Pesan
Misterius
BLOG NURLAELI UMAR- Def hari
ini meminta untuk duduk semeja denganku. Sebuah permintaan yang dulu biasa
saja, tapi setelah Def mempunyai pacar itu menjadi sesuatu yang aneh buatku.
Tidak, bukan buatku, tapi buat mata-mata yang melihat kami. Aku mencoba bersikap
biasa saja, karena Def pun bersikap biasa saja.
‘’Def, kamu
kenapa pagi ini, semalam kamu habis keracunan drama Koreakah?’’ tanyaku
menyatakan keheranan.
‘’Gak,
semalem aku mimpi kamu ada di depan kelas kita dan kamu kutanya malah besikap
seolah aku orang asing. Kamu malah nanya ‘siapa kamu’.’’
‘’Terus
gimana lagi?’’ tanyaku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku tidak percaya,
pasti ini semua akal-akalan dia saja.
Def langsung
duduk di bangku yang berada di sampingku. ‘’Aku nangis.’’
Aku tertawa
mendengar itu. Def menatapku. ‘’Kenapa?’’ tanyaku heran.
‘’Iya, kamu
malah ketawa. Sama persis di mimpiku, kamu bahkan ngetawain itu bareng Nino.
Nino bahkan bilang kalau aku itu sok kenal, karena aku anak baru di sekolah
ini.’’
‘’Wah, udah
keterlaluan berarti aku, ya? Okelah kalau gitu. Tapi, kamu duduk di sini hari
ini aja, besok enggak. Aku berempati sama mimpimu.’’
Def
terlihat senang. Tapi, baru beberapa menit dia merasa senang, aku langsung
ingat, kalau hari ini aku sudah berjanji kepada Nino untuk duduk satu meja.
‘’Kenapa,
kok, kayaknya kamu ada yang dipikirin gitu?’’ tanya Def yang melihat perubahan
air mukaku.
‘’Gini, aku
sebenarnya udah ada janji sama Nino, kalau pagi ini kita duduk bareng.’’
‘’Terus?
Maksudku terus nasibku?’’
‘’Nah, itu
diia! GImana kalau kamu duduk sama akunya diundur besok aja.’’
‘’Gak
bisa!’’ protes Def serius.
Aku
menggaruk kepalaku yang tidak gatal. ‘’Tapi, Def, masalahnya aku udah janji
sama Nino.’’
‘’Gimana
mungkin tiba-tiba aja kamu punya janji. Bisa begitu?’’
Aku
mengambil hapeku dan menunjukkan chat-an anatara aku dengan Nino. Def
membacanya dan mengangguk-angguk. ‘Dia menggumam, ‘’Ternyata kamu gak merasa
kehilangan gak deket sama aku lagi.’’
Meski cuma
bergumam, tapi telingaku sangat tajam. Aku mendengar apa yang Def katakan. Belum
sempat aku mengatakan sesuatu, Nino muncul di depan pintu. ‘’Laura!’’ teriaknya
kencang. Aku dan Def sama-sama melihat ke arah pintu.
Def
langsung berlari bergaya seperti petinju masuk ke dalam ring. Dia mendekat ke
arah mejaku. Begitu dekat, ‘’Pindah, Def!’’ kata Nino tanpa basa-basi.
Def menarik
napas panjang. Dia menatapku, kemudian bangun membawa tasnya pindah ke meja
lain. Aku melihat itu semua dengan tersenyum. Masalah selesai tanpa ada drama,
atau negoisasi. Nino dudk dengan gembira.
‘’Gak papa,
tuh, Def?’’ tanyaku kepada Nino.
‘’Biarin.
Semenjak punya pacar dia susah diajak main keluar, main game aja maunya sama
pacarnya doank.’’
‘’Wajarlah,
Nino. Namanya pacaran.Biar impas kamu donk cari pacar. Lebih seru adik kelas,
biar bisa double date sama Def.’’
‘’Kamu sih,
gak mau jadi pacar Def. Kalau kamu jadian sama dia, Def tetap bisa main sama
aku. Buktinya waktu kamu deket sama Def, dia sikapnya biasa aja, masih bisa
kuajak main keluar terus mabar.’’
‘’Bedalah,
aku kan cuma temenan sama Def, kalau sekarang Def resmi pacaran sama adik kelas
itu. Pastinya mereka lebih pengen punya waktu berdua aja.’’
‘’Nah, itu
maksudku. Kamu seharusnya jadi pacarnya Def aja. Intinya kalau kamu yang jadi
pacarnya Def aku gak dirugikan.’’
‘’Udah, gak
perlu dibahas lagi. Dua jam pertama kita ulangan, habis istirahat juga ulangan.
Kamu udah siap, kan?’’
‘’Iya, tapi
nanti aku kasih bocoran, ya?’’
Aku
mengangguk setuju. Nino tertawa senang. ‘’Laura emang is the bestlah. Def
kurang mantap ngerayunya makanya gak dapetin kamu.’’
‘’Kalau
kamu ngomong gitu terus, kamu pindah aja duduknya sama dia. Gimana?’’
‘’Oke, aku
diem.’’
Aku tertawa
mendengar jawaban Nino. Tapi, benar saja, Nino tidak lagi bicara tentang Def
lagi.
Yazi
mengirim pesan ketika jam istirah kedua datang. Aku menerimanya setelah es teh
yang disodorkan pemilik kantin kuletakkan di meja. Aku sedang menunggu siomay.
Def masuk
ketika aku melihat chat-an dari Yazi. Aku membiarkannya Def masuk ke dalam
kantin tempat di mana aku duduk bersama pacarnya.
Pesan dari
Yazi hanya menanyakan kabarku saja. Dia mengingatan aku agar tidak memakan
sambal erlalu banyak, ketika aku memberitahnya kalau aku sedang menunggu
siomay.
Hanya itu,
basa-basi murahan antara seseorang yang kasmaran kepada kekasihnya. Setahuku
begitu. Sayang aku bukan kekasih siapa-siapa.
Def duduk
di depanku bersama pacarnya. Aku diam saja, aku tidak menyapa Def takut
pacarnya cemburu. TIba-tiba aku ingat Yazi di mana dia tiga tahun lalu duduk
bersmaa Sari adik kelas itu, dan aku ada di sana datang melihat mereka saling
berkasih-kasihan. Kasihan sekali aku.
Sebuah
pesan masuk. Aku tidak tahu dari siapa, dan bagaimaan dia mendapatkan nomorku.
Aku ingin berpikir itu dari teman SMP, tapi tidak mumngkin, karena isi pesannya
begini; Aku jemput pulangnya. Siapa dia? Perasaan aku tidak sedang berjanji
dengan siapa-siapa? Aku tidak mempedulikan pesan itu. Talut? Ini kan siang
hari, kalau ada apa-apa aku bisa minta bantuan orang yang ada di depan sekolah,
atau kalau perlu aku minta Satpam menemaniku sampaia aku naik mobil menuju ke
stasiun.
Def makan
di depanku bersama pacarnya dengan cnggung, padahal aku sudah bersikapseolah
tidak melihat apa-apa. Aku kembali makan siomay pesananku. Jujur aku masih
berpikir keras siapa yang mengirimiku pesan.
‘’Kenapa?’’
tanya Def. ‘’Laura, kenapa?’’
Aku
mengangkat wajahku dari piring. ‘’Eh, iya, Def. Perasaan aku gak bicara
apa-apa. Aku sedang makan. Apa aku menggumamkan sesuatu yang gak pantas?’’
tanyaku heran.
‘’Hapemu
sini!’’ Def mengatakan itu di depan pacarnya dan kurasa itu sangat tidak sopan.
Aku dengan
cepat menghabiskan siomay dari piringku dan menyeruput es teh, lalu bangun dan
meninggalkan meja. Aku terlalu terburu-buru, jadi begitu aku balik badan aku
menabrak seseorang. Dia menangkapku dengan memelukku.
‘’Laura kenapa?’’
‘’Nino?
Maaf. Aku ceroboh.’’
Nino
mengangguk dan melepaskan pelukannya.
‘’Maaf,
Laura.’’
Aku
mengangguk.Aku tahu Nino merasa tidak enak hati memelukku di depan semua anak
yang masuk ke kantin. Apalagi warung sebelah sedang ramai sekali.
Aku keluar
dari kantin. Tidak berapa lama Nino menyusulku. Aku berhenti. ‘’Kamu gak jadi
makan?’’
‘’Gampang.
Kamu gak papa, kan? Ayo, kita ke kelas aja.’’ Aku menagngguk, Nino bahkan tidak
menanyakan ada apa sebenarnya. Dia hanya berjalan di sampingku menjajari langkahku
sampai ke kelas.
Begitu
masuk eklas aku langsung menuju bangkuku. Nino pun sama , dia duduk di
sampingku. Aku diam, dan Nino pun. Setelah merasa lebih baik, aku memberikan
hapeku kepada Nino. Aku ingin memberitahu chat misterius yang masuk ke hapeku.
Nino
mengambil hapeku. Dia membaca chat itu. ‘’Kamu gak kenal?’’ Aku menggelengkan
kepalaku.
Baru saja
Nino mengembalikan hapeku ke depanku, hapeku diambil Def. Def membaca pesan
itu. Dia mengangguk-anggukan kepalanya. ‘’Nanti pulang aku yang antar ke
stasiun! Gak ada protes!’’
Contoh;
Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku
Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku











Komentar
Posting Komentar