Bab 13. Monster Pembunuh

 


Semua Seolah Tidak Terjadi Apa Apa

BLOG NURLAELI UMAR- R mau tidak mau harus bangun dan menemui mereka. J tampak tenang, Am bersikap dingin, dan M tersenyum. R merasa menang dalam permainan ini, meski dia sungguh terkejut dengan ending semuanya. Dia bahkan hanya ingin J datang ke roomnya, lalu mereka berdua akan menemui R. Mempermalukannya dengan hormat.

Menanggapi hal yang terjadi lebih dari yang dia harapakan, M bahkn masih memeluk J ketika R mendekat.

‘’Kau di sini rupanya R, sendirian atau kalian datang berdua? Maksudku kalian kencan di coffee shop ini diam-diam?’’ tanya J kepada R dan Am.

R manarik napas dalam-dalam. Dia mendekati Am dan memeluk gadis itu, lalu berusaha menciumnya. Tapi, Am mendorong R, ‘’Ini hari ulang tahun M, kita tidak harus bersaing dengan mereka berdua, bukan?’’

R mengangguk. Am memperlihatkan nomor meja miliknya, ‘’Di mejaku saja, kurasa Sayangku harus pindah meja. Tidak apa-apa, bukan? Maafkan kami J, kukira R belum datang jadi aku memutuskan untuk memesan menu.’’

J mengangguk, mereka sekarang duduk di meja sesuai dengan nomor meja yang ada di tangan Am. Am duduk bersebelahan dengan R, sementara  M dengan J.

‘’Bagaimana kabarmu J?’’ tanya Am.

‘’Baik, aku dan M memang ingin mengadakan kencan di ulang tahun kami, tapi privat saja. Kau tahu, aku dan M harus secepatnya merencanakan pernikahan.’’

‘’Sungguhkah?’’ tanya M sambil menatap J. J mengangguk.

‘’Ah, romantic sekali. Sayangnya aku dan J ingin membahas itu di hari ulang tahun kami, dua minggu lagi.’’

‘’Dua minggu lagi?’’ tanya R heran.

‘’Ada apa denganmu R? Sepertinya kamu ingin ulang tahun M hari ini?’’ tanya Am menyelidik.

‘’Tidak, tidak apa-apa. Aku senang mendengarnya, setidaknya kita nanti akan seperti mobil yang balapan, aku dangan Am dan kau J dengan M. Bukankah begitu, Sayang?’’ tanya R ingin mendapat dukungan dari kekasihnya Am.

“Kalau begitu, untuk menghormati orang yang sudah memberikan bunga, dan kurasa itu mahal, aku terpaksa harus merayakan ulang tahun M pura-pura hari ini. Tidak ada kue, tapi aku bisa memesan minum terbaik di coffee shop ini, dan burger dengan dobel keju slice untukmu Am, bagaimana?’’ tawar J kepada Am.

Am mengangguk setuju. J bangun mendekat ke arah meja kasir dan memanggil kepala coffee shop yang sedang sibuk mengontrol pekerjaan anak buahnya. J mengatakan sesuatu, dan semua pekerja tampak senang.

J kembali ke meja di mana Am, R, dan M menunggunya.

‘’Apa yang kau lakukan sampai mereka begitu bahagia?’’ tanya M ingin tahu.

‘’Aku menggratiskan menu yang sama masing-masing karyawan dua porsi. Cardku kurasa masih bisa digesek. Apakah ini cukup menghiburmu, karena ada orang yang mengirim bunga dua minggu sebelum ulang tahunmu tiba?’’

M mengangguk.

‘’Iya, J, aku sempat syok karena kejutan ini. Pertama, hari ini bukan tanggal ulang tahunku, yang ke dua itu bunga mahal sekali, kau tahu aku perencana  buket di florist milik Am, bukan? Aku merasa kasihan dengan orang itu.’’

‘’Kau tahu siapa yang mengirimnya M?’’ tanya Am penasaran.

‘’Tidak. Orang itu menyembunyikan namanuya dengan inisial. Kurasa inisialnya XIX, begitu kata bawahanku, aku bahkan belum memeriksanya.’’

Selama pembicaraan R tampak lebih banyak senyum karir dari pada ikut bicara. Am seperti biasa tidak peka dengan kekasihnya, tetapi M tahu semuanya. M bersikap seperti tidak tahu apa-apa seperti biasa. Mereka makan dan bicara banyak hal, semua hal yang ringan dan beberapa berita tentang kegiatan amal yang mungkin ka mereka hadiri dua hari setelah ulang tahun M.

Kepala coffee shop mendekat, ‘’Tuan J, maaf coffee shop akan tutup sepuluh menit lagi, sementara karyawan akan pulang tiga puluh menit setelahnya.

J mengangguk. Mereka beermpat sudah selesai makan dan bicara, meski sebenarnya kalau tidak ingat besok akan ada banyak janji dengan klien masing-masing mereka bisa menambah setengah jam lagi di bangku depan coffee shop, dan bahkan bisa pulang bersamaan waktunya dengan  karyawan yang bekerja.

R bangun lebih dulu, dia mengangguk ke arah Am kekasihnya. Am mengangguk mengiyakan, kemudian J dan M berjalan di balakang Am dan R.

R menggaruk kepalanya yang tidak gatal. J pura-pura tidak tahu kalau buket bunga dan papan bunga besar itu R yang mengirimnya.

‘’Kalian bawa mobil sendiri-sendiri?’’ tanya M santai kepada Am dan R.

‘’Iya, tadi aku sibuk, jadi aku menyuruh R untuk datang lebih dulu.’’

‘’Baiklah, pastikan supirmu membawa mobilmu dengan kecepatan sedang saja,’’ M mengatakan itu kepada Am sahabatnya.

Am pergi dengan supirnya setelah dia memeluk R dan M, R pergi dengan mobilnya sendiri setelah memeluk J dan mengucapkan terima kasih,

M dan J menatap mereka dari kejauhan setelah akhirnya mobil Am dan R membaur bersama mobil-mobil lain di jalan raya. Mereka berdua kembali ke coffe shop. M kembali ke ruangan kantornya, sementara J bicara dengan kepala coffee shop menanyakan  banyak hal sambil memperhatikan karyawannya yang hampir selesai berbenah untuk pulang.

‘’Kau bisa menghubungi aku atau Nona M kalau ada hal yang dibutuhkan, jangan sungkan! Terima kasih sudah bekerja untuk kami dengan baik. Terima kasih sudah memberitahuku perihal buket bunganya. Biarkan saja buketnya dan papan bunganya. Kamu bersama yang lain bisa membuanganya setelah dirasa cukup layu.’’

J merogoh sakunya, dia memberikan lima lenbar uang berwarna merah. ‘’Pakai ini, siapa tahu kamu bosan makan menu dari coffee shop ini. Jaga kesehatanmu!’’

Kepala coffee shop itu mengangguk penuh hormat. Sementara M sudah keluar dari ruangannya dan mendekat.

‘’Ayo, kita pulang, J!’’

J mengangguk. Mereka keluar dari coffee shop dan pergi beriringan dengan mobilnya masing-masing. Kali ini J ingin pulang ke rumah, setidaknya dia ingin memastikan M sampai dan akan pergi setelah M tidur.

M sekarang sangat mahir dengan mobilnya. J tersenyum mengikuti laju mobil yang kendarai M dari belakang. Benar-benar perempupuan yang setara dengan dirinya, batin J bangga. Sayang M tidak tahu sisi gelap dari pria tampan sepertinya. Pria kaya dan tampan dengan banyak perusahaan dan saham di mana-mana. Sisi gelap J sebagai kepala agen pelenyapan nyawa!

Mobil sampai dan mereka berdua masuk ke dalam rumah setelah M memakirkan mobilnya di garasi dan J di jalan depan rumah. M paham itu berarti J tidak akan menginap di rumah malam ini.

Begitu masuk masing-masing memebrsihakan diri, M di kamar mandi miliknya dan J di kamar mandi miliknya. J mendapati kamarnya yang terawat. Dia juga memastikan senjata yang diberikan kepada M ada dan aman.

‘’Kau ingin kumasakan apa, J?’’ tanya M yang muncul di pintu kamar J.

‘’Kopi saja, segelas air putih, dan kudapan saja kalau ada. Jangan terlalu lelah, Sayang!’’

‘’Oke, J. Setelah kamu selesai memantau rumah sebelah, pastikan datang ke ruang depan. Kita duduk di sana saja.’’

‘’Oke, Sayang!’’

J merasa rumah sebelah yang ditempati karyawannya semua baik-baik saja, Dia juga melihat mobil yang membawa karyawan shift ke dua dari tiga coffee shopnya yang dikelola M sudah tiba. J peegi ke ruang depan. Dia sudah berganti pakaian. Sekarang dia memakai celana training dan kaus saja.

‘’Kau berpakaian seperti itu sementara mobimu terparkir di luar?’’ tanya M.

‘’Iya.’’ J mengiyakan dan setelahnya dia menyeruput kopi bikinan M. Dia mengangguk-angguk, dan M tersenyum, itu berarti kopi bikinannya pas dengan yang J mau.

‘’Kau tahu siapa yang mengirim bunga siapa?’’ tanya M ingin tahu.

‘’Itu R.’’

‘’Lalu, yang mengundang Am?’’

‘’Bukan aku.’’

Seperti biasa M sibuk tidur dibelai J, karena M meletakkan bantal kepalanya di samping duduk J, sementara J sibuk dengan hapenya, sampai sebuah pesan masuk.

 

 

 

 

 

 

Komentar