Cerpen 18. Seseorang dari Masa Lalu yang Mencari Kepalanya yang Hilang Entah

 




Seseorang dari Masa Lalu yang Mencari Kepalanya yang Hilang Entah

Oleh: Nurlaeli Umar

BLOG NURLAELI UMAR- Ini kampung sekarang menjadi sangat sepi, setelah kereta api tidak berhenti di stasiun kecil yang ada di kampung ini. Sebagian orang kehilangan mata pencahariannya, karena warung makann yang mereka kelola tutup, sebagian lagi kehilangan pekerjaan, karena tidak ada lagi yang membutuhkan tenaganya sebagai pengayuh becak, ojek, dan kuli barang.

Orang-orang seperti menghilang. Yang muda-muda memilih pergi ke kota besar mencari penghidupan lebih baik, atau pergi ke luar negeri mendulang dollar dan riyal. Yang tertinggal hanya mereka yang tua-tua adan anak-anak saja.



Dulu, pernah ada masa jayanya. Semua orang menyemut seperti pasir tekena magnet. Kampung ini hidup siang dan malam dengan baik. Siang orang sibuk dengan berniaga, malamnya terdengar oarng sibuk mengaji dengan baiknya.

Pedagang martabak di depan rumahku yang menyambungkan kabel untuk gerobaknya dari rumahku itu adalah pendatang. Menurutku, dia itu terlalu berani bertaruh nasib, secara desaku itu sepi. Tetapi, ternyata memang dia sepertinya sudah ditakdirkan cocok  mesti tinggal di desaku, meski terlihat sepi, tetapi ada saja yang membeli martabaknya. Bahkan, dari desa sebelah.



Mungkin kalau malam Jumat atau Jumat dia ada yang menemani, karena warung nasi di seberang jalan memang sibuk menghadapi hari pasaran yang jatuh hanya pada hari Selasa dan Jumat saja.

Dia sudah tinggal di desaku dua tahun. Selama itu baik-baik saja. Tidak pernah ada kejadian aneh, meski dia hanya berjualan berdua bersama istrinya sampai tengah malam.

Sampai suatu malam kejadian itu terjadi. Mereka berdua benar-benar ketakutan, dan dengan segera membereskan grerobaknya, dan pulang tanpa menoleh lagi. Pagi-pagi sang suami itu datang mengetuk pintu. Dia masih terlihat sedikit pucat.



‘’Kamu sakit, Kang?’’ tanya ayahku. ‘’Sini ngopi dulu, Jangan-jangan kebanyakan duit jadi capek ngitungnya,’’seloroh ayahku.

Dia memang niat bertamu, bukan sekadar lewat diajak mampir terpaksa mampir. Karena dia membawa sebungkus plastik yang kurasa itu tidak jauh dari gula, kopi, atau bisa jadi martabak. Bungkusan itu diserahkan kepada ayahku. Dengan segera ayahku memanggil ibuku.

Aku yang sedang bebicara dengan ayahku hanya mengangguk dan tersenyum saja saja sambil mendengarkan basa-basi tata karma yang di mana ayahku  mengatakan tidak usah, tetapi berterima kasih dengan buah tangan dalam kantung kresek hitam itu.



Di sini semua orang tahu, kalau bertamu membawa buah tangan berarti ada yang ingin dibicarakan. Aku menggeser dudukku agak menjauh, membiarakan orang itu duduk lebih dekat dengan ayahku.

Dengan segera ibuku keluar lagi dengan kopi untuk tamu ayahku pagi ini. Aku sudah dibuatkan teh manis dan ayahku kopi, sebelum tamu itu datang.

‘’Mas,’’ katanya setelah duduk dan menyeruput kopi yang ibuku sediakan. ‘

‘’Ya, ada apa?’’ tanya ayahku sedikit merasa ini ada masalah serius. Aku pun melihat dan mendengarkan semuanya. Ayahku akan memberikan tanda dengan tangannya kalau dirasa pembicaraan mereka tidak bleh kudengar, kali ini yahku tidak melakukan itu.



Tamu itu mulai bercerita. ‘’Semalam tidak jauh dari gerobak, ada yang duduk, tapi dia gak ada kepalanya.’’ Hening sejenak. Ayahku melihat kearahku, dan akhirnya mengangguk-angguk.

‘’Di pojokan dekat kali kecil itu? Pojokan kanan dari gerobakmu? Dia tidak mengganggu, kan?’’

‘’Bagaimana Sampeyan tahu? Tidak ada orang sama sekali saat itu. Apa selama ini memang ada penunggunya? Tapi, ini setelah sekian tahun aku tinggal di sini. Mengherankan, bukan? Tidak, dia diam saja, tapi aku cukup ketakutan. Awalnya aku kaget dengan kemunculannya. Agak bingung dan menerka-nerka. Soalnya dia diam saja. Kalau orang sini sudah pasti datang menghampiri gerobakku atau aku mengenalnya.  Awalnya kupikir maling, atua orang yang ingin merampok. Setelah kuperhatikan sosok itu tidak ada kepalanya.’’



Dari cara dan nadanya bercerita dia memang terlihat benar-benar mengalami kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.

‘’Kenapa kau tidak berteriak? Mungkin terdengar ke rumah dan aku akan keluar.’’

‘’Bagaimana bisa berteriak. Tenggorokanku seperti tercekik.’’

Ayahku menyesap kopinya. Dia mengangguk-angguk lagi. Tiba-tiba wajahnya sedikit terlihat sedih dan sedikit ngeri.



‘’Di dekat kali kecil itu dulu sekali dikuburkan seseorang tanpa kepala. Sampai sekarang tulang belulangnya masih ada di dalam sana, tidak dipindahkan. Dikuburkan seperti itu tanpa upacara selayaknya. Semua orang ketakutan saat itu.’’ Aku pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka, ibuku pun di dalam. Itu kisah kelam masa lalu dan semua orang pura-pura melupakannya sampai benar-benar lupa, kecuali dia muncul sesekali.

‘’Siapa dia?’’ tanya penjual martabak itu penasaran.



‘’Tidak ada yang tahu siapa dia. Tidak ada yang mencarinya. Dia sudah ada di sana pagi itu tanpa kepala. Orang-orang sepakat menguburnya di tempat di mana dia ditemukan. Setelah itu semua orang diam dan melupakan. Anggap saja itu perkenalan.’’

‘’Semua orang tahu?’’ tanya pedagang martabak itu heran.

‘’Ya.’’

‘’Tapi, selama aku di sini, bahkan tidak pernah ada yang mengatakannya sama sekali. Sekadar mengingatkan agar aku hati-hati. Bahkan, meski sekadar bercanda menakut-nakuti.’’



Pembicaraan berkenti. Ayahku tidak ingin membicarakannya lagi. Semua orang di sini sudah melupakan setelah mayat itu dikubur. Kalau kali ini dia memperlihatkan diri dan menghantui, orang-orang akan menjawab sama seperti ayahku. Lupakan, dan biarkan saja!

Saat itu aku masih kecil. Aku melihat mayat laki-laki itu bercelana pendek tanpa alas kaki. Tapi kepalanya tertutup karung. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. KUkira awalnya laki-laki itu mabuk dan tertidur di sana. Orang-orang pun awalnya sama. Saat itu hari pasaran. Banyak orang dari luar desa ini yang datang.



Aku hanya tahu orang-orang geger dan kemudian sorenya semua telah selesai. Aku tahu kalau laki-laki itu dikubur di samping kali kecil itu. Teman-temanku mengatakn itu. Tapi, entah mengapa setelah beberpa hari hilang begitu saja ingatan tentang mayat itu, sama sepertti mulut- mulut yang tidak lagi membicarakannya.

Tidak ada penampakan hantu atau apa, semua baik-baik saja. Apalagi, rumahkulah satu-satunya rumah yang paling dekat dengan tempat di mana mayat itu dikuburkan, karena di depan rumahku itu pasar. Bahkan, aku pun sampai lupa bahwa itu pernah terjadi di sini. Tidak pernah ada orang yang mencarinya sama sekali. Tapi, mengapa setelah sekian tahun berlalu dan aku sudah dewasa laki-laki itu muncul seolah mencari tahu di mana kepalanya? Aku tidak mau berpikir banyak. Seperti kata bapakku’lupakan dan biarkan saja’.



 

 

 

 

Komentar