Ultimatum
BLOG NJRLAELI UMAR- R
memarkirkan mobilnya tepat di depan coffee shop milik M. Dia turun dan kemudian
masuk. R jarang ke coffee shop yang ini. Sengaja dia tidak datang setelah beberapa
kali datang, tetapi M sepertinya menjaga
jarak dengannya. Terakhir dia mendapat berita tentang M adalah pengaduan O yang
merasa dipermalukan dengan sindiran AM dan M karena dia mempergunakan mobil
milik R.
R langsung
datang ke kassa sekaligus bagian pemesanan.
‘’Aku kopi
dingin apa saja, asal dingin. Makanannya boleh pesan dua porsi, satu manis dan
satu asin. Berapa?’’
Kasir tahu
benar bagaimana melayani pengunjung coffee shop model seperti ini yang membeli
makanan tanpa peduli harga. Tentu saja akan dia berikan makanan terbaik. Kasir
itu menghitung dan menyebutkan nominalnya. R setuju dan mengeluarkan cardnya.
R berbalik
badan berjalan menuju tempat duduk, tetapi baru setengah jalan dia kembali lagi
ke depan kasir
‘’Apakah Nona pemilik ada di kantor? Bisakah
aku memintanya untuk menemuiku?’’
Kasir itu
hafal muka R yang sebelumnya beberapa kali datang ke coffee shop ini.
‘’Maaf, Nona
tidak sedang berada di coffee shop ini, sepertinya beliau sedang mengawasi
coffee shop lain.’’
Kasir itu
mengatakan dengan sangat sopan. R mengangguk. Tapi, bukan Ron kalau tidak
gigih.
‘’Apakah
hari ini tidak ada jadwal datang ke coffee shop ini?’’
Kasir itu menggelengkan kepalanya.
‘’Seharian
ini Nona tidak bisa diganggu. Sepertinya ini hari sibuk dan sedang ada urusan
penting. Maaf, jika Anda berkenan, Anda bisa meninggalkan pesan, nanti ketika
Nona datang saya bisa berikan pesan yang Anda tulis kepada beliau. Pesan
dimasukkan ke dalam amplop dengan perekat, jadi Anda bisa mempercayai kami
tidak akan membukanya. Bagaimana?’’
‘’Tidak
perlu. Aku akan menelponnya nanti. Bisakah aku mendapatkan nomornya?’’
Kasir itu
mengangguk. Kasir itu memanggil kepala toko yang sedang keluar dari ruang
kantor M. Kepala toko itu mendekat.
‘’Iya, ada
yang bisa kubantu?’’ tanya kepala toko kepada kasir yang bertugas.
Kepala kasir
itu menunjuk dengan jempolnya ke arah R.
R tersenyum.
‘’Aku tadinya ingin memberi surprise kepada Nona pemilik coffee shop. Tetapi,
ternyata Nona tidak bisa ditemui. Tidak, aku tidak akan merepotkan kalian.
Selamat bekerja! Dan, aku akan duduk menikmati pesananku yang ternyata sudah
diantar.’’
R merasa
terjebak dengan strateginya yang kurang matang. Dia berjalan menjauh dari kassa
menuju meja dengan nomor yang sama dengan nomor meja di tangannya.
Th berjalan
menuju kassa untuk memesan. Setelah membayar pesanan Th mencari temoat duduk.
Dia duduk tepat di depan R yang mengambil meja panjang bukan meja untuk
berempat saja. Th sedikit terkejut dengan orang yang dia temui sedetik setelah
dia duduk.
Dia menatap
R sekilas dan pura-pura tidak mengenalnya. R sibuk menunduk menikmati
makanannya, sementara Th menyibukkan diri dengan handphone miliknya. Makanan
dan minuman pesanan Th akhirnya datang. R yang mengankat mukanya menatap Th
dengan sediiit terkejut.
‘’Anda ternyata,’’
kata R sedikit tidak bersahabat.
Th menatap
R, kemudian mengangguk. Tetapi, dia tidak mengacuhkan R setelahnya. Mereka
masing-masing sibuk dengan handphone dan pesanan mereka sendiri. Tiba-tiba
telepon Th berdering ada panggilan yang masuk. Dia menerima panggilan itu, air
mukanya berubah menjadi ceria.
‘’Halo, iya.
Aku sedang ngopi di coffee shop milik M.’’
Mereka, Th
dan seseorang yang berada di balik telepon berbicara banyak, berbicara seolah
sahabat lama. Suara Th rendah, tetapi jelas sekali dia bahagia.
Tampak Th tertawa-tawa,
sementara R tampak tidak menyukainya. Setelah selesai dengan telepon yang membuat
R cemburu, Th menikmati pesanannya juga tanpa menghiraukan R yang berada di
depannya.
R tentu saja
tidak terima, seorang R ditakacuhi oleh seseorang itu sepertinya sebuah hinaan.
Akhirnya R memancing pembicaraan dengan bertanya lebih dulu.
‘’Apa Anda
bertemu dengan M hariini?’’ tanya Ro the point.
Th yang merasa pertanyaannya itu untuknya
langsung mengangkat wajahnya.
‘’Aku? Tidak, tapi kami saling memberi kabar
itu benar. Anda tahu seorang teman akan memberi kabar temannya, begitu bukan?
Apa Anda datang ke coffee shop ini untuk mencari sahabat tunangan Anda, atau
tunangan sahabat Anda? Sebuah kata yang hanya dibolak-balik tetapi itu dua
hubungan yang benar berbeda adanya.’’
“Apa yang
kulakukan sejelas itu terlihat di mata Anda?’’ tanya R tidak bisa mengelak.
Th tertawa. Dia tidak mengatakan apa-apa.
‘’Baiklah
yang ke dua. Aku ingin menemui tunangan sahabatku. Apa mereka sudah
bertunangan? Aku bahkan tidak diundang.’’
‘’Bukankah
kita sama?’’ tanya R tidak mau kalah.
Thomas
tertawa. Dia tidak menjawab apa-apa. Tidak mengiyakan, juga tidak menolaknya.
‘’Nikmati
pesanan Anda, Tuan R. Sayang sekali kalau dilewatkan. Makanan dan minuman di
sini itu hasil resep dari tangan M sendiri yang dimasak oleh juru ahli. Jadi,
jangan lewatkan setelah memesannya. Sayang sekali. Apalagi hanya untuk membuat
aku tampak buruk tidak selevel untuk berteman dekat dengan M dan tunangan
Anda.”
‘’Kalau
begitu, jangan dekati M dan jangan menyakiti AM tunangan Anda. Anda akan
berurusan dengan saya, kalau Anda berbuat curang lebih dari takaran. Anda dalam
pengintaian.’’
‘’Apa
maksudmu?’’ tanya R terbakar dengan kata-kata Th yang terdengar mengancam.
‘’Permaian
Anda dengan karyawan Anda itu hak Anda, tetapi kecurangan yang mengikutinya
jangan harap aku tidak mengawasinya. Kelak jika sudah melewati batas, jangankan
menikahi AM, mendekat pun Anda tidak akan bisa. Aku tidak akan meloloskan Anda
untuk hidup tenang. Jadi, berpikir dua kali untuk menyakiti AM dan menggasak
hartanya.’’
Dia merasa
Th tahu sesuatu tentangnya dan bisa jadi itu sudah dibicarakan dengan AM,
karena AM semakin hari semakin menjauh dan menarik diri, meski pertunangan
mereka tidak dibatalakan.
Apakah yang Th tahu, atau sejauh mana Th tahu,
R benar-benar tetap harus berhati-hati, sekaligus penasaran.












Komentar
Posting Komentar