Lifestyle 21. Ngomongin Vaksin, Yuk!

 


Ngomongin Vaksin, Yuk!

BLOG NURLAELI UMAR- Kamu pasti sudah biasa dengan kata-kata seperti vaksin, imunisasi, pandemi. Terlebih kita kemarin pernah ada di masa menakutkan ketikan pandemi Corona. Yuk, kita ngomongun vaksin!



1.       Sejarah Vaksin

Penyakit menular cacar itu sangat meresahkan, dan menjadi pandemik di banyak negara secara besar-besaran. Banyak kematian terjadi karena wabah acacr.

 

 Karena itu banyak upaya menemukan usaha pencegahan agar penyakit menular ditekan agar penyebarannya tidak meluas dengan cepat. Usaha pencegahan infeksi  penyakit  sudah dilakkan 429 tahun sebelum Masehi di Yunani kuno.

 

Para ahli melakukan banyak pengamatan dan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang pernah terkena infeksi cacar setelah sembuh tidak terkena infeksi untuk yang dua kali.

 

Setelah itu, 100 tahun setelah masehi orang-orang Tiongkok mempraktekan variolasi. Variolasi  itu sebuah praktek di mana ada usaha pemindahan  virus cacar dari  orang yang terkena sakit cacar kepada orang yang sehat sevara sengaja. Teknik itu berhasil mencegah penyakit cacar.

 

Teknik itu dipraktekan di Barat pada abad ke 18, dengan hasil bisa menurunkan kematian akibat penyakit cacar.

 

2.       Pencetus pemmbuatan Vaksin Secara Resmi di Dunia Kedokteran

 

Pencetus pembuatan vaksin di kedokteran terjadi pada tahun 1796, oleh seorang dokter berna Edward Jenner. Vaksin itu adalah vaksin cacar. Dia mengamati bahwa orang yang terkena cacar tidak terkena cacar untuk kedua kalinya.

 

Teknik yang dia gunakan adalah dengan menempelkan nanah dari lesi di lengan pemerah sapi  yang terekena cacar sapi kepada anak  yang bernama James Phipps yang berusia 8 tahun pada luka kecil di kulit tangannya.

 

Reaksi pertama anak itu mengalami sakit seperti gejala para penderita cacar, seperti sakit kepala, badan tidak enak, dan sakit pada ketiak. Akan tetapi setelahnya anak tersebut baik-abik saja dan tidak terkena cacar.

 

Hasil kesimpulan dari penelitian tersebut adalah terjadinya kekebalan setelah variolasi, bahkan setelah variolasi dilakukan berulang, anak tersebut tidak terkena infeksi cacar.

 

3.       Vaksin yang Pernah Dibuat di Dunia

 

Vaksin modern lebih dikenal dengan metode pelemahan mikroorganisme berbentuk suspensi atau cairan.

Fugsi vaksin adalah membentuk kekebalan tubuh. Jadi, ketika vaksin dimasukkan ke dalam tubuh yang sehat, maka tubuh akan menghasilkan antibody khusus terhadap mikroorganisme yang trekandung cdalam cairan vaksin .

 


Jenis vaksin sendiri ada 3, yaitu;

1.       Vaksin hidup; virus yang ada dan dimasukkan ke dalam cairan itu hanya dibuat pingsan , dan ketika disuntikkan tidak menimbulkan sakit, tetapi merangsang kekebalan tubuh.

2.       Vaksin mati; vaksin di mana vitus yang dimasukkan di dalamnya dimatikan terlebih dahulu dengan cara radiasi, suhu panas atau bahan kimia. Pemberian vaksin ini dilakukan berulang kepada tubuh yang sama.

3.       Vaksin toksoid; vaksin yang dibuat dengan cara mengambil toksin atau racun dari bakteri.

4.       Vaksin biosinetik; vaksin yang diproduksi secara khusus yang mengandung antigen sehingga menyerupai virus atau bakteri.

5.       Vaksin vector virus; vaksin yang mengandung protein  da materi genetic virus yang ditempatkan  pada tubuh virus lain.

6.       Vaksinsubunit; vaksin yang dibuat dari bagian khusus tertentu dari tubuh virus atau bakteri.

 


Beberapa vaksin yang berhasil dibuat untuk mengatasi pandemic penyakit menular di antaranya adalah;

1.       Vaksin Rabies oleh Louis Pasteur, seorang ahli kimia di tahun 1885.

2.       Vaksin hepatitis

3.       Vaksin flu

4.       Vaksin polio

5.       MMR

6.       Vaksin rotavirus

7.       Vaksin cacar air

8.       Vaksin yellow fever (demam kuning)

9.       Vaksin tetanus

10.   Vaksin difter

11.   Vaksin Hib

12.   Vaksin mRNA

13.   Vaksin COVID-19 (Astrazenecam Johnson&Johnson)

14.   HPV (vaksin infeksi penyakit kulit)

15.   Hepatitis B



Sedangkan manfaat vaksin bagi tubuh manusia di nataranya adalah;

1.       Merangsang kekebalan dalam tubuh kita agar aktif.

2.       Melindungi resiko cacat dan kematian akibat penyakit menular.

3.       Mencegar penyebaran penyakit menular sehingga tidak menjadi pandemic.

 

 

 

 

Komentar