Kejutan Pagi Hari
BLOG NURLAELI UMAR- Perempuan cantik yang turun dari mobil keluaran
terbaru itu adalah simpanana dari pengusaha
yang berbuat ulah dengan pembayaran jasa kantor R, yang juga pelaku pembunuhan
anak buah J dengan membabi buta.
Bisa jadi uang pengusaha itu yang seharusnya untuk
mebayar hutang pembayaran memang sudah terkuras habis untuk membeli mobil
keluaran terbaru dan penegeluaran perawatan kecantikan perempuan simpanannya
itu.
Lihat saja, dari ujung rambut sampai ujung kaki
perempuan itu makin hari makin sempuran saja. Bahkan, mobil yang dia pakai
memakai plat nomor custom yang hanya dipakai oleh orang dengan nomor urut di
negeri ini. Nomor urut orang kaya yang tidak lebih dari angka sepuluh.
Ups! Ternyata perempaun itu hanya diantar saja oleh si
pengusaha. Setelah pengusah itu turun dan mereka saling berciuman, perempuan
seperti boneka plastik itu melenggang masuk ke apartemen sendirian saja.
Perempua itu menuju lift dengan pengawalan sukarela
dari Satpam gedung. Mereka para Satpam itu tampak sesekali berbicara dengan perempuan
simpanan yang pernah membunuh anak buah J. Tampak dari air mukanya Satpam gedung
sangat bahagia. Mungkin mereka berpikir
berbicara dengan perempuan cantik, membuat mereka jadi terlihat tampan.
Satpam itu bahkan mengantar tanpa diminta perempuan
simpanan itu sampai tepat di depan pintu masuk roomnya.
‘’Terima kasih, Pak!’’ kata perempuan cantik itu
basa-basi. Dia kemudian masuk, beberapa detik sebelum Satpam gedung itu menjawabnya
dengan bersemangat..
Begitu pintu terbuka perempuan itu masuk, dan pinyu
terkunci secara otomatis. Perempaun itu mencopot sepatu hak tingginya, dan
meletakkan setengah melempar goodie bag berisi dua tas branded dan sekotak
perhiasan. Dia meletakkan tas kecilnya di atas meja kecil samping tempat tidur.
Dia membuaka goodie bangnya dan mengeluarkan tas baru itu.
‘’Ehem!’’
Suara deham itu membuat perempuan itu langsung memutar
kepalanya ke arah sumber suara.
‘’Siapa kamu?’’
tanya perempuan simpanan itu sambil melirik ke arah kamera yang dipasang di
salah satu sudut kamarnya. Alangkah kagetnya dia melihat kamera itu sudah tidak
terpasang lagi di sana. Padahal dia ingin ada rekaman yang bisa medokumentasikan
apa yang terjadi di roomnya.
‘’Siapa kamu, dan untuk apa masuk ke roomku? Katakana apa
yang kamu inginkan? Kamu ingin tubuhku atau uangku, akan kuberikan!’’
Suara perempuan itu terdengar bergetar. Di sisi lain
dia juga terkesima karena laki-laki yang datang ke kamarnya itu sangat tampan.
Yang terlinatas di kepala perempuan itu malah semakin kacau. Di satu sisi dia
takut nyawanya teranca, di sisi lain dia terpesona dengan postur tubuh dan ketampanan
laki-laki yang masuk ke kamarnya tanpa izin itu.
Laki-laki itu tidak bersenjata, pikir perempuan
simpanan itu, bisa jadi dia ingin menikmati tubuhnya saja. Tidak ada yang salah
andai itu terjadi, toh, laki-laki yang membelikan apa yang ingin kubeli tidak
seperkasa itu di tempat tidur, batin si perempuan simpanan itu.
Laki-laki itu mendekat, perempuan itu merasa dirinya
sudah siap. Dia merasa siap untuk dinikmati tubuhnya. Tetapi, tiba-tiba laki-laki
itu melakukan gerakan dengan cepat. Sebuah peluru menembus kepala perempuan
simpanan itu. Semua seperti yang diperintahkan, dia menembakkan enam peluru
setelahnya. Semua di titik-titik vital dalam jarak dekat. Jadi, total tembakan
7 peluru.
‘’Kau salah orang, kalau kau pikir aku akan
menyentuhmu,’’ kata laki-laki itu sebelum akhirnya dia keluar dari room perempuan
simpanan itu tanpa menyentuh apa pun, kecuali kamera perekam yang hilang dari
tempatnya.
Tidak ada jeritan, tidak ada letusan terdengar, karena
senjata berperedam. Tidak ada uang dan barang berharga yang hilang. Laki-laki itu sudah
memperkirakan jarak agar tembakan tepat dan tidak ada percikan darah yang
terkena tubuh maupaun baju yang dia kenakan.
J menerima pesan gambar, ketika dia baru saja masuk ke
dalam Br usai memeriksa pintu dan lampu rumahnya, karena dia malam ini akan
tidur di apartemennya. M tidak menghubunginya dan tidak bisa dihubungi, tetapi
dia memposting beberapa foto kebersamaannya dengan kucing kesayangannya, yang
beratti dia sudah sampai di rumahnya dan baik-baik saja.
J tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung mengirim
bayaran atas kerja bagus bawahannya. Dia membayar lebih. Bawahannya menanyakan
apa yang harus dia lakukan dengan kelebihan uang yang J bayarkan. J hanya
mengatakan itu bonus.
J mengemudikan Br menuju ke apartemennya. Dia tidak
sabar ingin cepat sampai ke sana. Ingin masuk ke roomnya dan menikmati berita
kematian perempuan simpanan laki-laki pembunuh bawahannya yang laij. Ingin
melihat reaksi dari pengusaha itu, apakah dia akan speak up, atau akan terbawa
di dalam kasus ini. Setidaknya kematian bawahannya sudah terbayar. J merasa
lega.
Jalann sedikit macet malam ini. J menyetel radio.
Tidak ada kabar tentang pembunuhan itu sama sekali di radio. J hanya mendapati lagu-lagu, informasi bisnis
dan informasi lalu lintas saja.
‘’Baiklah, kurasa lebih baik begini. Anak buahku tidak
diburu dan tidak terancam. Sementara perempuan itu mati, pengusaha itu sekarang
mungkin sedang tidur bersama istri dan anak-anaknya. Mungkin besok baru akan ada
sedikit kesibukkan, ‘’ gumam J.
Benar saja, setelah lolos dari kesibukan jalan raya
dan J membelokkan mobilnya memasuki pelataran dedung untuk akhirnya masuk ke
parkiran Suasana seperti biasa. J yang
sengaja masuk ke dalam lewat lift dalam juga tetap biasa saja tidak ada terlihat
sesuatu yang berbeda.
J tidak nekat
untuk melewati depan kamar korban, itu sama saja bertindak bodoh. Itu akan
membuat J mendapat kesulitan, karena setelah ditemukan tewas, pasti semua orang
yang terekam kamera melewati pintu korban akan ditanyai.
‘’Selamat malam, Bos!’’ sapa seorang petugas keamanan
gedung yang melintas.
‘’Malam, Pak!’’ balas Jack ramah.
‘’Baru pulang,
Bos?’’ tanya petugas itu, ternyata dia akan menuju lantai tempat room Jack
berada.
‘’Iya, begitulah. Namanya juga pekerja.’’
Petugas keamana tu tertawa.
‘’Semua orang pekerja, Bos. Bos bekerja agar perusahaan
bisa berjalan dan pegawai bisa makan. Saya bekerja agar saya bisa tetap hidup
dan anak-anak bisa sekolah.’’
J tertawa mendengar jokes garing petugas kemana itu.
J akhirnya smapai di roomnya dan malam ini dia akan
bekerja untuk mengecek semua catatan keuangan dan semua yang berbau restoran
miliknya. Dia juga mengkalkulasi uang
yang dia tanam di banyak perusahaan.
Malam ini dia tidak menaggapi permintaan pelenyapan
nyawa yang ditawarkan kepada agensinya. J melihat tawaran pembayaran mereka
masih terlalu rendah dibanding resikonya. J tidak mau mengumpankan anggotanya
untuk ditembusi peluru, tanpa keuntungan. Kalau bisa, bankan tidak ada nyawa
yang melayang. Sebab, mereka bukan sedang berjuang, tetapi menjual jasa, yang
pasti ingin menaguk untung besar.
J sibuk mengerjakan semuanya dengan teliti, sampai dua
belas malam kurang tujuh menit. J menyalakan televisi, idak ada berita mengenai
pembunuhan yang anak buahnya lakukan. Bukan berarti J meragukan keabsyahan
kerja anak buahnya, karena anak buahnya sudah melakukan tugasnya dengan baik, J
yakin itu.
Anak buahnya tidak akan pernah mengkhianatinya,
karena mereka tahu mereka akan diburu J sampai ke akar-akarnya. Sama seperti komitmen
J akan menjamin mereka samoai ke akar-akarnya.
Setelahmerasa bosan, J mematikan televisi dan tidur.
Dia bahka enggan beranjak dari sofa, jadi dia akhirnay memilih tidur di sofa
saja. J terbangun mendengar aumaan sirine polisi dan ambulans. Dia melihat ke arah
jam digital kotak yang ada di meja kecil samping ranjangnya.
Astaga! Ini sudah pagi dan berganti hari. Sekarang
sudah jama delapan kurang lima. Setelah terkejut, akhirnay Jack ingat hari ini
adalah hari Minggu. Tidak ada urusan ke kantor, dan hanya akan ada jadwal ke beberapa restoran dan coffee
shop saja.
J loncat dari posisinya yang duduk di sofa. Di dapur
ada suara mencurigakan. Baru hendak beranjak bangun, ‘’Kopinya sudah kubuatkan.
Kamu kerja sampai jauh malam, tadi kubangunkan beberapa kali kau tetap
bergeming pulas. Jadi, aku memutuskan untuk menbiarkan. Toh, hari ini bari
Minggu.’’
J bangun dan memeluk M. ‘’Dasar gadis nakal. Kau tidak
bisa kuhubungi, dan sekarang kau datang ke apartemenku mengejutkanku.’’
‘’Kalau begitu aku akan kembali ke kotaku, dan akan
datang lagi tiga hari lagi,’’ bisik M dalam pelukan J.
J mengeratkan pelukannya. ‘’Tidak boleh, kau jangan
pergi lagi! Aku merasa sendiri dan sepi. Kamu jangan pergi lagi, please!’
“’Kau merengek seperti anak kecil. Berarti bukan aku
yang nakal, tapi kau.’’
Jack mengangguk membenarkan. Ma membiarkan J memelukanya
dengan erat. Seulas senyum terbit di bibir M. Ini namanya bahagia.


Komentar
Posting Komentar