Ganti Nama
Oleh: Nurlaeli Umar
BLOG NURLAELI UMAR- Pernikahan sepertinya menjadi begitu jauh untuk seorang
Miswan. Dia tidak pernah mengatakan ingin menikah dengan siapa. Atau, sedang
dekat dengan siapa. Itu semua membuat ibunya pusing tujuh keliling. Pasalnya
dia adalah anak pertama dan tiga adiknnya sudah menikah.
Jangan-jangan benar kata orang tua di sini, jika dilangkahi
oleh adik-adiknya memang harus diadakan upacara langkahan, di mana adiknya akan
memberi tanda dengan memberikan barang yang diminta oleh kakak yang dilangkahi
sebagai tebusan, agar si kakak tidak jauh jodoh. Tapi sayang seribu sayang,
Miswan tidak pernah mau melakukan semua itu.
“Itu tradisi. Kecuali kamu mengikhlaskan, tanpa tebusan.
Tapi apa salahnya jika melakukan upacara itu meski kau sudah merestuinya sekalipun?
Sekadar menghormati adat kebiasaan kita.”
“Apa ada yang lebih baik bisa diberikan seorang kakak kepada
adiknya selain restu? Aku tidak percaya semua itu. Aku sudah merestui adikku seikhlas-ikhlasnya.
Dan aku akan menikah, jika tiba waktunya.”
Tapi yang terjadi, setelah sekian tahun, Miswan malah makin
asyik dengan kesendiriannya. Orang-orang menduga jangan-jangan dia hanya ikhlas
di bibir saja. Atau jangan-jangan dia masih tidak bisa menerima luka-luka yang
diberikan kepadanya oleh gadis yang sekarang tinggal bersama suaminya di depan rumahnya.
“Kau masih menginginkan jandanya Nung, Mis?” tanya Cokro
membuat mata Miswan beralih dari handphonenya.
“Pertanyaan macam apa itu? Apa aku mirip tulisan di papan belakang
truk? Kutunggu jandamu. Gusti Allah sudah menjodohkan manusia bahkan sebelum
lahir ke dunia?”
“Bukan begitu, hanya saja, jika itu terjadi aku bisa
memaklumi.”
Miswan tertawa, tapi sebentar kemudian dia kembali sibuk
dengan handphonenya lagi.
“Kau melampiaskan kesepianmu dengan orang-orang maya?
Berpacaran dengan orang yang tidak nyata, merayu, menggombal segombal-gombalnya,
kemudian memutuskan setelah dia menginginkan sebuah komitmen?”
“Pacaran ndasmu! Kamu pikir aku sepertimu? Sudah punya istri
tapi masih suka ngerayu perempuan lain, mentang-mentang tidak nyata, dan tidak
bakal ketahuan istri. Kudoakan semoag kualat kamu nanti! Ditinggal si Warni,
pasti nangis sejadi-jadinya. Dasar laki-laki tipe tobat sambel, takut ketahuan,
tapi rak mareni.”
Kalau sudah begitu Cokro malu hati sendiri. Dia memang harus
mengakui kalau Miswan tidak seperti dirinya, tapi lebih baik lagi. Walau
bagaimanapun, dia tahu semuanya,.bagaimana luk-luka di dada Miswana itu terbuat.
Dan andai itu terjadi pada dirinya mungkin saat ini dia akan berada jauh dari
sini, tinggal di penjara karena lebih memilih membunuh atau dibunuh.
Penghinaan dan kesakitan itu tidak akan pernah terlunasi sampai
kapan pun, bahkan meski meminta maaf sampai air mata darah sekalipun. Dua puluh
tahun yang lalu. Miswan pergi ke luar negeri sebagai tenaga las dalam laut. Uang
seperti air mengalir saja. Uang itulah yang membiayai kuliah Nung, gadis yang dicintainya.
Tidak itu saja, Nung bahkan ditanggung kebutuhan hidupnya.
Setelah berkali- kali pulang dan pergi, tabungan juga sudah cukup untuk biaya
menikah, membuat rumah, dan untuk usaha. Akhirnya, Miswan tidak memperpanjang
kontrak lagi. Dia pulang dengan kepala penuh bayangan kebahagiaan.
Entah bagaimana, Nung menjauh, dan akhirnya menikah dengan
kekasihnya yang lain setelah lulus kuliah dan bekerja. Semenjak itu Miswan
mulai berdarah-darah. Yang membuat lukanya semakin hari semakin membusuk dan
enggan sembuh, Nung ternyata membanggun rumah di tanah kosong milik keluarganya
tepat di depan rumah Miswan. Tanah yang digadang-gadangkan menjadi masa depan
penuh cinta dan kelahiran anak-anaka dalam kepala laki-laki itu.
Tanpa sepengetahuan Miswan yang sekarang sibuk dengan usaha
dan hobi barunya berbicara dengan orang-orang maya, Cokro sang sepupu, dan
keluarga besar sepakat untuk mencarikan Miswan seorang istri.
“Orang yang selalu gagal untuk menjalin hubungan, atau patah
hati karena kekasihnya, itu satu level masalahnya. Biasanya akan sulit menjalin
hubungan berkomitmen karena rasa tidak percaya, atau bahkan lebih mencintai
luka-lukanya daripada beranjak untuk mencari pengganti.”
“Lalu solusinya?”
“Dia harus dijodohkan. Sebab menunggu untuk melakukannya
sendiri itu seperti menunggu jamur di musim kemarau.”
“Apa ada calon yang bisa dan pantas untuk Miswan kita?”
“Ada, dia seorang janda yang baru setahun ditinggal
suaminya.”
“Apa tidak ada yang gadis? Sepuluh gadis yang pernah
ditawarkan kepadanya saja ditolak mentah-mentah. Kurang cantik lah, rambutnya
terlalu panjang lah, kulitnya tidak terawat, tampangnya galak, atau seribu
alasan lain. Bagaimana dengan yang ini?”
“Tentu saja ada, dan banyak. gadis, tapi janda yang ini
benar-benar dijamin pantas untuk Miswan. Dia cantik, dan baik, juga pintar
mengaji.”
“Bagaimana bisa yakin kali ini, gadis saja dia tolak?”
“Terkadang mencoba itu menjadi wajib dilakukan, karena kalau
tidak kita bahkan akan menyesal seumur hidup. Dan kita semua ingin melihat
Miswan bahagia, bukan?”
Perempuan itu ternyata memang berkulitas tinggi, selain
cantik, orang-orang mengatakan semasa suaminya hidup, tidak ada cacat dalam
pengabdiannya sebagi istri. Suaminya meninggal karena kecelakaan. Keluarganya
cukup terhormat, dan mereka juga tahu tentang keluarga Miswan dari mulut ke
mulut.
Setelah berbicara panjang lebar, dan selembar foto diberikan,
ternyata reaksi Miswan di luar dugaan. Entah karena bersimpati untuk kisah
sedihnya, atau karena hatinya merasa cocok, dia mengiyakan tanpa banyak alasan.
“Siapa namanya dan orang mana?”
“Namanya Pungky, Pungky Susilowati.”
“Namanya yang aneh untuk seorang perempuan yang berasal dari
daerah kita.”
“Apa dia tidak punya nama selayaknya?”
“Apa nama dan wajahnya kali ini tidak sesuai dan itu alasan
untuk menolak lagi?”
“Aku ingin bertemu, dan bukan menolak.”
“Dia belum punya anak, dan dia janda.”
“Tidak masalah, aku ingin bertemu, dan merasa perlu
bertemu.”
“Kau sungguh, sungguh?”
Pertemuan digelar, Miswan dipertemukan dengan perempuan itu. Pasti nantinya pesta pernikahan akan digelar meriah meski Miswan sudah tidak muda lagi. Miswan duduk gelisah, matanya mencuri-curi. Dia tidak sabar ingin melihat perempuan itu. Dadanya berdegub kencang. Kali ini ketika hatinya merasa cocok, dia khawatir dengan dirinya sendiri, jangan-jangan perempuan itu akan menolak, seperti yang dilakukan kepada sepuluh gadis yang pernah ditawarkan kepadanya. Dia tiba-tiba merasa tua, dan tidak tampan lagi.
Setelah pihak Miswan berbicara dengan kedua orang tua, dan perwakilan keluarga perempuan itu, maka dipanggilah dia ke hadapan semuanya. Perempuan itu sangat berbeda dengan gambar yang ada di foto. Dia lebih cantik, dan tinggi. Sopan santunnya sangat terjaga.
“Apa kamu bersedia, jika kami ingin mengikat hubungan yang
lebih setelah pertemuan kali ini? Lihat dulu baik-baik orangnya. Tidak baik
mengiyakan jika hatimu tidak terima, begitu juga tidak baik jika menolak tapi
hatimmu mengiyakan.”
Perempuan itu memandang sekilas ke arah Miswan, mata mereka
bertemu. Keduanya saling pandang untuk sesaat. Akhirnya mereka tertunduk
bersama-sama.
“Bagaimana? Iya apa tidak?”
”Nggeh.,” jawab perempuan itu setengah berbisik.
Hati Miswan bersorak, mata kedua orang tuanya pun terlihat
berkaca-kaca. Akhirnya penantian mereka berujung. Kedua keluarga itu tampak
bahagia.
Pertemuan selanjutnya Miswan dipersilakan datang sendiri,
agar kedua calon bisa berbincang lebih akrab. Sebab rencananya setelah pertemuan
ke dua, akan segera dilangsungkan pernikahan saja, tidak perlu menunda-nunda.
Sore mulai menampakkan pesonanya, mendung tipis, dan angin
sepoi bertiup. Motor keluaran terbaru membawa tubuh Miswan, meninggalkan bau
parfum yang menyenangkan.
Akhirnya apa yang ditakutkan oleh keluarga besar itu benar-benar
tidak akan terbukti. Miswan akan menikah, dan tidak akan menyendiri sampai tua
nanti.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam.”
Bapak perempuan itu menyambut dengan senyum lebar. Hari-hari
mendung anak perempuannya yang cantik itu akan berganti cerah. Setelah
berbasa-basi, dia memanggil anak perempuannya. “Nduk, bikinkah teh manis, Mas Miswan
sudah datang.”
Dalam sekejap perempuan itu muncul. Pipinya merona, sambil
membawa dua cangkir teh dalam bakinya. Sang bapak tahu diri, menyingkir,
pura-pura ada keperluan di dalam.
Miswan gemetar. Rasa masa muda dulu mulai menjalar. Dia memulai
berbicara ketika perempuan itu akhirnya duduk di seberang meja. Bunyi burung
peliharaan menamban suasana semakin nyaman. Miswan bercerita tentang kegiatannya
sekarang ini, dia juga menanyakan kesibukan yang dilakoni perempuan yang
nantinya jadi istrinya itu.
“Maaf, saya bukan Pungky. Nama saya Marpungah Susilowati.
Saya biasa dipanggil Puah atau Wati. Saya kurang nyaman dipanggil Pungky.”
“Jadi nama Adek itu Marpungah Susilowati bukan Pungky
Susilowati?”
“Bukan.”
Pembicaraan disudahi karena sore sudah semakin menua. Dengan
senyum dipaksakan Miswan pulang.
Cokro datang setelah isya. Dia bersiul-siul di depan rumah,
melantukan lagu gembira. Akan ada mata yang bersinar ditemuinya.
“Iya, masuk!”
“Gimana?”
“Gimana ndasmu! Aku sudah membatalkan semuanya. Ibu sedang
menangis di dalam, Bapak masih di mushola.”
“Kenapa lagi? Bukankah kamu sudah setuju, dan tanggal pernikahan
akan segera ditetapkan?”
“Tapi, Mis!”
“Sudah titik. Mungkin aku lebih baik sendiri.”
Miswan masuk ke ruang tengah. Dia mendapati budhenya sedang
menangis, ditemani ibunya. Adik-adik Miswan beserta pasangannya pun ada di sana.
“Harus kita akui, kita semua bersalah. Kupikir mengganti namanya itu tidak akan
membuat semua menjadi begini. Marpungah menjadi Pungky itu tadinya agar
terlihat ngota, karena perempuan itu memang cantik luar biasa. Toh, baik Pungy
atau Marpungah itu orang yang sama.”
“Tapi, Miswan kita pernah terluka karena merasa dibohongi.
Dan kita tidak bisa menghapusnya.”
Biodata: Nurlaeli Umar, seseorang yang berdomisili di
Jakarta.
Komentar
Posting Komentar