Bab 7. Novel Monster Pembunuh

 

Ultimatum

 


BLOG NJRLAELI UMAR- R memarkirkan mobilnya tepat di depan coffee shop milik M. Dia turun dan kemudian masuk. R jarang ke coffee shop yang ini. Sengaja dia tidak datang setelah beberapa kali datang, tetapi M  sepertinya menjaga jarak dengannya. Terakhir dia mendapat berita tentang M adalah pengaduan O yang merasa dipermalukan dengan sindiran AM dan M karena dia mempergunakan mobil milik R.

 Tetapi, cerita itu bahkan R sudah lupa lima menit setelahnya. Dia sengaja tidak datang ke coffee shop ini agar M juga lupa dengan perlakuannnya yang terkesan mengejar gadis itu. Tetapi, Marie sebenarnya tidak pernah memberi peluang, hanya saja R merasa kenapa tidak dengan oeluang, soal J itu soal nanti. Pesona M memang berbeda dengan AM tunangannya, tetapi kelasnya sama. M dan AM sebanding, tidak seperti O yang sebenarnya darinya R hanya mengambil keuntungan secara fisik saja.


 

R langsung datang ke kassa sekaligus bagian pemesanan.

‘’Aku kopi dingin apa saja, asal dingin. Makanannya boleh pesan dua porsi, satu manis dan satu asin. Berapa?’’

Kasir tahu benar bagaimana melayani pengunjung coffee shop model seperti ini yang membeli makanan tanpa peduli harga. Tentu saja akan dia berikan makanan terbaik. Kasir itu menghitung dan menyebutkan nominalnya. R setuju dan mengeluarkan cardnya.


 

R berbalik badan berjalan menuju tempat duduk, tetapi baru setengah jalan dia kembali lagi ke depan kasir

 ‘’Apakah Nona pemilik ada di kantor? Bisakah aku memintanya untuk menemuiku?’’

Kasir itu hafal muka R yang sebelumnya beberapa kali datang ke coffee shop ini.

‘’Maaf, Nona tidak sedang berada di coffee shop ini, sepertinya beliau sedang mengawasi coffee shop lain.’’

Kasir itu mengatakan dengan sangat sopan. R mengangguk. Tapi, bukan Ron kalau tidak gigih.

‘’Apakah hari ini tidak ada jadwal datang ke coffee shop ini?’’



 Kasir itu menggelengkan kepalanya.

‘’Seharian ini Nona tidak bisa diganggu. Sepertinya ini hari sibuk dan sedang ada urusan penting. Maaf, jika Anda berkenan, Anda bisa meninggalkan pesan, nanti ketika Nona datang saya bisa berikan pesan yang Anda tulis kepada beliau. Pesan dimasukkan ke dalam amplop dengan perekat, jadi Anda bisa mempercayai kami tidak akan membukanya. Bagaimana?’’

 R menggelengkan kepalanya.

‘’Tidak perlu. Aku akan menelponnya nanti. Bisakah aku mendapatkan nomornya?’’

Kasir itu mengangguk. Kasir itu memanggil kepala toko yang sedang keluar dari ruang kantor M. Kepala toko itu mendekat.

‘’Iya, ada yang bisa kubantu?’’ tanya kepala toko kepada kasir yang bertugas.

Kepala kasir itu menunjuk dengan jempolnya ke arah R.

 


R tersenyum. ‘’Aku tadinya ingin memberi surprise kepada Nona pemilik coffee shop. Tetapi, ternyata Nona tidak bisa ditemui. Tidak, aku tidak akan merepotkan kalian. Selamat bekerja! Dan, aku akan duduk menikmati pesananku yang ternyata sudah diantar.’’

R merasa terjebak dengan strateginya yang kurang matang. Dia berjalan menjauh dari kassa menuju meja dengan nomor yang sama dengan nomor meja di tangannya.

 Tidak berapa lama tampak Th masuk. Dia tahu kalau M sedang pulang ke kotanya. M mengirim pesan di grup yang beranggotakan empat orang saja; M, Th, An, dan AM. Grup yang sengaja dibikin AM semalam sebelum Marie pulangke kotanya.

 


Th berjalan menuju kassa untuk memesan. Setelah membayar pesanan Th mencari temoat duduk. Dia duduk tepat di depan R yang mengambil meja panjang bukan meja untuk berempat saja. Th sedikit terkejut dengan orang yang dia temui sedetik setelah dia duduk.

Dia menatap R sekilas dan pura-pura tidak mengenalnya. R sibuk menunduk menikmati makanannya, sementara Th menyibukkan diri dengan handphone miliknya. Makanan dan minuman pesanan Th akhirnya datang. R yang mengankat mukanya menatap Th dengan sediiit terkejut.

‘’Anda ternyata,’’ kata R sedikit tidak bersahabat.

 


Th menatap R, kemudian mengangguk. Tetapi, dia tidak mengacuhkan R setelahnya. Mereka masing-masing sibuk dengan handphone dan pesanan mereka sendiri. Tiba-tiba telepon Th berdering ada panggilan yang masuk. Dia menerima panggilan itu, air mukanya berubah menjadi ceria.

‘’Halo, iya. Aku sedang ngopi di coffee shop milik M.’’

Mereka, Th dan seseorang yang berada di balik telepon berbicara banyak, berbicara seolah sahabat lama. Suara Th rendah, tetapi jelas sekali dia bahagia.

 


Tampak Th tertawa-tawa, sementara R tampak tidak menyukainya. Setelah selesai dengan telepon yang membuat R cemburu, Th menikmati pesanannya juga tanpa menghiraukan R yang berada di depannya.

R tentu saja tidak terima, seorang R ditakacuhi oleh seseorang itu sepertinya sebuah hinaan. Akhirnya R memancing pembicaraan dengan bertanya lebih dulu.

‘’Apa Anda bertemu dengan M hariini?’’ tanya Ro the point.

 Th yang merasa pertanyaannya itu untuknya langsung mengangkat wajahnya.

 ‘’Aku? Tidak, tapi kami saling memberi kabar itu benar. Anda tahu seorang teman akan memberi kabar temannya, begitu bukan? Apa Anda datang ke coffee shop ini untuk mencari sahabat tunangan Anda, atau tunangan sahabat Anda? Sebuah kata yang hanya dibolak-balik tetapi itu dua hubungan yang benar berbeda adanya.’’

 


“Apa yang kulakukan sejelas itu terlihat di mata Anda?’’ tanya R tidak bisa mengelak.

 Th tertawa. Dia tidak mengatakan apa-apa.

‘’Baiklah yang ke dua. Aku ingin menemui tunangan sahabatku. Apa mereka sudah bertunangan? Aku bahkan tidak diundang.’’

 ‘’Tentu saja Anda tidak diundang. Itu acara privat dengan keluarga, kolega, dan sahabat saja. Apa Anda itu sahabat Tuan J? Kalau benar, Anda tentu tidak akan memburu tunangannya, bukan?’’ tanya Th mendesak.

 


’Bukankah kita sama?’’ tanya R tidak mau kalah.

Thomas tertawa. Dia tidak menjawab apa-apa. Tidak mengiyakan, juga tidak menolaknya.

‘’Nikmati pesanan Anda, Tuan R. Sayang sekali kalau dilewatkan. Makanan dan minuman di sini itu hasil resep dari tangan M sendiri yang dimasak oleh juru ahli. Jadi, jangan lewatkan setelah memesannya. Sayang sekali. Apalagi hanya untuk membuat aku tampak buruk tidak selevel untuk berteman dekat dengan M dan tunangan Anda.”

 ’Jangan sentuh tunanganku!’’ R mengatakan itu dengan penekanan. Dia tidak suka A dalaMm incaran orang, meski sebatas teman dekat.

‘’Kalau begitu, jangan dekati M dan jangan menyakiti AM tunangan Anda. Anda akan berurusan dengan saya, kalau Anda berbuat curang lebih dari takaran. Anda dalam pengintaian.’’

 


’Apa maksudmu?’’ tanya R terbakar dengan kata-kata Th yang terdengar mengancam.

‘’Permaian Anda dengan karyawan Anda itu hak Anda, tetapi kecurangan yang mengikutinya jangan harap aku tidak mengawasinya. Kelak jika sudah melewati batas, jangankan menikahi AM, mendekat pun Anda tidak akan bisa. Aku tidak akan meloloskan Anda untuk hidup tenang. Jadi, berpikir dua kali untuk menyakiti AM dan menggasak hartanya.’’

 R tidak menduga sama sekali kalau gerak-geriknya diawasi oleh orang seperti Th yang bahkan dia hanya teman dekat AM tunangannya dan Ma, bukan mantan AM atau kerabatnya.

Dia merasa Th tahu sesuatu tentangnya dan bisa jadi itu sudah dibicarakan dengan AM, karena AM semakin hari semakin menjauh dan menarik diri, meski pertunangan mereka tidak dibatalakan.

 Apakah yang Th tahu, atau sejauh mana Th tahu, R benar-benar tetap harus berhati-hati, sekaligus penasaran.

 

Komentar