Cerpen 17. Jalan yang Kurampas

 

Jalan yang Kurampas oleh Nurlaeli Umar

 


BLOG NURLAELI UMAR- Rumah itu begitu ramah. Dia hinggap di setiap kepingan ingatan semua penghuni kampong tanpa terkecuali. Tanah merah yang lapang, pohon-pohon besar dan tinggi, panen buah gratisan. Anak-anak berlarian tertawa dan senang. Nasihat yang bijak dan bertuah. Orang-orang berkumpul bicara banyak hal di bawah terang bulan.

Semua adalah barang mewah yang tidak bisa kubeli bahkan meski koleksi mobil mewahku empat biji. Apartemen mewahku di mana-mana, tapi aku tak bisa menemukan hal semewah itu di sana.

Okelah, fasilitas mewah, perabot super lux, dan bangunan megah bagaikan bumi dan langit dengan semua kepingan itu, tapi tertawa bahagia, tanpa terpaksa, tanpa dipaksa, tanpa pura-pura, rasa bersaudara tanpa pamrih, aku yang bahkan sudah berkeliling dunia belum menemukan yang sebanding dengannya.



“Iya, kau boleh datang kapan saja, jika kau punya waktu,” kataku menjawab di sela makan siangku.

“Aku punya banyak waktu, kau yang tak pernah punya waktu. Karena itu aku memberitahumu kapan aku bisa menemuimu,” jawab suara dari seberang sana.

“Ya, baiklah. Kujemput atau kau datang ke rumahku?”

“Aku akan menemuimu, berikan alamatnya saja. Pastikan anjing dan penjaga rumahmu tak mengendus bau keringatku.”

Aku tertawa, lalu kuakhiri semua karena rapat menantiku. Kebiasaan yang setia selalu ada di hari-hariku. Dari satu gedung ke gedung yang lain, berakhir dengan pembubuhan tanda tangan atau kata: deal. Aku memang tak perlu lagi memeras otak setelah sekian tahun semua yang kupunya telah diperas. Orang-orang dengan tingkat disiplin, dan komitmen tinggi sudah melakukan  semuanya. Aku bukan hanya bos, tapi maha bos.



Sepuluh menit lebih awal. Dia benar-benar datang, setelah insiden pengusiran oleh satpam rumah, dan gonggongan anjingku. Seekor anjing yang setia menjaga yang kupunya. Andai saja tak ada pemberitahuan dan aku mengiyakan, bahkan langsung kutemui sendiri di gerbang, sepertinya dia tak akan pernah lagi datang.

Oh, tidak! Hanya dia yang bisa menyatukan kepingan-kepinggan bahagiaku yang selama ini menghilang. Aku akan mencarinya, karena ternyata dia ada di kota ini juga. Aku tak perlu pengawal, andai dia melarikan diri tadinya, akan kucari sampai gang tikus, dan kutemukan lagi.

“Maaf, Pak.” Satpam itu hanya menjalankan tugas. Tapi, demi melihatku sampai berjalan ke pintu gerbang, gemetar suaranya, menyangka besok akan diganti yang lainnya.



“Gak masalah, Mas. Teman saya memang istimewa. Ini kesalahan saya karena tidak memberitahu sebelumnya.”

Dia banyak berubah, meski aku tak pangling dengan wajahnya. Wajahnya menirus, usia lebih cepat merampasnya. Dia dulu yang paling jago dan kekar di antara kami. Kakinya memanjat lincah seperti burung pelatuk. Aku memeluknya erat sekali setelah berjabat tangan. Dia terlihat kikuk. Satpam yang bekerja menatapku seolah tak percaya. Aku mengajaknya masuk. Kami berbincang di tepi kolam renang. Dua pelayanku sibuk membawakan suguhan.

“Kau tahu, kita dulu kerap bermain gobok sodor, dan semua permainan. Apalagi jika bulan purnama.”

Dia sedikit mencair. Kekakuan yang diabawa dari rumahnya sebenarnya sangat menyiksaku. Sebanyak apapun yang kudapat, sejauh apapun kakiku melangkah, aku adalah aku.



“Kau masih mengingat semuanya. Apa aku harus memanggilmu: bos?”

Aku tertawa terbahak. Kukatakan padanya namaku tetap sama bahkan sampai aku mati nantinya.

“Makanlah, cicipi suguhanku. Akan kumakan oleh-oleh darimu.”

“Aku berpikir sejuta kali dengan permintaanmu. Rengginang itu buatan istriku. Aku berjualan itu bahkan sampai sekarang.”

“Kenapa kau selama ini tak mencariku? Akan kuberikan modal usaha. Kau tahu siapa aku sekarang ini, bukan?”



“Yang aku takutkan kaulupa semuanya. Bukan salahmu, waktu dan kesibukan kadang menghapus semuanya. Aku akan malu dibuatnya, jika aku datang mengatakan bahwa aku teman masa kecilmu. Aku akan membuatmu malu juga, bukan? Bahkan kau tahu, jika bukan karena paksaanmu yang berulangkali, dan orang suruhanmu yang mengancamku akan memperkarakan jika sampai aku menolak telepon darimu kemarin, aku tetap bergeming dengan persembunyianku. Toh, kau tak akan mati hanya karena melupakanku.”

Aku membiarkan dia berbicara seperti itu. Aku tidak malu memaksanya. Aku tidak malu mengancamnya. Aku hanya ingin bertemu dengan kepingan masa laluku, itu saja.

Nomor itu kudapat dari kawan lain yang menjadi pejabat. Dia tak pernah pulang kampung lagi, karena kerabatnya pindah ke kota semua. Dia sama sekali tak menyentuh hidangan yang kusuguhkan sampai aku memakan rengginang bawaanya. Rasanya masih sama, rasa yang membawaku ke negeri gembira sebenar-benarnya; Wangi daun, wangi basah tanah, wangi hujan, semua menguar memenuhi dadaku. Aku memakannya tanpa malu-malu, dan dia mencicipi makanan suguhanku hanya tiga sendok pertama saja.



“Apa kurang enak?”

“Aku tidak bicara seperti itu.”

“Aku masih yang sama, bahkan aku masih ingat rasa mendoan keasinan di warung Yu Yani di dekat patrol, yang pecelnya cuma daun kerma saja. Kau tak mau mencicipi suguhanku sekarang. Kau hanya bilang aku kenyang sudah makan dari rumah. Jangan-jangan kali ini suguhanku benar-benar tak berkenan di hatimu.”

“Apa? Kau bahkan masih ingat hal sepele seperti itu? Orang sepertiku tak boleh makan enak terlalu banyak takut terbiasa akhirnya bisa menyiksa ”

“Itu bukan hal sepele. Itu bagian dari ceritaku yang luar biasa. Rasa mangga dari pohon di depan rumahmu yang kita makan tanpa pisau, kendondong dari pekarangan Pak Sinten, titisan gula merah hasil kita mengarungi abu sisa pembakaran, semua tidak pernah ada yang menandinginya.”



“Kau bercanda? Kau ingin menghinaku saat ini? Semua yang berlalu memang indah, tapi tak menolong kita saat ini. Nasib, takdir, atau apalah namanya itu. Aku juga tak pernah melupakan semuanya, hanya itu hiburanku saat ini, yang kadang-kadang ingin juga kubunuh secara bersamaan saat itu melintal.”

Kukatakan kepadanya bahwa aku masih orang yang sama. Semua anggapannya adalah kesalahpahaman. Aku tidak pernah melupakan satu nama pun. Orang-orang baru sangat banyak, tapi aku tak pernah melupakan mereka. Memang benar kesibukanku sangat luar biasa. Tapi, bukan berarti aku tak mencarinya. Tak ada yang sama lagi, begitu kata kawan yang lainnya. Tak ada tanah kosong lagi, tak ada pohon besar lagi, tak ada orang-orang lama yang bisa ditemui. Kalau tidak pergi, mereka berpulang. Yang tersisa hanya orang baru yang sama sekali tak dikenali.

Andai bukan karena pertemuan di luar pulau itu, aku tak akan mendapatkan nomor ponselnya. Pejabat itu, hanya dia yang mempunyai nomor miliknya, meski jarang berkomunikasi. Katanya jarang diangkat.



Dia menjawab, hanya tak ingin merepotkan kawan lama saja. Ah, mana ada orang yang ada dalam satu ikatan masa lalu yang tulus dan berharga akan direpotkan? Dia pikir hanya aku saja yang boleh merepotkannya? Kami berbanyak saat itu, dialah yang mengajariku paling banyak. Aku masih ingat mana bisa aku bersepeda, sedang di kampung dulu hanya dia yang punya. Mana ada makanan enak, jika bukan karena masakan emaknya.

Apa benar tak pamrih itu menjadi pamrih hanya karena aku merasa dia dan yang lain adalah kepingan yang selalu berdiam di benakku? Kegembiraan, ketulusan yang sekarang mahal sekali? Apa aku tidak berhak mendapatkan semua itu hanya karena aku sekarang sangat berada?

Aku bahagia benar-benar, yang kucari telah kutemukan. Aku berharap ini yang pertama, dan nantinya ada yang ke dua, dan selanjutnya. Setelah merasa cukup, dia akhirnya pulang. Dia menolak menginap di rumahku, padahal semuanya sudah kusiapkan sebaik mungkin. Dia sudah berjanji akan pulang kepada isterinya, begitu alasannya. Sebuah amplop ditolaknya mentah-mentah, padahal banyak orang sangat sanggup menelannya mentah-mentah tanpa malu.



Persahabatan memang tidak bisa dibeli, kecuali yang imitasi. Aku memaksanya akan membuat gara-gara

jika dia berkeras hati. “Baiklah, dulu aku yang kerap memaksamu, tapi kali ini zaman berganti. Aku bisa apa, jika kau berkehendak. Tapi sungguh, kebaikan hatimu mengenang sederhana lampau semewah ini, lebih dari cukup. Kau adalah sesiapa sekarang ini, andai melupakan semuanya kurasa itu bukan dosa.”

“Kalau aku ke rumahmu hanya untuk mengenang, bisakah? Rumah itu pasti sudah berubah. Aku sangat rindu. Bahkan, meski aku sudah ke berbagai negeri berbagai penjuru.”

“Rumah itu masih sama. Tapi, bagaimana bisa aku menyambutmu, kalau kau bersikukuh ke rumahku? Jalan itu hilang, bagaimana kau bisa datang?”



“Jalan itu masih ada, bukankah hari ini aku sudah melakukannya?”

“Andai saja.”

Akhirnya dia luluh membiarkanku kelak menemuinya, dan setelahnya nomornya tak bisa kuhubungi. Itulah dia. Bagaimana aku melupakan kepingan itu, andai orang lain, pasti akan lebih sering menghubungiku, lalu meminta lebih banyak dari yang pertama dengan banyak muslihat yang dikemas mirip hadiah saja. Menggangguku dengan seringnya, atau mengunggah ke media sosial, seolah aku bukan kawannya, tapi pujaannya.

Tak apa, aku yakin suatu saat nanti aku akan menemuukannya lagi. Seperti kapal yang meninggalkan dermaga, aku pergi, yang lain, dia pun, tapi angin akan selalu mengembalikannya, bukan? Jangan tanya kesedihanku, untung saja hari-hariku disibukkan banyak hal, hanya tersisa sedikit waktu untuk tenggelam ke dasarnya. Meski tidak benar-benar hilang.



Bisnisku menggurita, sampai tak bisa dibilang dengan jari tangan dan kakiku, bahkan milik istri dan anakku. Selama ini semua baik-baik saja, bahkan mendapat pengakuan dunia. Lima tahun berlalu. Aku mendapati salah satu rumah sakit yang kugadang-gadangkan sebagai balas jasa karena aku merasa pernah meminum air dari tanahnya, menghirup oksigen dari udaranya, dan memahat banyak kenangan di sana.

Hari ini tanah itu muncul di televisi. Bukan prestasi atau sesuatu yang mampu membayar kehilanganku akan kepingan masa lalu itu. Sebuah rumah dikepung oleh pagarnya, hanya karena menolak ganti rugi. Dari harga standar sampai harga paling tinggi tak membuat pemilik melepaskannya, bahkan meski mendapat tambahan tanah pengganti. Warisan leluhur katanya. Selama ini tak ada laporan yang sampai ke mejaku.

Aku salah mempercayai mereka orang-orangku ternyata. Aku terhenyak dibuatnya, aku terlempar ke lubang gelap dan dalam, laki-laki yang naik-turun tangga melewati pagar setinggi empat meter di layar televisi itu adalah dia. Kepinganku. Proyek rumah sakitku mengepung rumahnya. Aku yang telah merampasnya.



 Untuk membaca cerpen lain silakan lakukan ini; Ketik Cerpen spasi nomor.
Contoh; Cerpen 5

 

Komentar