4. Kejutannya adalah Yaza
BLOG NURLAELI UMAR- Bel pelajaran terakhir berbunyi. Aku sengaja gak
menoleh ke arah Def. Lima menit yang lalu, aku baru sadar kalau Def punya
pacar. Astaga, kenapa tadi aku membiarkan Def membaca pesan di hapeku dan mengatakan
dia akan mengantarku ke stasiun? Ini tidak boleh terjadi.
Aku keluar dengan buru-buru ketika menoleh ke arah Def
yang diajak bicara oleh ketua kelas. Sepertinya ada yang mereka ingin
bicarakan. Aku dengan cepat berjalan menuju ke luar kelas, kemudian menyalip
merek ayng pulang. Aku terlihat sekali tergesa.
Dengan cepat aku menuju gerbang. Aku usdah bertekad
‘tidak akan terjadi apa-apa’, andaipun nati terjadi sesuatu padaku rencana ke dua akan kulancarkan; berlari dan berteriak. Mataku dengan cepat menyapu ke
sekeliling, tidak ada apa-apa.
Aku melihat mobil angkutan yang akan melewati stasiun.
Aman berarti. Tiba-tiba, ‘’Laura, kita pulang bareng!’’ Itu bukan suara Def,
aku langsung menoleh ke belakang. Astaga! Dia adalah Yaza dengan senyumnya yang
manis sekali. Benar itu Yaza, kakaknya Yazi.
Aku mengangguk. ‘’Tapi, aku lagi nunggu mobil ke
stasiun. Bentar lagi mobilnya ke sini.’’
‘’Kita pulang bareng. Apa kamu lupa, kalau aku kakaknya
Yazi dan kita satu arah? Maksudku rumahmu hanya beda kampung dengan rumahku.
Apa aku menakutkan? Hari ini aku ada urusan ke rumah teman dekat sekolah.
Barusan aku lihat kamu, jadi kenapa aku mesti pulang sendiri.’’
‘’Dion?’’
‘’Aku sendiri dari rumah.’’
‘’Apa kamu yang mengirim pesan akan menjemputku?’’
Yaza menggelengkan kepalanya. Aku mengambil
handphoneku. Aku tidak memperlihatkan pesan itu, tapi menelponnya. Panggilan
tersambung. Tapi, handphone Yaza ada di tangannya. Dia mengeluarkan
handphonenya ketika aku mencoba melakukan panggilan. Dan, handphone Yaza tidak
tersambung dengan panggilanku.
‘’Kamu menelpon temanmu?’’ tanya Yaza setelah aku
menghentikan panggilannya.
‘Tiba-tiba Yaza menghadapkan hanphonenya ke
handphoneku, ‘’Scan barcodenya. Siapa tahu kapan-kapan kamu butuh dijemput,
atau butuh bantuanku. Save nomorku! Kamu bisa percaya padaku, taruhannya Yazi
adikku.’’
Aku mengangguk, aku menscan nomor handphone Yaza.
Benar, setelah ku cek itu bukan nomor miliknya. Mobil angkutan semakin dekat.
Aku mesti memutuskan ikut Yaza atau naik mobil angkutan ke statsiun.
Sepersekian detik aku bingung. Ini lebih sulit dari lima puluh soal fisika
bagiku.
Aku melihat kearah gerbang. Def keluar berboncengan
dengan pacarnya. Aku langsung mengangguk dan duduk di belakang Yaza. Terlihat
punggung Yaza naik kemudian turun, seolah dia merasa lega karena berhasil
memberikan tumpangan kepadaku.
‘’Aku bawa helm satu. Tapi, kurasa kamu aja yang
pakai, biar kepalamu gak kepanasan.’’ Yaza memberikan helmnya.
Sebentar kemudian dia melepaskan jaketnya. ‘’Pakai
ini!’’ Aku menolaknya dengan mengatakan ‘’gak usah.’’.
Tapi dia dari
duduknya tetap bersikukuh. Akhirnya aku mengambilnya. “Tasmu sini aku
pegangin!’’
Aku memberikan tasku, lalu aku memakai jaket milik
Yaza. Tas dikembalikan dan Yaza menyalakan motornya. Aku tidak tahu apakah Def
melihatku atau tidak, aku melihat reaksinya besok.
Jarak sekolahku dengan rumah kalau ditempuh dengan
motor bisa dibilang sangat jauh, sekitar tujuh belas kilometer ke arah timur
kota ini. Mungkin bagi Yaza yang terbiasa mengndarai motor bisa dibilang biasa
saja. Tapi, untukku yang biasanya tinggal duduk di mobil atau kereta,
mengendarai motor terasa lebih jauh rasanya.
Sepanjang jalan Yaza tetap fokus dengan motornya dan
jalan. Dia tidak mengajakku bicara. Sementara aku fokus dengan rasa penasranku
tentang pemilik nomor misterius yang mengatakan akan menjemputku sepulang
sekolah. Apakah Yaza berbohong?
Sekitar tiga kilometer lagi aku akan sampai ke
rumahku, sementara Yaza masih harus melanjutkannya lagi. Yaza menepikan
motornya. Dia menoleh ke belakang, ‘’Aku lapar. Temenin aku makan, please!’’
‘’Iya.’’ Aku menjawab pendek.
Mau bagaimana lagi, menolaknya jelas tidak mungkin,
bisa jadi Yaza memang benar-benar lapar. Sebagai penumpang gratisan tidak ada
pilihan lain selain mengiyakan.
Kami turun, dan masuk ke kedai makan. Aku tertawa.
Yaza menatapku sambil berusaha duduk. Dia menyuruhku duduk. Aku mengangguk. Aku
duduk berjarak dari Yaza.
‘’Aku lapar, aku biasa makan di sini kalau pulang
sekolah. Biasa sama anak-anak.’’ Aku mengangguk.
‘’Kenapa ketawa?’’ tanya Yaza setelah dia memesan
nasi, sayur matang dan lauknya.
‘’Lucu aja, aku gak biasa.’’
‘’Naik motor, Laura, panas dan haus. Aku jarang jajan
ke kantin kalau istirahat. Anak-anak yang lain juga. Kita makan di sini. Jadi
kebiasaan begitu.’’ Aku mengngguk menanggapinya.
Pemilik kedai nasi meyerakan piring yang ternyata dua,
satu untukku dan satu lagi untuk Yaza. Yaza menerima piring pertama kemudian
digeserkan kepadaku. Piring ke dua itu untuknya. Porsi kami berbeda, meski lauk
dan sayurnya sama. Minumnya pun sama, sama-sama es teh manis.
‘’Kamu gak nanya aku mau makan atau enggak, ‘’
protesku kepada Yaza.
Yaza tersenyum, dia sibuk dengan nasinya. Aku masih
diam saja.
‘’Makan, Laura! Itu udah dipesan dan mesti dibayar.
Sayang mubadzir nanti. Oke, jangan ngambek! Aku sengaja gak nanya kamu mau
makan atau enggak, karena aku tahu pasti jawabannya enggak. Dan, asal kamu
tahu, meski ini untuk pertama kalinya aku ngajak cewek makan sepulang sekolah,
atpi aku tahu cewek itu begitu lagunya. Makan, ya?’’
Yaza tersenyum menatapku. Aku menagngguk pada
akhirnya. Benar saja, nasi sudah dipesan dan mesti dibayar. Kalau dibungkus,
nanti ibuku akan bertanya ini dan itu. Belum lagi pasti ibuku sudah berlelah
diri memasak untukku. Aku tidak mau ibuku kecewa melihatku pulang dengan
membawa nasi dpaat dari membeli.
Aku makan dan Yaza pun. Aku folus dengan nasi dan es
tehnya. Masakannya enak, es tehnya pas manisnya. Yaza baru pertama kali makan
dengan cewek, tapi dia tahu benar porsi yang diberikan untukku itu jauh lebih
sedikit dari porsi di piringnya. Mengherankan.
TIba-tiba aku ingat Def yang tadi bersikeras ingin
pulang denganku setelah membaca pesan dari pengirim misterius, tapi ternyata
Def pulang dengan pacarnya. Tidak salah apa yang Def lakukan, itu sudah benar,
maksudku pulang dengan pacarnya. Itu baik untukku dan untuk Def. Tapi mengapa
aku sedikit kecewa?
Aku sudah selesai makan. Nasi di piring Yaza tinggal
sedikit. ‘’Sebentar Laura, aku habiskan nasi dan es tehku. Maaf, agak lama.’’
Aku mengagguk, aku membiarakan Yaza mengahabiskan nasi
dan es tehnya. Yaza mengeluarkan dompetnya dan aku mengeluarkan uang dari
sakuku. ‘’Buat apa, Laura? Aku yang ngajak kamu makan. Simpan uangmu!’’ Yaza
membayar semuanya.
Pemilik warung memberikan kembalian uangnya. “’Mas Yaza
jarang terlihat, ke mana saja?’’
‘’Saya kuliah, Bu.’’
‘’Oh, pantesan sudah lulus ternyata.’’
‘’Ini habis jemput pacranya apa?’’
Yaza tertawa kecil mendengar petanyatan itu. Aku
menatap Yaza. Dalam hatiku aku bicara; kenapa jadi begini?
‘’Saya baru dari rumah teman, dekat seolah yang dulu.
Kebetulan dia pulang sekoah dan kami tetanggaan.’’
‘’Jadi tetangga? Saya kira pacarnya Mas Yaza. Saya sih
seneng kalau dia jadi pacarnya Mas Yaza. Cantik, Nengnya.’’
Yaza tertawa dan pamit pulang karena mesti mengantar
aku. Ramah sekali dan terlalu kepo untuk seorang pemilik warung dan
pelanggannya. Jangan-jangan Yaza selalu makan di sini, keculai ketika dia naik
kereta.
‘’Ayo, kita pulang!’’ Aku mengekor Yaza dan kami
pulang.













Komentar
Posting Komentar