Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan masuk dalam salah satu cerpen yang dikumpulkan dalam buku MEMBACA MATAMU.
Ruko Sebelah
BLOG NURLAELI UMAR- Ketika ditawari pekerjaan ini, aku tidak
berpikir dua tiga kali langsung kuiyakan. Menganggur itu tidak menyenangkan,
terutama di bagian keuangannya. Kantong kosong adalah ritual yang selalu
kujalani, bahkan sebatang rokok mesti kuminta dari ibuku.
Terang saja semburan kata untuk mencari kerja lebih mirip
dengan nada pengusiran. Masalahnya mulutku yang dua tahun setelah lulus sekolah
sudah teracuni tar. Rasanya asam kalau sehabis makan tidak menyesapnya.
Aku merokok pakai aturan, tiga sesapan saja selebihnya
dimatikan. Itu pun hanya sehabis makan saja. Jangan mengatakan aku aneh!
Ruko yang kutempati satu bangunan dengan tiga ruko lainnya.
Hanya empat ruko saja di sini, selebihnya kanan-kiri adalah toko-toko dan warung-warung.
Jalanan di depan ruko empat buah ini adalah jalanan besar yang dari pagi sampai
malam tidak pernah tidur.
“Aku berani, tenang saja. Hanya tinggal membersihkan dan
menutupnya ketika semua pulang, bukan?”
Yang menawariku pekerjaan itu mengiyakan, kemudian
menyebutkan nominal dari gaji yang akan kuterima setiap bulannya. Gila, itu
besar sekali!
Aku ingin menyesal tapi terlambat. Bayangan ruko seperti
yang ada di kepalaku salah sama sekali. Banguannya punya empat lantai dengan
ukuran yang luas. Aku harus menyapu dan mengepelnya sendirian. Awalnya remuk
semua tulangku, tapi kemudian terpaksa terbiasa.
Tidak ada yang kukenal baik selain tukang parkir di depan
ruko dan pemilik warung kecil di seberang jalan. Tukang parkir yang datang
ketika malam saja, karena ketika siang hari parkir di depan gratis. Parkir
untuk semua pelanggan dari keempat ruko di sini.
Setiap malam tempat parkirnya selalu penuh, pengunjung warung
martabak kubang dan sop konro di seberang jalan memenuhinya.
“Apa sudah selesai dengan sapu-menyapu, Fir?”
Tukang parkir yang
lebih suka dipanggil Delon itu menyeka mukanya yang tidak keringatan. Setiap
ada orang yang memanggil nama aslinya muka masam selalu diperlihatkan seketika,
tapi ketika dipanggil Delon, dua batang rokok akan ditawarkan gratis. Terkadang
malah ditambahi dengan minuman gelasan seribuan.
“Sudah, tenang saja. Habis ngobrol aku akan tidur nyenyak.”
“Jangan terlalu nyenyak, kamu tahu sejarahnya rukomu itu?”
Kubiarkan dia berbicara semaunya, aku sedang malas bicara,
“Ruko yang kamu tempati pernah tiga kali kerampokan. Tapi
akhirnya ketangkap juga sih. Kamu tahu kenapa? Karena yang merampok kerja sama dengan
penjaga malamnya.”
Aku sebenarnya
sedikit terkejut, tapi demi mendengar akhir kalimatnya menjadi biasa saja. Bulan
berikutnya aku merasa bosan. Ruko sebelah kananku adalah toko roti yang harganya
keterlaluan. Satu roti di sana bisa kubelika roti di warung seberang jalan
menjadi dua puluh lima buah.
Anehnya, toko selau ramai. Mungkin orang-orang bermobil itu menganggap
harga roti murah dan wajar. Memang enak sekali rasanya. Aku mendapat satu dari
pemilik ruko yang kutempati ketika toko tutup.
Pekerjanya tidak pernah kulihat tinggal di dalam, tidak ada
suara apa pun yang kudengar sesudah tutup. Pemiliknya seorang keturunan yang
memang sangat ahli dalam membuat kue dan galak setengah mati.
Sementara ruko di sebelah kiriku penghuninya aneh. Dia
seorang perempuan pebisnis yang selalu berteriak kepada karyawannya, mobil box
tinggi dengan kardus-kardus yang keluar masuk, tapi sebulan kemudian menjadi
laki-laki dengan mobil mewah berganti-ganti yang memilih ruko dari pada
apartemen sebagai tempat tinggal, karena aku tidak pernah melihat usaha yang
dijalankan dari rukonya.
Sebulan kemudian berganti penghuninya menjadi agen telur
dengan banyak pelanggan bermobil box. Konon terlurnya adalah hasil dari sebuah
penelitian laboratorium. Telur yang dirancang untuk menekan pengeluaran. Telur
dengan dua kuning telur di dalamnya. Aku pernah diberi yang sudah retak oleh
salah satu pegawainya hanya karena aku meminjamkan api untuk rokoknya, dan
kugoreng. Setelahnya aku pusing-pusing ketika bangun keesokan harinya. Dua bulan kemudian penghuninya kembali berganti
tanpa sempat aku lihat mukanya.
Sudah kuselesaikan semua tugasku pagi ini. Tinggal menunggu
handphone-ku berdering, yang berarti pemilik ruko ini datang. Setelahnya aku
akan pergi sebentar mencari sarapan. Aku terbiasa dengan nasi uduk sekarang,
meski aku awal di sini mulas-mulas setiap setelah menghabiskannya karena
perutku sedikit alergi dengan santan.
Benar saja sepuluh menit kemudian dia menelpon. Pintu kubuka.
Bosku hanya mengizinkan pintu besi dibuka setelah mereka siap, mungkin sekitar
satu jam lagi. Lantai bawah digunakan sebagai toko. Lantai ke dua digunakan
untuk istrahat, lantai ke tiga untuk pencucian emas, sedang lantai ke empat
adalah wilayah kekuasaanku, yang kugunakan untuk tidur siang hari agar malamnya
aku bisa terjaga.
Ada yang berbeda pagi ini, kegaduhan semalam yang kudengar
dari ruko paling ujung ternyata membuahkan bendera warna-warni, dan tulisan yang
menempel pada tembok antara lantai satu dan dua dengan besar-besar: WARUNG BAKSO
ARTIS. Semua sepertinya masih sibuk dengan persiapan pembukaan.
Semalam film lepas di televisi membuatku memilih jaga dari
dalam saja. Mendengar kebisingan palu dari arah ruko paling ujung membuatku
merasa aman. Ada kehidupan.
Siang hari selepas jam dua belas, voucher dari warung bakso
itu kucairkan. Potongan harga yang lumayan sebagai perkenalan. Bos yang
menyuruhku. Tidak berlangsung lama, tiga bulan pertama mereka memutuskan untuk
pindah ke tempat yang lebih mewah. Ruko itu terisi lagi dengan sepi.
Di sini aku mendapatkan semua fasilitas lebih. Aku boleh
memakai telepon toko jika memang diperlukan. Dan aku bisa menonton televisi sepanjang
malam. Tapi tidak dengan tamu, aku harus melaporkan siapa saja orang yang kubawa
masuk ketika malam hari. Tidak banyak memang, paling satu dua dan itu juga
hanya saudara yang tinggal di Jakarta dan kebetulan menengok keberadaanku saja.
“Fir, sekarang kamu jarang keluar, kenapa?” Begitu
pertanyaan dari tukang parker yang sekarang berubah menjadi pelit. Tidak ada
tawaran rokok ataupun minuman seperti kemarin dulu.
“Aku sedang banyak butuh, jadi kamu beli saja rokok
sendiri.jangan minta jatah. Istriku habis melahirkan dan anakku harus
diinkubator karena bermasalah.” Seperti biasa dia berbicara tanpa kutanya apa
dan bagaimana.
“Ikut senang juga sedih. Semoga anakmu cepat membaik, Bang.”
“Makanya Fir, kalau niat nikah harus cari uang yang banyak
dan punya rumah. Begini nasib orang kontrakan. Kadang belum tanggalnya sudah
dikejar-kejar. Giliran aku minta sekali saja mundur karena istriku sakit, dia
mencak-menacak langsung mengusir.”
“Masak, sih, hanya gara-gara itu bisa jadi berabe,”
sanggahku.
“Bukan itu masalah utamanya, dia sebenarnya ingin pekerjaanku
di sini. Dia kan asli sini, jadi menurut dia, yang pantas melakukan semua ini
ya dia itu. Padahal sebelumnya aku sudah menawarkan tapi dulu dia menolak.
Gengsi katanya jadi tukang parkir. Setelah tahu uangnya baru deh.”
“Kamu tahu, Fir? Dia minta aku memasukkan anaknya ke ruko
paling ujung.”
“Ruko itu bukannya sudah pindah, maksudku yang kemarin
mengisi.”
“Makanya, keluar, Fir. Ruko itu dibeli sama saudara pemilik
kontrakan yang kutempati. Katanya mau bikin usaha. Coba kamu bicara dengan
pemiliknya.”
“Aku?”
“Iya, kamu kan pinter ngomong, dia akan percaya denganmu.
Masukkan satu saja anak pemilik kontrakan, hitung-hitung menolongku. Ya, setidaknya
sampai istriku pulih dan anakku pulang dari rumah sakit.”
Aku menyanggupinya, meski aku tidak berani berjanji. Kudengar
dari pemilik rumah makan sop konro di seberang, ruko tidak disewa tapi dibeli.
Yang membeli seseorang dengan titel haji di depannya. Lengkap sudah informasi
yang kudapat dan aku makin mantap.
Seminggu kemudian. Siang hari ruko paling ujung sepi. tapi
malam hari ramai pengunjung. Mobil-mobil mewah datang silih berganti. Kuamati
pengunjung tempat itu seperti orang berkelas. Tapi tidak ada nama perusahaan di
depan ruko yang terpampang jelas.
“Diskotik, Fir,” begitu kata tukang parkir itu. Kemudian dia
mengatakan jika aku tidak perlu melakukan apa yang dia minta. Semua masalahnya
sudah terselesaikan, pindah kontrakan, dan anak istrinya baik-baik saja
sekarang.
“Tapi aku tidak pernah mendengar apa pun, pemiliknya haji.
Jangan asal bicara!” kataku mendebat.
“Kau itu, suaranya diredamlah. Coba kau perhatikan
orang-orang yang turun dengan lebih. Kau juga mesti waspada, orang-orang dari
sana mungkin tidak bermasalah, tapi waspada saja. Siapa tahu ada yang berotak
kotor, terus melakukan perampokan seperti dulu. Iya di rukomu.”
“Tidak ada apa-apa di dalam. Semua perhiasan dan uang dibawa
pulang.”
“Itu lebih baik dan aman buatmu. Eh coba lihat itu! Itu
adalah perempuan penghiburnya. Kau tahu mereka itu fresh-fresh.”
“Kamu pikir itu buah dari pohon atau pendingin? Sudah sana
itu ada mobil yang mau keluar. Tugas, tugas, gak usah ngopeni urusan orang
lain!”
Selesai dengan mobil yang keluar, dia disibukkan lagi dengan
mobil yang masuk. Aku berbalik badan untuk masuk. Lebih baik berjaga di dalam
saja, mungkin aku akan keluar lagi dua tiga jam kemudian.
Mataku melihat mobil itu, benar-benar berisi dengan barang
fresh. Gadis-gadis dengan wajah cantik berbaju mini, sepatu berhak tinggi. Mereka
masih belia. Pinggangnya ramping-ramping. Hebat benar orang yang membawanya, bisa
mengumpulkan gadis sebanyak itu dan tidak ada yang biasa saja. Aku laki-laki,
bisa membedakan antara yang polesan dengan yang cantik asli. Gila, semua ada
dua puluh dari dua mobil! Berarti banyak laki-laki di dalam sana. Empat lantai
yang luas, batinku.
“Benar, kan? Kamu sih kuper. Di Jakarta ini sehari gak
keluar bisa gak tahu jalan pulang. Semua berubah sebentar saja.”
“Mereka anak-anak Jakarta?”
“Bukan, mereka gadis-gadis desa. Diambil langsung dari sana.
Tuh, yang paling cantik, itu yang berjalan paling belakang!” Dia menunjuk salah
satu dari mereka. Benar,dia memang berbeda.
“Kemarin aku disuruh membelikan martabak. Aku mau saja, uang
capeknya lumayan. Kamu tahu, dua ratus ribu! Gila, gak?”
“Dua ratus ribu, cuma buat upah beli martabak yang jaraknya
sepuluh meter dari ruko ini?”
“Sudah sana masuk! Nanti kamu kepingin lagi masuk ke ruko
ujung. Berabe, bisa- bisa sekali masuk habis gajimu sebulan. Kamu tahu, primadona
itu baru datang seminggu yang lalu. Kalau tidak salah, nama kampungnya sama
dengan kampungmu. Apa ya?”
Akumenyebutkan nama kampungku, dan dia membenarkannya.
Kampungku? Primadona itu dari kampungku? Semoga saja itu
bukan seseorang yang kukenal. Aku mengamatinya. Gadis itu tinggal selangkah
lagi masuk ke dalam. Seorang lelaki perlente yang barusan turun dari sedan
mewah menggamitnya. Tuhan, itu Astari kekasihku!








Komentar
Posting Komentar