Bab 44. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


Pesan Misterius

BLOG NURLAELI UMAR- Def hari ini meminta untuk duduk semeja denganku. Sebuah permintaan yang dulu biasa saja, tapi setelah Def mempunyai pacar itu menjadi sesuatu yang aneh buatku. Tidak, bukan buatku, tapi buat mata-mata yang melihat kami. Aku mencoba bersikap biasa saja, karena Def pun bersikap biasa saja.

‘’Def, kamu kenapa pagi ini, semalam kamu habis keracunan drama Koreakah?’’ tanyaku menyatakan keheranan.

‘’Gak, semalem aku mimpi kamu ada di depan kelas kita dan kamu kutanya malah besikap seolah aku orang asing. Kamu malah nanya ‘siapa kamu’.’’

‘’Terus gimana lagi?’’ tanyaku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku tidak percaya, pasti ini semua akal-akalan dia saja.



Def langsung duduk di bangku yang berada di sampingku. ‘’Aku nangis.’’

Aku tertawa mendengar itu. Def menatapku. ‘’Kenapa?’’ tanyaku heran.

‘’Iya, kamu malah ketawa. Sama persis di mimpiku, kamu bahkan ngetawain itu bareng Nino. Nino bahkan bilang kalau aku itu sok kenal, karena aku anak baru di sekolah ini.’’

‘’Wah, udah keterlaluan berarti aku, ya? Okelah kalau gitu. Tapi, kamu duduk di sini hari ini aja, besok enggak. Aku berempati sama mimpimu.’’

Def terlihat senang. Tapi, baru beberapa menit dia merasa senang, aku langsung ingat, kalau hari ini aku sudah berjanji kepada Nino untuk duduk satu meja.



‘’Kenapa, kok, kayaknya kamu ada yang dipikirin gitu?’’ tanya Def yang melihat perubahan air mukaku.

‘’Gini, aku sebenarnya udah ada janji sama Nino, kalau pagi ini kita duduk bareng.’’

‘’Terus? Maksudku terus nasibku?’’

‘’Nah, itu diia! GImana kalau kamu duduk sama akunya diundur besok aja.’’

‘’Gak bisa!’’ protes Def serius.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. ‘’Tapi, Def, masalahnya aku udah janji sama Nino.’’

‘’Gimana mungkin tiba-tiba aja kamu punya janji. Bisa begitu?’’



Aku mengambil hapeku dan menunjukkan chat-an anatara aku dengan Nino. Def membacanya dan mengangguk-angguk. ‘Dia menggumam, ‘’Ternyata kamu gak merasa kehilangan gak deket sama aku lagi.’’

Meski cuma bergumam, tapi telingaku sangat tajam. Aku mendengar apa yang Def katakan. Belum sempat aku mengatakan sesuatu, Nino muncul di depan pintu. ‘’Laura!’’ teriaknya kencang. Aku dan Def sama-sama melihat ke arah pintu.

Def langsung berlari bergaya seperti petinju masuk ke dalam ring. Dia mendekat ke arah mejaku. Begitu dekat, ‘’Pindah, Def!’’ kata Nino tanpa basa-basi.

Def menarik napas panjang. Dia menatapku, kemudian bangun membawa tasnya pindah ke meja lain. Aku melihat itu semua dengan tersenyum. Masalah selesai tanpa ada drama, atau negoisasi. Nino dudk dengan gembira.



‘’Gak papa, tuh, Def?’’ tanyaku kepada Nino.

‘’Biarin. Semenjak punya pacar dia susah diajak main keluar, main game aja maunya sama pacarnya doank.’’

‘’Wajarlah, Nino. Namanya pacaran.Biar impas kamu donk cari pacar. Lebih seru adik kelas, biar bisa double date sama Def.’’

‘’Kamu sih, gak mau jadi pacar Def. Kalau kamu jadian sama dia, Def tetap bisa main sama aku. Buktinya waktu kamu deket sama Def, dia sikapnya biasa aja, masih bisa kuajak main keluar terus mabar.’’

‘’Bedalah, aku kan cuma temenan sama Def, kalau sekarang Def resmi pacaran sama adik kelas itu. Pastinya mereka lebih pengen punya waktu berdua aja.’’



‘’Nah, itu maksudku. Kamu seharusnya jadi pacarnya Def aja. Intinya kalau kamu yang jadi pacarnya Def aku gak dirugikan.’’

‘’Udah, gak perlu dibahas lagi. Dua jam pertama kita ulangan, habis istirahat juga ulangan. Kamu udah siap, kan?’’

‘’Iya, tapi nanti aku kasih bocoran, ya?’’

Aku mengangguk setuju. Nino tertawa senang. ‘’Laura emang is the bestlah. Def kurang mantap ngerayunya makanya gak dapetin kamu.’’

‘’Kalau kamu ngomong gitu terus, kamu pindah aja duduknya sama dia. Gimana?’’

‘’Oke, aku diem.’’



Aku tertawa mendengar jawaban Nino. Tapi, benar saja, Nino tidak lagi bicara tentang Def lagi.

Yazi mengirim pesan ketika jam istirah kedua datang. Aku menerimanya setelah es teh yang disodorkan pemilik kantin kuletakkan di meja. Aku sedang menunggu siomay.

Def masuk ketika aku melihat chat-an dari Yazi. Aku membiarkannya Def masuk ke dalam kantin tempat di mana aku duduk bersama pacarnya.

Pesan dari Yazi hanya menanyakan kabarku saja. Dia mengingatan aku agar tidak memakan sambal erlalu banyak, ketika aku memberitahnya kalau aku sedang menunggu siomay.

Hanya itu, basa-basi murahan antara seseorang yang kasmaran kepada kekasihnya. Setahuku begitu. Sayang aku bukan kekasih siapa-siapa.



Def duduk di depanku bersama pacarnya. Aku diam saja, aku tidak menyapa Def takut pacarnya cemburu. TIba-tiba aku ingat Yazi di mana dia tiga tahun lalu duduk bersmaa Sari adik kelas itu, dan aku ada di sana datang melihat mereka saling berkasih-kasihan. Kasihan sekali aku.

Sebuah pesan masuk. Aku tidak tahu dari siapa, dan bagaimaan dia mendapatkan nomorku. Aku ingin berpikir itu dari teman SMP, tapi tidak mumngkin, karena isi pesannya begini; Aku jemput pulangnya. Siapa dia? Perasaan aku tidak sedang berjanji dengan siapa-siapa? Aku tidak mempedulikan pesan itu. Talut? Ini kan siang hari, kalau ada apa-apa aku bisa minta bantuan orang yang ada di depan sekolah, atau kalau perlu aku minta Satpam menemaniku sampaia aku naik mobil menuju ke stasiun.

Def makan di depanku bersama pacarnya dengan cnggung, padahal aku sudah bersikapseolah tidak melihat apa-apa. Aku kembali makan siomay pesananku. Jujur aku masih berpikir keras siapa yang mengirimiku pesan.



‘’Kenapa?’’ tanya Def. ‘’Laura, kenapa?’’

Aku mengangkat wajahku dari piring. ‘’Eh, iya, Def. Perasaan aku gak bicara apa-apa. Aku sedang makan. Apa aku menggumamkan sesuatu yang gak pantas?’’ tanyaku heran.

‘’Hapemu sini!’’ Def mengatakan itu di depan pacarnya dan kurasa itu sangat tidak sopan.

Aku dengan cepat menghabiskan siomay dari piringku dan menyeruput es teh, lalu bangun dan meninggalkan meja. Aku terlalu terburu-buru, jadi begitu aku balik badan aku menabrak seseorang. Dia menangkapku dengan memelukku.

‘’Laura kenapa?’’ 

‘’Nino? Maaf. Aku ceroboh.’’

Nino mengangguk dan melepaskan pelukannya.

‘’Maaf, Laura.’’



Aku mengangguk.Aku tahu Nino merasa tidak enak hati memelukku di depan semua anak yang masuk ke kantin. Apalagi warung sebelah sedang ramai sekali.

Aku keluar dari kantin. Tidak berapa lama Nino menyusulku. Aku berhenti. ‘’Kamu gak jadi makan?’’

‘’Gampang. Kamu gak papa, kan? Ayo, kita ke kelas aja.’’ Aku menagngguk, Nino bahkan tidak menanyakan ada apa sebenarnya. Dia hanya berjalan di sampingku menjajari langkahku sampai ke kelas.

Begitu masuk eklas aku langsung menuju bangkuku. Nino pun sama , dia duduk di sampingku. Aku diam, dan Nino pun. Setelah merasa lebih baik, aku memberikan hapeku kepada Nino. Aku ingin memberitahu chat misterius yang masuk ke hapeku.

Nino mengambil hapeku. Dia membaca chat itu. ‘’Kamu gak kenal?’’ Aku menggelengkan kepalaku.

Baru saja Nino mengembalikan hapeku ke depanku, hapeku diambil Def. Def membaca pesan itu. Dia mengangguk-anggukan kepalanya. ‘’Nanti pulang aku yang antar ke stasiun! Gak ada protes!’’



 Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul

Contoh;

Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

 

 

 

 

 

Komentar