Sebuah Bentuk Tanggung Jawab
BLOG NURLAELI UMAR- Br meluncur di jalan di antara kendaraan lain dengan
kecepatan sedang. J sesekali menatap wajah M dari spion tengah, atau melirik
dari arah duduknya. ‘’Kenapa J, ada apa dengan wajahku?’’ J hanya tersenyum.
‘’Aku akan kembali ke sini, hanya seminggu pergi. Apa aku
harus menambahnya beberapa hari?’’
J mengemudi dengan tenang, dia tidak menjawab pertanyaan
Marie.
‘’Jack, kau mendengar apa yang kukatakan, bukan?’’
J mengangguk sambil
tetap berkonsentrasi mengemudi. ‘’Aku akan menjemputmu besok pagi kalau kau
bersikeras menambah hari.’’
‘’Hei, J! Oke, aku akan pulang sebelum seminggu. J, apa kau
tahu sebenarnya aku ingin mengurungkan pulang ke kotaku. Kau tahu kenapa?
Karena aku sangat khawatir dengan dirimu. Pembunuhan semalam terjadi di
apartemenmu. Ini kota besar, pembunuhan bisa terjadi di mana saja dan di mana
saja. Tapi, aku mengkhawatiranmu sangat.’’
‘’Pulang saja! Aku akan baik-baik saja. Percayalah!’’
Jack mengatakan itu untuk menenangkan M. Kekasihnya itu
pasti akan membatalkan kepulanganya ke kotanya kalau dia menyetujuinya. Tapi,
itu tidak benar menurut J, kekasihnya berhak mengunjungi orang tuanya yang
nantinya menjadi orang tuanya juga.
Mobil sudah hampir mendekati stasiun. “Kau yakin, aku harus pulang
hari ini, J?’’ tanya M masih khawatir.
Mobil sudah memasuki
tempat parkir. Mobil J sekarang sudah terparkir dengan benar. J merengkuh M ke
dalam pelukannya.
‘’Aku akan mengabarimu setiap jam. Apa itu akan membuatmu
tenang?’’ tanya J setelah melepaskan pelukannya.
‘’Tidak, J, aku saja yang bertanya keadaanmu. Kau bisa
membalasnya ketika ada waktu senggang. Bukankah setelah dari sini, kau harus
bekerja?’’ J mengangguk dan tersenyum.
‘’Ayo, kita turun!’’ ajak J kepada M.
Mereka berdua keluar dan masuk ke stasiun. Setelah
memastikan kereta tiba dan akan berangkat jam berapa, mereka berdua berdiri di
antara orang-orang yang menunggu. Tidak lama kemudian, M masuk ke dalam kereta,
dan yang tersisa hanya ekor kereta dalam pandangan J.
J menerima foto M dalam kereta setelah Br sampai di rumah.
Tampak M dengan senyumnya dan itu membuat J semakin merindukannya. J mengetik
sesuatu, tetapi kemudian dihapusnya, mengetik lagi dihapus lagi, begitu sampai
tiga kali. Dia harus membiarkan M pulang untuk kembali lagi ke sini.
J masuk ke dalam kamarnya. Meski posisi barang-barangnya
tidak berubah, tetapi J yakin M membersihkannya di sela kesibukannya mengelola
coffee shop. Semua bersih dan tidak berdebu. Semua rapi seperti ketika dia
sering pulang ke rumah. J duduk di meja kerjanya, dia membaca email dan pesan
yang masuk ke nomor pribadinya. Ada beberapa tawaran pekerjaan receh, dia
membacanya dengan seksama.
Seseorang dari sana
menjawab dengan menyebutkan sandi, ‘’Tentu saja, Bos. Ini aku. Apa yang mesti
kukerjakan?’’
J terkekeh, ‘’Aku ingin memberimu pekerjaan kecil, apa kau
ada waktu?’’
Pertanyaan ada waktu
itu berarti apa anak buahnya siap melakukan pemesanan kematian, atau tidak. J
tidak pernah memaksakan diri agar setiap pekerjaan diambil dan dilakukan. Dalam
agensi yang J kelola, mereka para anggota tahu kapan mengatakan iya, dan kapan
mengatakan tidak. J akan marah besar kalau anggotanya memaksakan diri melakukan
tugas dalam keadaan sakit. Karena, tanpa melakukan tugas pun, mereka mendapat
tunjangan hidup dari keanggotaan agensi.
‘’Siap, Bos!’jawab seseorang dari sana yang dihubungi J.
‘’Baiklah, kali ini aku tidak sedang ingin melenyapkan
nyawa. Aku hanya ingin kau mengawasi apa yang terjadi di sana. Aku ingin kau
mengawasi tiga orang ini. Kau boleh melakukannya satu hari satu orang, atau
kalau kau bosan, tiga orang sekaligus. Catat jamnya dan apa yang kau lihat
saja. Tidak perlu turun tangan untuk melakukan apa-apa, apa pun yang terjadi.
Aku tidak akan segan menembakmu kalau kau menembak seseorang siapa pun saat melaksanakan
tugas ini, kecuali terpaksa. Karena yang kuinginkan hanya laporannya saja.’’’
‘’Kirim aku nomor rekeningmu sekarang!’’
Jack memerintahkan itu dan dengan segera seseorang yang
dihubungi J memberikan nomor rekening. Jack mengirim sejumlah uang.
‘’Pakai uang itu
untuk keperluan, hubungin aku kalau ada yang tidak beres. Bayaran akan
kutransfer setelah kau menyelesaikan tugasmu.Kau bisa menelpon atau mengirim
pesan ke nomor ini. Kita sudahi teleponnya.’’
Jack mematikan
sambungan teleponnnya. Jack mematian laptopnya dan kemudian memeriksa layar
pemantau. Dia memantau rumah sebelah yang dijadikan gudang sekaligus tempat
tinggal karyawan coffee shopnya.
Kamera tersembunyi yang dipasang dan terhubung dengan layar
pemantauuu di rumah diletakkan di beberapa titik, tetapi tidak di dalam ruang
privat seperti kamar mandi dan kamar tidur. J sudah berkonsultasi dan
memutuskan bersama M di titik mana saja kamera di pasang.
‘’Selamat pagi, ini aku J! Berapa orang yang sakit hari ini,
dan apa sudah dibawa ke dokter atau diberi libur sakit?’’
Seseorang yang J telepon menjawab telepon dengan segera,
‘’Selamat pagi, Pak J! Saya akan cek ke dua coffee shop yang lain. Segera akan dilakukan
yang semestinya kalau memang ada yang sakit.’’
‘’Telepon aku setelah ini, aku ingin laporannya. Jangan
sampai orang bekerja denganku mati kelaparan atau mati karena sakit dan tidak
mendapat pengobatan. Tidak hanya sanksi tetapi aku akan menuntutnya pembiaran
tanpa tanggung jawab terhadap karyawan dan memfitnah pemilik usaha. Dengar
itu!’’
‘’Baik, Pak.”
Dari nada suaranya terdengar kerakutan. Jack menutup
teleponnya. Dia langsung keluar kamar, kemudian keluar rumah. Dia pergi ke
rumah sebelah. Dia langsung membuka pintu karena system pintu dengan finger print.
Tentu saja karyawan yang ada langsung berdiri menyambut J. Mereka sedang
duduk-duduk memegang handphone sebelumnya.
J mengangguk dan langsung masuk menuju ke sebuah kamar. Psra
karyawan itu mengikuti J. J mengetuk sebuah pintu yang terlihat di kamera.
Seseorang dari kamar berseru, ‘’Masuk saja, pintu tidak dikunci!’’
Dia berusaha bangun. ‘’Berbaing saja. Kamu sakit sudah
berapa hari?’’ tanya J.
Karyawan itu
seperinya merasa kurang sopan kalau berbaring, dia kemudian bangun dari tidurannya
dan berusaha duduk. J menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
‘’Dua hari, Tuan. Dua hari dengan hari ini saya tidak masuk
bekerja. Maafkan saya.’’
Pekerja itu menunduk. ‘’Apa Nona M tahu?’’ tanya Jack
menyelidik.
Dia mengangguk. ‘’Nona M sudah menyuruh saya ke dokter. Saya
belum ke dokter, saya bilang kepada Nona M kalau saya hanya masuk angin saja.”
J menelpon seseorang. ‘’Tolong kirim dokter ke alamat ini! Saya
J!’’
J menutup teleponnya. ‘’Aku akan duduk di sini sampai dokter
datang. Kalian yang lain apa sudah mengerjakan bagian kalian di rumah ini?’’
tanya J sambil memeriksa satu per satu karyawannya dengan matanya.
J mengangguk. Mereka yang tinggal di rumah ini memang
mendapat jatah makan pagi dan makan malam, mendapat tempat tidur yang layak,
mendapat jatah sabun dan air minum gratis di luar gaji, tetapi mereka juga
berkewajiban membersihkan dan merawat rumah ini. Tidak ada istilah karena
laki-laki jadi malas.
Dokter yang J pesan datang dan memeriksa karyawan J, setelah semua beres J kembali ke rumahnya. Tetapi, itu sebentar saja, setelah J mencuci gelas bekas susu dan donat, dia pergi dari rumah menuju kantornya dengan celana dan kemeja yang rapi. Dia pergi bersama Br.
Terima kasih sudah berkenan membaca novel ini.
Silakan tinggalkan kmentar, jika berkenan!















Komentar
Posting Komentar