Bab 14. Monster Pembunuh

 


Ketukan di Pintu

BLOG NURLAELI UMAR- Am melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara R yang merasa dipermalukan karena kelakuannya sendiri mencoba mengikuti ke mana kekasihnya itu pergi. Dia sangat terkejut mendapati Am mengambil jalan yang berbeda dengan seharusnya.

R hampir saja kehilangan jejak, karena pandangannya terhalang sebuah mobil di depannya.

‘’Sialan! Ke mana dia?’’ teriak R di dalam mobilnya.

Setelah mobil Am terlihat lagi, R menambah kecepatan agar tidak terjadi kesalahan kedua yang bisa membuat dia kehilangan jejak. Tapi, sayang kali ini R memang tidak kehilangan jejak, hanya saja benar-benar dibuat syok, karena Am melambatkan laju mobilnya menuju sebuah apartemen mewah. Apartemen yang setahu R, Am  tidak memiliki salah satu room atau bahkan menyewanya sekali pun.

R ikut mengurangi kecepatan mobilnya, padahal bisa saja dia menyalip dan menghentikan mobilnya sehingga terpaksa Am akan menghentkan mobilnya juga. Am terlihat menutunkan kaca depan mobilnya dan menunjukan cardnya. R tidak ikut masuk tetapi dia membawa mobilnya menjauh dari apartemen di mana Am masuk dengan mobilnya.

Am turun dan memberikan kuncinya kepada petugas parkir. Dia berjalan menuju lobby dan menghilang setelahnya. Sementara R yang mau tidak mau mesti pulang, akhirnya pergi menuju sebuah klub malam. Tidak lain dia akan mabuk di sana  seperti biasa dan akan pulang dengan diantar pegawainya.

Tapi, kali ini R tidak mabuk, dia hanya datang dan memesan sebuah minuman yang tidak disentuhnya sama sekali. Dia bahkan hanya menatap kosong semuanya sambil duduk melihat orang-orang yang datang mengunjungi klub mewah tempat dia sekarang menyendiri.

Sebuah pesan masuk di handphone milik R. Dia mengambilnya, dan membacanya. R mengetikkan sesuatu. Dia kemudian pergi setelahnya. Hanya dua jam saja dia berada di klub. Dia keluar bahkan sebelum meminum minuman pesanannya.

‘’Selamat malam, Tuan!’’ sapa pegawai klub yang hafal dan sering mengurus R ketika mabuk.

‘’Selamat malam! Aku kali ini tidak berhasil mabuk. Lain kali aku akan datang dan mabuk seperti biasa.’’

Pegawai klub itu tertawa. ‘’Akan lebih baik seperti ini. Meski saya mendapat uang tambahan dari klub, tapi saya lebih suka melihat Tuan seperti ini.’’

‘’Begitukah?’’

Pegawai klub itu menjajari langkah R, dia menemani R sampai ke mobilnya. R membuka pintu mobilnya dan masuk. Sebelum pintu ditutup kembali petugas itu mengangguk memebri hormat. Dia terlihat lega sekali.

R menutup pintu mobilnya, tapi dia menurunkan kacanya dan memanggil pegawai itu mendekat. Pegawai klub yang biasa mengurus R menurut saja.

 ‘’Apa menurutmu aku perlu menarik saham dan keanggotaan klub ini?’’

‘’Terserah Tuan saja. Yang penting Tuan tidak mabuk lagi. Walau bagaimanapun tidak mabuk lebih baik dari pada melarikan diri dari masalah, karena besok masalah tetap datang lagi dan lagi.’’

R kemudian mengulurkan sejumlah uang ke luar mobilnya kepada pegawai klub itu. Pegawai klub menolak.

‘’Malam ini kau tetap mengurusku dengan baik. Meski, kau tidak mengantarku sampai apartemenku, tapi ini juga mengantar. Ambillah! Aku akan pulang. Aku tetap akan datang ke sini lain kali. Tidak untuk mabuk, tapi kau tetap harus mengurusku.’’

‘’Baik, Tuan!’’

Uang yang diberikan R diterima oleh pegawai klub itu. Setelahnya R pulang dan menghilang dari area parkir klub mewah di mana dia kerap datang ke sini setiap ada masalah. Dia selain member dengan hak  berbagai macam fasilitas mewah, dia juga salah satu pemegang sahamnya.

Am begitu masuk ke roomnya di apartemen di mana dia berbelok dan masuk, sekarang sedang menangis sejadi-jadinya. Dia sangat malu dengan tingakh yang R buat. Bagaimana bisa dari milyaran perempuan yang dia dekati adalah M, sahabatnya sendiri.

Dia menerima telepon dari seseorang dengan nomor yang tidak dia kenal, orang itu mengatakan dia harus datang secepatnya ke coffee shop milik J yang dikelola kakasihnya M.

Ketika dia bahkan tidak menanggapinya, karena penelpon itu tidak mau mengatan siapa dia dan bagaimana dia mendapatkan nomor telepon pribadinya, penelpon itu mengirim foto di mana R benar-benar datang dan sedang duduk di coffee shop milik M.

Belum lagi foto buket bunga yang sangat mahal dan papan bunga dengan ucapan selamat ulang tahun untu M yang juga mewah.

Dari situ Am akhirnya paham apa yang sedang terjadi. Apalagi, dia tahu benar hari ulang tahun Am sahabatnya jatuh dua minggu lagi. Dan, dia tahu benar, Am tidak pernah merayakan ulang tahun dengan pesta. Jadi, tidak mungkin ada buket bunga sebesar dan semahal itu kecuali itu ulah R tunangannya yang tidak tahu apa-apa tentang Am sahabatnya.

Sebelum pergi ke coffee shop milik J yang dikelola kekasihnya M, Am mengecek pesanan bunga yang ternyata tidak ada di daftar pemesanan hari ini. Belum lagi stylenya bukan style yang dipakai oleh floristnya, meski bunga-bunga pesanan dari floristnya memang sama-sama mahal seperti buket dan papan bunga yang ada di depan coffee shop yang dikelola M.

Ketika dia datang, lalu J juga hadir, sementara keluar dari ruangan kerjanya, saat itu dia tahu R sedang dipermalukan oleh J dan M, dan dirinya. Di satu sisi dia senang memergoki sendiri bagaimana R tunangannya sudah keterlaluan, di satu sisi dia tidak punya harga diri di hadapan M dan J, meski Am tahu keduanya sudah tahu banyak sepak terjang R yang memang tidak bisa dibanggakan itu.

Am malu sekaligus sakit hati. Bagaimana bisa R menyukai M yang nota bene sahabatnya, dan M adalah kekasih dari J shabat dan rekan kerja R selama ini. Benar-benar tidak ditolerir lagi kelakukan tunangannya itu.

Seharusnya tinju J melayang ke rahang atau dada R tadi, tapi Am tahu itu tidak akan pernah terjadi. Orang sekelas M dan J sangat menjaga sikapnya. Tapi, sungguh ketidakadaan tinju itu lebih menyakiti hati Am saat ini. Di mana-mana rasa malu itu lebih membunuh dari pada sebuah pukulan KO.

Am masih menangis sejadi-jadinya. Dia bahkan tidak ingin siapa pun menghubunginya di saat seperti ini. Dia ingin menangis dengan puas agar besok bisa berpikir dengan tenang. Dia harus menghadapi R, J, dan M. Tapi, yang paling berat adalah mengahdapi M, mungkin sebaiknya dia harus meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan R atau entah.

Am tahu tadi mobil R berusaha mengikutinya. Untung dia sudah membeli salah satu room di apartemen ini. Dia bahkan membelinya cash. R pasti akan sangat terkejut, karena harga apartemen di sini sepuluh kali lipat dari harga apartemen tempat R tinggal. R pasti akan bicara buruk dan mencurigainya menjadi kekasih seseoarng. Andai itu besok terjadi dia akan mengiyakan saja, agar pertunangannya dengan R batal secepatnya.

Am akhirnya tertidur pulas sampai pagi setelah menangis puas. Dia bangun karena bel roomnya berbunyi. Ada seseorang yang mengunjungi room apartemennya. Tapi siapa sepagi ini?

Am tidak ingin membuka pintunya atau memberi akses orang itu masuk dan mengacaukan paginya. Dia memastikan dengan menelpon M. Dia ingin tahu bagiaman kabar M pagi ini. Sepertinya dia akan memilih makan di luar dan membahas atau tidak membahas sama sekali kejadian kemarin sore karena ulah R.

‘’Halo! Selamat pagi M! Gimana tidurmu semalam?’’

Telepon diangkat, tetapi tidak ada jawaban Ini aneh. Adakah M benar-benar marah karena ulah R? Am kembali menelpon menghubungi M, tetapi tidak diangkat meski tersambung. Dia kembali menelpon lagi.

Kali ini telepon diangkat. ‘’Halo, ini aku J, M sedang sibuk membikin kopi. Datanglah kemari, aku akan bersiap pergi setelah minum kopi. Kalian bisa bicara sambil minum kopi. Aku tahu malammu pasti berat.’’

‘’Thanks J, aku tidak bisa. Ada seseorang yang mengetuk pintu apartemenku. Aku belum bangun dari kasurku. Kukira tadi M. Aku hanya memastikan bukan dia sepagi ini.’’



 

 

Komentar