Puisi 9. Cerita Ringan yang Sedih

 






BLOG NURLAELI UMAR-                         Cerita Ringan yang Sedih

Oleh; Nurlaeli Umar

Kau bicara tentang perahu kertas, yang kaubikin dengan melipat.

Kertas-kertas dari robekan bukumu, yang nilainya merah.

Di jalan air yang tidak begitu lebar, tapi memanjang sampai entah ke mana.

Lalu kita merayakan dengan bahagia, iya, setidaknya aku melihatmu tertawa.

 

Aku mengangguk, mengiyakan seolah aku setuju dengan cara merobekmu.

Atau sebenarnya aku setuju dengan binar di  matamu, bisa jadi.

Aku ikut berjalan di sisi yang lain memastikan laju.

Sama sepertimu yang sibuk dengan tertawa, lalu sesekali aba-aba.

 

Perahu kita hanyut sampai jauh.

Kita beertepuk tangan, kau yang paling senang.

Lalu tiba-tiba aku sadar bahwa semuanya hanya kertas.

Yang akan basah, lalu tenggelam, mencium dasar aliran air.

 

Semua sama seperti aku dan kamu.

Yang hanyut menjauh seiring waktu.

Dan kita saling menjadi asing, karena kita akhirnya melompat.

Menyelamatkan diri agar kita tidak tenggelam.

 

Sekarang aku dan kamu bukan sesiapa.

Hanya sebuah cerita, yang ketika kuingat terasa mengada-ada.

Secepat itu sebuah rasa datang, secepat itu juga sebuah rasa pergi.

Meski di hati kita masih terpatri sebuah janji, tapi sore sudah memanggil kita untuk pulang ke rumah sendiri-sendiri.







Komentar