Puisi 7; Luka Itu Kamu

 

Luka Itu Kamu



BLOG NURLAELI UMAR- Kau melucu dengan mengatakn rindu padaku, sementara

Di persimpangan jalan di mana kita harus memilih jalan, pulang

Kau memilih jalan yang berbeda, meski

Aku kerap memohon padamu, sekali saja menemaniku dan pulang

Ke hatiku dan berdiam semalam, sampai

Matahari muncul esok pagi.

 



Kau berdalih, tak akan bisa pergi dari hatiku, setelah.

Menyadari, aku adalah rumah yang kau tuju.

Jadi, untuk apa sekarang kau mengatakan rindu, padahal

Permintaanku bagimu tabu dan hantu.

Aku kali ini tertawa, tanpa harus menunggu kau setuju.

Sebelum menutup pintu selamanya untukmu.


Jakarta, 252024

Komentar