Bab 5. Novel Monster Pembunuh

 



 Sebuah Bentuk Tanggung Jawab

 

BLOG NURLAELI UMAR- Br meluncur di jalan di antara kendaraan lain dengan kecepatan sedang. J sesekali menatap wajah M dari spion tengah, atau melirik dari arah duduknya. ‘’Kenapa J, ada apa dengan wajahku?’’ J hanya tersenyum.

‘’Aku akan kembali ke sini, hanya seminggu pergi. Apa aku harus menambahnya beberapa hari?’’

J mengemudi dengan tenang, dia tidak menjawab pertanyaan Marie.

‘’Jack, kau mendengar apa yang kukatakan, bukan?’’

 J mengangguk sambil tetap berkonsentrasi mengemudi. ‘’Aku akan menjemputmu besok pagi kalau kau bersikeras menambah hari.’’

 


‘’Hei, J! Oke, aku akan pulang sebelum seminggu. J, apa kau tahu sebenarnya aku ingin mengurungkan pulang ke kotaku. Kau tahu kenapa? Karena aku sangat khawatir dengan dirimu. Pembunuhan semalam terjadi di apartemenmu. Ini kota besar, pembunuhan bisa terjadi di mana saja dan di mana saja. Tapi, aku mengkhawatiranmu sangat.’’

‘’Pulang saja! Aku akan baik-baik saja. Percayalah!’’

Jack mengatakan itu untuk menenangkan M. Kekasihnya itu pasti akan membatalkan kepulanganya ke kotanya kalau dia menyetujuinya. Tapi, itu tidak benar menurut J, kekasihnya berhak mengunjungi orang tuanya yang nantinya menjadi orang tuanya juga.

 


Mobil sudah hampir mendekati stasiun. “Kau yakin, aku harus pulang hari ini, J?’’ tanya M masih khawatir.

 Mobil sudah memasuki tempat parkir. Mobil J sekarang sudah terparkir dengan benar. J merengkuh M ke dalam pelukannya.

‘’Aku akan mengabarimu setiap jam. Apa itu akan membuatmu tenang?’’ tanya J setelah melepaskan pelukannya.

‘’Tidak, J, aku saja yang bertanya keadaanmu. Kau bisa membalasnya ketika ada waktu senggang. Bukankah setelah dari sini, kau harus bekerja?’’ J mengangguk dan tersenyum.

 


‘’Ayo, kita turun!’’ ajak J kepada M.

Mereka berdua keluar dan masuk ke stasiun. Setelah memastikan kereta tiba dan akan berangkat jam berapa, mereka berdua berdiri di antara orang-orang yang menunggu. Tidak lama kemudian, M masuk ke dalam kereta, dan yang tersisa hanya ekor kereta dalam pandangan J.

 Jack pergi dari area parkir stasiun dengan perasaan sedih. Entah mengapa M sebelum-sebelumnya juga pulang ke kotanya dan akan kembali ke kota ini lagi. Bahkan, sebelum resign dari pekerjaannya mengajar di kotanya mereka hanya berkomunikasi melalui handphone saja, semua baik-baik saja, tetapi kali ini J merasa sangat kehilangan dan dengan cepat merindukannya.

 


J menerima foto M dalam kereta setelah Br sampai di rumah. Tampak M dengan senyumnya dan itu membuat J semakin merindukannya. J mengetik sesuatu, tetapi kemudian dihapusnya, mengetik lagi dihapus lagi, begitu sampai tiga kali. Dia harus membiarkan M pulang untuk kembali lagi ke sini.

 J masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya. J masuk ke kamarnya setelah menghabiskan dua buah donat yang dia ambil dari dalam lemari pendingin dan segelas susu segar. Sepertinya dia tidak akan pulang ke apartemennya sampai M datang kembali, atau dia akan pulang ke apartemen dan menginap di rumah. Ada banyak makanan yang sudah M siapkan dan tinggal dimasukkan ke dalam microwave jika ingin menikmatinya. Sayang kalau dilewatkan dan dibiarkan sampai M datang ke kota ini lagi.

 


J masuk ke dalam kamarnya. Meski posisi barang-barangnya tidak berubah, tetapi J yakin M membersihkannya di sela kesibukannya mengelola coffee shop. Semua bersih dan tidak berdebu. Semua rapi seperti ketika dia sering pulang ke rumah. J duduk di meja kerjanya, dia membaca email dan pesan yang masuk ke  nomor pribadinya. Ada beberapa tawaran pekerjaan receh, dia membacanya dengan seksama.

 Jack menghubungi seseorang, teleponnya diterima. ‘’Halo, ini aku J! Apa pemilik nomor ini masih sama?’’ tanya J dengan suara sopannya.

 Seseorang dari sana menjawab dengan menyebutkan sandi, ‘’Tentu saja, Bos. Ini aku. Apa yang mesti kukerjakan?’’

 


J terkekeh, ‘’Aku ingin memberimu pekerjaan kecil, apa kau ada waktu?’’

 Pertanyaan ada waktu itu berarti apa anak buahnya siap melakukan pemesanan kematian, atau tidak. J tidak pernah memaksakan diri agar setiap pekerjaan diambil dan dilakukan. Dalam agensi yang J kelola, mereka para anggota tahu kapan mengatakan iya, dan kapan mengatakan tidak. J akan marah besar kalau anggotanya memaksakan diri melakukan tugas dalam keadaan sakit. Karena, tanpa melakukan tugas pun, mereka mendapat tunjangan hidup dari keanggotaan agensi.

 


‘’Siap, Bos!’jawab seseorang dari sana yang dihubungi J.

‘’Baiklah, kali ini aku tidak sedang ingin melenyapkan nyawa. Aku hanya ingin kau mengawasi apa yang terjadi di sana. Aku ingin kau mengawasi tiga orang ini. Kau boleh melakukannya satu hari satu orang, atau kalau kau bosan, tiga orang sekaligus. Catat jamnya dan apa yang kau lihat saja. Tidak perlu turun tangan untuk melakukan apa-apa, apa pun yang terjadi. Aku tidak akan segan menembakmu kalau kau menembak seseorang siapa pun saat melaksanakan tugas ini, kecuali terpaksa. Karena yang kuinginkan hanya laporannya saja.’’’

 J mengirim tiga gambar dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tiga orang yang J ingin pantau. Sebenarnya lebih kepada foto, dan alamat rumah saja. Tiga orang itu adalah penjual senjata, istrinya, dan satu lagi adalah perempuan pejabat yang ingin dibunuh oleh penjual senjata dan istrinya.

 


‘’Kirim aku nomor rekeningmu sekarang!’’

Jack memerintahkan itu dan dengan segera seseorang yang dihubungi J memberikan nomor rekening. Jack mengirim sejumlah uang.

 ‘’Pakai uang itu untuk keperluan, hubungin aku kalau ada yang tidak beres. Bayaran akan kutransfer setelah kau menyelesaikan tugasmu.Kau bisa menelpon atau mengirim pesan ke nomor ini. Kita sudahi teleponnya.’’

 Jack mematikan sambungan teleponnnya. Jack mematian laptopnya dan kemudian memeriksa layar pemantau. Dia memantau rumah sebelah yang dijadikan gudang sekaligus tempat tinggal karyawan coffee shopnya.



Kamera tersembunyi yang dipasang dan terhubung dengan layar pemantauuu di rumah diletakkan di beberapa titik, tetapi tidak di dalam ruang privat seperti kamar mandi dan kamar tidur. J sudah berkonsultasi dan memutuskan bersama M di titik mana saja kamera di pasang.

 J melihat salah satu karyawannya berjalan dengan memakai selimut setelah keluar dari kamar mandi. Dia tampak sakit. J menelpon seseorang, sepertinya dia itu adalah kepala coffee shop.

‘’Selamat pagi, ini aku J! Berapa orang yang sakit hari ini, dan apa sudah dibawa ke dokter atau diberi libur sakit?’’

Seseorang yang J telepon menjawab telepon dengan segera, ‘’Selamat pagi, Pak J! Saya akan cek ke dua coffee shop yang lain. Segera akan dilakukan yang semestinya kalau memang ada yang sakit.’’

 


‘’Telepon aku setelah ini, aku ingin laporannya. Jangan sampai orang bekerja denganku mati kelaparan atau mati karena sakit dan tidak mendapat pengobatan. Tidak hanya sanksi tetapi aku akan menuntutnya pembiaran tanpa tanggung jawab terhadap karyawan dan memfitnah pemilik usaha. Dengar itu!’’

‘’Baik, Pak.”

Dari nada suaranya terdengar kerakutan. Jack menutup teleponnya. Dia langsung keluar kamar, kemudian keluar rumah. Dia pergi ke rumah sebelah. Dia langsung membuka pintu karena system pintu dengan finger print. Tentu saja karyawan yang ada langsung berdiri menyambut J. Mereka sedang duduk-duduk memegang handphone sebelumnya.

 


J mengangguk dan langsung masuk menuju ke sebuah kamar. Psra karyawan itu mengikuti J. J mengetuk sebuah pintu yang terlihat di kamera. Seseorang dari kamar berseru, ‘’Masuk saja, pintu tidak dikunci!’’

 J melihat pemandangan seseorang yang berbaring sambil berselimut. ‘’Oh, Pak J! Selamat pagi!’’

Dia berusaha bangun. ‘’Berbaing saja. Kamu sakit sudah berapa hari?’’ tanya J.

 Karyawan itu seperinya merasa kurang sopan kalau berbaring, dia kemudian bangun dari tidurannya dan berusaha duduk. J menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

 


‘’Dua hari, Tuan. Dua hari dengan hari ini saya tidak masuk bekerja. Maafkan saya.’’

Pekerja itu menunduk. ‘’Apa Nona M tahu?’’ tanya Jack menyelidik.

Dia mengangguk. ‘’Nona M sudah menyuruh saya ke dokter. Saya belum ke dokter, saya bilang kepada Nona M kalau saya hanya masuk angin saja.”

 ‘’Kamu menyusahkan aku dan Nona M kalau menganggap sakit itu biasa. Kamu berhak mendapat pengobatan dan istirahat. Jangan berpikir aku dan Nona M tidak bisa makan kalau kamu tidak bekerja. Dengar itu! Yang lain juga dengar! Jangan mengambil keuntungan dengan menipu aku dan Nona M, jangan juga mengabaikan hak kalian!’’

 


J menelpon seseorang. ‘’Tolong kirim dokter ke alamat ini! Saya J!’’

J menutup teleponnya. ‘’Aku akan duduk di sini sampai dokter datang. Kalian yang lain apa sudah mengerjakan bagian kalian di rumah ini?’’ tanya J sambil memeriksa satu per satu karyawannya dengan matanya.

 ‘’Sudah, Pak! Kami sudah melakukan tugas membersihkan sesuai jadwal piket.’’

J mengangguk. Mereka yang tinggal di rumah ini memang mendapat jatah makan pagi dan makan malam, mendapat tempat tidur yang layak, mendapat jatah sabun dan air minum gratis di luar gaji, tetapi mereka juga berkewajiban membersihkan dan merawat rumah ini. Tidak ada istilah karena laki-laki jadi malas.

Dokter yang J pesan datang dan memeriksa karyawan J, setelah semua beres J kembali ke rumahnya. Tetapi, itu sebentar saja, setelah J mencuci gelas bekas susu dan donat, dia pergi dari rumah menuju kantornya dengan celana dan kemeja yang rapi. Dia pergi bersama Br.

 



 Untuk membaca bab yang lain, silakan ketik; Bab spasi nomor bab spasi Novel Monster Pembunuh


Terima kasih sudah berkenan membaca novel ini. 

Silakan tinggalkan kmentar, jika berkenan!

Komentar