Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan dimasukkan di buku kumpulan cerpen MEMBACA MATAMU
Khaul Terakhir
Oleh: Nurlaeli
Umar
BLOG NURLAELI
UMAR- Tahun ini peringatan kematian itu adalah yang terbesar sepanjang sejarah.
Semua alumni akan berkumpul dan bersilaturahmi bahkan sampai yang dari luar
Pulau Jawa.
Banyak dari
mereka yang sudah mempunyai ribuan santri sendiri,
Ini benar-benar
peristiwa yang langka, setahun sekali memang, tapi kali ini luar biasa.
Pendiri
pesantren itu dulu seorang yang datang dari kota lain dan akhirnya menetap di
desa ini. Beliau mengajarkan semuanya penuh cinta, tidak pernah menyalahkan apa
yang dilakukan orang, tetapi mengajak orang menelaah apa yang dikerjakan.
Setiap beliau melantunkan ayat-ayat suci orang-orang yang melintas akan berhenti dan duduk mendengarkan di pinggir jalan sampai beliau menyelesaikannya. Beliau juga sering membantu mengobati penduduk yang tengah sakit.
Ketika beliau
tiada, semua berkabung kehilangan. Orang-orang merasa saat itu adalah saat
paling menyedihkan. Seperti anak kehilangan bapaknya.
Banyak orang
yang percaya saat itu langit pun ikut berduka. Mendung dan gerimis merintik
semenjak pagi hingga pemakaman selesai dan semua orang kembali ke rumah
masing-masing.
Padahal sudah
jelas diajarkan bahwa langit dan cuaca tidak pernah berhubungan dengan kematian
seseorang.
Satu per satu
orang-orang berdatangan. Kereta sore dari arah timur penuh sesak semenjak tiga
hari yang lalu. Hampir tiga per empat mungkin turun di stasiun kecil desa ini.
Sementara pagi
ini mobil-mobil truk di jalanan berjajar rapi memakirkan diri. Bukan berisi barang,
tetapi rombongan yang memilih angkutan massal yang murah.
Di depan sebuah
warung. Dua pengojek sedang menikmati hilir-mudik orang-orang yang turun dari
stasiun. “Kurasa aku hari ini tidak akan dapat uang banyak, Run.”
“Kenapa, Kang?
Karena gak ada yang memakai jasa ojekmu?”
“Iya, itu
benar. Bagaimana mungkin mereka akan menghamburkan uang untuk berkeliling baru
kembali ke sini. Tujuan mereka hanya cukup ditempuh dengan berjalan kaki.”
“Gampang kalau
begitu. Libur saja ojek motormu.”
“Lha, terus?
Buka warung makan dadakan? Biarlah itu urusan istriku saja dengan warung soto
dadakannya. Kalau aku membantunya, hitungannya aku gak nyari uang hari ini. Aku
mau hari ini aku dapat uang sendiri, baru besok aku membantu istriku.”
“Maksudku,
Sampeyan ganti jadi ojek gendong, begitu.”
“Hahaha …
ngawur kamu! Kalau aku nggendong suaminya, aku bakal makan dua bakul, itu
ngabisin jatah. Kalau aku nggendong istrinya, aku sih mau, tapi ya itu aku
dibayar bogem mentah.”
Di sini tak ada
hotel, bahkan yang murah sekalipun, hanya rumah penduduk yang menawarkan
peginapan gratis. Satu rumah bisa menampung lebih dari lima orang. Cukup sederhana
hanya butuh digelarkan tikar untuk tidur beramai-ramai. Yang laki-laki denganlaki-laki,yang
perempuan dengan perempuan untuk rumah yang berbeda.
Yang beruntung dan
datang lebih awal mungkin bisa tertampung di kombong-kombong dari pesantren
itu.
Jangan tanya
bagaimana suasana selama tiga hari ini. Desa ini benar-benar menjadi hidup
kembali seperti dulu. Ya, dulu sekali ketika almarhum pendiri pesantren ini masih
memegang tumpuk pimpinan. Sepanjang hari terlihat muda-mudi hilir mudik dengan sarung,
peci,dan kerudung panjang. Dulu mereka membawa kitab-kitab kuning di dekap dada
berpindah dari rumah satu kyai muda ke kyai muda lainnya yang ikut mengajar di
pondok.
“Semua seperti
tahun-tahun yang sudah pergi. Saat itu kita masih piyik.”
“Piyik ndasmu!
Kita itu bangsa manusia bukan merpati.”
“Iya, itu
istilahnya. Sampeyan itu, aku bicara dengan sedikit memakai gaya, biar terlihat
sedikit pinter. Semenjak pendiri pesantren berpulang semua berubah. Ini kali
pertama suasana yang sama hadir setelah sepuluh tahun mati segan hidup tak mau.
Orang-orang sepertinya sudah tidak terlalu tertarik datang ke desa ini. Mungkin
banyak pesantren yang lebih bagus dan baru. Mungkin juga ini semacam kutukan.”
“Apa katamu, kutukan?
Nenek sihir mana yang mengutuk desa ini? Jangan-jangan dia keluar dari buku
dongeng anakmu.”
“Huss! Sampeyan
itu. Maksudku, dulu ketika pendiri masih sugeng, orang-orang di sini tidak
peduli dengan keberadaan pesantren. Yang datang dan mendekat adalah orang-orang
dari jauh. Ketika beliau berpulang, orang-orang baru sadar dan mendekat.
Jadinya begini. Terlambat datang maksudku begitu.”
“Tapi kan,
penerusnya juga masih punya titisan darah dari beliau itu.”
“Tetap saja
kalau lampahnya tidak sederajat, maksudku ibadah dan puasanya tidak setingkat
bapaknya, hasilnya juga berbeda.”
“Ngawur! Kamu
itu bicara seolah kamu itu lebih pakar dari beliau itu. Hati-hati! Orang yang
selalu menilai akan kehilangan nilainya.”
“Nggeh. Kalau
gitu monggo kita sibuk dengan tamu dan dagangan masing-masing. Jangan sampai
kita dagang, tapi tamu di rumah kita gak kebagian air minum. Itu namanya bukan
tuan rumah yang baik. Kita harus membedakan mana tamu mana pembeli. Begitu kan,
Gus?”
“Kamu itu.
Gara-gara kuingatkan langsung aku naik derajat jadi Gus. Sembrono!”
Hari ini
tamu-tamu mengulang semua kenangan bersama penduduk sekitar dan generasi
berikutnya yang menyimpan cerita secara turun-temurun secara lisan. Kisah desa
ini pernah menjadi kota santri.
Pengganti dari
pengasuh pondok itu adalah putra tertuanya: Gus Nur. Jangan tanya bagaimana
mengularnya mereka ketika saling berjabat tangan. Semua menjadi tontonan yang
menarik bagi penduduk sekitar. Kebahagiaan seolah terpancar dari semua wajah.
“Kamu gak ingin
ikut antri salaman, Kang?”
“Gak usah, kita
bisa salaman sama Gus-nya kapan saja kalau sowan. Biarkan mereka menikmati
kebersamaan dan luapan rasa kangen. Kita urusi urusan kita.”
Pengajian akbar
rencananya akan digelar tepatnya seusai para alumni itu bertemu di area pondok.
Rencananya jam delapan pagi dengan mengundang dai yang sedang naik daun dan
kerap tampil di televisi.
“Kukira
Sampeyan yang bakal ngisi pengajiannya, Kang. Itu kan bisa ngirit dana.”
“Kalau aku yang
ngisi tentu saja semua orang akan bubar. Pertama aku bukan kyai, ke dua aku
hanya bisa ngaji masalah ngojek dan duit. Biarkan mereka yang ahli saja. Aku
manut sebagai orang yang awam.”
Mereka berdua
bolak-balik dengan kesibukannya. Saat seperti ini hampir sebagian besar
penduduk memanfaatkan untuk dua keuntungan. Satu dapat uang, satunya lagi mendengarkan
pengajian yang disiarkan dengan banyak pengeras suara.
Masyarakat
menyemut semenjak pagi usai salat subuh tunai. Dengan sabar mereka menanti
usainya pertemuan para alumni. Ada yang datang berombongan, ada yang datang
dari provinsi tetangga, ada yang sengaja menginap di rumah saudaranya yang
tinggal di desa sebelah, bahkan ada yang sengaja pulang dari Jakarta.
Jam delapan
tepat dan sound system sudah siap. Tanpa komando mereka yang hadir duduk rapi
menunggu acara dimulai. Panitia tampak sibuk sekali menerima sumbangan kosumsi
dari warga dan menyambut para undangan penting: tokoh masyarakat dan para kyai.
Tidak
ketinggalan duo tokoh di cerita ini. Dengan koko putih yang potongannya sama, bercelana
dan berpeci hitam, mereka berdua ikut duduk bersama para pengunjung.
Setengah jam
berlalu, acara belum dimulai juga, meski lagu-lagu nasyid sudah berulang kali
diputar ulang dari pemutar CD. Grup-grup marawis yang berbaris dekat panggung
siap menyambut sang dai sudah gatal tangannya untuk memainkan salawatan.
Seseorang naik
ke panggung. Pengunjung merapat. “Hadirin yang terhormat, pengajian diundur
bada ashar. Para perwakilan alumni dimohon untuk berkumpul kembali.”
Terdengar koor
kecewa.
“Lha Kang,
kenapa malah jadi acara rapat dan rapat. Apa orang-orang pinter itu kalau rapat
gak cukup sekali?”
“Ya, biasanya
begitu. Orang pinter itu kalau memutuskan sesuatu timbang sana timbang sini.
Tidak seperti kita, putusan dulu baru penyesalan.”
“Bukan masalah
kalau itu urusan lain. Masalahnya ini bukan acara dewan apapun. Apa tidak bisa
rapat seperti itu dilakukan setelah pengajian?”
“Ya, sudah.
Biarkan saja. Kita kecewa atau tidak itu tidak akan berpengaruh. Lebih baik
kita kembali membantu isteri kita berjualan. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Nanti kalau pengajian dimulai kita bisa duduk-duduk lagi.”
Para alumni
bingung, terlihat dari kelompok-kelompok kecil yang tercipta setelah pengumuman
itu. Setahu mereka tidak ada masalah dalam pertemuan tadi pagi. Bahkan mereka
merasa senang karena mereka dapat mengumpulkan sekian puluh juta untuk membantu
pengembangan pondok pesantren.
Pengunjung
membubarkan diri, tapi yang lebih memalukan adalah para undangan yang duduk di
bawah tenda. Nasib mereka seperti dilecehkan. Mereka para tokoh yang punya kesibukan
dan agenda sendiri, sudah menyempatkan waktu dan dikecewakan. Padahal bisa saja
salah satu dari mereka atau para alumni yang juga sudah banyak yang menjadi
kiai maju mengisi pengajian. Tapi sayang tidak ada perintah dari yang memangku
hajat.
Mereka para
alumni dan masyarakat bertahan menunggu hingga bada ashar tiba di rumah-rumah
yang menampung mereka, di masjid atau mushola sekitar. Pengajian akhirnya dilangsungkan
malam harinya. Karena bada ashar pun sang dai belum kunjung tiba.
“Ini akan
menjadi khaul yang terakhir. Begitu kan Run?”
“Iya kurasa
begitu. Sampeyan tahu, tamu yang menginap di rumahku meminta maaf sebelum
mereka perggi.”
“Kamu salah
apa?”
“Bukan aku yang
salah, tapi pihak mereka meminta maaf karena mungkin tidak akan pernah datang
lagi. Mereka kecewa karena seolah semua seperti direkayasa. Pihak panitia
bilang kalau dai itu tidak mau datang karena uang amplopnya kurang. Mereka menyalahkan
kurangnya dana yang terkumpul. Tapi ternyata memang di agenda dai itu jadwal
ceramahnya bada isya.”
“Jadi
motifnya?”
“Akal-akalan.
Dan itu menyakiti mereka yang sangat menghormati almarhum guru mereka.
Seandainya dari awal memang masalah dana dan pihak panitia berterus terang, tentu
saja mereka akan memberikan lebih dari yang terkumpul. Rencananya mereka
tadinya akan memberikan dana yang lebih besar secara rutin ke depannya.”
“Ya, mungkin
semua sudah digariskan. Kita bisa apa? Yakin saja doa bisa sampai dari manapun
mengirimnya.”
Komentar
Posting Komentar