluar dan sekarang ada di depan rumahmu. Keluarlah, please! Temenin
aja kalau males makan.’’
‘’Maksa?’’
‘’Iya.’’
Yazi
sekarang berani memaksaku. Andai itu dari epat tahun lalu.
‘’Laura!
Sekarang aku ada di depan rumahmu.’’
‘’Oke,
tunggu sebentar!’’
Aku keluar
kamar dan pamit kepada ibuku. ‘’Temanmu itu ada di mana?’’ tanya ibuku
memastikan.
Aku
mengatakan kalau namanya Yazi, teman yang suka ke rumah Rayan. Ibuku tahu itu.
Aku menjelaskan sejelas-jelasnya kepada ibuku kalau kami akan pergi bertiga,
dan mereka berdua sudah ada di depan rumah.
Baru
selesai aku menjelaskan kepada ibuku, pintu depan diketuk. Aku beranjak ke
sana, dan ibuku mengikutiku dari belakang. Benar saja, ada Rayan dan Yazi di
depan pintu. Mereka berdua memberi salam keoada ibuku. Rayan menjelaskan sama
seperti yang kuberitahu kepada ibuku.
‘’Rayan,
Ibu kasih izin. Tapi, jangan sampai lewat jam sepuluh. Bisa?’’
Yazi mengajakku keluar malam-malam. Ibuku mengizinkan, tapi dengan syarat waktu.
Kurasa wajar, meski dekat dari rumahku, tapi keluar malam juga bisa melenakan,
tahu-tahu sudah mendekati tengah malam. Itu tabu buat kami. Meski, ibuku tidak
kolot, tapi masalah keluar malam memang agak ketat. Selain karena tidak elok
terlalu malam di luar, apalgi sekadar makan, keluar malam lebih beresiko karena
udara dan gelapnya.
Akhirnya
Kami pergi bertiga. Aku tahu, meski Rayan dan Yazi juga cowok, mereka termasuk
yang gak nongkrong. Yazi akan ada di rumah Rayan menginap, dan benar-benar ada
di rumah Rayan, bukan di jalanan.
Kami
bertiga jalan kaki, karena jarak warung baso dan rumahku tidak jauh, tapi
arahnya lebih dekat dari rumah Rayan. Ketika kami sampai, aku duduk dengan
Yazi, dan ternyata sudah ada teman lain yang menunggu Rayan di sana. Aku tahu
mereka, hanya kami tidak pernah satu sekolah. Kami duduk berlima dalam satu
meja. Seperti seharusnya kami memesan, dan akhirnya makan.
‘’Bagaimana
sekolahmu? Maksudku nilai-nilaimu, Laura?’’ tanya Yazi memulai pembicaraan di
sela makan kami.
Tiga yang
lainnya sibuk sendiri. Mereka bicara tentang game yang mereka mainkan. Sesekali
Yazi ikut bicara memang, tapi lebih banyak menyimak.
‘’Baik.
Kamu?’’ tanyaku balik.
“’Oh, iya,
aku lupa, kamu itu jenius.’’
‘’Jenius
apanya? Biasa aja.’’
‘’Nilaiku
lumayan. Aku rasa aku semakin pintar saja. Aku mau bangga di depan kamu, karena
dulu waktu SMP aku gak bisa nepuk dada di depanmu. Kamu itu kelewat jenius soalnya,
Laura.’’
Aku menggeleng-gelengkan
kepalaku, aku gak habis pikir, kenapa semua anak dan guru mengira aku jenius.
Aku hanya bisa mengerjakan soal-soal sedikit lebih baik dan lebih cepat dari
yang lainnya saja.
Aku dan
Yazi banyak bicara ringan. Hanya bertanya perihal sekolah dan kegiatan di jam
istirahat. Yazi masih ingat kalau aku itu sangat menyukai perpustakaan dan
buku-buku. Aku dan Yazi hanya bicara seperti itu. Itu sangat menyenagkan.
Ringan dan hangat. Aku dan Yazi sepertinya tahu benar apa yang tidak perlu kami
bicarakan. Aku tidak menyenggol masalah temannya Riana yang mengejar dia, dan
Yazi tidak menanyakan Def sama sekali.
Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul
Contoh;
Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku
Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku












Komentar
Posting Komentar