Bab 43. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku


 

Ini bukan Kencan, Aku Serius!

BLOG NURLAELI UMAR- Aku dan Yazi turun dari kereta. Tidak ada yang berlebihan, di dalam sana tadi. Jokesnya pun sangat biasa. Iasa untuk aku dan teman-temanku. Tidak ada yang menyinggung aku dan Yazi. Yazi turun dari kereta setelah aku.

‘’Aku gak ngater kamu sampai rumah, gak papa, kan?’’ tanya Yazi menunggu aku mengangguk.

Aku mengangguk. ‘’Pulang aja, kamu, Yaz. Ini udah sore. Makasih bakwannya.’’

Yazi mengangguk, Dia mendekat. ‘’Makasih, meski cuma menemaniku makan bakwan. Makasih udah mau tertawa buat aku. Aku pengen begini lagi, tapi kamu tahu kita bakalan sibuk sampai ujian selesai. Seenggaknya kamu udah ngasih aku semangat. Makasih.’’



Aku tertawa dan mengangguk lagi. Aku ingin mengatakan kalau aku yang harus berterimakasih. Dia sudah membantuku menyelamatkan dari situasi tidak mengenakan alias sedih karena Def. Tapi, menyebutkan kata Def, pasti akan membuat senyum Yazi hilang.

Aku harus menghargai keberanian Yazi mendekatiku dan membiarkan teman Riana berlau begitu saja. Itu pasti gak mudah. Aku memilih diam, dan membiarkan kebahagiaan Yazi, dan harus kukatakan aku juga merasa senang.

‘’Laura!’’ panggil yang lain. Aku pergi meninggalkan Yazi yang katanya akan dijemput kakaknya. Iya, kakaknya Yazi, Yaza. Yaza sudah lulus karena dia kakak kelas kami.



Aku pulang dengan temanku dan Yazi mungkin benar dengan Yaza, aku tidak ingin mencari tahu itu benar atau tidak. Toh, aku dan Yazi hanya berteman. Iya, teman tapi saling menyukai.

Menjelang malam, sekitar jam delapan handphoneku berbunyi, ada panggilan masuk. Kukira itu dari Yazi, ternyata dari Def. Kemarin-kemarin sebelum peristiwa tadi siang, aku sangat senang dengan telepon dari Def, meski itu bukan telepon antara kekasih dengan pasangannya. Entah mengapa, kali in aku sedikit malas.

Teleponku berbunyi lagi dan lagi. Ibuku sudah ada di depan pintu. Pintuku tidak dikunci. Aku tahu itu ibuku, tanpa menoleh, karena kudengar dia memangilku, ‘’Laura!’’

Aku menoleh  ke arah pintu, ‘’Iya, Bu.’’



‘’Ibu kira kamu tertidur. Teleponmu berdering berkali-kali, apa itu temanmu, dan kalian sedang tidak saling sapa?’’

Aku tertawa. ‘’Iya, Bu. Ini aku angkat. Makasih, Bu.’’

Ibuku pergi dari pintu kamarku. Aku mengangkat telepon dari Def. ‘’Halo, iya, Def. Ada apa?’’

‘’Cuma mau tahu kau baik-baik aja, kan? Apa aku mesti putus sama Nadia? Aku khawatr kamu sedih keterusan.’’

Aku tertawa. ‘’Gak harus gitu juga.Lanjutin aja. Sedih wajar, Def. Aku terbiasa sama kamu, mulai sekarang kamu harus jauh meski kita sekelas. Karena, kalau kita deket itu berarti aku gak menghargai pacarmu dan diriku sendiri.’’



‘’Apa aku mesti putus?’’ tanya Def sekali lagi.

‘’Gak, Def. Percaya sama aku. Aku bakalan baik-baik saja. Toh, kalau kamu putus kita juga belum tentu jadian. Posisi kita tetap sama begini-begini aja.’’

Terdengar Def menarik anpas panjang. Aku semakin merasa sedih. ‘’Def, jangan sampai putus sama Nadia. Janji! Kalau kudengar kamu putus sama Nadia, aku bener-bener gak mau nanya kamu, meski kita sekelas.’’

‘’Kok, gitu? Gak adil buatku.’’

‘’Kita balapan belajar lebih rajin aja, biar kita nilainya bagus. Nilai bagus kamu udah cukup jadi tanda kalau kita tetp temenan meski gak bisa deket lagi.’’



‘’Boleh,’’ kudengar suara DEf meringan, ‘’tapi janji, kamu gak boleh djadian sama Nino.’’

Aku tertawa. ‘’Apalah Def, kok, Nino diajak-ajak, Biari aja, Nino bahagia dengan dunianya sendiri. Lagian dia kalau deket sama aku dia cuma bercanda. Dan, yang terhibur gak cuma aku aja, tapi kita sekelas.’’

‘’Gimana sama pacarmu yang tadi siang?’’

‘’Baik. Apa jangan-jangan kamu pengen mutusin Nadia, gara-gara naksir pacarku?’’

‘’Sembarangan!’’ semprot Def dari seberang sana. Dari nada suaranya Def terdengar sangat-sangat lebih baik.

‘’Def, udahan dulu. Aku ada perlu, Makasih udah nelepon.’’



Aku langsung memutuskan panggilan, tanpa menunggu jawaban Def. Aku membuat seolah-olah aku sibuk dan terburu-buru.

Baru lma menit aku meletakkan handphoneku di meja, hapeku berdering lagi. Aku mengangkatnya, ternyata itu dari Yazi. ‘’Iya, Yaz. Halo, selamat malam!’’

‘’Belum tidur, Laura?’’

‘’Belum.’’

‘’Aku mau makan baso dekat rumahmu. Aku sekarang ada di rumah Rayan. Kamu mau kuajak?’’

‘’Tapi aku baru makan. Aku kenyang.’’

‘’Ayolah! Aku udah keluar dan sekarang ada di depan rumahmu. Keluarlah, please! Temenin aja kalau males makan.’’

‘’Maksa?’’

‘’Iya.’’



Yazi sekarang berani memaksaku. Andai itu dari epat tahun lalu.

‘’Laura! Sekarang aku ada di depan rumahmu.’’

‘’Oke, tunggu sebentar!’’

Aku keluar kamar dan pamit kepada ibuku. ‘’Temanmu itu ada di mana?’’ tanya ibuku memastikan.

Aku mengatakan kalau namanya Yazi, teman yang suka ke rumah Rayan. Ibuku tahu itu. Aku menjelaskan sejelas-jelasnya kepada ibuku kalau kami akan pergi bertiga, dan mereka berdua sudah ada di depan rumah.

Baru selesai aku menjelaskan kepada ibuku, pintu depan diketuk. Aku beranjak ke sana, dan ibuku mengikutiku dari belakang. Benar saja, ada Rayan dan Yazi di depan pintu. Mereka berdua memberi salam keoada ibuku. Rayan menjelaskan sama seperti yang kuberitahu kepada ibuku.



‘’Rayan, Ibu kasih izin. Tapi, jangan sampai lewat jam sepuluh. Bisa?’’

Yazi mengajakku keluar malam-malam. Ibuku mengizinkan, tapi dengan syarat waktu. Kurasa wajar, meski dekat dari rumahku, tapi keluar malam juga bisa melenakan, tahu-tahu sudah mendekati tengah malam. Itu tabu buat kami. Meski, ibuku tidak kolot, tapi masalah keluar malam memang agak ketat. Selain karena tidak elok terlalu malam di luar, apalgi sekadar makan, keluar malam lebih beresiko karena udara dan gelapnya.

Akhirnya Kami pergi bertiga. Aku tahu, meski Rayan dan Yazi juga cowok, mereka termasuk yang gak nongkrong. Yazi akan ada di rumah Rayan menginap, dan benar-benar ada di rumah Rayan, bukan di jalanan.

Kami bertiga jalan kaki, karena jarak warung baso dan rumahku tidak jauh, tapi arahnya lebih dekat dari rumah Rayan. Ketika kami sampai, aku duduk dengan Yazi, dan ternyata sudah ada teman lain yang menunggu Rayan di sana. Aku tahu mereka, hanya kami tidak pernah satu sekolah. Kami duduk berlima dalam satu meja. Seperti seharusnya kami memesan, dan akhirnya makan.



‘’Bagaimana sekolahmu? Maksudku nilai-nilaimu, Laura?’’ tanya Yazi memulai pembicaraan di sela makan kami.

Tiga yang lainnya sibuk sendiri. Mereka bicara tentang game yang mereka mainkan. Sesekali Yazi ikut bicara memang, tapi lebih banyak menyimak.

‘’Baik. Kamu?’’ tanyaku balik.

“’Oh, iya, aku lupa, kamu itu jenius.’’

‘’Jenius apanya? Biasa aja.’’

‘’Nilaiku lumayan. Aku rasa aku semakin pintar saja. Aku mau bangga di depan kamu, karena dulu waktu SMP aku gak bisa nepuk dada di depanmu. Kamu itu kelewat jenius soalnya, Laura.’’



Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, aku gak habis pikir, kenapa semua anak dan guru mengira aku jenius. Aku hanya bisa mengerjakan soal-soal sedikit lebih baik dan lebih cepat dari yang lainnya saja.

Aku dan Yazi banyak bicara ringan. Hanya bertanya perihal sekolah dan kegiatan di jam istirahat. Yazi masih ingat kalau aku itu sangat menyukai perpustakaan dan buku-buku. Aku dan Yazi hanya bicara seperti itu. Itu sangat menyenagkan. Ringan dan hangat. Aku dan Yazi sepertinya tahu benar apa yang tidak perlu kami bicarakan. Aku tidak menyenggol masalah temannya Riana yang mengejar dia, dan Yazi tidak menanyakan Def sama sekali.

 Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul

Contoh; 

Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku



 

 

 

Komentar