Bab 12. Monster Pembunuh

 


Sebuah Penolakan

BLOG NURLAELI UMAR- 19.00. M tengah sibuk dengan laptopnya, ketika pintu ruangan kantirnya diketuk oleh karyawannya. ‘’Masuk!’’

Pintu rungan tempat M bekerja terbuka, kepala coffee shop yang dipercaya M untuk mengurus semua masalah di floor masuk.

‘’Duduklah!’’

Kepala coffee shop biasanya akan  duduk, kemudian mulai bercerita seperti biasa, tapi, kali ini dia terdiam. Marie mengangakt wajahnya dari layar laptop. Dia paham ada sesuatu yang tidak beres dan butuh perhatiannya.

‘’Iya, apa ada masalah di floor atau dari supplier?’’

‘’Dari pengunjung coffee shop kita, dan Anda pasti mngenalnya dengan baik. Dia adalah Tuan R, yang bos sekaligus sahabat Tuan J.’’

M mengangguk. ‘’Pasti ini sudah keterlaluan, seperti apa?’’

‘’DIa memesan papan bunga dengan ukuran besar mengucapkan selamat ulang tahun untuk Anda, dan buket bunga super besar yang diletakkan di samping meja kasir.’’

‘’Kamu bilang apa? Apa dia yang membawanya langusng atau kurir dari florist?’’

‘’Tentu saja laki-laki yang tergila-gila dengan Anda itu menyuruh orang-orang florist, tapi setengah jam kemudian dia datang.’’

‘’Dan, sekarang?’’

‘’Dia ada di salah satu meja, menunggu Anda. Saya sudah mengtakan Anda sedang sibuk, tapi dia mengatakan dia tidak sedang sibuk.’’

‘’Baiklah. Kembalilah ke floor, dan aku akan membereskan secepatnya.’’

Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal masuk ke handphone milik Am. Awalnya Am malas untuk menjawabnya, Tapi, dia penasaran, karena dari maan seseorang tahu nomor pribadinya. Dia hanya memberikan nomor yang ini untuk orang tertentu saja.

‘’Halo!’’ terdengar seorang laki-laki menyapa dari dalam telepon.

‘’Halo, ini siapa?’’ tanya Am langsung. Dia tidak ingin banyak bicara, dan sepertinya ssuara laki-laki di dalam telepon itu juga tidak ingin basa0basi, suaranya terkesan dingin.

‘’Aku tunggu di coffee shop milik temanmu. Coffee shop ke tiga. Sekarang, tidak harus nanti-nanti!’’

‘’Baiklah.’’

Telepon yang masuk itu langsung dimatikan. Am sempat bimbang, apalagi dua kasus pembunuhan yang trejadi di apartemen tempat J tinggal belum menemui titik terang. Bisa saja dia juga adalh target, meski dengan alasan yang berbeda.

Am menyambar mantelnya. Dia hanya memakai celana panjang dan kaus tanpa lengan berwarana sama dengan celananya, hitam. Sempat bimbang, tapi penelpojn itu mengatakan harus sekarang.

Tiba-tiba tercetus dia akan menghubungi M, bukankah M adalah oemilik coffee shop itu? Dia segera menelpon M dan langsung diangakat.

‘’Halo! Iya Am? Ada apa? Aku ada di kantorku. Apa kau sakit, menelponku di jam seperti ini Biasany kau akan menelponku jam lima sore kalau ingin ke coffee shopku.’’

‘’Aku akan ke coffee shopmu, jangan pergi ke coffee shomu yang lain.Bisakah?’’

Teringat ada R tunangan Am di floor, M langsung mengiyakan. Ini kesempatan baik untuknya tanpa melibatkan J kekasihnya untuk menyelesaikan semua kegilaan R yang mencapai puncaknya hari ini.

Belum sempat meetakkan handphone yang sedang dipegang, sebuah panggian masuk lagi. ‘’Iya, Am?’’ tanya M dengan segera.

‘’Honey, ini aku J.’’

M menarik napas lega. ‘’Kemarilah, aku sedang ingin dipeluk. Bisakah? Apa kau masih sibuk dengan pekerjaanmu? Kau di apartemen atau sedang mengunjungi restoranmu? Atau sedang bersama klien?’’’

‘’Aku akan datang, tapi butuh waktu satu jam untuk sampai di sana. Aku masih sibuk dengan klienku.’’

‘’Baiklah, aku menunggumu.’’

Am yang khawatir langsung menyambar kunci mobilnya. Dia yang hampir pulang dari floristnya itu merasa harus datang ke coffee shop milik Marie. Supir yang bekerja untuk Am langsung menghadang tuannya.

‘’Jangan menyetir sendiri. Silakan Nona duduk saja, saya akan mengantar Nona ke tempat yang Nona inginkan.’’

Am mengangguk. Benar saja, di satat seperti ini dia tidak perlu membawa mobil sendiri. Dia sedang terlalu khawatir dengan Marie yang terkesan biasa saja, sementara laki-laki kisterius yang menelponnya terkesan sangat dingin. Apa M target pembunuhan selanjutnya?

‘’Pakai mobil yang ini, ini kuncinya. Tidak usah pakai mobil yang biasa kamu bawa.’’

‘’Baiklah!’’

Am sedang tidak ingin duduk di belakang. Dia menolak ketika dibukakan pintu belakang oleh supir pribadinya.

‘’Aku ingin di depan.’’

Setelah Am duduk, mobil melesat meninggalkan kantor milik Am dan menembus kesibukan jalanan.

‘’Ke mana , Nona?’’

Am menyebutkan alamat yang dia maksud. Supir itu tahu berarti yang dimaksud Am adalah coffee shop milik M sahabatnya, atau tempat makan di sepanjang jalan itu.

‘’Coffee shop ke tiga!’’

Supir itu mengangguk dan kemudian sibuk memacu jalan mobil yang dikendarainya untuk mengantar tuannya.

R tampak sedang menikmati minuman yang dia pesan, dua pesan masuk dari Ol yang memintanya untuk datang menemuinya hanya dibaca saja. Mobil yang membawa M sudah sampai. Dia terkejut dengan bunga papan yang sangat besar dan bagus dengan ucapan selamat ulang tahun untuk M.

Am tahu itu bukan bunga dari florist milinya, tapi dia sangat menyesal dengan melupakan hari di mana M ulang tahun. Jadi ini kejutan yang orang misterius itu ingin katakan kepadanya, kalau M sedang ulang tahun.

‘’Rupanya M ulang tahun, aku melupaknnya,’’ keluh Am sebelum beranjak turun dari mobilnya.

‘’Biasanya Anda tidak pernah lupa. Tapi, sepertinya ini aneh.’’

‘’Aneh bagiamana?’’ tanya Am terkejut.

‘’Anda pasti punya alarm pengingat kalau sabata Anda ulang tahun, bukan? Biasanya setelah itu Anda akan menyuruh saya untuk mengantarkan buket bunga, dan Andalah orang pertama yang mengirim ucapan selamat dalam bentuk buket coffee shop ini.’’

Am mengangguk. Dia mencari sdetelan alarm handphonenya, dia mengangguk-angguk.

‘’Ini aneh, ulang tahun M masih dua minggu lagi. Tapi, laki-laki tadi menyuruhku dtaang ke sini dan sekarang ada papan bunga bertuliskan ulang tahun M.’’

’Anda ingin saya turun dulu memastikan semua baik-baik saja?’’

‘’’Tidak, kamu tetap di sini. Kalau terjadi hal buruk telepon pihak berwajib. Oke?’’

‘’Tapi, Nona,’’

‘’Aku yang memberi perintah!’’

Am sengaja tidak emmberi tahu kedatanagnnya kepada M, dia justru ingin menanyakan apa maksud papan bunga sebesar itu di depan coffee shopnya. Dia yang menggunakan mantel masuk ke dalam coffee shopnya. Begitu dia masuk dan berjalan mendekati kasaa matanya tertumbuk kepada buket bunga super mahal di dekat meja kasir. Dia paham betul berapa harga buket bunga itu, karena dia juga mempunyai florist.

Kasir yang bekerja mengangguk kepada Am, ‘’Selamat malam, apakah Anda ingin memesan atau ingin saya panggilkan Nona?’’

‘’Keduanya.’’

Am mengulurkan cardnya untuk membayar, begitu selesai Am hendak mencari tempat duduk. Dia memegang nomor meja yang didapat bersama struk pembelian. Dia memutar badan dan alangkah terkejutnya dia melihat penampaan R yang duduk membelakangi pintu masuk. Dia thu itu R tunangannya.

Am kembali ke depan meja kasir. ‘’Boleh aku tahu siapa yang mengirim buket bunga ini?’’ tanya Am sambil menunjuk ke buket mewah di depan meja kasir.

Kasir itu menunjuk keraha R yang sedang duduk.

‘’Dia?’’

‘’Iya, beliau.’’

M keluar dari ruangannya, dia berjalan menemui Am, di saat yang hampir berbarengan J masuk ke dalam coffee shop miliknya dari arah luar.

‘’Selamat malam!’’ sapa J kelasa Am, dan M yang berjalan ke arah Am langsung memburu J yang sekarang sedang berhadapan dengan Am.

R merasa tidak asing dengan suara yang dia dengar, dia memutar badannya. Mukanya pucat. Dia sekarang sedang sibuk memilih apa alasan yang tepat untuk semua kejutan konyolnya, sebuha buket mahal dan papan bunga super mewah di depan coffee shop. Belum lagi dia akan tahu kalau dia salah tanggal.

 

 

 

Komentar