Cerpen 14. Khaul Terakhir

 Cerpen ini dimuat di KORAN PANTURA PROBOLINGGO dan dimasukkan  di buku kumpulan cerpen MEMBACA MATAMU

Khaul Terakhir

Oleh: Nurlaeli Umar

 


BLOG NURLAELI UMAR- Tahun ini peringatan kematian itu adalah yang terbesar sepanjang sejarah. Semua alumni akan berkumpul dan bersilaturahmi bahkan sampai yang dari luar Pulau Jawa.

Banyak dari mereka yang sudah mempunyai ribuan santri sendiri,

Ini benar-benar peristiwa yang langka, setahun sekali memang, tapi kali ini luar biasa.

Pendiri pesantren itu dulu seorang yang datang dari kota lain dan akhirnya menetap di desa ini. Beliau mengajarkan semuanya penuh cinta, tidak pernah menyalahkan apa yang dilakukan orang, tetapi mengajak orang menelaah apa yang dikerjakan.

Setiap beliau melantunkan ayat-ayat suci orang-orang yang melintas akan berhenti dan duduk mendengarkan di pinggir jalan sampai beliau menyelesaikannya. Beliau juga sering membantu mengobati penduduk yang tengah sakit.



Ketika beliau tiada, semua berkabung kehilangan. Orang-orang merasa saat itu adalah saat paling menyedihkan. Seperti anak kehilangan bapaknya.

Banyak orang yang percaya saat itu langit pun ikut berduka. Mendung dan gerimis merintik semenjak pagi hingga pemakaman selesai dan semua orang kembali ke rumah masing-masing.

Padahal sudah jelas diajarkan bahwa langit dan cuaca tidak pernah berhubungan dengan kematian seseorang.

Satu per satu orang-orang berdatangan. Kereta sore dari arah timur penuh sesak semenjak tiga hari yang lalu. Hampir tiga per empat mungkin turun di stasiun kecil desa ini.

Sementara pagi ini mobil-mobil truk di jalanan berjajar rapi memakirkan diri. Bukan berisi barang, tetapi rombongan yang memilih angkutan massal yang murah.



Di depan sebuah warung. Dua pengojek sedang menikmati hilir-mudik orang-orang yang turun dari stasiun. “Kurasa aku hari ini tidak akan dapat uang banyak, Run.”

“Kenapa, Kang? Karena gak ada yang memakai jasa ojekmu?”

“Iya, itu benar. Bagaimana mungkin mereka akan menghamburkan uang untuk berkeliling baru kembali ke sini. Tujuan mereka hanya cukup ditempuh dengan berjalan kaki.”

“Gampang kalau begitu. Libur saja ojek motormu.”

“Lha, terus? Buka warung makan dadakan? Biarlah itu urusan istriku saja dengan warung soto dadakannya. Kalau aku membantunya, hitungannya aku gak nyari uang hari ini. Aku mau hari ini aku dapat uang sendiri, baru besok aku membantu istriku.”



“Maksudku, Sampeyan ganti jadi ojek gendong, begitu.”

“Hahaha … ngawur kamu! Kalau aku nggendong suaminya, aku bakal makan dua bakul, itu ngabisin jatah. Kalau aku nggendong istrinya, aku sih mau, tapi ya itu aku dibayar bogem mentah.”

Di sini tak ada hotel, bahkan yang murah sekalipun, hanya rumah penduduk yang menawarkan peginapan gratis. Satu rumah bisa menampung lebih dari lima orang. Cukup sederhana hanya butuh digelarkan tikar untuk tidur beramai-ramai. Yang laki-laki denganlaki-laki,yang perempuan dengan perempuan untuk rumah yang berbeda.

Yang beruntung dan datang lebih awal mungkin bisa tertampung di kombong-kombong dari pesantren itu.



Jangan tanya bagaimana suasana selama tiga hari ini. Desa ini benar-benar menjadi hidup kembali seperti dulu. Ya, dulu sekali ketika almarhum pendiri pesantren ini masih memegang tumpuk pimpinan. Sepanjang hari terlihat muda-mudi hilir mudik dengan sarung, peci,dan kerudung panjang. Dulu mereka membawa kitab-kitab kuning di dekap dada berpindah dari rumah satu kyai muda ke kyai muda lainnya yang ikut mengajar di pondok.

“Semua seperti tahun-tahun yang sudah pergi. Saat itu kita masih piyik.”

“Piyik ndasmu! Kita itu bangsa manusia bukan merpati.”

“Iya, itu istilahnya. Sampeyan itu, aku bicara dengan sedikit memakai gaya, biar terlihat sedikit pinter. Semenjak pendiri pesantren berpulang semua berubah. Ini kali pertama suasana yang sama hadir setelah sepuluh tahun mati segan hidup tak mau. Orang-orang sepertinya sudah tidak terlalu tertarik datang ke desa ini. Mungkin banyak pesantren yang lebih bagus dan baru. Mungkin juga ini semacam kutukan.”



“Apa katamu, kutukan? Nenek sihir mana yang mengutuk desa ini? Jangan-jangan dia keluar dari buku dongeng anakmu.”

“Huss! Sampeyan itu. Maksudku, dulu ketika pendiri masih sugeng, orang-orang di sini tidak peduli dengan keberadaan pesantren. Yang datang dan mendekat adalah orang-orang dari jauh. Ketika beliau berpulang, orang-orang baru sadar dan mendekat. Jadinya begini. Terlambat datang maksudku begitu.”

“Tapi kan, penerusnya juga masih punya titisan darah dari beliau itu.”

“Tetap saja kalau lampahnya tidak sederajat, maksudku ibadah dan puasanya tidak setingkat bapaknya, hasilnya juga berbeda.”



“Ngawur! Kamu itu bicara seolah kamu itu lebih pakar dari beliau itu. Hati-hati! Orang yang selalu menilai akan kehilangan nilainya.”

“Nggeh. Kalau gitu monggo kita sibuk dengan tamu dan dagangan masing-masing. Jangan sampai kita dagang, tapi tamu di rumah kita gak kebagian air minum. Itu namanya bukan tuan rumah yang baik. Kita harus membedakan mana tamu mana pembeli. Begitu kan, Gus?”

“Kamu itu. Gara-gara kuingatkan langsung aku naik derajat jadi Gus. Sembrono!”

Hari ini tamu-tamu mengulang semua kenangan bersama penduduk sekitar dan generasi berikutnya yang menyimpan cerita secara turun-temurun secara lisan. Kisah desa ini pernah menjadi kota santri.



Pengganti dari pengasuh pondok itu adalah putra tertuanya: Gus Nur. Jangan tanya bagaimana mengularnya mereka ketika saling berjabat tangan. Semua menjadi tontonan yang menarik bagi penduduk sekitar. Kebahagiaan seolah terpancar dari semua wajah.

“Kamu gak ingin ikut antri salaman, Kang?”

“Gak usah, kita bisa salaman sama Gus-nya kapan saja kalau sowan. Biarkan mereka menikmati kebersamaan dan luapan rasa kangen. Kita urusi urusan kita.”

Pengajian akbar rencananya akan digelar tepatnya seusai para alumni itu bertemu di area pondok. Rencananya jam delapan pagi dengan mengundang dai yang sedang naik daun dan kerap tampil di televisi.



“Kukira Sampeyan yang bakal ngisi pengajiannya, Kang. Itu kan bisa ngirit dana.”

“Kalau aku yang ngisi tentu saja semua orang akan bubar. Pertama aku bukan kyai, ke dua aku hanya bisa ngaji masalah ngojek dan duit. Biarkan mereka yang ahli saja. Aku manut sebagai orang yang awam.”

Mereka berdua bolak-balik dengan kesibukannya. Saat seperti ini hampir sebagian besar penduduk memanfaatkan untuk dua keuntungan. Satu dapat uang, satunya lagi mendengarkan pengajian yang disiarkan dengan banyak pengeras suara.

Masyarakat menyemut semenjak pagi usai salat subuh tunai. Dengan sabar mereka menanti usainya pertemuan para alumni. Ada yang datang berombongan, ada yang datang dari provinsi tetangga, ada yang sengaja menginap di rumah saudaranya yang tinggal di desa sebelah, bahkan ada yang sengaja pulang dari Jakarta.



Jam delapan tepat dan sound system sudah siap. Tanpa komando mereka yang hadir duduk rapi menunggu acara dimulai. Panitia tampak sibuk sekali menerima sumbangan kosumsi dari warga dan menyambut para undangan penting: tokoh masyarakat dan para kyai.

Tidak ketinggalan duo tokoh di cerita ini. Dengan koko putih yang potongannya sama, bercelana dan berpeci hitam, mereka berdua ikut duduk bersama para pengunjung.

Setengah jam berlalu, acara belum dimulai juga, meski lagu-lagu nasyid sudah berulang kali diputar ulang dari pemutar CD. Grup-grup marawis yang berbaris dekat panggung siap menyambut sang dai sudah gatal tangannya untuk memainkan salawatan.

Seseorang naik ke panggung. Pengunjung merapat. “Hadirin yang terhormat, pengajian diundur bada ashar. Para perwakilan alumni dimohon untuk berkumpul kembali.”



Terdengar koor kecewa.

“Lha Kang, kenapa malah jadi acara rapat dan rapat. Apa orang-orang pinter itu kalau rapat gak cukup sekali?”

“Ya, biasanya begitu. Orang pinter itu kalau memutuskan sesuatu timbang sana timbang sini. Tidak seperti kita, putusan dulu baru penyesalan.”

“Bukan masalah kalau itu urusan lain. Masalahnya ini bukan acara dewan apapun. Apa tidak bisa rapat seperti itu dilakukan setelah pengajian?”

“Ya, sudah. Biarkan saja. Kita kecewa atau tidak itu tidak akan berpengaruh. Lebih baik kita kembali membantu isteri kita berjualan. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Nanti kalau pengajian dimulai kita bisa duduk-duduk lagi.”

Para alumni bingung, terlihat dari kelompok-kelompok kecil yang tercipta setelah pengumuman itu. Setahu mereka tidak ada masalah dalam pertemuan tadi pagi. Bahkan mereka merasa senang karena mereka dapat mengumpulkan sekian puluh juta untuk membantu pengembangan pondok pesantren.



Pengunjung membubarkan diri, tapi yang lebih memalukan adalah para undangan yang duduk di bawah tenda. Nasib mereka seperti dilecehkan. Mereka para tokoh yang punya kesibukan dan agenda sendiri, sudah menyempatkan waktu dan dikecewakan. Padahal bisa saja salah satu dari mereka atau para alumni yang juga sudah banyak yang menjadi kiai maju mengisi pengajian. Tapi sayang tidak ada perintah dari yang memangku hajat.

Mereka para alumni dan masyarakat bertahan menunggu hingga bada ashar tiba di rumah-rumah yang menampung mereka, di masjid atau mushola sekitar. Pengajian akhirnya dilangsungkan malam harinya. Karena bada ashar pun sang dai belum kunjung tiba.

“Ini akan menjadi khaul yang terakhir. Begitu kan Run?”



“Iya kurasa begitu. Sampeyan tahu, tamu yang menginap di rumahku meminta maaf sebelum mereka perggi.”

“Kamu salah apa?”

“Bukan aku yang salah, tapi pihak mereka meminta maaf karena mungkin tidak akan pernah datang lagi. Mereka kecewa karena seolah semua seperti direkayasa. Pihak panitia bilang kalau dai itu tidak mau datang karena uang amplopnya kurang. Mereka menyalahkan kurangnya dana yang terkumpul. Tapi ternyata memang di agenda dai itu jadwal ceramahnya bada isya.”

“Jadi motifnya?”

“Akal-akalan. Dan itu menyakiti mereka yang sangat menghormati almarhum guru mereka. Seandainya dari awal memang masalah dana dan pihak panitia berterus terang, tentu saja mereka akan memberikan lebih dari yang terkumpul. Rencananya mereka tadinya akan memberikan dana yang lebih besar secara rutin ke depannya.”

“Ya, mungkin semua sudah digariskan. Kita bisa apa? Yakin saja doa bisa sampai dari manapun mengirimnya.”



Komentar