BLOG NURLAELI UMAR- Cerita
Ringan yang Sedih
Kau bicara
tentang perahu kertas, yang kaubikin dengan melipat.
Kertas-kertas
dari robekan bukumu, yang nilainya merah.
Di jalan
air yang tidak begitu lebar, tapi memanjang sampai entah ke mana.
Lalu kita
merayakan dengan bahagia, iya, setidaknya aku melihatmu tertawa.
Aku
mengangguk, mengiyakan seolah aku setuju dengan cara merobekmu.
Atau
sebenarnya aku setuju dengan binar di matamu, bisa jadi.
Aku ikut berjalan
di sisi yang lain memastikan laju.
Sama sepertimu
yang sibuk dengan tertawa, lalu sesekali aba-aba.
Perahu kita
hanyut sampai jauh.
Kita beertepuk
tangan, kau yang paling senang.
Lalu
tiba-tiba aku sadar bahwa semuanya hanya kertas.
Yang akan
basah, lalu tenggelam, mencium dasar aliran air.
Semua sama
seperti aku dan kamu.
Yang hanyut
menjauh seiring waktu.
Dan kita
saling menjadi asing, karena kita akhirnya melompat.
Menyelamatkan
diri agar kita tidak tenggelam.
Sekarang
aku dan kamu bukan sesiapa.
Hanya
sebuah cerita, yang ketika kuingat terasa mengada-ada.
Secepat itu
sebuah rasa datang, secepat itu juga sebuah rasa pergi.
Meski di
hati kita masih terpatri sebuah janji, tapi sore sudah memanggil kita untuk
pulang ke rumah sendiri-sendiri.


Komentar
Posting Komentar