Seseorang dari Masa Lalu yang Mencari Kepalanya yang
Hilang Entah
Oleh: Nurlaeli Umar
BLOG NURLAELI UMAR- Ini kampung sekarang menjadi sangat sepi, setelah
kereta api tidak berhenti di stasiun kecil yang ada di kampung ini. Sebagian
orang kehilangan mata pencahariannya, karena warung makann yang mereka kelola
tutup, sebagian lagi kehilangan pekerjaan, karena tidak ada lagi yang
membutuhkan tenaganya sebagai pengayuh becak, ojek, dan kuli barang.
Orang-orang seperti menghilang. Yang muda-muda memilih
pergi ke kota besar mencari penghidupan lebih baik, atau pergi ke luar negeri
mendulang dollar dan riyal. Yang tertinggal hanya mereka yang tua-tua adan
anak-anak saja.
Dulu, pernah ada masa jayanya. Semua orang menyemut
seperti pasir tekena magnet. Kampung ini hidup siang dan malam dengan baik.
Siang orang sibuk dengan berniaga, malamnya terdengar oarng sibuk mengaji
dengan baiknya.
Mungkin kalau malam Jumat atau Jumat dia ada yang
menemani, karena warung nasi di seberang jalan memang sibuk menghadapi hari
pasaran yang jatuh hanya pada hari Selasa dan Jumat saja.
Dia sudah tinggal di desaku dua tahun. Selama itu
baik-baik saja. Tidak pernah ada kejadian aneh, meski dia hanya berjualan
berdua bersama istrinya sampai tengah malam.
Sampai suatu malam kejadian itu terjadi. Mereka berdua
benar-benar ketakutan, dan dengan segera membereskan grerobaknya, dan pulang
tanpa menoleh lagi. Pagi-pagi sang suami itu datang mengetuk pintu. Dia masih
terlihat sedikit pucat.
‘’Kamu sakit, Kang?’’ tanya ayahku. ‘’Sini ngopi dulu,
Jangan-jangan kebanyakan duit jadi capek ngitungnya,’’seloroh ayahku.
Dia memang niat bertamu, bukan sekadar lewat diajak
mampir terpaksa mampir. Karena dia membawa sebungkus plastik yang kurasa itu
tidak jauh dari gula, kopi, atau bisa jadi martabak. Bungkusan itu diserahkan
kepada ayahku. Dengan segera ayahku memanggil ibuku.
Aku yang sedang bebicara dengan ayahku hanya
mengangguk dan tersenyum saja saja sambil mendengarkan basa-basi tata karma yang
di mana ayahku mengatakan tidak usah, tetapi
berterima kasih dengan buah tangan dalam kantung kresek hitam itu.
Di sini semua orang tahu, kalau bertamu membawa buah
tangan berarti ada yang ingin dibicarakan. Aku menggeser dudukku agak menjauh,
membiarakan orang itu duduk lebih dekat dengan ayahku.
Dengan segera ibuku keluar lagi dengan kopi untuk tamu
ayahku pagi ini. Aku sudah dibuatkan teh manis dan ayahku kopi, sebelum tamu
itu datang.
‘’Mas,’’ katanya setelah duduk dan menyeruput kopi
yang ibuku sediakan. ‘
‘’Ya, ada apa?’’ tanya ayahku sedikit merasa ini ada
masalah serius. Aku pun melihat dan mendengarkan semuanya. Ayahku akan
memberikan tanda dengan tangannya kalau dirasa pembicaraan mereka tidak bleh
kudengar, kali ini yahku tidak melakukan itu.
Tamu itu mulai bercerita. ‘’Semalam tidak jauh dari
gerobak, ada yang duduk, tapi dia gak ada kepalanya.’’ Hening sejenak. Ayahku
melihat kearahku, dan akhirnya mengangguk-angguk.
‘’Di pojokan dekat kali kecil itu? Pojokan kanan dari
gerobakmu? Dia tidak mengganggu, kan?’’
‘’Bagaimana Sampeyan tahu? Tidak ada orang sama sekali
saat itu. Apa selama ini memang ada penunggunya? Tapi, ini setelah sekian tahun
aku tinggal di sini. Mengherankan, bukan? Tidak, dia diam saja, tapi aku cukup
ketakutan. Awalnya aku kaget dengan kemunculannya. Agak bingung dan menerka-nerka.
Soalnya dia diam saja. Kalau orang sini sudah pasti datang menghampiri
gerobakku atau aku mengenalnya. Awalnya
kupikir maling, atua orang yang ingin merampok. Setelah kuperhatikan sosok itu
tidak ada kepalanya.’’
Dari cara dan nadanya bercerita dia memang terlihat
benar-benar mengalami kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.
‘’Kenapa kau tidak berteriak? Mungkin terdengar ke
rumah dan aku akan keluar.’’
‘’Bagaimana bisa berteriak. Tenggorokanku seperti
tercekik.’’
Ayahku menyesap kopinya. Dia mengangguk-angguk lagi.
Tiba-tiba wajahnya sedikit terlihat sedih dan sedikit ngeri.
‘’Di dekat kali kecil itu dulu sekali dikuburkan
seseorang tanpa kepala. Sampai sekarang tulang belulangnya masih ada di dalam sana,
tidak dipindahkan. Dikuburkan seperti itu tanpa upacara selayaknya. Semua orang
ketakutan saat itu.’’ Aku pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka, ibuku
pun di dalam. Itu kisah kelam masa lalu dan semua orang pura-pura melupakannya
sampai benar-benar lupa, kecuali dia muncul sesekali.
‘’Siapa dia?’’ tanya penjual martabak itu penasaran.
‘’Tidak ada yang tahu siapa dia. Tidak ada yang
mencarinya. Dia sudah ada di sana pagi itu tanpa kepala. Orang-orang sepakat
menguburnya di tempat di mana dia ditemukan. Setelah itu semua orang diam dan
melupakan. Anggap saja itu perkenalan.’’
‘’Semua orang tahu?’’ tanya pedagang martabak itu
heran.
‘’Ya.’’
‘’Tapi, selama aku di sini, bahkan tidak pernah ada
yang mengatakannya sama sekali. Sekadar mengingatkan agar aku hati-hati. Bahkan,
meski sekadar bercanda menakut-nakuti.’’
Pembicaraan berkenti. Ayahku tidak ingin
membicarakannya lagi. Semua orang di sini sudah melupakan setelah mayat itu
dikubur. Kalau kali ini dia memperlihatkan diri dan menghantui, orang-orang
akan menjawab sama seperti ayahku. Lupakan, dan biarkan saja!
Saat itu aku masih kecil. Aku melihat mayat laki-laki
itu bercelana pendek tanpa alas kaki. Tapi kepalanya tertutup karung. Aku
melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. KUkira awalnya laki-laki itu mabuk dan
tertidur di sana. Orang-orang pun awalnya sama. Saat itu hari pasaran. Banyak
orang dari luar desa ini yang datang.
Aku hanya tahu orang-orang geger dan kemudian sorenya
semua telah selesai. Aku tahu kalau laki-laki itu dikubur di samping kali kecil
itu. Teman-temanku mengatakn itu. Tapi, entah mengapa setelah beberpa hari hilang
begitu saja ingatan tentang mayat itu, sama sepertti mulut- mulut yang tidak
lagi membicarakannya.
Tidak ada penampakan hantu atau apa, semua baik-baik
saja. Apalagi, rumahkulah satu-satunya rumah yang paling dekat dengan tempat di
mana mayat itu dikuburkan, karena di depan rumahku itu pasar. Bahkan, aku pun
sampai lupa bahwa itu pernah terjadi di sini. Tidak pernah ada orang yang
mencarinya sama sekali. Tapi, mengapa setelah sekian tahun berlalu dan aku
sudah dewasa laki-laki itu muncul seolah mencari tahu di mana kepalanya? Aku
tidak mau berpikir banyak. Seperti kata bapakku’lupakan dan biarkan saja’.












Komentar
Posting Komentar