Monster Pembunuh
Bab 1. Nyonya Besar Datang
‘’Apa tidak ada yang berani mengangkat kasus ini ke
permukaan?’’ tanya J kepada laki-laki penjual senjata. Laki-laki penjual
senjata tertawa. Dari tawanya J membaca sebuah keputusasaan.
‘’Sudah banyak yang
men-spill itu dari tahun ke tahu di media sosial, media cetak, dan media
elektronik, tapi apa? Tidak ada yang berani masuk ke dalam. Terlalu sulit,
beresiko, dan akan banyak membuat orang memilik balik badan. Tidak ada
pembelaan dari siapa pun, karena yang berteriak paling kencang itu adalah
mereka yang berkamuflase. Mereka berteriak seolah tahu, tapi tidak tahu, atau
lebih tepatnya ingin memancing orang untuk penasaran dan mencoba untuk membuka,
tetapi ketika orang mulai tertarik mereka lebih memilih untuk menyelamatkan
diri sendiri. Mereka seolah dipancing ke dalam agar tahu betap besarnya bisnis
mereka. Dan, orang-orang akan merasa sendiri dan lebih memilih menyelamatkan
diri sendiri ketika berhadapan dengan kekuatan mereka.’’
J mengangguk-angguk, ‘’Gila!’’ Hanya kata itu yang keluar dari
mulutnya.
J menahan diri untuk
tidak terlalu atraktif dalam menyempaikan empatinya. Siapa tahu laki-laki di
hadapannya bahkan bagian dari mereka. J memasuki bisnis dunia gelap, dia tidak
ingin orang lain mengusiknya, laki-laki di depannya adalah penjual senjata, dia
juga berkecimpung di dunia gelap, perempuan pejabat itu juga sama, J paham cara
bermain yang benar dan aman.
‘’Benar aku menyuruhmu menunda, bukan menghentikan. Kau bisa
menunda dulu, karena kasus istriku. Kau bayangkan kalau kau membunuh sehari
setelah percobaan pembunuhan itu, sudah pasti tersangkanya adalah istriku.
Polisi akan dengan mudah menyeret kasus itu menjadi sebuah bumerang buatku.
Tetapi, kalau kau menjedanya, aku dan istriku ada kesempatan untuk kembali ke
negara temoat kemarin kami tinggal dan akan ada tersangka lain, bukan?’’
‘’Baiklah, aku tidak keberatan kau tidak membocorkan
semuanya. Entah itu alasan pribadi atau orang-orang yang bersamamu yang
menginginkan perempuan pejabat itu mati. Tetpi, harus aku akui sebagai
laki-laki, kalau perempuan itu dari segi penampilan sangat-sangat tidak
meyakinkan kalau dia terlibat banyak bisnis haram. Dia terlalu cantik.’’
J mengangguk. Dia tidak menyalahkan laki-laki penjual
senjata, istrinya, atau pun perempuan tadi. Itu pilihan, hanya saja Jack tidak
melakukan hal itu dan itu pilihannya. Jack memberlakukan hal yang sama terhadap
anggota agensinya, hanya karena prinsipnya selam istri bahagia, maka rezekinya
akan mengalir dengan sendirinya. Jadi, J tidak ingin ada istri anggota
agensinya yang hidupnya susah dan dibuat susah, karena itu akan berimbas kepada
bisnis bos mereka juga.
‘’Mengenai tembakan tadi ada seseorang dari kita yang
tertembak dia masih bisa diselamatkan, karena tembakan meleset tidak mengenai
titik vital, dan penembak sudah mati. Urusan tidak dilaporkan kepada pihak
berwajib. Polisi yang datang mendapat keterangan bahwa ada pertikaian dalam
kelompok saja. Yang ke dua, Nyonya Besar menunggu izin masuk, beliau ada di
depan pintu. Jika Tuan tidak menginginkan, kami akan memberikan alasan dan
Nyonya untuk sementara akan menunggu di ruangan lain.’’
Tidak menunggu lama laki-laki penjual senjata itu langsung
memerintahkan, ‘’Persilakan masuk istriku, kalian bisa berjaga dengan santai.
Semua baik-baik saja.’’
Anak buah penjual senjata keluar setelahnya berganti dengan
seorang perempuan cantik masuk. Dia tampak anggun dan berkelas. Dari pakaian
dan cara mengangguknya Jack tahu dan bisa melihat itu. J bangun dari duduknya
begitu lakil-laki penjual senjata itu bangun dan menyambut istrinya. Setelah
suami istri itu selesai dengan saling memeluknya, istri penjual senjata itu
menatap jack. Jack mengulurkan tangannya, dan istri penjual senjata itu
menyambutnya.
‘’Saya J,’’ kata J memperkenalkan dirinya. Perempuan
istri penjual senjata itu juga memperkenalkan diri, Saya istri Tuan ini,’’ Mereka
bertiga tertawa bersamaan.
Setelah ketiga orang itu, penjual senjata ,istri penjual
senjata, dan J duduk, J merasa pembicaraan mereka tidak perlu dilanjutkan.
‘’Bagaimana kalau aku pulang dulu?’’ tanya J kepada
laki-laki penjual senjata.
Penjual senjata merasa J terganggu dengan kedatangan
istrinya. ‘’Kau bisa duduk dan istriku tidak masalah dengan pembicaraan kita,’’
tolak penjual senjata menghalangi J agar tetap duduk.
‘’Baiklah, kita bisa bicara lain kali. Kau benar, kurasa
istriku sudah sangat rindu padaku. Kami ini bukan pasangan muda, tetapi
semangat kami seperti anak muda. Bukankah begitu, Sayang?’’ Laki-laki penjual
itu melibatkan istrinya dalam ucapan yang dia tujukan untuk J.
‘’Terima kasih," kata Jack kepada bawahan laki-laki
penjual senjata yang mengantarnya.
J bersikap polos, dia mengangguk dan mengiyakan. J meninggalkan
area parkir bersama B mobilnya. Malam sudah merangkak hampir mendekati
pergantian hari. Jack memacu Brave dengan kecepatan biasa, dan waspada. Siapa
tahu dia menjadi salah satu yang diincar oleh orang-orang perempuan pejabat itu
juga.












Komentar
Posting Komentar