Luka Itu
Kamu
Di
persimpangan jalan di mana kita harus memilih jalan, pulang
Kau memilih
jalan yang berbeda, meski
Aku kerap memohon
padamu, sekali saja menemaniku dan pulang
Ke hatiku
dan berdiam semalam, sampai
Matahari
muncul esok pagi.
Menyadari,
aku adalah rumah yang kau tuju.
Jadi, untuk
apa sekarang kau mengatakan rindu, padahal
Permintaanku
bagimu tabu dan hantu.
Aku kali
ini tertawa, tanpa harus menunggu kau setuju.
Sebelum menutup pintu selamanya untukmu.
Jakarta, 252024


Komentar
Posting Komentar