49. Def Maafin Aku
BLOG NURLAELI UMAR- Jam istirahat sudah tiba, aku
membereskan bukuku dan pergi keluar kelas. Beberapa teman mengajakku pergi ke
kantin, aku mengiyakan dan mengatakan mereka agar pergi lebih dulu, aku akan
menyusul setelahnya.
‘’Laura mau nitip apa mau ke kantin sendiri?’’ tanya
slaah satu dari mereka.
‘’Duluan aja, nanti aku nyusul. Ini ada pesan masuk,
dan mesti kubalas.’’
‘’Iya,’’ jawabku singkat.
Yazi mengirimiku pesan. Aku mesti membacanya dulu, aku
tidak tahu apa isi pesannya. Aku yang tadinya beranjak bangun, akhirnya duduk
kembali.
Yazi hanya menanyakan kabarku. Dia bilang kangen dan
ingin bertemu. Dia mengatakan minggu kemarin dia tidak pulang sama sekali. Aku
menjawab pesan Yazi dan mengatakan setuju saja kalau dia main ke rumahku atau
mengajakku keluar kapan dia ada waktu.
Aku yang terlalu fokus dengan hanphoneku langusng
melihat ke depan meja di mana suara itu
bersumber.
‘’Def? Kukira siapa.’’
‘’Kita ke kantin?’’
‘’Kamu belum ke kantin dari tadi?’’ tanyaku balik.
‘’Ya, belumlah, kamu yang kutungguin masih sibuk sama
hapemu. Gimana aku ke kantin?’’
‘’Kan ke kantin gak pake hapeku, tapi pake kaki, terus
bawa uang.’’
Def mengangguk-angguk.
‘’Bener, dan
mesti sekolah di sini, soalnya kalau anak sekolah lain pasti udah ditanyain
macem-macem sama Satpam di depan. Ngapain jam istirahan makan di kantin kita,
padahal lagi gak ada event apa-apa dan gak lagi ngundang sekolah lain juga.’’
‘’Lagian ini cewek, ditungguin, malah asyik sendiri.’’
‘’E …’’ Belum sempat aku mengatakan sesuatu baru ‘e’,
Def langsung memotong perkataanku, ‘’Gak usah bilang; kenapa gak ke kantin
bareng yang lain, dan kenapa harus nunggu aku, kamu kan punya pacar, gimana
kalau terjadi perang dunia ke tujuh, segala..’’
Aku tertawa. ‘’Santai, Bang!’’ kataku di sela
tertawaku.
‘’Jalannya gak usah kayak orang lagi marahan, biasa
aja, Laura!’’
Aku mengangguk dan tertawa lagi. Aku akhirnya pergi ke
luar kelas menuju ke kantin bersisian dengan Def.
Def duduk di sampingku setelah memesan. Aku meletakkan
hapeku di depanku, tapi Def menggesernya ke depan duduknya.
‘’Kenapa, Def? Kamu ada masalah? Kamu gak biasanya
begini.’’
‘’Kamu emang gak pernah peka, ya, Laura. Aku itu
sayang banget sama kamu.’’
‘’Iya, aku tahu itu. Tapi, aku juga yakin kamu ada
masalah. Kamu putus sama pacarmu lagi? Kalau gitu cari yang baru! Selesai,
bukan?’’
‘’Kalau semua orang di dunia ini otaknya seencer kamu,
dunia gak akan ada masalah, dan semua orang mati dengan cepat. Ngapain di dunia
kalau gak ada masalah, bukan?’’
‘’Kalau gak ada, ya, bikin. Simple, kan?’’
‘’Nih, cewek kucium di sini juga, biar orang tahu aku
gak mau cari pacar lagi dan lagi.’’
‘’Sttt, Def! Jangan bicara ngaco!’’
Pesanan datang, hanya satu piring siomay dan segelas
es teh. Meski ukuran piringnya tidak biasa alias piring jumbo dan es tehnya
juga gelasnya ukuran jumbo, tapi ini semua di luar perkiraanku.
‘’Ini begini, karena kamu gak punya uang atau gimana
konsepnya, Def? Ini sepiring berdua dan segelas bersama’’
“Aku mau makan bareng kamu. Udah jangan banyak tanya.
Kamu tahu aku lagi kena penyakit?’’
Melihat wajah Def serius, aku akhirnya terbawa serius.
‘’Astaga kamu sama pacarmu udah making love, dan
kalian kena penyakit?’’
‘’Ini dia, kalau cewek kelewat jenius, apa-apa harus ada ilmiahnya. Mana ada aku making love sama dia. Heh, kamu makin-makin, ya? Kamu pikir aku hilang kewarasan sampai making love belum nikah, apa lagi sampe kena penyakit kelamin?’
‘’Pelan-pelan, Def!’’ kataku mengingatkan.
‘’Baiklah. Lihat mukaku dengan seksama dan dalam tempo
yang lama, aku itu pengen nyium kamu!’’
Untuk sesaat jantungku seperti berhenti berdetak. Def
menatapku dengan lembut. Dia tidak sedang bergurau.
‘’Def, kita makan dulu! Kasihan siomaynya
dianggurin.’’
Def mengangguk, aku dan Def akhirnya akan makan
sepiring berdua. Def tiba-tiba memberikan sendoknya tepat di depan mulutku,
‘’Makan ini, kalau terlau pedas, kamu pesan sendiri aja.’’
Aku mengangguk. Aku merasai sioamy yang Def sendokkan
untukku. Aku mengangguk. Tidak mungkin aku tiba-tiba mengatakan terlalu pedas
dan akhirnya memesan sendiri. Aku merasa itu sangat keterlaluan.
‘’Ini enak, Def.’’
‘’Kalau gitu, ayuk kita makan!’’
Aku dan Def makan, aku di sisi yang dekat denganku, tetapi
kadang Def mengambil siomay yang hendak kuambil. Kami juga minum satu gelas
berdua. Dua sedotan yang diberikan penjual diangkat Def, kami minum berdua
tanpa sedotan.
‘’Kamu putus sama dia, maksudku sama pacarmu lagi?’’
‘’Iya.’’
‘’Kamu selingkuh atau dia yang selingkuh?’’ tanyaku
memastikan.
‘’Apa kamu kira semua hubungan itu putus karena
selingkuh?’’
‘’Gak juga, kadang karena bosan juga bisa, tapi itu
jarang. Biasanya yang gitu itu player, sih.’’
Def melanjutkan makannya. Dia tidak memberiku jawaban
dengan segera.
‘’Aku putus karena aku gak bisa move on.’’
‘’Dari pacar pertamamu?’’
‘’Bukan. Mana pernah aku pacaran sama dia.’’
“Lha, gimana? Gak bisa move on itu berarti kamu masih
stuck di hubungan lama. Gitu kan konsepnya?’’
Def meminum es teh lagi, dia mendorong gelas ke arahku.
Aku mengambilnya dan meneguknya.
‘’Kamu, Laura. Aku gak bisa move on dari kamu. Gimana
aku mau pacaran, setiap aku mau nyium pacarku yang keinget cuma wajah kamu.’’
Aku terdiam beberpa saat. Aku tidak tahu mesti bagaimana.
Aku dan Def tidak pernah jadian, tapi kalau begitu keadaannya aku merasa
kasihan.
‘’Laura! Kenapa diem?’’
‘’Maafin aku, Def.’’
Def hanya mengangguk Aku tidak akan menjalin hubungan
karena belas kasihan. Jadi, yang kulakukan hanya meminta maaf.
Mantan Def- aku tidak tahu memang sudah benar-benar
putus hanya break saja-melintas. Aku mendoronh sikut Def dengan sikutku, Def
menoleh ke arahku. “’Apa?’’
‘’Itu pacarmu! Ajak dia makan di sini.’’
‘’Gak, ogah!’’
‘’Kamu putus nyambung sampai berapa episode, Def?’’
‘’Selamanya, selama-lamanya.’’
‘’Kenapa?”’
‘’Aku sama dia putus baik-baik, aku ngerasa gak cocok
aja.’’
Aku mengangguk, baguslah kalau putusnya baik-baik
saja. Tiba-tiba Def menyakan hubunganku dengan Yazi. Aku mengatakan hubungan kami baik-baik saja,
tadi yang kirim pesan sebelum ke kantin itu Yazi.
‘’Kalau kamu butuh bahu buat nyender, ada aku. Hubungi
aku kapan aja, meski kita pacaran atu enggak. Aku memang putus sama pacarku
baik-baik, tapi tentang kamu yang gak bisa hilang dari ingtanku juga beneran
adanya. Gak perlu minta maaf, kalau kamu gak atau belum bisa nerima aku.
Mungkin kita memang gak ada garis buat jadian. Tapi, aku tetep sayang.’’
‘’Def …’’
‘’Aku juga gak tahu kenapa bisa sesayang ini sama
kamu. Kalau bisa kusuruh berhenti, udah dari lama aku berhenti. Jadi, kapan
kamu butuh aku, meski sekadar iseng atau gabut, kirim kabar. Itu udah cukup
buat aku.’’








Komentar
Posting Komentar