Bab 6. Novel Monster Pembunuh

 


Semangkuk Rasa Hormat

 

BLOG NURLAELI UMAR- J sampai di kantor setengah jam sebelum jam makan siang. Dia datang satu jam setengah lebih cepat dari janji yang dia buat dengan kantor. J langsung masuk ke ruangannya setelah memarkirkan B dan naik ke lantai tempat kantornya berada. Jack langsung masuk dan sibuk.

 Sebuah ketukan di pintu terdengar. Ini masih di jam istirahat. J mengangkat matanya dari laptopnya. ‘’Masuk!’’

J mengatakan itu sambil mengangguk. Pengantar minuman dari bagian dapur membawakannya kopi, es teh, dan sepiring lontong sayur.

 ‘’Aku tidak memesan es teh dan lontong sayurnya,’’ kata J , ‘’Ke mana yang biasa bertugas. Kenapa harus kamu? Apa dia sakit?’’

 


Orang yang mengantar makanan itu tertawa.

‘’Tuan J , kalau bertanya satu-satu. Otak saya bukan laptop dan komputer di ruangan Anda. Saya akan jawab satu per satu. Saya membawa makanan ini karena dia. Dia sedang ulang tahun, jadi dia membelikan lontong sayur kesukaannya untuk Anda. Dia ada di dapur sibuk dengan lontong sayur yang dia beli. Ini lontong sayur yang berbeda dari lima bungkus yang dia beli. Lontong sayur ini telornya dua, dan ayam opornya dua. Khusus untuk Anda.’’

 


J menoleh ke meja sebelah tempat piring lontong sayur itu diletakkan.

‘’Jadi dia cuma beli lima bungkus?’’ tanya J heran.

‘’Benar, Tuan. Satu untuk Anda dan empat untuk teman sesama petugas kebersihan dan dapur kantor ini. Apa Anda merasa tersinggung disamakan dengan kami?’’

 J tertawa. ‘’Tentu saja tidak, Aku merasa terhormat mendapat cinta kalian. Lontongnya akan kumakan setelah aku menyelesaikan ini. Sebentar lagi. Tidak lebih dari sepuluh menit. Katakan aku berterima kasih atas lontong sayurnya dan cinta kalian semua.’’

 


‘’Tentu saja. Saya akan menyampaikannya. Selamat makan, Tuan J ! Saya juga akan makan bersama yang lain. Saya keluar sekarang.’’ J mengangguk. Dia meneyelesaikan pekerjaannya dan kemudian terlihat sibuk dengan lontong sayur dan es tehnya.

 Sebuah ketukan di pintu kaca ruangan J kembali terdengar. J yang sedang membelah telur dengan sendok mengangkat kepalanya. Dia mengangguk. Kali ini yang datang adalah sekretaris R.

‘’Selamat siang. Tuan J! Apa saya bisa mengganggu makan siang Anda?’’

 


‘’Masuklah! Tapi, karena ini masih jam makan siang aku menerimamu sambil makan. Apa kau ingin ikut makan atau bagaimana?’’ tanya J sambil tersenyum.

 ‘’Tidak! Silakan saja makan, saya sudah makan dan langsung kemari.’’

 Sekretaris itu duduk di bangku depan meja yang J pakai untuk makan.

‘’Anda makan lontong sayiu di jam makan siang?’’ tanya sekretaris R.

J mengangguk. ‘’Ini dari seseorang yang tulus mencintaiku dan menghormatiku. Aku tidak akan melewatkannya, selain makanan ini memang enak.’’ Sekretaris itu mengangguk.

 


’Katakan padaku ada masalah apa? Aku akan mendengarkan sambil makan. Katakan saja!’’ J mengatakan itu tidak sekadar basa-basi. Selain itu J tahu sekretaris R bukan tipe seseorang yang berbicara banyak dan ingin mengganggu.

 ‘’Anda tahu benar klien kita yang menembak orang di depan sebuah restoran dan tidak dipenjara, bukan?’’ tanya sekretaris itu membuka percakapan serius.

J mengangguk, ‘’Aku akan mendengarkan sambil makan. Lanjutkan!’’

Sekretaris itu mengatakan kalau kali ini dia juga berulah terhadap kantor ini. Dia tidak mau membayar jasa dan mengatakan hal buruk tentang kinerja kantor ini.

 J mengangguk-angguk mendengarkan. Dia tetap menikmati lontong sayur itu seperti tidak terpengaruh dengan masalah yang menyebalkan seperti itu.

 


‘’Lalu, apa tindakan R?’’ tanya J menanggapi.

Dia sekarang sedang meneguk es teh dari gelasnya. ‘’Bos merasa kesal dan mengatakan akan memutuskan hubungan kerja. Tetapi, dia tidak ingin menuntut pembayaran yang tidak dipenuhi. Alasannya percuma.’’

 ‘’Apa R yang menyuruhmu mengatakan ini padaku, dan dia tidak datang memanggilku?’’ tanya J sambil menatap ke arah sekretaris itu.

‘’Tentu saja. Anda tahu Bos tidak pernah komplain masalah pekerjaan kepada Anda, Karena pekerjaan Anda tepat waktu, malah kadang selesai sebelum waktunya. Masalahnya adalah Anda hari ini sudah mengatakan akan datang setelah jam makan siang. Dan, kejadiannya tadi sekitar jam sepuluh. Bos tidak berani mengusik Anda.”’

 


J mengangguk. “’Baiklah, sekarang kamu kembali ke ruanganmu, dan katakan aku akan ke ruangannya setelah jam makan siang habis. Oke?’’

 ‘’Terima kasih banyak. Akhirnya bantuan datang. Bos terlihat marah besar sampai saya takut untuk melihat wajahnya ketika menghadap meminta tanda tangan. Baiklah kalau begitu saya akan mengatakan Anda sudah ada di kantor dan akan datang ke ruangannya.’’

 J tahu benar hal ini akan terjadi. Dia sudah dari awal perusahaan orang itu meminta jasa kantor ini untuk ditolak saja, tetapi R sepertinya mempunyai pertimbangan lain dan J tahu benar. Memori dan rasa sakit akibat anggotanya dibunuh dengan keji karena hal sepele dan pelakuknya lolos karena koneksi membuat J menaik napas panjang.

 


J kembali sibuk dengan laptopnya, kali ini bukan masalah pekerjaan kantor. Dia menelpon seseorang.

‘’Tolong bereskan orang ini. Aku mengirimnya di hapemu. Tembak dengan tujuh tembakan. Jangan ada perlakuan buruk selain itu. Aku ingin kalian profesiaonal!’’

 Seseorang yang ditelepon dan dikirimi gambar mengiyakan.

‘’Aku ingin dia mati malam ini. Kalau bisa dini hari, tepat di jam yang sama dengan pembunuhan yang terjadi kemarin. Pastikan agar terkesan mirip.’’

 


Orang di seberang sana yang ditelepon J menyanggupi. J kemudian seperti biasa menanyakan nomor rekening. Dia memberikan uang untuk modal bekerja, dan setengah pembayarn untuk pelenyapan nyawa. Setengah lagi J akan membayarnya setelah pekerjaan selesai. Orang yang J hubungi mengiyakan.

 J bangun dari duduknya dan keluar ruangan kerjanya pergi menuju ke ruangan Ron. Sekretaris Ron bangun dari duduknya dan mengangguk senang, ketika J masuk.  Jack mengetuk pintu rungan R, dan R yang sedang bicara kacau dengan seseorang dari handphonenya menoleh ke arah J.

‘’Nati kuhubungi lagi. Aku ada tamu penting sekarang ini.’’ R menutup pembicaraan denga orang itu.

‘’Duduklah!”

 J mengangguk dan kemudian duduk.

 


‘’Sekretarisku sudah ke ruanganmu?’’ tanya R, dan J mengangguk membenarkan.

‘’Sialan sekali dia. Sudah kuberi seat VVIP, sekarang dengan ringannya dia mengatakan ini dan itu. Aku harus bagaimana?’’

 ‘’Aku sudah mengatakan sebelumnya kalau dia itu akan membuat kekacauan.’’

R mengangguk, ‘’Maafkan aku, J!”

J menggeleng. ‘’Tidak, itu memang harus terjadi. Sekarang apa yang ingin kamu lakukan terhadapanya?’’ tanya J ingin tahu langkah apa yang akan dilakukan R.

Meski, J adalah teman dekat sekaligus pemegang saham atas perusahaan ini J juga harus menghormati keputusan yang akan diambil oleh R. Sama ketika dulu J meminta menolak kerja sama dengan klien yang sedang mereka bahas, tetapi akhirnya dia juga harus menghargai keputusan R.

 


‘’Aku ingin membiarkannya. Awalanya begitu. Tapi, melihatmu ada di sini, aku akan mengurusinya. Aku akan meminta bantuan kantor hukum untuk membuat ini sebagai sebuah masalah. Tidak mengapa kalau bayarannya mahal. Aku ingin memberi ultimatum kepada semua yang bekerja sama dengan kita agar menghormati kesepakatan.’’

 ‘Bagus. Lakukan sekarang, selagi aku ada di sini!’’

R mengangguk. Dia memanggil sekretarsinya. Kemudin R dan J keluar karena sudah ada janji diluar bertemu seseorang. Mereka sibuk kembali mengurusi ini dan itu sampai jam tujuh malam.

R yang awalnya ingin meminta karyawan lain untuk lembur membantunya, dicegah J. ‘’Kita selesaikan bagian kita, mereka sudah sibuk bekerja dan lelah dengan tugas mereka masing-masing,’’ kata J dan R menyetujuinya.

 


Komentar