Bab 10. Monster Pembunuh

 


Khawatirkan Dirimu Saja R

BLOG NURLAELI UMAR- J keluar dari roomnya. Dia hanya merasa sedikit kurang nyaman saja dengan banyaknya orang yang menunggu di depan lift begitu dia sampai di bawah.

Tampak satuan polisi sedang memasang garis polisi. Satu lift dalam tidak diperkenankan dipakai untuk tiga hari. Mungkin sampai polisi merasa sudah cukup dengan penelusuran dan semua yang berhubungan dengan kasus itu. Semua orang yang masuk mendapat pemeriksaan, tetapi tidak dengan orang yang keluar.

 

‘’Selamat pagi, Bos!’’ sapa seorang petuhas keamanan begitu J berbelok akan mendekat ke arah di mana B diparkirkan.

‘’Selamat pagi, Pak!’’ balas J. Dia berhenti, karena merasa petugas keamanan gedung itu ingin berbicara dengannya.

 ‘’Maafkan atas ketidaknyamannnya. Ada pembunuhan lagi, dan itu membuat polisi sibuk. Keamanan diperketat. Tapi, seseorang yang mengunjungi Anda, maksud saya istri Anda baik-baik saja dan tidak mengeluh karena tadi kami meminta tanda pengenalnya, bukan?’

 J sekarang tahu kalau penjaga kemanan gedung ternyata mengenali M meski dia baru datang bisa dihitung jari ke roomnya.

J mengngguk. ‘’Iya, tidak apa-apa, karena prosedurnya memang begitu, bukan? Saya rasa Anda dan polisi sudah melakukan hal yang terbaik.’’

Petugas keamanan gedung itu mengangguk. Dia merasa senang J tidak merasa terganggu dengan prosedur yang mesti dijalankan.

J sekilas melihat pengusaha yang membunuh anak buahnya itu turun dari mobilnya, tampak dia dikawal oleh dua orang. Sepertinya bukan polisi, tetapi orang sewaan.

Melihat J menatap serius ke arah pengusaha itu, buru-buru petugas keamanan itu menjelaskan tanpa J minta.

 ‘’Dia adalah seseorang yang sering mengantar sekaligus yang menyewa room untuk perempuan yang terbunuh semalam.’’

 J mengangguk.

 ‘’Dan, Bapak tidak menyambutnya?’’ tanya J kepada petugas keamana gedung itu dengan mata yang tetap mengawsi ke mana pengusaha itu melangkah.

 ‘’Tidak, sudah ada bagian masing-masing. Saya hanya bertugas di pintu lift bersama dua teman saya, barangkali ada yang perlu bantuan, karena lift di dalam tidak diperbolehkan dipakai beberapa waktu untuk penyelidikan.’’

 J mengangguk lagi.

‘’Jangan khwatirkan keamanan gedung dan penghuninya, saya atas nama pengelola mengusahakan keamanan gedung lebih diperketat lagi. ’’

J mengangguk mengiyakan.

‘’Baiklah kalau begtu,, saya percaya kepada Anda dan tim, saya sekarang akan berangkat ke kantor.’’

Petugas keamaan itu langsung mempersilakan J.

J pergi dengan B setelahnya. Selama dalam perjalan menuju kantor J tidak berpikir apa-apa tentang pembunuhan semalam, dia menyalakan musik dan menikmati perjalanan seperti biasanya.

M mungkin belum bangun, dan J tidak ingin mengganggunya dengan mengirim pesan. Dia tidak tega melihat sebegitu khawatirnya M atas dirinya sampai-sampai kembali ke kota ini secepatnya begitu dia mendengar berita ada pembunuhan ke dua di apartemennya.

Tidak mungkin J mengatakan kalau M tidak perlu khawatir karena pembunuhan kedua itu adalah atas perintahnya.

J sudah sampai di depan gedung tempatnya bekerja, hampir masuk ke dalam ke parkiran. Sebuah telepon dari Ron masuk dan J mengangkatnya.

‘’Iya, Halo, R!’’

R sepertinya dari seberang telepon mengatakan sesuatu, karena J tampak mengangguk dan mengatakan ‘iya’ berkali-kali. Sepertinya ada hal penting yang ingin R bicarakan dengan J.

J menunda turun dari B, ada pesan yang masuk. Lelaki penjual senjata mengirim pesan; Kalau ada apa-apa denganku, tolong bantu istriku, karena perempuan yang kuperintahkan untuk dibunuh semakin menekanku.

 

J segera mengirim balasannya; Apa aku harus segera mengekskusinya?

 Sayang sekali pesan J tidak dijawab. Sepertinya laki-laki penjual senjata itu tengah sibuk dengan urusannya. Dia hanya mengirim pesan karena khwatir.

 J merasa secepatnya dia harus mengekskusi perempuan pejabat tu, karena laporan yang dikirim anak buahnya. Perempuan itu semakin meresahkan dan tidak terjangkau oleh pihak hukum.

J turun dari mobilnya dan langsung naik ke lantai tempat kantirnya berada. Begitu sampai di kantor dia langsung menuju ruangan R. Dia menekan bel, R langsung menyambutnya dengan pelukan. J terheran untuk beberapa saat.

Dia membiarkan Ron memeluknya, dan setelahnya, ‘’Kamu mabuk?’’ tanya J.

 Tetapi, jawaban R sungguh di luar dugaan, ‘’Aku khawatir, semalam setelah kamu pulang aku tidak tidur, lalu kulihat berita di televisi, ternyata ada berita pembunuhan. Simpanan klien kita yang ternyata satu apartemen dengamu dibunuh. Aku telepon kamu ternyata gak diangkat. Mau ke sana itu sangat beresiko.’’

J tertawa. Ron terheran dbuatnya.

 ‘’Aku baik-baik saja. Ini aku yang datang ke roommu, bukan hologram.’’

R berjalan menuju ke dalam, dia mnyuruh J untuk duduk. J mengangguk dan duduk di sofa menunggu R yang ternyata datang membawa dua cangkir kopi susu.

‘’Kukira kau akan meracuniku dengan alcohol sepagi ini.’’

J mengatakan itu sambil menatap lekat ke arah R. Benar, mata Ron sedikit sembab.

‘’Kau habis perang dengan Am?’’ tanya J

 Dia ingin tahu kenapa laki-laki yang sudah menjadi temannya cukup lama itu sampai sembab. Padahal dia yang kerap membuat banyak perempuan sembab dengan banyak alasan. R menggelengkan kepalanya.

‘’Sudah kubilang aku mengkhawatirkanmu. Aku mengikuti pemberitaan pembunuhan di apartemenmu dan aku menangis.’’

J tertawa mendengar R mengatakan itu. ‘’Kau itu kenapa? Kau tahu yang dibunuh itu perempuan. Berarti yang diincar itu perempuan, bukan?’’

Rn mengangguk setuju.

‘’Masalahnya itu apartemen tempatmu tinggal, ke dua yang dibunuh orang yang kukenal. Aku pernah bertemu dia beberpa kali. Dan, kau tahu orang-orang yang kukenal banyak yang mati terbunuh. Kalau kau ikut terbunuh aku tidak punya teman lagi.’’

 J mengangguk, kali ini dia tidak ingin menertawakan ketakutan Ron. Dia membiarkannya.

‘’Apa kau mendapat telepon dari klien kita yang menyebalkan akhir-akhir ini itu?’’ tanya J ingin tahu.

Dia ingin tahu apakah pengusaha yang membunuh anak buahnya itu menghubungi R atau tidak perihal terbunuhnya kekasihnya itu.



‘’Tidak. Dia tidak menelponku. Tapi, dalam sekejap aku tahu. Karena identitas korban itu sangat mirip dengan ciri-ciri kekasih klien kita itu. Dan, pagi tadi baru kutahu kabar kalau pengusaha itu datang ke tempat kejadian perkara. Aku melihat dia dikawal dua orang yang kurasa bodyguard.’’

‘’Aku ada di sana saat pengusaha tu datang. Seharusnya tadi yang bawa kamera menyorot ke arahku juga, jadi kau tidak khawatir lagi. Dua pengawal yang sama bodohnya dengan pengawal Tuan K dan yang disewa O. Benar, bukan? Hanya besar badan dan nyali, tapi tidak otaknya.’’


‘’Jadi, kamu ada di dekat situ? Tentang pengawal, aku juga tadinya berniat menyewa, tapi aku belum seratus persen butuh. Menurutmu menyewa mereka itu percuma?’’

J menatap mencoba membaca air muka R. J tertawa.

 ‘’Itu hanya pendapatku saja, karen aku melihat kenyataanya kalau Tuan K yang punya empat dan bahkan lima pengawal saja mati dibunuh di depan pengawalnya.’’


‘’Bagaimana kalau aku menyewa untuk melindungimu J? Aku yang akan menbayarnya.’’

 R mengusulkan itu. Itu sungguh di luar perkiraan J. J tertawa menanggapinya. J menggelengkan kepalanya.

‘’Kau berikan saja uangmu kepda yang lebih membutuhkan. Kau bisa ikut membayar pengawal O yang tersisa. Dia pasti sedikit keberatan. Karena mereka tidak murah, bukan?’’


‘’J aku bicara tentangmu. Atau kau sebenarnya ingin tahu berapa uang yang kualokasikan buat keperluan O, bukan?’’ tanya R. ‘’Tidak sebanyak ayng kuberikan keoada Am tentu saja. Dia cuma selingkuhan, bukan calon istriku.’’

J tertawa tergelak, R membiarkannya, R tahu J tidak oernah suka dengan perselingkuhannya dan O, meski R tahu O tergila-gila dengan J.

‘’Kau yakin sekali Am akan menjadi istrimu setelah dia tahu semua tentangmu? Berbaik hatilah kepada tunanganmu, atau kelak akau akan menangisinya seumur hidup karena kehilangam dia. Dia bisa pergi ke lelaki lain kapan saja, lebih cepat dari perkiraanmu.’’

 


Komentar