Bab 8. Novel Monster Pembunuh

 


Kejutan Pagi Hari

BLOG NURLAELI UMAR- Perempuan cantik yang turun dari mobil keluaran terbaru  itu adalah simpanana dari pengusaha yang berbuat ulah dengan pembayaran jasa kantor R, yang juga pelaku pembunuhan anak buah J dengan membabi buta.

Bisa jadi uang pengusaha itu yang seharusnya untuk mebayar hutang pembayaran memang sudah terkuras habis untuk membeli mobil keluaran terbaru dan penegeluaran perawatan kecantikan perempuan simpanannya itu.


Lihat saja, dari ujung rambut sampai ujung kaki perempuan itu makin hari makin sempuran saja. Bahkan, mobil yang dia pakai memakai plat nomor custom yang hanya dipakai oleh orang dengan nomor urut di negeri ini. Nomor urut orang kaya yang tidak lebih dari angka sepuluh.

Ups! Ternyata perempaun itu hanya diantar saja oleh si pengusaha. Setelah pengusah itu turun dan mereka saling berciuman, perempuan seperti boneka plastik itu melenggang masuk ke apartemen sendirian saja.


Perempua itu menuju lift dengan pengawalan sukarela dari Satpam gedung. Mereka para Satpam itu tampak sesekali berbicara dengan perempuan simpanan yang pernah membunuh anak buah J. Tampak dari air mukanya Satpam gedung sangat bahagia.  Mungkin mereka berpikir berbicara dengan perempuan cantik, membuat mereka jadi terlihat tampan.

Satpam itu bahkan mengantar tanpa diminta perempuan simpanan itu sampai tepat di depan pintu masuk roomnya.


‘’Terima kasih, Pak!’’ kata perempuan cantik itu basa-basi. Dia kemudian masuk, beberapa detik sebelum Satpam gedung itu menjawabnya dengan bersemangat..

Begitu pintu terbuka perempuan itu masuk, dan pinyu terkunci secara otomatis. Perempaun itu mencopot sepatu hak tingginya, dan meletakkan setengah melempar goodie bag berisi dua tas branded dan sekotak perhiasan. Dia meletakkan tas kecilnya di atas meja kecil samping tempat tidur. Dia membuaka goodie bangnya dan mengeluarkan tas baru itu.


‘’Ehem!’’

Suara deham itu membuat perempuan itu langsung memutar kepalanya ke arah sumber suara.

 ‘’Siapa kamu?’’ tanya perempuan simpanan itu sambil melirik ke arah kamera yang dipasang di salah satu sudut kamarnya. Alangkah kagetnya dia melihat kamera itu sudah tidak terpasang lagi di sana. Padahal dia ingin ada rekaman yang bisa medokumentasikan apa yang terjadi di roomnya.

‘’Siapa kamu, dan untuk apa masuk ke roomku? Katakana apa yang kamu inginkan? Kamu ingin tubuhku atau uangku, akan kuberikan!’’


Suara perempuan itu terdengar bergetar. Di sisi lain dia juga terkesima karena laki-laki yang datang ke kamarnya itu sangat tampan. Yang terlinatas di kepala perempuan itu malah semakin kacau. Di satu sisi dia takut nyawanya teranca, di sisi lain dia terpesona dengan postur tubuh dan ketampanan laki-laki yang masuk ke kamarnya tanpa izin itu.

Laki-laki itu tidak bersenjata, pikir perempuan simpanan itu, bisa jadi dia ingin menikmati tubuhnya saja. Tidak ada yang salah andai itu terjadi, toh, laki-laki yang membelikan apa yang ingin kubeli tidak seperkasa itu di tempat tidur, batin si perempuan simpanan itu.


Laki-laki itu mendekat, perempuan itu merasa dirinya sudah siap. Dia merasa siap untuk dinikmati tubuhnya. Tetapi, tiba-tiba laki-laki itu melakukan gerakan dengan cepat. Sebuah peluru menembus kepala perempuan simpanan itu. Semua seperti yang diperintahkan, dia menembakkan enam peluru setelahnya. Semua di titik-titik vital dalam jarak dekat. Jadi, total tembakan 7 peluru.

‘’Kau salah orang, kalau kau pikir aku akan menyentuhmu,’’ kata laki-laki itu sebelum akhirnya dia keluar dari room perempuan simpanan itu tanpa menyentuh apa pun, kecuali kamera perekam yang hilang dari tempatnya.


Tidak ada jeritan, tidak ada letusan terdengar, karena senjata berperedam. Tidak ada uang dan barang berharga  yang hilang. Laki-laki itu sudah memperkirakan jarak agar tembakan tepat dan tidak ada percikan darah yang terkena tubuh maupaun baju yang dia kenakan.

J menerima pesan gambar, ketika dia baru saja masuk ke dalam Br usai memeriksa pintu dan lampu rumahnya, karena dia malam ini akan tidur di apartemennya. M tidak menghubunginya dan tidak bisa dihubungi, tetapi dia memposting beberapa foto kebersamaannya dengan kucing kesayangannya, yang beratti dia sudah sampai di rumahnya dan baik-baik saja.


J tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung mengirim bayaran atas kerja bagus bawahannya. Dia membayar lebih. Bawahannya menanyakan apa yang harus dia lakukan dengan kelebihan uang yang J bayarkan. J hanya mengatakan itu bonus.

J mengemudikan Br menuju ke apartemennya. Dia tidak sabar ingin cepat sampai ke sana. Ingin masuk ke roomnya dan menikmati berita kematian perempuan simpanan laki-laki pembunuh bawahannya yang laij. Ingin melihat reaksi dari pengusaha itu, apakah dia akan speak up, atau akan terbawa di dalam kasus ini. Setidaknya kematian bawahannya sudah terbayar. J merasa lega.


Jalann sedikit macet malam ini. J menyetel radio. Tidak ada kabar tentang pembunuhan itu sama sekali di radio. J  hanya mendapati lagu-lagu, informasi bisnis dan informasi lalu lintas saja.

‘’Baiklah, kurasa lebih baik begini. Anak buahku tidak diburu dan tidak terancam. Sementara perempuan itu mati, pengusaha itu sekarang mungkin sedang tidur bersama istri dan anak-anaknya. Mungkin besok baru akan ada sedikit kesibukkan, ‘’ gumam J.

Benar saja, setelah lolos dari kesibukan jalan raya dan J membelokkan mobilnya memasuki pelataran dedung untuk akhirnya masuk ke parkiran  Suasana seperti biasa. J yang sengaja masuk ke dalam lewat lift dalam juga tetap biasa saja tidak ada terlihat sesuatu yang berbeda.


 J tidak nekat untuk melewati depan kamar korban, itu sama saja bertindak bodoh. Itu akan membuat J mendapat kesulitan, karena setelah ditemukan tewas, pasti semua orang yang terekam kamera melewati pintu korban akan ditanyai.

‘’Selamat malam, Bos!’’ sapa seorang petugas keamanan gedung yang melintas.

‘’Malam, Pak!’’ balas Jack ramah.

 ‘’Baru pulang, Bos?’’ tanya petugas itu, ternyata dia akan menuju lantai tempat room Jack berada.

‘’Iya, begitulah. Namanya juga pekerja.’’

Petugas keamana tu tertawa.


‘’Semua orang pekerja, Bos. Bos bekerja agar perusahaan bisa berjalan dan pegawai bisa makan. Saya bekerja agar saya bisa tetap hidup dan anak-anak bisa sekolah.’’

J tertawa mendengar jokes garing petugas kemana itu.

J akhirnya smapai di roomnya dan malam ini dia akan bekerja untuk mengecek semua catatan keuangan dan semua yang berbau restoran miliknya. Dia juga mengkalkulasi  uang yang dia tanam di banyak perusahaan.


Malam ini dia tidak menaggapi permintaan pelenyapan nyawa yang ditawarkan kepada agensinya. J melihat tawaran pembayaran mereka masih terlalu rendah dibanding resikonya. J tidak mau mengumpankan anggotanya untuk ditembusi peluru, tanpa keuntungan. Kalau bisa, bankan tidak ada nyawa yang melayang. Sebab, mereka bukan sedang berjuang, tetapi menjual jasa, yang pasti ingin menaguk untung besar.

J sibuk mengerjakan semuanya dengan teliti, sampai dua belas malam kurang tujuh menit. J menyalakan televisi, idak ada berita mengenai pembunuhan yang anak buahnya lakukan. Bukan berarti J meragukan keabsyahan kerja anak buahnya, karena anak buahnya sudah melakukan tugasnya dengan baik, J yakin itu.


Anak buahnya tidak akan pernah mengkhianatinya, karena mereka tahu mereka akan diburu J sampai ke akar-akarnya. Sama seperti komitmen J akan menjamin mereka samoai ke akar-akarnya.

Setelahmerasa bosan, J mematikan televisi dan tidur. Dia bahka enggan beranjak dari sofa, jadi dia akhirnay memilih tidur di sofa saja. J terbangun mendengar aumaan sirine polisi dan ambulans. Dia melihat ke arah jam digital kotak yang ada di meja kecil samping ranjangnya.


Astaga! Ini sudah pagi dan berganti hari. Sekarang sudah jama delapan kurang lima. Setelah terkejut, akhirnay Jack ingat hari ini adalah hari Minggu. Tidak ada urusan ke kantor, dan hanya akan  ada jadwal ke beberapa restoran dan coffee shop saja.

J loncat dari posisinya yang duduk di sofa. Di dapur ada suara mencurigakan. Baru hendak beranjak bangun, ‘’Kopinya sudah kubuatkan. Kamu kerja sampai jauh malam, tadi kubangunkan beberapa kali kau tetap bergeming pulas. Jadi, aku memutuskan untuk menbiarkan. Toh, hari ini bari Minggu.’’


J bangun dan memeluk M. ‘’Dasar gadis nakal. Kau tidak bisa kuhubungi, dan sekarang kau datang ke apartemenku mengejutkanku.’’

‘’Kalau begitu aku akan kembali ke kotaku, dan akan datang lagi tiga hari lagi,’’ bisik M dalam pelukan J.

J mengeratkan pelukannya. ‘’Tidak boleh, kau jangan pergi lagi! Aku merasa sendiri dan sepi. Kamu jangan pergi lagi, please!’

“’Kau merengek seperti anak kecil. Berarti bukan aku yang nakal, tapi kau.’’

Jack mengangguk membenarkan. Ma membiarkan J memelukanya dengan erat. Seulas senyum terbit di bibir M. Ini namanya bahagia.



 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar