Ketukan di
Pintu
BLOG NURLAELI
UMAR- Am melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara R yang merasa
dipermalukan karena kelakuannya sendiri mencoba mengikuti ke mana kekasihnya
itu pergi. Dia sangat terkejut mendapati Am mengambil jalan yang berbeda dengan
seharusnya.
R hampir saja
kehilangan jejak, karena pandangannya terhalang sebuah mobil di depannya.
‘’Sialan! Ke
mana dia?’’ teriak R di dalam mobilnya.
R ikut
mengurangi kecepatan mobilnya, padahal bisa saja dia menyalip dan menghentikan
mobilnya sehingga terpaksa Am akan menghentkan mobilnya juga. Am terlihat
menutunkan kaca depan mobilnya dan menunjukan cardnya. R tidak ikut masuk
tetapi dia membawa mobilnya menjauh dari apartemen di mana Am masuk dengan
mobilnya.
Tapi, kali
ini R tidak mabuk, dia hanya datang dan memesan sebuah minuman yang tidak
disentuhnya sama sekali. Dia bahkan hanya menatap kosong semuanya sambil duduk
melihat orang-orang yang datang mengunjungi klub mewah tempat dia sekarang
menyendiri.
‘’Selamat
malam, Tuan!’’ sapa pegawai klub yang hafal dan sering mengurus R ketika mabuk.
‘’Selamat
malam! Aku kali ini tidak berhasil mabuk. Lain kali aku akan datang dan mabuk
seperti biasa.’’
‘’Begitukah?’’
Pegawai klub
itu menjajari langkah R, dia menemani R sampai ke mobilnya. R membuka pintu
mobilnya dan masuk. Sebelum pintu ditutup kembali petugas itu mengangguk
memebri hormat. Dia terlihat lega sekali.
‘’Apa menurutmu aku perlu menarik saham dan
keanggotaan klub ini?’’
‘’Terserah
Tuan saja. Yang penting Tuan tidak mabuk lagi. Walau bagaimanapun tidak mabuk
lebih baik dari pada melarikan diri dari masalah, karena besok masalah tetap
datang lagi dan lagi.’’
‘’Malam ini
kau tetap mengurusku dengan baik. Meski, kau tidak mengantarku sampai
apartemenku, tapi ini juga mengantar. Ambillah! Aku akan pulang. Aku tetap akan
datang ke sini lain kali. Tidak untuk mabuk, tapi kau tetap harus mengurusku.’’
‘’Baik,
Tuan!’’
Am begitu
masuk ke roomnya di apartemen di mana dia berbelok dan masuk, sekarang sedang
menangis sejadi-jadinya. Dia sangat malu dengan tingakh yang R buat. Bagaimana
bisa dari milyaran perempuan yang dia dekati adalah M, sahabatnya sendiri.
Ketika dia
bahkan tidak menanggapinya, karena penelpon itu tidak mau mengatan siapa dia
dan bagaimana dia mendapatkan nomor telepon pribadinya, penelpon itu mengirim
foto di mana R benar-benar datang dan sedang duduk di coffee shop milik M.
Belum lagi
foto buket bunga yang sangat mahal dan papan bunga dengan ucapan selamat ulang
tahun untu M yang juga mewah.
Sebelum pergi
ke coffee shop milik J yang dikelola kekasihnya M, Am mengecek pesanan bunga
yang ternyata tidak ada di daftar pemesanan hari ini. Belum lagi stylenya bukan
style yang dipakai oleh floristnya, meski bunga-bunga pesanan dari floristnya
memang sama-sama mahal seperti buket dan papan bunga yang ada di depan coffee
shop yang dikelola M.
Am malu
sekaligus sakit hati. Bagaimana bisa R menyukai M yang nota bene sahabatnya,
dan M adalah kekasih dari J shabat dan rekan kerja R selama ini. Benar-benar
tidak ditolerir lagi kelakukan tunangannya itu.
Am masih
menangis sejadi-jadinya. Dia bahkan tidak ingin siapa pun menghubunginya di
saat seperti ini. Dia ingin menangis dengan puas agar besok bisa berpikir
dengan tenang. Dia harus menghadapi R, J, dan M. Tapi, yang paling berat adalah
mengahdapi M, mungkin sebaiknya dia harus meminta maaf atas kesalahan yang
dilakukan R atau entah.
Am akhirnya
tertidur pulas sampai pagi setelah menangis puas. Dia bangun karena bel roomnya
berbunyi. Ada seseorang yang mengunjungi room apartemennya. Tapi siapa sepagi
ini?
‘’Halo! Selamat
pagi M! Gimana tidurmu semalam?’’
Telepon
diangkat, tetapi tidak ada jawaban Ini aneh. Adakah M benar-benar marah karena
ulah R? Am kembali menelpon menghubungi M, tetapi tidak diangkat meski
tersambung. Dia kembali menelpon lagi.
‘’Thanks J,
aku tidak bisa. Ada seseorang yang mengetuk pintu apartemenku. Aku belum bangun
dari kasurku. Kukira tadi M. Aku hanya memastikan bukan dia sepagi ini.’’
















Komentar
Posting Komentar