Semua Seolah Tidak Terjadi Apa Apa
BLOG NURLAELI UMAR- R mau tidak mau harus bangun dan menemui mereka. J
tampak tenang, Am bersikap dingin, dan M tersenyum. R merasa menang dalam
permainan ini, meski dia sungguh terkejut dengan ending semuanya. Dia bahkan
hanya ingin J datang ke roomnya, lalu mereka berdua akan menemui R.
Mempermalukannya dengan hormat.
Menanggapi hal yang terjadi lebih dari yang dia harapakan, M bahkn masih memeluk J ketika R mendekat.
R manarik napas dalam-dalam. Dia mendekati Am dan
memeluk gadis itu, lalu berusaha menciumnya. Tapi, Am mendorong R, ‘’Ini hari
ulang tahun M, kita tidak harus bersaing dengan mereka berdua, bukan?’’
R mengangguk. Am memperlihatkan nomor meja miliknya,
‘’Di mejaku saja, kurasa Sayangku harus pindah meja. Tidak apa-apa, bukan?
Maafkan kami J, kukira R belum datang jadi aku memutuskan untuk memesan menu.’’
J mengangguk, mereka sekarang duduk di meja sesuai
dengan nomor meja yang ada di tangan Am. Am duduk bersebelahan dengan R,
sementara M dengan J.
‘’Bagaimana kabarmu J?’’ tanya Am.
‘’Baik, aku dan M memang ingin mengadakan kencan di
ulang tahun kami, tapi privat saja. Kau tahu, aku dan M harus secepatnya
merencanakan pernikahan.’’
‘’Sungguhkah?’’ tanya M sambil menatap J. J
mengangguk.
‘’Ah, romantic sekali. Sayangnya aku dan J ingin
membahas itu di hari ulang tahun kami, dua minggu lagi.’’
‘’Dua minggu lagi?’’ tanya R heran.
‘’Ada apa denganmu R? Sepertinya kamu ingin ulang
tahun M hari ini?’’ tanya Am menyelidik.
‘’Tidak, tidak apa-apa. Aku senang mendengarnya,
setidaknya kita nanti akan seperti mobil yang balapan, aku dangan Am dan kau J
dengan M. Bukankah begitu, Sayang?’’ tanya R ingin mendapat dukungan dari kekasihnya
Am.
“Kalau begitu, untuk menghormati orang yang sudah
memberikan bunga, dan kurasa itu mahal, aku terpaksa harus merayakan ulang
tahun M pura-pura hari ini. Tidak ada kue, tapi aku bisa memesan minum terbaik
di coffee shop ini, dan burger dengan dobel keju slice untukmu Am, bagaimana?’’
tawar J kepada Am.
Am mengangguk setuju. J bangun mendekat ke arah meja
kasir dan memanggil kepala coffee shop yang sedang sibuk mengontrol pekerjaan
anak buahnya. J mengatakan sesuatu, dan semua pekerja tampak senang.
J kembali ke meja di mana Am, R, dan M menunggunya.
‘’Apa yang kau lakukan sampai mereka begitu bahagia?’’
tanya M ingin tahu.
‘’Aku menggratiskan menu yang sama masing-masing
karyawan dua porsi. Cardku kurasa masih bisa digesek. Apakah ini cukup
menghiburmu, karena ada orang yang mengirim bunga dua minggu sebelum ulang
tahunmu tiba?’’
M mengangguk.
‘’Iya, J, aku sempat syok karena kejutan ini. Pertama,
hari ini bukan tanggal ulang tahunku, yang ke dua itu bunga mahal sekali, kau
tahu aku perencana buket di florist milik
Am, bukan? Aku merasa kasihan dengan orang itu.’’
‘’Kau tahu siapa yang mengirimnya M?’’ tanya Am
penasaran.
‘’Tidak. Orang itu menyembunyikan namanuya dengan
inisial. Kurasa inisialnya XIX, begitu kata bawahanku, aku bahkan belum
memeriksanya.’’
Selama pembicaraan R tampak lebih banyak senyum karir
dari pada ikut bicara. Am seperti biasa tidak peka dengan kekasihnya, tetapi M
tahu semuanya. M bersikap seperti tidak tahu apa-apa seperti biasa. Mereka makan
dan bicara banyak hal, semua hal yang ringan dan beberapa berita tentang
kegiatan amal yang mungkin ka mereka hadiri dua hari setelah ulang tahun M.
Kepala coffee shop mendekat, ‘’Tuan J, maaf coffee
shop akan tutup sepuluh menit lagi, sementara karyawan akan pulang tiga puluh
menit setelahnya.
J mengangguk. Mereka beermpat sudah selesai makan dan
bicara, meski sebenarnya kalau tidak ingat besok akan ada banyak janji dengan
klien masing-masing mereka bisa menambah setengah jam lagi di bangku depan
coffee shop, dan bahkan bisa pulang bersamaan waktunya dengan karyawan yang bekerja.
R bangun lebih dulu, dia mengangguk ke arah Am
kekasihnya. Am mengangguk mengiyakan, kemudian J dan M berjalan di balakang Am
dan R.
R menggaruk kepalanya yang tidak gatal. J pura-pura
tidak tahu kalau buket bunga dan papan bunga besar itu R yang mengirimnya.
‘’Kalian bawa mobil sendiri-sendiri?’’ tanya M santai
kepada Am dan R.
‘’Iya, tadi aku sibuk, jadi aku menyuruh R untuk
datang lebih dulu.’’
‘’Baiklah, pastikan supirmu membawa mobilmu dengan kecepatan
sedang saja,’’ M mengatakan itu kepada Am sahabatnya.
Am pergi dengan supirnya setelah dia memeluk R dan M, R
pergi dengan mobilnya sendiri setelah memeluk J dan mengucapkan terima kasih,
M dan J menatap mereka dari kejauhan setelah akhirnya
mobil Am dan R membaur bersama mobil-mobil lain di jalan raya. Mereka berdua
kembali ke coffe shop. M kembali ke ruangan kantornya, sementara J bicara dengan
kepala coffee shop menanyakan banyak hal
sambil memperhatikan karyawannya yang hampir selesai berbenah untuk pulang.
‘’Kau bisa menghubungi aku atau Nona M kalau ada hal
yang dibutuhkan, jangan sungkan! Terima kasih sudah bekerja untuk kami dengan
baik. Terima kasih sudah memberitahuku perihal buket bunganya. Biarkan saja
buketnya dan papan bunganya. Kamu bersama yang lain bisa membuanganya setelah
dirasa cukup layu.’’
J merogoh sakunya, dia memberikan lima lenbar uang
berwarna merah. ‘’Pakai ini, siapa tahu kamu bosan makan menu dari coffee shop
ini. Jaga kesehatanmu!’’
Kepala coffee shop itu mengangguk penuh hormat. Sementara
M sudah keluar dari ruangannya dan mendekat.
‘’Ayo, kita pulang, J!’’
J mengangguk. Mereka keluar dari coffee shop dan pergi
beriringan dengan mobilnya masing-masing. Kali ini J ingin pulang ke rumah,
setidaknya dia ingin memastikan M sampai dan akan pergi setelah M tidur.
M sekarang sangat mahir dengan mobilnya. J tersenyum
mengikuti laju mobil yang kendarai M dari belakang. Benar-benar perempupuan
yang setara dengan dirinya, batin J bangga. Sayang M tidak tahu sisi gelap dari
pria tampan sepertinya. Pria kaya dan tampan dengan banyak perusahaan dan saham
di mana-mana. Sisi gelap J sebagai kepala agen pelenyapan nyawa!
Mobil sampai dan mereka berdua masuk ke dalam rumah
setelah M memakirkan mobilnya di garasi dan J di jalan depan rumah. M paham itu
berarti J tidak akan menginap di rumah malam ini.
Begitu masuk masing-masing memebrsihakan diri, M di
kamar mandi miliknya dan J di kamar mandi miliknya. J mendapati kamarnya yang
terawat. Dia juga memastikan senjata yang diberikan kepada M ada dan aman.
‘’Kau ingin kumasakan apa, J?’’ tanya M yang muncul di
pintu kamar J.
‘’Kopi saja, segelas air putih, dan kudapan saja kalau
ada. Jangan terlalu lelah, Sayang!’’
‘’Oke, J. Setelah kamu selesai memantau rumah sebelah,
pastikan datang ke ruang depan. Kita duduk di sana saja.’’
‘’Oke, Sayang!’’
J merasa rumah sebelah yang ditempati karyawannya
semua baik-baik saja, Dia juga melihat mobil yang membawa karyawan shift ke dua
dari tiga coffee shopnya yang dikelola M sudah tiba. J peegi ke ruang depan.
Dia sudah berganti pakaian. Sekarang dia memakai celana training dan kaus saja.
‘’Kau berpakaian seperti itu sementara mobimu terparkir
di luar?’’ tanya M.
‘’Iya.’’ J mengiyakan dan setelahnya dia menyeruput
kopi bikinan M. Dia mengangguk-angguk, dan M tersenyum, itu berarti kopi
bikinannya pas dengan yang J mau.
‘’Kau tahu siapa yang mengirim bunga siapa?’’ tanya M
ingin tahu.
‘’Itu R.’’
‘’Lalu, yang mengundang Am?’’
‘’Bukan aku.’’
Seperti biasa M sibuk tidur dibelai J, karena M
meletakkan bantal kepalanya di samping duduk J, sementara J sibuk dengan
hapenya, sampai sebuah pesan masuk.



Komentar
Posting Komentar