Cerpen 16. Koloni Tikus

 Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan dimasukkan  di buku kumpulan cerpen MEMBACA MATAMU

Koloni Tikus

Oleh: Nurlaeli Umar

 

BLOG NURLAELI UMAR- Sebuah ketukan di pintu mengangetkan kantukku hingga dia pergi dan enggan kembali. Orang itu tidak masuk, hanya mengulurkan secarik kertas, kemudian pergi. Banyak yang ingin didatangi begitu alasannya.

Kantuk pergi, orang itu juga. Padahal, aku ingin membuatkannya kopi. Segelas kopi untuk bertukar dengan sebatang rokok, atau informasi pekerjaan. Siapa tahu ada yang butuh tenagaku.

Aku masuk dalam daftar penerima beras untuk orang miskin. Kurasa pemerintah begitu peduli denganku, maksudku dengan kami, orang-orang desa yang bahkan membeli beras saja merasa berat.

Hamparan sawah dan cap lumbung padi tak membuat golongan buruh tani sepertiku masuk kategori yang termakmurkan oleh keadaan. Apalagi jika musim paceklik karena puso.


Di masa panen raya saja, bawon—bagian padi untuk upah memetik—hanya satu per tujuh, apalagi di masa seperti ini.

Tikus-tikus menjadi begitu ganas. Gumukan tanah sebagai tempat pohon jeruk hidup menjadi salah satu sarang yang membuat mereka beranak-pinak dengan begitu pesat.

Racun-racun tikus sudah digunakan, tapi nol hasilnya. Acara moro tikus, hanya menjadi ajang anak sekolah bermain lumpur. Tidak mengecilkan hasilnya, tapi tidak mempengaruhi populasi mereka.

Memusnahkan pohon jeruk sebagai sumber penghasilan para pemilik sawah jelas tidak mungkin. Sudah begitu nyata rupiah hasil panenan jeruk bisa melampaui hasil dari tanah yang hanya ditananmi padi. Sudah banyak haji jeruk, istilah untuk orang-orang yang berhaji karena hasil dari menanam jeruk.

Kemarin sore undangan itu diantarkan ke rumahku, dan malamnya aku menyambangi rumah Kepala Dusun untuk menukarkan undangan dengan kupon. Tertera di sana harga beras yang teramat murah. Lima kilogram dihargai dua ribu lima ratus rupiah saja. 

Di warung uanDg sejumlah itu hanya akan mendapat sepertiga kilo saja. Dan kami penerima boleh membeli maksimal sebanyak dua puluh kilogram saja. Kebijaksanaan seperti itu diambil agar semua yang masuk kategori mendapatkan bagian.

“Kenapa masih bingung, No? Kamu tukarkan saja kupon kemarin. Kapan lagi orang- orang seperti kita bisa makan kenyang? Itu beras super murah.”


 

“Ya, itu masalahnya. Maksudku uang untuk menukarkannya belum ada. Apa aku harus menjual beras di periuk untuk membeli beras lagi? Itu terdengar seperti sebuah lelucon saja.”

“No, kalau aku punya duit banyak, sudah kuhutangkan kepadamu. Aku hanya punya tujuh ribu saja tadi pagi. Dua ribu lima ratus untuk menebus kupon, sisanya dibawa istriku dan sudah menjadi kopi ini. Iya, kopi yang kita minum, dan malah kamu anggurkan. Ayo, minum!”

“Mungkin aku harus ke Jakarta saja, ngikut nukang.”

“Mau ikut nukang sama siapa? Kang Riyo saja pergi ke luar sama anak lelakinya. Moro duit lebih besar. Ke Jakarta, atau ke luar itu perlu biaya di muka. Semua tidak semudah yang kita angankan. Ini masalah dua ribu lima ratus rupiah saja. Uang tidak seberapa di hari yang lain, tapi hari ini kita benar-benar menganggap uang itu seperti uang lima juta. Masalahnya karena memang tidak ada. Coba siapa tahu, sebentar lagi ada yang bisa kita hutangi. Soal membayar biar aku saja. Atau kalau memang tidak ada sama sekali yang bisa kita mintai tolong, kau boleh mengambil setengah beras yang kutebus.”


“Lima kilogram berdua? Yang benar saja. Tidak usah.”

Mijan. Dia adalah seseorang yang tiap hari singgah ke rumahku. Makan, minum, bahkan rokok kugratiskan. Aku tidak berhitung seberapa lama dia melakukan itu. Tapi itu dulu, sepulu tahun sebelum usahanya maju. Pabrik tahunya semakin membuat pundi- pundinya membukit. Mana sempat dia datang mampir sekadar bicara ngalor-ngidul. Waktu baginya adalah uang. Aku yang mengusulkan agar dia membuka pabrik tahu setelah dia mendapat warisan. Usaha tahunya menjadi begitu maju setelah dia berhasil menemukan cara agar tahunya tidak lekas membusuk dan meninggalkan kerugian.

 Akulah orang yang tahu tentang semuanya, dia begitu percaya padaku, tapi tidak percaya untuk sedikit saja memberiku peluang bekerja di pabriknya. Cairan tak berwarna ajaib itu mengenyalkan tahu dan mengawetkannya. Cairan putih itu juga yang membuatku berhenti menjadi pelanggan setia tahu dan ampasnya yang biasa diolah istriku menjadi makanan cemilan yang lezat.


Dia sekarang bergabung dengan kami. Kasan sang tuan rumah memanggilnya, ketika dia lewat dengan mobil kolbak-nya yang baru. Itu mobil ke tiga milik Mijan. Dia turun darimobilnya dengan petantang-petenteng. Begitulah gaya bos, berwibawa. Jabatan tangannya mantap, aku bahkan takut tanganku sampai terkilir. Tubuhnya sekarang menggempal, dia sudah melupakan tubuh kurus ringkihnya di masa lalu.

“Wes, Bos Mijan, mreneo ngopi! Ini katanya kopi paling enak di warung Pak Taslim. Istriku sudah memesan jauh hari.”

“Gratis ini, atau dipajak?”

“Gratislah, monggo silakan duduk! Aku akan buatkan. Istriku sedang bruwun di sawah Lik Beno. Bruwun kangkung. Biasa beli tapi metik sendiri. Sebagian beli, sebagian bayaran karena bantu-bantu.”

Kopi itu dihirup uapnya. Mijan mengangguk-angguk. Dia menoleh ke arahku. “Kamu, No. Gimana sehat?”

“Sehat Bos. Lagi bisnis apa nih?”

Dia begitu bersemangat. Ya, dia memang seperti itu semenjak berhasil. Dulu dia begitu pendiam, dan rendah diri. Akulah orang yang selalu memberi masukan kepadanya untuk bisa menepuk dada. Dan aku bangga dengannya melihat semua itu. Waktu dan pengalaman memolesnya lebih mengilat. Dia seperti permata.

Dia bercerita tentang bisnis barunya yang bisa menghasilkan sekian puluh juta dalam waktu sekejap. Bisnis baru yang membuatku ternganga. Dia berkongsi dengan Pak Lurah mengoplos beras dari pemerintah, dengan beras kwalitas rendah. Dia mendapat keuntungan per kilo sekian rupiah, kali berapa ton. Aku tercengang dibuatnya.

“Tapi itu berarti membohongi rakyat, hati-hati rezekimu tidak berkah karena kualat.”

“Masalah itu aku tidak cawe-cawe. Aku hanya berbisnis saja. Aku menjadi perantara penjualan beras dari pemerintah ke agen, dan aku membelikan beras yang sesuai dengan permintaan. Soal membohongi adalah dosa Pak Lurah sendiri. Ada barang ada uang, hanya itu saja.”

“Dan kamu membuang nuranimu?”

“Ini bisnis, nurani tidak ikut sekolah bisnis. Kalau aku selalu berhitung dengan nurani, aku tidak akan sesukses ini.”

Aku merasa semua itu salahku. Mijan adalah kesalahanku yang terlanjur dibiarkan. Andai saja dulu aku bisa begitu sengit mencegahnya memakai cairan pengawet yang ternyata adalah pengawet mayat untuk tahunya, tentu dia tidak akan kehilangan nurani dan menjadi mayat saat ini. Dia tidak hanya menjadi mayat karena kehilangan nurani, dia juga sekarang menjadi koloni tikus.

Aku terdiam beberapa saat untuk menenangkan diri. Pembicaraan kemudian beralih ke bola, dan tikus-tikus yang menyerang hingga puso. Dia juga membeberkan tentang usahanya berkongsi dengan pihak pemasok pembasmi tikus, sekaligus membekingi pihakyang mengusulkan agar tanaman jeruk tetap diperbolehkan ditanam di area sawah, meski pihak Pemerintah Kabupaten sudah mengintruksikan agar tanaman jeruk dibabat habis.

Sawah hanya diperbolehkan untuk menanam padi dan mina padi sesuai dengan anjuran pemerintah.

“Jan, kamu kan sekarang sudah jadi bos. Aku itu tahu benar kamu kecilnya hidup di mana. Siapa lagi yang bisa kau sebut kakak selain Kang Yono-mu ini. Makan, tidur, jajan. Sekarang, aku yang memintamu sediki uang. Berikan Kang Yono-mu uang sebesar sepuluh ribu saja, untuk menebus kuponnya. Beri aku waktu dua hari, biar aku yang bayar.”

Mijan terdiam. Dia berpikir keras hanya untuk sepuluh ribu. Uang yang dulu aku berikan cuma-cuma ketika dia menangis mendapati uang celengannya kurang untuk membeli sebuah celana jeans menjelang lebaran.

“Begini saja. Aku tidak mau berhutang dan menghutangi. Aku gak enak hati. Kesannya bagaimana, begitu. Kuponnya biar aku bayari saja, lima belas ribu. Kang Yono mendapat untung lima ribu, dan aku mendapat berasnya. Bagaimana?”

“Kalau Kang Yono tidak mau, tidak apa-apa.”

Aku orang yang punya harga diri begitu tinggi, hingga ditantang sehina ini aku mengangguk. Aku menyetujuinya dengan sakit hati. Aku telah kehilangan Mijanku. Bagaimana bisa dia setega itu mengambil keuntungan sepihak dariku. Sepuluh ribu itu setara dengan beras kupon dua puluh liter. Dia berhitung begitu cepat. Dua puluh liter kali tujuh ribu lima ratus. Dia merasa telah memberiku untung lima ribu hanya karena aku mendapat semua gratis.

Aku menyeruput kopi. Terasa pahit sekali di lidahku. Kuterima uang lima belas ribu rupiah dari Mijan. Dia pamit karena ada panggilan masuk di handphonenya. Aku melihat tubuhnya berbulu, kemudian tumbuh ekor yang panjang. Mirip seperti tikus got Jakarta yang gemuk. Tikus yang membuatku berteriak keras, ketika aku menengok adikku yang tinggal di Jakarta sana. Tikus yang membuatku ternganga karena kucing pun melipir jauh ketika bertemu dengannya.

Mijanku melambaikan tangan ketika mobilnya menderu, tapi aku hanya melihat sebuah kepala tikus yang menyembul dari kaca depan mobilnya saja.

“Yon. Apa kau melihat apa yang kulihat?”

“Kenapa Kang Kasan? Apa yang kau lihat?” tanyaku.

“Mijanmu, sekarang menjadi seekor tikus. Aku melihat kepalanya menyembul dari kaca samping kemudinya. Dia nyupang tikus kah? Atau tadi itu jin yang dia sembah?”

“Kurasa Sampeyan salah bikin kopi. Jangan-jangan bukan kopi yang Sampeyan seduh buat kita, tapi racun tikus yang ditaruh istrimu di dapur.”

“Kurasa kau benar. Kepalaku sekarang pusing.”

“Pantas saja, kopinya rasanya aneh. Pahit sekali.”

Kasan tertawa keras sekali. Aku bingung dibuatnya. Tapi kemudian aku melihat air

mata meleleh dari sudut matanya. Aku tak bisa bicara apa-apa. Sungguh!



Komentar