Sebuah Penolakan
BLOG
NURLAELI UMAR- 19.00. M tengah sibuk dengan laptopnya, ketika pintu ruangan
kantirnya diketuk oleh karyawannya. ‘’Masuk!’’
Pintu
rungan tempat M bekerja terbuka, kepala coffee shop yang dipercaya M untuk
mengurus semua masalah di floor masuk.
‘’Duduklah!’’
Kepala
coffee shop biasanya akan duduk, kemudian mulai bercerita seperti biasa, tapi,
kali ini dia terdiam. Marie mengangakt wajahnya dari layar laptop. Dia paham
ada sesuatu yang tidak beres dan butuh perhatiannya.
‘’Iya,
apa ada masalah di floor atau dari supplier?’’
‘’Dari
pengunjung coffee shop kita, dan Anda pasti mngenalnya dengan baik. Dia adalah
Tuan R, yang bos sekaligus sahabat Tuan J.’’
M
mengangguk. ‘’Pasti ini sudah keterlaluan, seperti apa?’’
‘’DIa
memesan papan bunga dengan ukuran besar mengucapkan selamat ulang tahun untuk
Anda, dan buket bunga super besar yang diletakkan di samping meja kasir.’’
‘’Kamu
bilang apa? Apa dia yang membawanya langusng atau kurir dari florist?’’
‘’Tentu
saja laki-laki yang tergila-gila dengan Anda itu menyuruh orang-orang florist,
tapi setengah jam kemudian dia datang.’’
‘’Dan,
sekarang?’’
‘’Dia
ada di salah satu meja, menunggu Anda. Saya sudah mengtakan Anda sedang sibuk,
tapi dia mengatakan dia tidak sedang sibuk.’’
‘’Baiklah.
Kembalilah ke floor, dan aku akan membereskan secepatnya.’’
Sebuah
panggilan masuk dari nomor tidak dikenal masuk ke handphone milik Am. Awalnya
Am malas untuk menjawabnya, Tapi, dia penasaran, karena dari maan seseorang
tahu nomor pribadinya. Dia hanya memberikan nomor yang ini untuk orang tertentu
saja.
‘’Halo!’’
terdengar seorang laki-laki menyapa dari dalam telepon.
‘’Halo,
ini siapa?’’ tanya Am langsung. Dia tidak ingin banyak bicara, dan sepertinya
ssuara laki-laki di dalam telepon itu juga tidak ingin basa0basi, suaranya terkesan
dingin.
‘’Aku
tunggu di coffee shop milik temanmu. Coffee shop ke tiga. Sekarang, tidak harus
nanti-nanti!’’
‘’Baiklah.’’
Telepon
yang masuk itu langsung dimatikan. Am sempat bimbang, apalagi dua kasus
pembunuhan yang trejadi di apartemen tempat J tinggal belum menemui titik
terang. Bisa saja dia juga adalh target, meski dengan alasan yang berbeda.
Am
menyambar mantelnya. Dia hanya memakai celana panjang dan kaus tanpa lengan
berwarana sama dengan celananya, hitam. Sempat bimbang, tapi penelpojn itu mengatakan
harus sekarang.
Tiba-tiba
tercetus dia akan menghubungi M, bukankah M adalah oemilik coffee shop itu? Dia
segera menelpon M dan langsung diangakat.
‘’Halo!
Iya Am? Ada apa? Aku ada di kantorku. Apa kau sakit, menelponku di jam seperti
ini Biasany kau akan menelponku jam lima sore kalau ingin ke coffee shopku.’’
‘’Aku
akan ke coffee shopmu, jangan pergi ke coffee shomu yang lain.Bisakah?’’
Teringat
ada R tunangan Am di floor, M langsung mengiyakan. Ini kesempatan baik untuknya
tanpa melibatkan J kekasihnya untuk menyelesaikan semua kegilaan R yang
mencapai puncaknya hari ini.
Belum
sempat meetakkan handphone yang sedang dipegang, sebuah panggian masuk lagi.
‘’Iya, Am?’’ tanya M dengan segera.
‘’Honey,
ini aku J.’’
M
menarik napas lega. ‘’Kemarilah, aku sedang ingin dipeluk. Bisakah? Apa kau
masih sibuk dengan pekerjaanmu? Kau di apartemen atau sedang mengunjungi
restoranmu? Atau sedang bersama klien?’’’
‘’Aku
akan datang, tapi butuh waktu satu jam untuk sampai di sana. Aku masih sibuk
dengan klienku.’’
‘’Baiklah,
aku menunggumu.’’
Am
yang khawatir langsung menyambar kunci mobilnya. Dia yang hampir pulang dari
floristnya itu merasa harus datang ke coffee shop milik Marie. Supir yang
bekerja untuk Am langsung menghadang tuannya.
‘’Jangan
menyetir sendiri. Silakan Nona duduk saja, saya akan mengantar Nona ke tempat
yang Nona inginkan.’’
Am
mengangguk. Benar saja, di satat seperti ini dia tidak perlu membawa mobil
sendiri. Dia sedang terlalu khawatir dengan Marie yang terkesan biasa saja,
sementara laki-laki kisterius yang menelponnya terkesan sangat dingin. Apa M
target pembunuhan selanjutnya?
‘’Pakai
mobil yang ini, ini kuncinya. Tidak usah pakai mobil yang biasa kamu bawa.’’
‘’Baiklah!’’
Am
sedang tidak ingin duduk di belakang. Dia menolak ketika dibukakan pintu
belakang oleh supir pribadinya.
‘’Aku
ingin di depan.’’
Setelah
Am duduk, mobil melesat meninggalkan kantor milik Am dan menembus kesibukan
jalanan.
‘’Ke
mana , Nona?’’
Am
menyebutkan alamat yang dia maksud. Supir itu tahu berarti yang dimaksud Am
adalah coffee shop milik M sahabatnya, atau tempat makan di sepanjang jalan
itu.
‘’Coffee
shop ke tiga!’’
Supir
itu mengangguk dan kemudian sibuk memacu jalan mobil yang dikendarainya untuk
mengantar tuannya.
R
tampak sedang menikmati minuman yang dia pesan, dua pesan masuk dari Ol yang
memintanya untuk datang menemuinya hanya dibaca saja. Mobil yang membawa M
sudah sampai. Dia terkejut dengan bunga papan yang sangat besar dan bagus
dengan ucapan selamat ulang tahun untuk M.
Am
tahu itu bukan bunga dari florist milinya, tapi dia sangat menyesal dengan
melupakan hari di mana M ulang tahun. Jadi ini kejutan yang orang misterius itu
ingin katakan kepadanya, kalau M sedang ulang tahun.
‘’Rupanya
M ulang tahun, aku melupaknnya,’’ keluh Am sebelum beranjak turun dari
mobilnya.
‘’Biasanya
Anda tidak pernah lupa. Tapi, sepertinya ini aneh.’’
‘’Aneh
bagiamana?’’ tanya Am terkejut.
‘’Anda
pasti punya alarm pengingat kalau sabata Anda ulang tahun, bukan? Biasanya
setelah itu Anda akan menyuruh saya untuk mengantarkan buket bunga, dan Andalah
orang pertama yang mengirim ucapan selamat dalam bentuk buket coffee shop
ini.’’
Am
mengangguk. Dia mencari sdetelan alarm handphonenya, dia mengangguk-angguk.
‘’Ini
aneh, ulang tahun M masih dua minggu lagi. Tapi, laki-laki tadi menyuruhku
dtaang ke sini dan sekarang ada papan bunga bertuliskan ulang tahun M.’’
‘’Anda
ingin saya turun dulu memastikan semua baik-baik saja?’’
‘’’Tidak,
kamu tetap di sini. Kalau terjadi hal buruk telepon pihak berwajib. Oke?’’
‘’Tapi,
Nona,’’
‘’Aku
yang memberi perintah!’’
Am
sengaja tidak emmberi tahu kedatanagnnya kepada M, dia justru ingin menanyakan
apa maksud papan bunga sebesar itu di depan coffee shopnya. Dia yang
menggunakan mantel masuk ke dalam coffee shopnya. Begitu dia masuk dan berjalan
mendekati kasaa matanya tertumbuk kepada buket bunga super mahal di dekat meja
kasir. Dia paham betul berapa harga buket bunga itu, karena dia juga mempunyai
florist.
Kasir
yang bekerja mengangguk kepada Am, ‘’Selamat malam, apakah Anda ingin memesan atau
ingin saya panggilkan Nona?’’
‘’Keduanya.’’
Am
mengulurkan cardnya untuk membayar, begitu selesai Am hendak mencari tempat
duduk. Dia memegang nomor meja yang didapat bersama struk pembelian. Dia
memutar badan dan alangkah terkejutnya dia melihat penampaan R yang duduk
membelakangi pintu masuk. Dia thu itu R tunangannya.
Am
kembali ke depan meja kasir. ‘’Boleh aku tahu siapa yang mengirim buket bunga
ini?’’ tanya Am sambil menunjuk ke buket mewah di depan meja kasir.
Kasir
itu menunjuk keraha R yang sedang duduk.
‘’Dia?’’
‘’Iya,
beliau.’’
M
keluar dari ruangannya, dia berjalan menemui Am, di saat yang hampir
berbarengan J masuk ke dalam coffee shop miliknya dari arah luar.
‘’Selamat
malam!’’ sapa J kelasa Am, dan M yang berjalan ke arah Am langsung memburu J
yang sekarang sedang berhadapan dengan Am.
R
merasa tidak asing dengan suara yang dia dengar, dia memutar badannya. Mukanya
pucat. Dia sekarang sedang sibuk memilih apa alasan yang tepat untuk semua
kejutan konyolnya, sebuha buket mahal dan papan bunga super mewah di depan
coffee shop. Belum lagi dia akan tahu kalau dia salah tanggal.



Komentar
Posting Komentar