Bab 45. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


4. Kejutannya adalah Yaza

BLOG NURLAELI UMAR- Bel pelajaran terakhir berbunyi. Aku sengaja gak menoleh ke arah Def. Lima menit yang lalu, aku baru sadar kalau Def punya pacar. Astaga, kenapa tadi aku membiarkan Def membaca pesan di hapeku dan mengatakan dia akan mengantarku ke stasiun? Ini tidak boleh terjadi.

Aku keluar dengan buru-buru ketika menoleh ke arah Def yang diajak bicara oleh ketua kelas. Sepertinya ada yang mereka ingin bicarakan. Aku dengan cepat berjalan menuju ke luar kelas, kemudian menyalip merek ayng pulang. Aku terlihat sekali tergesa.



Dengan cepat aku menuju gerbang. Aku usdah bertekad ‘tidak akan terjadi apa-apa’, andaipun nati terjadi sesuatu padaku rencana ke dua akan kulancarkan; berlari dan berteriak. Mataku dengan cepat menyapu ke sekeliling, tidak ada apa-apa.

Aku melihat mobil angkutan yang akan melewati stasiun. Aman berarti. Tiba-tiba, ‘’Laura, kita pulang bareng!’’ Itu bukan suara Def, aku langsung menoleh ke belakang. Astaga! Dia adalah Yaza dengan senyumnya yang manis sekali. Benar itu Yaza, kakaknya Yazi.

Aku mengangguk. ‘’Tapi, aku lagi nunggu mobil ke stasiun. Bentar lagi mobilnya ke sini.’’



‘’Kita pulang bareng. Apa kamu lupa, kalau aku kakaknya Yazi dan kita satu arah? Maksudku rumahmu hanya beda kampung dengan rumahku. Apa aku menakutkan? Hari ini aku ada urusan ke rumah teman dekat sekolah. Barusan aku lihat kamu, jadi kenapa aku mesti pulang sendiri.’’

‘’Dion?’’

‘’Aku sendiri dari rumah.’’

‘’Apa kamu yang mengirim pesan akan menjemputku?’’

Yaza menggelengkan kepalanya. Aku mengambil handphoneku. Aku tidak memperlihatkan pesan itu, tapi menelponnya. Panggilan tersambung. Tapi, handphone Yaza ada di tangannya. Dia mengeluarkan handphonenya ketika aku mencoba melakukan panggilan. Dan, handphone Yaza tidak tersambung dengan panggilanku.



‘’Kamu menelpon temanmu?’’ tanya Yaza setelah aku menghentikan panggilannya.

‘Tiba-tiba Yaza menghadapkan hanphonenya ke handphoneku, ‘’Scan barcodenya. Siapa tahu kapan-kapan kamu butuh dijemput, atau butuh bantuanku. Save nomorku! Kamu bisa percaya padaku, taruhannya Yazi adikku.’’

Aku mengangguk, aku menscan nomor handphone Yaza. Benar, setelah ku cek itu bukan nomor miliknya. Mobil angkutan semakin dekat. Aku mesti memutuskan ikut Yaza atau naik mobil angkutan ke statsiun. Sepersekian detik aku bingung. Ini lebih sulit dari lima puluh soal fisika bagiku.



Aku melihat kearah gerbang. Def keluar berboncengan dengan pacarnya. Aku langsung mengangguk dan duduk di belakang Yaza. Terlihat punggung Yaza naik kemudian turun, seolah dia merasa lega karena berhasil memberikan tumpangan kepadaku.

‘’Aku bawa helm satu. Tapi, kurasa kamu aja yang pakai, biar kepalamu gak kepanasan.’’ Yaza memberikan helmnya.

Sebentar kemudian dia melepaskan jaketnya. ‘’Pakai ini!’’ Aku menolaknya dengan mengatakan ‘’gak usah.’’.



 Tapi dia dari duduknya tetap bersikukuh. Akhirnya aku mengambilnya. “Tasmu sini aku pegangin!’’

Aku memberikan tasku, lalu aku memakai jaket milik Yaza. Tas dikembalikan dan Yaza menyalakan motornya. Aku tidak tahu apakah Def melihatku atau tidak, aku melihat reaksinya besok.

Jarak sekolahku dengan rumah kalau ditempuh dengan motor bisa dibilang sangat jauh, sekitar tujuh belas kilometer ke arah timur kota ini. Mungkin bagi Yaza yang terbiasa mengndarai motor bisa dibilang biasa saja. Tapi, untukku yang biasanya tinggal duduk di mobil atau kereta, mengendarai motor terasa lebih jauh rasanya.



Sepanjang jalan Yaza tetap fokus dengan motornya dan jalan. Dia tidak mengajakku bicara. Sementara aku fokus dengan rasa penasranku tentang pemilik nomor misterius yang mengatakan akan menjemputku sepulang sekolah. Apakah Yaza berbohong?

Sekitar tiga kilometer lagi aku akan sampai ke rumahku, sementara Yaza masih harus melanjutkannya lagi. Yaza menepikan motornya. Dia menoleh ke belakang, ‘’Aku lapar. Temenin aku makan, please!’’

‘’Iya.’’ Aku menjawab pendek.

Mau bagaimana lagi, menolaknya jelas tidak mungkin, bisa jadi Yaza memang benar-benar lapar. Sebagai penumpang gratisan tidak ada pilihan lain selain mengiyakan.



Kami turun, dan masuk ke kedai makan. Aku tertawa. Yaza menatapku sambil berusaha duduk. Dia menyuruhku duduk. Aku mengangguk. Aku duduk berjarak dari Yaza.

‘’Aku lapar, aku biasa makan di sini kalau pulang sekolah. Biasa sama anak-anak.’’ Aku mengangguk.

‘’Kenapa ketawa?’’ tanya Yaza setelah dia memesan nasi, sayur matang dan lauknya.

‘’Lucu aja, aku gak biasa.’’

‘’Naik motor, Laura, panas dan haus. Aku jarang jajan ke kantin kalau istirahat. Anak-anak yang lain juga. Kita makan di sini. Jadi kebiasaan begitu.’’ Aku mengngguk menanggapinya.



Pemilik kedai nasi meyerakan piring yang ternyata dua, satu untukku dan satu lagi untuk Yaza. Yaza menerima piring pertama kemudian digeserkan kepadaku. Piring ke dua itu untuknya. Porsi kami berbeda, meski lauk dan sayurnya sama. Minumnya pun sama, sama-sama es teh manis.

‘’Kamu gak nanya aku mau makan atau enggak, ‘’ protesku kepada Yaza.

Yaza tersenyum, dia sibuk dengan nasinya. Aku masih diam saja.

‘’Makan, Laura! Itu udah dipesan dan mesti dibayar. Sayang mubadzir nanti. Oke, jangan ngambek! Aku sengaja gak nanya kamu mau makan atau enggak, karena aku tahu pasti jawabannya enggak. Dan, asal kamu tahu, meski ini untuk pertama kalinya aku ngajak cewek makan sepulang sekolah, atpi aku tahu cewek itu begitu lagunya. Makan, ya?’’



Yaza tersenyum menatapku. Aku menagngguk pada akhirnya. Benar saja, nasi sudah dipesan dan mesti dibayar. Kalau dibungkus, nanti ibuku akan bertanya ini dan itu. Belum lagi pasti ibuku sudah berlelah diri memasak untukku. Aku tidak mau ibuku kecewa melihatku pulang dengan membawa nasi dpaat dari membeli.

Aku makan dan Yaza pun. Aku folus dengan nasi dan es tehnya. Masakannya enak, es tehnya pas manisnya. Yaza baru pertama kali makan dengan cewek, tapi dia tahu benar porsi yang diberikan untukku itu jauh lebih sedikit dari porsi di piringnya. Mengherankan.

TIba-tiba aku ingat Def yang tadi bersikeras ingin pulang denganku setelah membaca pesan dari pengirim misterius, tapi ternyata Def pulang dengan pacarnya. Tidak salah apa yang Def lakukan, itu sudah benar, maksudku pulang dengan pacarnya. Itu baik untukku dan untuk Def. Tapi mengapa aku sedikit kecewa?



Aku sudah selesai makan. Nasi di piring Yaza tinggal sedikit. ‘’Sebentar Laura, aku habiskan nasi dan es tehku. Maaf, agak lama.’’

Aku mengagguk, aku membiarakan Yaza mengahabiskan nasi dan es tehnya. Yaza mengeluarkan dompetnya dan aku mengeluarkan uang dari sakuku. ‘’Buat apa, Laura? Aku yang ngajak kamu makan. Simpan uangmu!’’ Yaza membayar semuanya.

Pemilik warung memberikan kembalian uangnya. “’Mas Yaza jarang terlihat, ke mana saja?’’

‘’Saya kuliah, Bu.’’



‘’Oh, pantesan sudah lulus ternyata.’’

‘’Ini habis jemput pacranya apa?’’

Yaza tertawa kecil mendengar petanyatan itu. Aku menatap Yaza. Dalam hatiku aku bicara; kenapa jadi begini?

‘’Saya baru dari rumah teman, dekat seolah yang dulu. Kebetulan dia pulang sekoah dan kami tetanggaan.’’

‘’Jadi tetangga? Saya kira pacarnya Mas Yaza. Saya sih seneng kalau dia jadi pacarnya Mas Yaza. Cantik, Nengnya.’’

Yaza tertawa dan pamit pulang karena mesti mengantar aku. Ramah sekali dan terlalu kepo untuk seorang pemilik warung dan pelanggannya. Jangan-jangan Yaza selalu makan di sini, keculai ketika dia naik kereta.

‘’Ayo, kita pulang!’’ Aku mengekor Yaza dan kami pulang.



 

 

 

Komentar