Bab 48. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku

 


48, Interogasi Riana

BLOG NURLAELI UMAR- Akhirnya Yaza pulang bersama dengan Riana. Tidak ada pembicaraan khusus tentang kedatangan Yaza, apalagi bicara tentang Yazi. Aku, Riana, dan Yaza hanya bicara tentang kuliah dan jurusan yang akan diambil Riana. Aku tidak ikut dibahas, karena Riana mendominasi percakapan kami bertiga.

Yaza juga bersikap sangat sopan. Matanya biasa saja seolah aku dan dia sudah berteman lama. Yaza lebih banyak bercanda dengan Riana, sedangkan aku lebih banyak mengangguk-angguk dan tersenyum. Sesekali tertawa kecil.

Yaza sempat tertangkap mata tengah memperhatikanku ketika aku tertawa. Tapi, sekilas kemudain dia bersikap biasa saja.

Aku merasa lega dan sangat terbantu dengan cara Riana menguasai pembicaraan. Aku tidak cemburu. Dia sangat membantu hingga aku tidak perlu menjelaskan apa-apa.

Aku tahu Riana tidak sepolos itu, pasti dia tahu ada apa-apanya sampai Yaza berani main ke rumahku. Kalau dia polos, justru dia akan berterus terang menanyakan kedatangan Yaza, dan menginterogasiku saat itu juga.

Sampai pulang benar-benar Riana bermain apik. Aku tahu ini akan ada kelanjutannya. Tidak mungkin Riana menginterogasi Yaza, apalagi mengkonfirmasi kedatang Yaza kepada Yazi.

Benar saja, menjelang isya Riana mengirim pesan; Kamu sama Yaza ada apa?

Aku menjawab; Kan, udah kamu lihat tadi kita ngomong apa dan gimananya.

Riana membalas pesanku; Itu karena aku tidak ingin mempermalukan Yaza, secara kamu tahu Yaza itu pacarnya tetanggaku, bukan? Aku kayaknya udah cerita, deh.

Aku membalas singkat saja; iya.

Riana makin penasaran, dia mengirim pesan lagi; Kayaknya ada yang gak aku tahu. Ada apa? Apa kamu sekarang sama Yaza, kamu udah gak sama Yazi? Apa Yazi tahu semua ini? Aku gak mau nanya ke Yazi, aku mau tahu dari kamu langsung.

Aku membalas pesan Riana lagi. Kali ini aku harus berterus terang; Gini, aku gak ada hubungan apa-apa sama Yaza, tapi aku pernah pulang sekolah bareng sama Yaza.

Riana dengan cepat membalas pesanku; Kamu dijemput?

Aku harus menceritakan kronologinya karena aku tidak ingin Riana salah paham. Aku membalas pesan dari Riana; Waktu itu aku keluar gerbang, terus tiba-tiba ada Yaza, katanya dari rumah temannya. Kamu tahu, kan, kalau sekolah Yaza dulu di samping sekolahku. Dan, teman Yaza banyak. Katanya ada teman dekat situ. Tapi ….

Riana makin penasaran. Sama, aku juga kalau di posisi Riana akan sangat penasaran, apalagi Riana tahu kalau aku dan Yazi kami saling menyukai. Riana mengirim pesan lagi; Tapi, apa?

Aku membalas pesan Riana; Sumpah aku gak ngapa-ngapin sama Yaza. Sebelum aku keluar sekolah ada pesan masuk. Pesan itu bilang aku bakalan dijemput.

Riana langsung bereaksi, dia mengirim pesan lagi; Terus gimana?

Aku melanjutkan ceritaku, aku membalas pesan Riana;  Kebetulan ada Yaza, kamu tahu aku bingung banget waktu itu. Karena nomor itu ternyata bukan punya Yaza, aku udah ngecek.

Aku melanjutkan pesan di bawahnya; Aku memanggil nomor itu tersambung, tapi hape Yaza gak ada reaksi tetap diam. Berarti yang mengirim pesan bukan Yaza. Ya, aku akhirnya mau ikut dibonceng dia. Kita pulang bareng.

Riana terus ingin mendapatkan kejelasan, dia mengirim pesan lagi; Kamu ke mana aja sama dia? Maksudku sama Yaza. Terus apa Yaza minta kamu jadi pacarnya atau gimana?

Aku menarik napas panjang. Aku kembali mengetik dan membalas pesan Riana; Aku sama dia cuma mampir makan di warung nasi, karena dia lapar. Aku sama dia gak bahas apa-apa sama sekali.

Riana masih mengejarku, dia kembali mengirim pesan; Kamu terus ada rasa atau gimana? Kok, bisa sampai akhirnya Yaza main ke rumahmu? Atau kalian memang jadian.

Aku menelpon Riana. Ini tidak akan selesai kalau kami masih saling balas chat. ‘’Halo, Riana!’’

Riana yang menerima panggilanku langsung menjawab, ‘’Iya, halo!’’

‘’Aku mau kita ketemu sekarang. Aku ke rumahmu?’’

‘’Gak usah. Kita makan baso dekat rumahmu. Tempat yang kemarin kamu sama Yazi makan. Gimana?’’

‘’Oke. Apa aku harus panggil Yazi juga?’’

‘’Heh, gak gitu juga mainnya, Laura! Udah kita ketemu aja. Tunggu aku di depan rumahmu. Kamu jangan pergi ke tukang baso dulu!’’

‘’Oke. Gak pake lama, ya!’’

Tiga puluh menit kemudian aku mendengar suara motor Riana, kemudian dia mengucaokan salam. Ada ibuku yang akan berangkat ke mushola yang letaknya tidak jauh dari rumah untuk mengantarkan kue yang dibikin tadi menjelang sore,  karena ada acara di sana.

Riana benar-benar datang ke rumahku. Aku bahkan belum keluar rumah. Dia bertemu ibuku di depan rumah dan meminta izin mengajakku makan baso. Aku mendengarnya ketika aku berjalan keluar rumah.

Ibuku pergi, kemudian aku dan Riana pergi ke warung baso. Dia yang memesan, tapi aku bersikeras yang akan membayarnya. Dia akhirnya mengiyakan.

‘’Kamu boleh tanya sebanyak apa pun tentang aku sama Yaza.’’

Riana tertawa, ‘’Laura, aku sebenarnya gak masalah kamu sama Yaza, tapi Yaza sama Yazi itu kakak beradik. Masak iya, kamu gak jadian sama adiknya, terus mau jadian sama kakaknya.’’

‘’Aku gak ada perasaan apa-apa sama Yaza. Tapi, apa yang kamu bilang masuk di akal. Aku gak bisa bayangain gimana perasaan Yazi, dia pasti merasa dikhianati sekaligus dibuang.’’

‘’Nah, itu. Terus apa kamu tahu kalau Yaza udah putus sama tetanggaku atau belum, bukan? Please, Laura, jangan bikin maslaah yang bakalan bikin kamu sakit sendiri. Aku bukan gak suka kamu jadian sama Yaza, tapi ini gak baik buat hubunganmu juga kalau kamu jadian.’’

Aku mengangguk-angguk. ‘’Sebenarnya aku gak kepikiran sampai jadian, gak sama sekali. Kupikir Yaza juga pure baik sama aku.’’

‘’Dia laki-laki. Banyak akal. Bisa jadi kamu gak ada rasa sama sekali, tapi buktinya bisa-bisanya Yaza main ke rumahmu. Kamu gak pernah kepikiran itu, bukan, sebelumnya?’’

‘’Iya, juga. Kalau emang Yaza mau main, udah dari lama dia bakalan main. Toh, Yaza sering main ke dekat sini. Kamu tahu sahabatnya dia yang suka ke mana-mana bareng dari SMP dulu?’’

‘’Nah, itu. Berarti Yaza emang gak sepolos itu ke kamu. Tolong pertimbangkan perasaan Yazi juga.’’

Aku paham apa yang Riana takutkan. Meski seandaianya Yazi memang tidak pernah ada kelanjutannya denganku, aku juga tetap tidak mungkin ada hubungan dengan Yaza. Akan aneh dan tetap jatuhnya Yazi tersakiti juga.

‘’Iya. Aku bakalan nyelesaiin ini. Tapi pakai caraku sendiri. Kamu percaya sama aku, kan, Riana?’’

‘’Iya, sejak kapan aku gak percaya sama kamu. Tapi, aku justru gak percaya sama Yaza. Bisa jadi selama ini Yazi gak pernah ngasih tahu hubunganmu sama dia yang menggantung dan gak pernah jelas ke kakaknya, tapi kamu kan tahu.’’

‘’Iya, aku paham. Sungguh aku gak pernah kepikiran sampai jadi begini.’’

‘’Untung aku tadi ada main ke rumahmu, coba kalau enggak, gak ada alasan kamu nolak Yaza, bukan?’’

‘’Iya, juga. Kalau gitu terima kasih udah datang ke rumahku, dan bantuin bikin suasana baik-baik aja. Asal kamu tahu aku sempat panas dingin, bingung ngasih tahu kamu gimaa dan mesti gimana ngadepin Yaza juga.’’

Setelah itu aku dan Riana tidak membahas tentang Yaza lagi, tapi justru tentang Yazi. Aku juga bingung aku dan Yazi itu ending bakal bagaimana. Selebihnya dia banyak cerita tentang kucingnya.

Iya, sudah lama Riana tidak bercerita tentang kucingnya yang ternyata sudah berubah menjadi tiga. Mereka bertiga anak dari induknya yang sekarang sudah mati. Induk kucing itu selalu menyapaku setiap aku ke rumah Riana, meski aku datang ke rumah Riana itu bisa dihitung dengan jari.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar