Bab 50. Aku Suka Adiknya Mengapa Kakaknya yang Harus Mencintaiku (Tamat)

 


50. Tidak Keduanya

BLOG NURLAELI UMAR- Hari Minggu pukul tujuh pagi. Aku sudah selesai dengan semua tugasku membantu ibuku. Aku memang bisa diandalkan. Baru saja aku mengambil hapeku, sebuah motor terdengar berhenti didepan rumahku. ‘’Itu pasti Yazi!,’’ kataku bersemangat.

Ups! Ternyata bukan, karena begitu aku membuka pintu rumahku, yang kulihat di depan pagar itu bukan Yazi, tapi Yaza. Tidak mungkin aku menutup pintu kembali dan kabur ke kamarku. Aku bukan anak kecil lagi. Persoalan dengan Yaza mungkin bisa dihentikan sebelum dia melangkah lebih jauh.

Yaza mengucap salam, dan aku menjawabnya. 

‘’Geser aja pintu pagarnya!’’

Yaza melakukan seperti yang kumau. Dia masuk ke halaman, dan aku menunggunya di teras rumah.

‘’Bawa apa dan dari mana?’’ tanyaku melihat Yaza membawa ikan masih mentah dalam plastik. Banyak sekali.

‘’Dari kolam di seberang desa. Kami panen ikan, kebetulan aku ingat kamu, jadi kuambil sedikit. Ambilah ini!’’

‘’Ini terlalu banyak. Setengahnya aja, gimana?’’

‘’Bawa ke dalam, aku tunggu di sini, masukkan ke dalam lemari pendingin. Itu ikannya sudah bersih.’’

Aku mengangguk dan pamit ke masuk. Yaza duduk di teras begitu saja, aku lupa mempersilakan duduk.

Aku kembali lagi setelah memasukkan ikan yang kutempatkan di kotak ke lemari pendingin.


‘’Ini masih pagi, aku udah sarapan, dan baru mandi. Kamu gak terganggu aku di sini? Bapak dan ibumu?’’ tanya Yaza, begitu aku duduk dan meletakkan segelas air putih yang kubawa bersama sedikit pisang goreng.

‘’Bapakku udah ke sawah, ibuku ada di belakang,  sibuk memasak, ibuku bilang terimakasih.’’

‘’Iya, aku juga gak akan lama.’’

Yaza meminum air putih dingin yang kubawa dari dalam. Dia sama sekali tidak menyentuh pisang goreng yang kusediakan dalam piring.

‘’Aku kemarin ketemu Riana.’’

‘’Iya, terus?’’

‘’Aku bicara banyak sama dia tentang pacarku yang tetangganya dan kamu.’’

‘’Aku?’’

Yaza mengangguk.

‘’Riana takut aku dan Yazi berbebut kamu. Kamu juga berpikiran sama?’’

Aku terdiam. Yaza tertawa.

‘’Katakan kepadaku bagaimana kalau benar iya aku suka sama kamu. Apa kamu bakalan nolak aku jadi seseorang yang dekat sama kamu. Maksudku kamu nolak aku jadi pacarmu?’’

‘’Kalian kakak beradik. Kalau aku nolak kamu, aku dekat sama Yazi, itu pasti gak benar juga. Karena aku akan tetap ketemu kamu dan Yazi sekaligus kalau aku ke rumahmu. Kalau aku nerima kamu, aku gak bisa bohong kalau aku suka sama adikmu. Itu juga bakalan ngelukain kamu sama Yazi juga.’’

Yaza tertawa. Tapi, aku tahu tawanya itu tawa yang pahit.

‘’Aku juga gak tahu kenapa kamu itu begitu menarik. Aku suka sama kamu dari kamu masuk SMA. Sebelumnya mana aku tahu kalau kamu teman Yazi dan kalian saling suka. Aku justru baru tahu kemarin, pas aku ketemu Riana.’’

Aku mengangguk.

‘’Aku terlambat tahu kamu. Sayang sekali. Sayang sekali karena meski aku sudah punya pacar, aku gak bisa buat gak suka sama kamu. Kupikir kamu terlalu keci ketika baru masuk SMA, jadi aku menundanya sampai kamu kelas tiga dan bentar lagi lulus.’’

‘’Pacar kamu?’’

‘’Dia ada karena aku selama ini berusaha buat ngehapus kamu. Karena itu tadi, aku gak mungkin macarin kamu yang baru kelas satu SMA. Aku sama dia bubaran juga pada akhirnya.’’

‘’Maafin aku.’’

‘’Kemapa kamu yang mesti minta maaf? Gak ada yang salah. Setelah tahu Yazi juga menaruh hati sama kamu dan kalian belum jadian, malah aku yang menambah masalah, karena ujung-ujungnya Yazi juga gak akan jadian sama kamu, selamanya. Aku tahu, kamu, karena itu aku milih kamu. Kalau kejadiannya begini, kita bertiga terluka.’’

Aku mengangguk.

‘’Ini udah kelamaan, aku mesti pulang. Kalau sejam lagi di sini, aku bakalan gak mau pulang beneran.’’

Aku sedih sekali saat ini, sangat-sangat sedih. Meski Yaza bicara dengan nada ringan atau dibuat ringan dan sesantai mungkin aku tidak bisa memungkiri rasa pahit yang kutelan. Kurasa Yaza pun sekarang sedang menelan rasa yang sama.

‘’Laura!’’

‘’Ya.’’

‘’Jangan pernah menerima aku atau Yazi, please! Yazi juga jangan pernah tahu tentang hal ini. Jangan biarin dia tahu kalau kakaknya juga mencintai gadis yang sama dengannya.’’

‘’GImana kalau Yazi ngajak aku makan keluar?’’

‘’Temenin aja. Tapi, jangan sampai jadian. Maaf. Maaf , aku egois.’’

Air mataku menetes dan aku menyekanya. Aku melihat Yaza beberapa kali membuang muka , kurasa dia tidak ingin air matanya jatuh.

‘’Kalau sesekali aku main ke sini atau menjemputmu karena aku kangen, apa masih bisa? Sebatas seseorang kepada gadis yang dia sayangi?’’

Aku menangis kali ini, meski hanya terisak. Aku mengangguk. Aku melihat mata Yaza berkaca-kaca.

Yaza bangun dari duduknya dan berusaha tersenyum. ‘’Aku pulang!’’

Aku mengangguk dan masih terdiam. Aku mengantar Yaza sampai ke pintu pagar. Yaza pergi dengan motornya dan menghlang.

Hari ini setelah mendengar semuanya dari mulut Yaza sendiri, aku semakin sedih saja.

Yaza tidak salah, Yazi juga tidak, aku pun sama. Aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku melatakkan di meja makan piring yang berisi pisang dan gelas yang isinya diminum habis oleh Yaza. Aku menemui ibuku, ‘’Bu, aku ke kamar, aku sedikit pusing.’’

“Ya, sudah. Kalau perlu dikerok punggungnya bilang Ibu. Makanlah pisang yang tadi sedikit! Mungkin kamu bangun terlalu pagi, dan terlalu lelah membantu pekerjaan rumah. Kalau ada apa-apa panggil Ibu.’’

‘’Ya, baik, Bu.’’

Aku pergi ke kamar, setelah pintu ditutup aku menghambur ke kasurku. Aku menutupi mukaku dengan bantal, aku menangis sepuasnya.

Selepas dhuhur ada pesan masuk. Yazi mengirim pesan; Laura, maaf aku kayaknya gak bisa makan baso sama kamu hari ini.

Aku membalas pesan Yazi; Iya, gak papa.

Yazi mengirim pesan lagi; Bukan karena ada janji sama cewek lain, aku kecapekan, tadi pagi bantuin kakakku sama bapakku panen ikan.

Aku membalsa pesan Yazi; Ya, aku percaya, kok. Istirahat, kapan-kapan kita bisa makan baso bareng.

Yazi mengirim pesan; Iya, makasih banyak. Kamu gak lagi jalan ke kota nemuin yang suka sama kamu itu, kan? Def, iya Def.

Aku masih merasa sedih, dan tidak ingin menambah kesedihanku. Aku mengirim pesan kepada Yazi; Gak usah mikirin Def. Dia udah gede. Kamu istirahat aja. Hapeku lowbatt mau ku-charge. Daaa, Yazi!

Yazi membalas pesanku; Daaa, Laura!

Aku merasa sedikit lega, Yazi membatalkan acara makan baso bersamaku. Tapi, aku tetap bisa makan baso dengan yang lain. Aku bisa makan baso dengan Riana. Mumpung dia masih ada di kampung, mumpung dia belum mengejar cita-citanya ke kota lain dan entah kapan bisa bertemu.

Aku juga mesti mengucapkan terima kasih atas semua yang dia lakukan buatku. Dia sudah melakukan yang terbaik yang bisa dia lakukan agar antara aku, Yazi, dan Yaza tidak mengalami hal-hal yang lebih menyakitkan dari kejadian tadi pagi.

Aku menelpon Riana, ‘’Halo!’’

Riana menerima teleponku, ‘’Halo, Laura! Aku lagi ada di kota tempat aku bersekolah. Maaf, aku gak ngasih tahu sebelumnya. Ada apa?’’

‘’Heh, yang super sibuk! Gak ada apa-apa. Selamat bersibuk ria, kapan-kapan kita makan baso bareng lagi, sebelum kamu semakin jauh daerah jajahannya.’’

‘’Siap, Laura! Udah dulu, ini orangnya udah datang. Maaf banget, Say.’’

‘’Okeee, bye!’’

Baru kuletakkan handphoneku terdengar ada panggilan masuk. Aku mengambil handphoneku. Itu panggilan masuk dari Def. Aku segera menerimanya.

‘’Halo, Laura! Bisa kujemput sekarang?’’

‘’Ngapain sepagi ini ini? Maksudku siang-siang begini dan ngedadak’’

‘’Aku bawa pasukan di mobil, kita makan-makan mumpung ada kesempatan. Kita gak tahu habis lulusan  kita bisa ketemu lagi kapan, mungkin dua atau tiga puluh tahun, itu juga kalau ada acara reuni dan gak sibuk ngurus kerja dan keluarga kita sendiri-sendiri.’’

‘’Heh, ngomongnya kejauhan. Boleh, kalian sekarang di mana? Maksudku, mobilmu sampai di mana?’’

‘’Sepuluh meter lagi nyampe rumahmu.’’






 

 

 

 

Komentar