Khawatirkan
Dirimu Saja R
BLOG
NURLAELI UMAR- J keluar dari roomnya. Dia hanya merasa sedikit kurang nyaman
saja dengan banyaknya orang yang menunggu di depan lift begitu dia sampai di
bawah.
Tampak satuan
polisi sedang memasang garis polisi. Satu lift dalam tidak diperkenankan
dipakai untuk tiga hari. Mungkin sampai polisi merasa sudah cukup dengan
penelusuran dan semua yang berhubungan dengan kasus itu. Semua orang yang masuk
mendapat pemeriksaan, tetapi tidak dengan orang yang keluar.
‘’Selamat
pagi, Bos!’’ sapa seorang petuhas keamanan begitu J berbelok akan mendekat ke
arah di mana B diparkirkan.
‘’Selamat
pagi, Pak!’’ balas J. Dia berhenti, karena merasa petugas keamanan gedung itu
ingin berbicara dengannya.
J sekarang tahu kalau penjaga kemanan gedung
ternyata mengenali M meski dia baru datang bisa dihitung jari ke roomnya.
J mengngguk.
‘’Iya, tidak apa-apa, karena prosedurnya memang begitu, bukan? Saya rasa Anda
dan polisi sudah melakukan hal yang terbaik.’’
Petugas
keamanan gedung itu mengangguk. Dia merasa senang J tidak merasa terganggu
dengan prosedur yang mesti dijalankan.
J sekilas
melihat pengusaha yang membunuh anak buahnya itu turun dari mobilnya, tampak
dia dikawal oleh dua orang. Sepertinya bukan polisi, tetapi orang sewaan.
Melihat J
menatap serius ke arah pengusaha itu, buru-buru petugas keamanan itu
menjelaskan tanpa J minta.
‘’Dia adalah seseorang yang sering mengantar
sekaligus yang menyewa room untuk perempuan yang terbunuh semalam.’’
J mengangguk.
‘’Dan, Bapak tidak menyambutnya?’’ tanya J
kepada petugas keamana gedung itu dengan mata yang tetap mengawsi ke mana
pengusaha itu melangkah.
‘’Tidak, sudah ada bagian masing-masing. Saya
hanya bertugas di pintu lift bersama dua teman saya, barangkali ada yang perlu
bantuan, karena lift di dalam tidak diperbolehkan dipakai beberapa waktu untuk
penyelidikan.’’
J mengangguk lagi.
‘’Jangan
khwatirkan keamanan gedung dan penghuninya, saya atas nama pengelola
mengusahakan keamanan gedung lebih diperketat lagi. ’’
J mengangguk
mengiyakan.
‘’Baiklah
kalau begtu,, saya percaya kepada Anda dan tim, saya sekarang akan berangkat ke
kantor.’’
Petugas
keamaan itu langsung mempersilakan J.
J pergi
dengan B setelahnya. Selama dalam perjalan menuju kantor J tidak berpikir
apa-apa tentang pembunuhan semalam, dia menyalakan musik dan menikmati
perjalanan seperti biasanya.
M mungkin
belum bangun, dan J tidak ingin mengganggunya dengan mengirim pesan. Dia tidak
tega melihat sebegitu khawatirnya M atas dirinya sampai-sampai kembali ke kota
ini secepatnya begitu dia mendengar berita ada pembunuhan ke dua di apartemennya.
Tidak
mungkin J mengatakan kalau M tidak perlu khawatir karena pembunuhan kedua itu
adalah atas perintahnya.
J sudah
sampai di depan gedung tempatnya bekerja, hampir masuk ke dalam ke parkiran.
Sebuah telepon dari Ron masuk dan J mengangkatnya.
‘’Iya, Halo,
R!’’
R sepertinya
dari seberang telepon mengatakan sesuatu, karena J tampak mengangguk dan
mengatakan ‘iya’ berkali-kali. Sepertinya ada hal penting yang ingin R
bicarakan dengan J.
J menunda
turun dari B, ada pesan yang masuk. Lelaki penjual senjata mengirim pesan;
Kalau ada apa-apa denganku, tolong bantu istriku, karena perempuan yang
kuperintahkan untuk dibunuh semakin menekanku.
J segera
mengirim balasannya; Apa aku harus segera mengekskusinya?
Sayang sekali pesan J tidak dijawab.
Sepertinya laki-laki penjual senjata itu tengah sibuk dengan urusannya. Dia
hanya mengirim pesan karena khwatir.
J merasa secepatnya dia harus mengekskusi
perempuan pejabat tu, karena laporan yang dikirim anak buahnya. Perempuan itu
semakin meresahkan dan tidak terjangkau oleh pihak hukum.
J turun dari
mobilnya dan langsung naik ke lantai tempat kantirnya berada. Begitu sampai di
kantor dia langsung menuju ruangan R. Dia menekan bel, R langsung menyambutnya
dengan pelukan. J terheran untuk beberapa saat.
Dia membiarkan
Ron memeluknya, dan setelahnya, ‘’Kamu mabuk?’’ tanya J.
Tetapi, jawaban R sungguh di luar dugaan,
‘’Aku khawatir, semalam setelah kamu pulang aku tidak tidur, lalu kulihat
berita di televisi, ternyata ada berita pembunuhan. Simpanan klien kita yang
ternyata satu apartemen dengamu dibunuh. Aku telepon kamu ternyata gak
diangkat. Mau ke sana itu sangat beresiko.’’
J tertawa.
Ron terheran dbuatnya.
‘’Aku baik-baik saja. Ini aku yang datang ke
roommu, bukan hologram.’’
R berjalan
menuju ke dalam, dia mnyuruh J untuk duduk. J mengangguk dan duduk di sofa
menunggu R yang ternyata datang membawa dua cangkir kopi susu.
‘’Kukira kau
akan meracuniku dengan alcohol sepagi ini.’’
J mengatakan
itu sambil menatap lekat ke arah R. Benar, mata Ron sedikit sembab.
‘’Kau habis
perang dengan Am?’’ tanya J
Dia ingin
tahu kenapa laki-laki yang sudah menjadi temannya cukup lama itu sampai sembab.
Padahal dia yang kerap membuat banyak perempuan sembab dengan banyak alasan. R
menggelengkan kepalanya.
‘’Sudah
kubilang aku mengkhawatirkanmu. Aku mengikuti pemberitaan pembunuhan di
apartemenmu dan aku menangis.’’
J tertawa
mendengar R mengatakan itu. ‘’Kau itu kenapa? Kau tahu yang dibunuh itu
perempuan. Berarti yang diincar itu perempuan, bukan?’’
Rn
mengangguk setuju.
‘’Masalahnya
itu apartemen tempatmu tinggal, ke dua yang dibunuh orang yang kukenal. Aku
pernah bertemu dia beberpa kali. Dan, kau tahu orang-orang yang kukenal banyak
yang mati terbunuh. Kalau kau ikut terbunuh aku tidak punya teman lagi.’’
J mengangguk, kali ini dia tidak ingin
menertawakan ketakutan Ron. Dia membiarkannya.
‘’Apa kau
mendapat telepon dari klien kita yang menyebalkan akhir-akhir ini itu?’’ tanya J
ingin tahu.
Dia ingin
tahu apakah pengusaha yang membunuh anak buahnya itu menghubungi R atau tidak
perihal terbunuhnya kekasihnya itu.
‘’Tidak. Dia
tidak menelponku. Tapi, dalam sekejap aku tahu. Karena identitas korban itu
sangat mirip dengan ciri-ciri kekasih klien kita itu. Dan, pagi tadi baru
kutahu kabar kalau pengusaha itu datang ke tempat kejadian perkara. Aku melihat
dia dikawal dua orang yang kurasa bodyguard.’’
‘’Aku ada di
sana saat pengusaha tu datang. Seharusnya tadi yang bawa kamera menyorot ke
arahku juga, jadi kau tidak khawatir lagi. Dua pengawal yang sama bodohnya
dengan pengawal Tuan K dan yang disewa O. Benar, bukan? Hanya besar badan dan
nyali, tapi tidak otaknya.’’
‘’Jadi, kamu
ada di dekat situ? Tentang pengawal, aku juga tadinya berniat menyewa, tapi aku
belum seratus persen butuh. Menurutmu menyewa mereka itu percuma?’’
J menatap mencoba
membaca air muka R. J tertawa.
‘’Itu hanya pendapatku saja, karen aku melihat
kenyataanya kalau Tuan K yang punya empat dan bahkan lima pengawal saja mati
dibunuh di depan pengawalnya.’’
‘’Bagaimana
kalau aku menyewa untuk melindungimu J? Aku yang akan menbayarnya.’’
R mengusulkan itu. Itu sungguh di luar
perkiraan J. J tertawa menanggapinya. J menggelengkan kepalanya.
‘’Kau
berikan saja uangmu kepda yang lebih membutuhkan. Kau bisa ikut membayar
pengawal O yang tersisa. Dia pasti sedikit keberatan. Karena mereka tidak
murah, bukan?’’
‘’J aku
bicara tentangmu. Atau kau sebenarnya ingin tahu berapa uang yang kualokasikan
buat keperluan O, bukan?’’ tanya R. ‘’Tidak sebanyak ayng kuberikan keoada Am
tentu saja. Dia cuma selingkuhan, bukan calon istriku.’’
J tertawa
tergelak, R membiarkannya, R tahu J tidak oernah suka dengan perselingkuhannya
dan O, meski R tahu O tergila-gila dengan J.
‘’Kau yakin
sekali Am akan menjadi istrimu setelah dia tahu semua tentangmu? Berbaik
hatilah kepada tunanganmu, atau kelak akau akan menangisinya seumur hidup
karena kehilangam dia. Dia bisa pergi ke lelaki lain kapan saja, lebih cepat
dari perkiraanmu.’’


Komentar
Posting Komentar