Bab 46. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


Bab 46

Sesal yang Datang

BLOG NURLAELI UMAR- Def sudah duduk menungguku di depan pintu masuk kelas, ketika aku datang. ‘’Dianterin siapa?’’ tanya Def tiba-tiba.

‘’Berangkat sendiri,’’ kataku sambil terus melangkah masuk ke kelas.

Def menjajari langkahku. Aku menyapu kelas dengan mataku, ‘’Kamu duduk sama aku di bangku paling depan.’’ Def mengatakan itu, dan aku mengangguk. Aku melihat semua sudah terisi, kecuali meja di depan meja guru.



Aku meletakkan tasku dan duduk, Def melakukan hal yang sama.

‘’Laura, kemarin aku nyari kamu, kamunya udah ngilang. Kamu pulang bareng siapa?’’

Aku menoleh ke arah Def, ‘’Aku pulang bareng kakak pacarku.’’

Def menatapku tidak percaya, aku mengangguk. Setelahnya aku membuang muka, aku melihat ke arah pintu. Nino baru datang, dia menatapku, sekilas kemudian dia bicara dengan temanku yang lain yang masuk bersamanya.



‘’Kakak pacarmu, maksudmu kakak mantanmu? Kok, bisa? Jadi dia yang kemarin nge-chat kamu?’’

Aku menoleh ke arah Def lagi. ‘’Aku gak tahu dia atau bukan, yang jelas dia kemarin ada di depan gerbang, terus aku diajakin pulang bareng. Ya, aku terus ikut pulang. Lumayan ngirit ongkos, bukan?’’ kataku sekenanya.

Perkara aku pulang dengan siapa itu bukan urusan Def, toh, kemarin dia pulang berboncengan dengan pacarnya. Tidak etis kalau kubilang kemarin bla-bla-bla sehunungan dengan dia pulang bareng pacarnya itu. Itu akan terbaca cemburu, dan itu membuatku merasa aku berada satu level di bawah harga diriku.



‘’Oke, aku salah, aku kemarin bilang mau pulang sama kamu. Aku akhirnya pulang bareng pacarku. Tapi, kamu gak boleh pulang sama kakak mantan atau pacarmu itu. Yazi, bukan nama mantan atau pacarmu itu?’’

Aku mengangguk. Aku membiarkan Def bicara lebih banyak lagi, isinya nasihat kalau itu berpotensi bla-bal-bla, berbahaya, jangan-jangan chat yang masuk sebelumnya itu memang dari Yaza, dan aku gak boleh melakukannya lagi, maksudku aku gak boleh pulang dengan Yaza, kalau suatu saat Yaza menjemputku.

Aku menatap papan tulis, karena tidak mungkin aku bicara dengan Def saling tatap terus menerus, sesekali aku juga melihat ke arah pintu. Aku tidak mau aku dicap ini dan itu, hanya karena hari ini aku dan Def satu meja, sementara kemarin Def dan pacarnya pulang bersama.



‘’Laura, kamu diem aja, kenapa?’’

‘’Gak papa. Bicara aja, aku dengerin.’’

‘’Kok, kamu gitu?’’

‘’Ibuku bilang, kalau ada orang yang menasihati dengerin aja. Mau dipakai silakan mau enggak juga silakan. Tapi, gak boleh menampik.’’

Def terdiam seketika. Aku menoleh ingin tahu apa reaksi Def. Dia menunduk. Aku membiarakan Def begitu. Aku tidak ingin menebak apa yang dia pikirkan dan rasakan. Hari ini aku kepalaku sedang tidak ingin berpikir banyak, aku ingin fokus belajar dan nanti istirahat aku ingin makan siomay.



Bel masuk berbunyi, sepanjang jam pelajaran ke satu sampai ke tiga aku sama sekali tidak bicara dengan Def. Begitu bel istirahat berbunyi aku langsung bangun dari dudukku, setelah aku menutup buku dan membiarkannya ada di atas meja.

Nino tahu-tahu sudah menyusul langkahku. ‘’Kamu dari tadi dipanggil-panggil diem aja. Ngucluk, kayak gak punya telinga dan di sekolah ini cuma ada kamu dan lorong sekolah aja. Yang lain alien semua, termasuk akau, ya?’’



Aku tertawa.

‘’Kenpaa ketawa?’’

‘’Emang kamu alien. Gimana pacarmu. Apa aman kamu jalan ke kantin barenga aku?’’

‘’Aman.’’

‘’Dasar playboy cap kampret.’’

‘’Pacarku gak seposesif pacarnya Def, santai aja. Dia udah chat katanya dia ada di kantin, dan aku bilang aku ke kantin bareng kamu.’’

Kantin penuh, Nino pergi ke benua lain maksudku ke kantin sebelah menemui pacarnya, aku masuk ke kantin yang menjual siomay. Aku main duduk saja, aku tidak tengok kanan kiri lagi. Di bangku yapanjang yang kududuki semuaa penghuninya perempuan, meski di seberang yang berhadapan hanya di depanku saja yang kosong.



Penjual siomay datang mengantar pesanan dan aku langusng memesan. Dia mengiyakan, aku mengulurkan uangnya. ‘’Semua ini?’’ Aku mengangguk.

Aku tahu aku memesan dua porsi sekaligus dalam satu piring, dan itu membuat penjual siomay sedikit terheran. Dia hafal apa saja yang biasa kupesan. Mungkin karena aku tidak mudah dilupakan, begitu kata teman-teman setiap makan siomay bersama denganku di kantin. Aku tahu itu hanya jokes saja. Tapi harus kuakui daya ingat penjual siomay terutama tentang  aku luar biasa.

Aku lupa belu memesan minumnya, tapi biarlah nanti saja. Handphone berbunyi ada pesan masuk sepertinya. Benar saja, sebuah pesan dari Riana. Tidak ada yang terlalu penting, Riana hanya mengatakn kapan-kapan ingin main ke rumahku. Aku mengiyakan dan mengatakan aku ada kapan saja untuk dia meski bukan hari libur, asal aku sudah pulang sekolah.



Baru saja selesai membaca pesan dari Riana, ada pesan masuk dari Yazi; Gimana harimu? Aku menjawab hariku baik. Aku tidak menanyakan bagiaman harinya. Dia mengirim pesan mengatakan harinya baik, dia ingin kapan-kapan mengajakku makan lagi. Dia ingin makan di tempat kemarin Yaza mengajakku.

Aku gak mau, kataku kepada Yazi. Yazi emnayakan kenapa? Aku beralasan aku kurang suka, aku ingin makan di dekat tumahku saja, atau di kota ini kalau Yazi mau. Dia mengatakan ‘iya’ dan ‘terima kasih’.

Makan di tempat Yaza kenarin, dengan reflex aku menolak, entah kenapa. Mungkin aku merasa sedikit bersalah, karena aku makan bersama kakaknya. Tapi, situasi kemarin tidak memungkin aku menolaknya. Selain itu Yaza juga sangat sopan dan sudah memberi tumpangan.



Pesanan siomay datang bersama es teh manis. Aku mengeluarkan uang, tetapi tukang siomay menolaknya. ‘’Tadi uangnya udah termasuk es ini. Saya gak mungkin ngasih semua siomay, itu terlalu banyak.’’

Aku menagngguk dan mengucapakan terima kasih. Tetap saja, porsi yang kupesan terlalu banyak untukku. Aku tertawa dalam hati, untung saja penjual siomaynya kenal aku, kalau tidak entah kapan siomay yang kupesan akan habis. Ini saja masih teralalu banyak, meski sebagian diganti es teh manis.

Tiba-tiba aku merasa apa yang kulakukan kemarin salah. Aku merasa sangat menyesal. Aku sadar seharusnya aku tidak pulang bersama kakaknya Yazi, apalagi kalau timbul salah paham. Aku memang tidak ada rasa, tapi kalau kakaknya Yazi menaggapi lain? Ini akan berabe!



Nasihat Def ada benarnya. Dia cowok, pasti lebih tahu apa yang dipikirkan cowok. Ah, kenapa kemarin harus ada cerita seperti itu, keluhku dalam hati. Ada rasa perih dan menyesal datang bersamaan sekarang.

Aku membaca pesan yang masuk kemarin, Jangan-jangan itu memang oesan dari kakaknya Yazi, tapi dari nomor di hape yang lain. PIringku tiba-tiba maju dari dudukku. Ketika kuangkat wajahku, siomay di piringku sudah masuk ke mulutnya.

‘’Def?’’

‘’Iya. Ini sioamy kebanyakan, kalau gak habis mubadzir. Kalau dihabisin perutmmu bakalan sakit kekenyangan.’’



Piring disorong ke depanku lagi, tangan Def meraih gelasnya dan minumanku diminum tanpa permisi dan tanpa merasa bersalah.

‘’Es tehnya kebanyakan. Ini porsi buat dua orang.’’

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku mengambil piring siomay dan memakannya. Def meletakkan gelas es teh, kemudian menarik piring siomayku. Dia memakannya lagi.

Aku ingin memprotesnya, tapi hal itu akan menjadi pusat perhatian semua anak yang masuk ke kantin. Belum lagi nantinya akan menjadi bahan gossip murahan. Aku memilih diam. Aku dan Def saling bertukar piring siomay dan gelas es teh sampai semuanya habis.


 

 Untuk membaca bab yang diinginkan, ketik; Bab spasi nomor bab titik spasi judul novel di kolom pencarian kanan atas blog.atau Bab spasi nomor bab spasi judul

Contoh;

Bab 1 : Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

Bab 1 Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 

 

 

 

 

Komentar