Bab 47. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


Aduh Ini Gimana Konsepnya

BLOG NURLAELI UMAR- ‘’Siapa ini?’’

‘’Def.’’

“Pacarmu?’’

“Bukan, temen.’’

‘’Tapi, aku ngelihatnya sih, dia suka sama kamu, dan kurasa kamu juga suka sama dia.’’

Aku meraih hapeku yang tadi kuberikan kepada Riana. ‘’Udah kubilang cuma temen.’’

‘’Apa kamu yakin?’’ tanya Riana yang sengaja datang ke rumahku.

‘’Yakin.’’

‘’Tapi, Def yang kamu bilang itu dia benar-benar menyukaimu.’’

‘’Dia udah punya pacar.’’

Riana mengangguk-anggukan kepalanya. Dia sekarang menatapku. ‘’Tapi, aku ragu.’’

‘’Apa lagi? Udah kubilang kalau aku sama Def gak ada apa-apa.’’

‘’Aku, sih, ngiranya gini. Kamu selama ini nolak Yazi karena Def.’’

‘’Nolak gimana? Aku sama Yazi udah baikan, dia udah datang ke sini dan kita makan baso bareng.’’



Riana memang sengaja datang ke rumahku. Selama hampir tiga tahun berpisah, ini kali pertama dia datang ke rumahku. Alasannya ingin minta pendapatku tentang perguruan tinggi mana yang mesti dia pilih, juga tentang jurusannya yang kira-kira cocok buat dia masuki..

Aku tahu itu bukanlah alasan utamanya, yang jelas dia itu kangen, sekaligus ingin tahu bagaimana hubunganku dengan Yazi. Jangan-jangan dia sebenarnya sudah mengorek informasi kalau aku sama Yazi sudah makan bareng, hampir mirip kencan tipis-tipis pendekatan.


Sekarang giliranku, ’Coba sekarang mana teman satu kelasmu atau teman yang deket sama kamu di sekolah. Kamu juga gak pernah nge-spill pacar kamu. Kamu curang, kamu tahu semua tentang aku sama Yazi, tapi aku gak pernah dikasih tahu crush-mu.’’

Riana tertawa. Ibuku datang membawa sepiring mangga yang sudah dikupas dari belakang. ‘’Ini mangga dari pohon belakang rumah. Kalian sudah lama gak ngobrol begini.’’

Riana bangun dan bersalaman dengan ibuku. Dulu Riana paling hobi makan mangga di rumahku kalau sedang musim mangga. Mungkin juga itu alasan lain Riana datang ke rumahku.


Kalau Riana datang, dia lebih senang bicara dengan ibuku. Terutama cerita tentang kabar kesibukan ibunya. Tapi, kali ini ibuku sepertinya tidak akan seperti itu, karena aku melihat tetangga sebelah rumah sudah membawa baskom yang dibungkus taplak meja. Kurasa mereka janjian akan datang ke salah satu tetangga yang lain atau saudara untuk sebuah undangan. Biasanya itu undangan perayaan kehamilan atau khitanan.

‘’Kalain makan berdua. Ibu akan pergi ke rumah saudara tetangga itu. Laura, kamu nanti ajak makan Riana.Ibu sudah masak ikan kuah santan kesukaanmu.’’


Aku dan Riana sama-sama mengangguk. Ibu masuk ke dalam dan keluar lagi dengan benda yang sama dengan yang dibawa tetangga selebah rumah, cuma beda dengan tetangga hanya corak dan warna taplak meja yang dipakai saja. Isisnya juga kurang lebih sama; beras, mie atau bihun mentah dan tempe bungkus daun.

‘’Laura, kamu tahu kakaknya Yazi, kan?’’ tanya Riana setelah ibu keluar rumah dan tampak sedang berdiri di depan pagar  kurasa ibuku sedang menunggu yang ibu-ibu yang lain.

‘’Iya, kenapa? Kamu suka sama dia?’’ tanyaku tanpa banyak berpikir.

‘’Kalau dia mau sama aku, aku mau sama dia. Sayanganya kata Yazi dia udah punya pacar.’’


Entah kenapa aku merasa menjadi tertuduh. Semoga pulang bareng tempo hari dengan kakaknya Yazi  dianggap sebagai kencan oleh kakaknya Yazi.

‘’Anak mana?’’ tanyaku ingin tahu selanjutnya.

‘’Gak jauh dari rumahku. Aku pernah beberapa kali lihat dia ngobrol di depan rumahnya. Tepatnya sih, di jalan depan rumah ceweknya.’’

‘’Terus?’’ tanya makin penasaran.


Kalau kakaknya Yazi memang benar punya pacar, berarti pesan aneh itu memang benar bukan dari kakaknya Yazi, pesan yang mengatakan akan menjemputku. Kakaknya Yazi memang benar-benar kebetulan lewat sekolahku dan pulang dari rumah teman kuliahnya. Kebetulan juga dia melihatku, jadi dia menawariku tumpangan.

Aku menarik napas lega. Tapi, sepertinya tarikan napas legaku terlihat ileh Riana.

‘’Kenapa, Laura? Kamu punya rahasia juga?’’

‘’Rahasia apa?’’

’’Aku gak tahu. Mungkin kamu ingin bilang sesuatu sampai narik napas begitu. Atau, ingat sesuatu dan mau bagi-bagi ke aku, misalnya.’’

“Gak. Ayo, kita makan mangganya! Kasihan dianggurin, nanti jadi anggur beneran.’’


Ibuku sudah pergi dengan ibu-ibu yang lain. Riana tertawa mendengar joke dariku. Kami akhirnya makan mangga bersama. Sesekali dia mengambil kue lemper yang aku dan ibuku bikin tadi sebelum Riana datang.

‘’Eh, tadi kamu belum kasih tahu cowokmu. Kamu kan paling pinter ngambil hati cowok, Riana.’’

Riana tertawa, ‘’Bukan sebaliknya? Sayang aja kamu cuma cinta sama Yazi. Kalian itu kayak kucing sama anjing. Jauh pengen deket, giliran deket saling menjauh.’’

‘’Cowokmu mana? Jangan mengalihkan pembicaraan!’’


Riana mengambil hapenya yang dia letakkan di meja. Dia sibuk dengan hapenya, sampai akhirnya. ‘’Ini, yang ini!’’ katanya sambil memperlihatkan foto dari hapenya.

Aku menerima hapenya Riana dan memperhatikan foto cowok yang ada di hape.

Aku mengangguk-angguk. Cowok di foto itu setipe dengan Yazi dan kakaknya. Selera Riana seperti itu. Mungkin lebih tepatnya  aku dan Riana suka dengan tipe cowok yang sama.

‘’Sedikit mirip Yazi dan lebih banyak mirip kakaknya Yazi.’’

‘’Ya, tapi, aku sama dia udah putus. Kami pacaran cuma tiga bulan.’’


‘’Hei, tiga bulan? Ada apa sama tiga bulan itu, sampai-sampai gak ada kabar ke aku. Kamu selingkuh?’’

Riana mengelengkan kepalanya. ‘’Dia mesti pindah ke luar pulau. Jauh ke Kalimantan.’’

‘’Tapi, kan kalian masih bisa kontekan. Apa gunanya hape sama pulsa yang kamu beli kalau gak dimanfaatin.’’

‘’Akunya gak masalah, tapi dia gak mau. Dia takut di sana dia jatuh cinta, dan belum tentu ketemu lagi juga.’’


‘’Sad ending, donk.’’ Aku menepuk-nepuk lengan atas Riana.

‘’Aku nangis tahu tiga hari tiga malam.’’

‘’Salah sendiri.’’

‘’Salah apanya?’’

‘’Gak mau bagi cerita, kan kalau bagi cerita aku bisa ngehibur kamu.’’


Riana tertawa. ‘’Tapi, sekarang meski masih sedih udah lebih baik. Gak mau cerita karena kamu aja sama Yazi gak pernah jadian. Kemarin kamu makan baso sama Yazi, tapi belum jadian juga, kan?’’

Aku tertawa. Aku tahu Riana sedang meledekku.

‘’Gas, Laura, gas! Let’s go!’’

‘’Kamu itu maunya aku sama Def apa sama Yazi?’’ tanyaku sambil tertawa.

‘’Dua-duanya aja. Kalau bisa dua kenapa harus satu?’’

Aku menimpali pernyataannya. ‘’Kalau bisa dua kenapa gak tiga, itu yang bener.’’


Kami berdua tertawa. Seseru ini memang kalau aku sama Riana bertemu, yang penting tidak ada orang ke tiga. Riana akan menjadi kaku dan sedikit menjaga jarak kalau ada orang lain, apalagi itu tetangganya dia yang pernah jadian dengan Yazi meski cuma seminggu atau dua minggu itu.

Aku dan Riana akhirnya bicara tentang kemungkinan mengambil jurusan kulian dan perguruan tinggi yang menarik minat masing-masing dari kami. Dia tampak bersemangat.

Tiba-tiba, ada suara motor berhenti di depan pagar. Pintu rumah yang terbuka membuat aku dan Riana bisa melihat siapa yang datang. Astaga, itu adalah Yaza!

Dalam hati aku berdoa semoga Yaza tidak datang untukku, tapi ada urusan dengan Riana. Riana kenal baik Yaza dibanding aku.


Pintu pagar yang terbuka sedikit digeser. Yaza mengucapkan salam begitu masuk ke dalam pagar.Dia melakukan itu karena melihat pintu rumah terbuka tentu saja.

Aku dan Riana bangun dari duduk. ‘’Waalaikummussalam!’ Aku keluar menemui Yaza.

Yaza tampak tenang meski melihat Riana ada bersamamaku. Yaza memberikan sekantung plastik. Aku melihat ada beberapa bungkus makanan di dalamnya.


‘’Aku gak dipersilakan duduk?’’ tanya Yaza.

‘’Oh, iya. Kita duduk di luar aja. Gak keberatan, kan?’’ tanyaku kepada Yaza dan Riana.

Mereka berdua mengangguk setuju.

‘’Ini buat aku apa memang beli buat Riana?’’ tanyaku pura-pura tidak paham.

‘’Buat kamu. Tapi, karena ada temanmu, makan aja kalian berdua.’’


Aku mengangguk, lalu mempersilakan Yaza dan Riana duduk. Aku izin masuk. Ternyata Riana juga ikut masuk dan memindahaan kue lemper, minuman dan mangga ke meja teras. Sementara aku yang meletakkan bungkusan dari Yaza di meja teras lanjut masuk dan mengambil tiga mangguk dan tiga gelas kosong.

Aduh! Batinku. Ini bagaimana? Maksudku bagaimana aku menjelaskan ini kepada Riana.




 

 

 

 

 

 

Komentar