Semangkuk
Rasa Hormat
BLOG
NURLAELI UMAR- J sampai di kantor setengah jam sebelum jam makan siang. Dia
datang satu jam setengah lebih cepat dari janji yang dia buat dengan kantor. J
langsung masuk ke ruangannya setelah memarkirkan B dan naik ke lantai tempat
kantornya berada. Jack langsung masuk dan sibuk.
J mengatakan
itu sambil mengangguk. Pengantar minuman dari bagian dapur membawakannya kopi,
es teh, dan sepiring lontong sayur.
‘’Aku tidak memesan es teh dan lontong
sayurnya,’’ kata J , ‘’Ke mana yang biasa bertugas. Kenapa harus kamu? Apa dia
sakit?’’
Orang yang
mengantar makanan itu tertawa.
‘’Tuan J ,
kalau bertanya satu-satu. Otak saya bukan laptop dan komputer di ruangan Anda.
Saya akan jawab satu per satu. Saya membawa makanan ini karena dia. Dia sedang
ulang tahun, jadi dia membelikan lontong sayur kesukaannya untuk Anda. Dia ada
di dapur sibuk dengan lontong sayur yang dia beli. Ini lontong sayur yang
berbeda dari lima bungkus yang dia beli. Lontong sayur ini telornya dua, dan
ayam opornya dua. Khusus untuk Anda.’’
J menoleh ke
meja sebelah tempat piring lontong sayur itu diletakkan.
‘’Jadi dia
cuma beli lima bungkus?’’ tanya J heran.
‘’Benar,
Tuan. Satu untuk Anda dan empat untuk teman sesama petugas kebersihan dan dapur
kantor ini. Apa Anda merasa tersinggung disamakan dengan kami?’’
‘’Tentu
saja. Saya akan menyampaikannya. Selamat makan, Tuan J ! Saya juga akan makan
bersama yang lain. Saya keluar sekarang.’’ J mengangguk. Dia meneyelesaikan
pekerjaannya dan kemudian terlihat sibuk dengan lontong sayur dan es tehnya.
‘’Selamat
siang. Tuan J! Apa saya bisa mengganggu makan siang Anda?’’
‘’Masuklah!
Tapi, karena ini masih jam makan siang aku menerimamu sambil makan. Apa kau
ingin ikut makan atau bagaimana?’’ tanya J sambil tersenyum.
Sekretaris itu duduk di bangku depan meja yang
J pakai untuk makan.
‘’Anda makan
lontong sayiu di jam makan siang?’’ tanya sekretaris R.
J
mengangguk. ‘’Ini dari seseorang yang tulus mencintaiku dan menghormatiku. Aku
tidak akan melewatkannya, selain makanan ini memang enak.’’ Sekretaris itu
mengangguk.
‘’Katakan
padaku ada masalah apa? Aku akan mendengarkan sambil makan. Katakan saja!’’ J
mengatakan itu tidak sekadar basa-basi. Selain itu J tahu sekretaris R bukan
tipe seseorang yang berbicara banyak dan ingin mengganggu.
J mengangguk,
‘’Aku akan mendengarkan sambil makan. Lanjutkan!’’
Sekretaris
itu mengatakan kalau kali ini dia juga berulah terhadap kantor ini. Dia tidak
mau membayar jasa dan mengatakan hal buruk tentang kinerja kantor ini.
J mengangguk-angguk mendengarkan. Dia tetap
menikmati lontong sayur itu seperti tidak terpengaruh dengan masalah yang
menyebalkan seperti itu.
‘’Lalu, apa
tindakan R?’’ tanya J menanggapi.
Dia sekarang
sedang meneguk es teh dari gelasnya. ‘’Bos merasa kesal dan mengatakan akan
memutuskan hubungan kerja. Tetapi, dia tidak ingin menuntut pembayaran yang
tidak dipenuhi. Alasannya percuma.’’
‘’Tentu saja.
Anda tahu Bos tidak pernah komplain masalah pekerjaan kepada Anda, Karena
pekerjaan Anda tepat waktu, malah kadang selesai sebelum waktunya. Masalahnya
adalah Anda hari ini sudah mengatakan akan datang setelah jam makan siang. Dan,
kejadiannya tadi sekitar jam sepuluh. Bos tidak berani mengusik Anda.”’
J
mengangguk. “’Baiklah, sekarang kamu kembali ke ruanganmu, dan katakan aku akan
ke ruangannya setelah jam makan siang habis. Oke?’’
J kembali
sibuk dengan laptopnya, kali ini bukan masalah pekerjaan kantor. Dia menelpon
seseorang.
‘’Tolong
bereskan orang ini. Aku mengirimnya di hapemu. Tembak dengan tujuh tembakan.
Jangan ada perlakuan buruk selain itu. Aku ingin kalian profesiaonal!’’
‘’Aku ingin
dia mati malam ini. Kalau bisa dini hari, tepat di jam yang sama dengan
pembunuhan yang terjadi kemarin. Pastikan agar terkesan mirip.’’
Orang di seberang
sana yang ditelepon J menyanggupi. J kemudian seperti biasa menanyakan nomor
rekening. Dia memberikan uang untuk modal bekerja, dan setengah pembayarn untuk
pelenyapan nyawa. Setengah lagi J akan membayarnya setelah pekerjaan selesai.
Orang yang J hubungi mengiyakan.
‘’Nati
kuhubungi lagi. Aku ada tamu penting sekarang ini.’’ R menutup pembicaraan
denga orang itu.
‘’Duduklah!”
J mengangguk dan kemudian duduk.
‘’Sekretarisku
sudah ke ruanganmu?’’ tanya R, dan J mengangguk membenarkan.
‘’Sialan
sekali dia. Sudah kuberi seat VVIP, sekarang dengan ringannya dia mengatakan
ini dan itu. Aku harus bagaimana?’’
R mengangguk,
‘’Maafkan aku, J!”
J
menggeleng. ‘’Tidak, itu memang harus terjadi. Sekarang apa yang ingin kamu lakukan
terhadapanya?’’ tanya J ingin tahu langkah apa yang akan dilakukan R.
Meski, J
adalah teman dekat sekaligus pemegang saham atas perusahaan ini J juga harus
menghormati keputusan yang akan diambil oleh R. Sama ketika dulu J meminta
menolak kerja sama dengan klien yang sedang mereka bahas, tetapi akhirnya dia
juga harus menghargai keputusan R.
‘’Aku ingin
membiarkannya. Awalanya begitu. Tapi, melihatmu ada di sini, aku akan mengurusinya.
Aku akan meminta bantuan kantor hukum untuk membuat ini sebagai sebuah masalah.
Tidak mengapa kalau bayarannya mahal. Aku ingin memberi ultimatum kepada semua
yang bekerja sama dengan kita agar menghormati kesepakatan.’’
R
mengangguk. Dia memanggil sekretarsinya. Kemudin R dan J keluar karena sudah
ada janji diluar bertemu seseorang. Mereka sibuk kembali mengurusi ini dan itu
sampai jam tujuh malam.
R yang awalnya
ingin meminta karyawan lain untuk lembur membantunya, dicegah J. ‘’Kita
selesaikan bagian kita, mereka sudah sibuk bekerja dan lelah dengan tugas mereka
masing-masing,’’ kata J dan R menyetujuinya.













Komentar
Posting Komentar