Bab 9. Novel Monster Pembunuh

 


Yang Terlelap

 

BLOG NURLAELI UMAR- J menghadapi secangkir kopi setelah mandi pagi. M tampak senang meski tetap terlihat lelah. ‘’Kenapa kau menatapku seperti itu, J?’’ tanya M sambil menarik kursi untuk dirinya.

M duduk berhadapan dengan J di meja makan. J menatap M dan tertawa.

 ‘’Istirahatlah di sini, jangan pulang ke rumah dulu. Kamu bisa memakai laptop yang berwarna merah kalau ingin mengecek coffee shop, atau semua yang ingin kau butuhkan. Kenapa?’’

 


‘’Apanya yang kenapa, J? Aku bertanya kenapa sekarang kau juga ikut bertanya kenapa juga.’’

M meraih susu segar yang sudah diatuang di gelas untuknya. Dia tidak menemukan jus instan, di lemari pendingin J hanya ada susu dan minuman bersoda saja. Selebihnya kopi bubuk yang disimpan dalam toples. Jadi, M memilih susu untuk menemani J sarapan pagi.

 


‘’Maksudku kenapa pulang secepat ini? Ada sesuatu yang buruk?’’ J menatap ke dalam bola mata M. Tapi, dia tidak menemukan mendung di mata M seperti yang dikhawatirkannya. J sedikit lega.

M mnyesap susu dari gelasnya. Dia masih memegang gelasnya, ketika menjawab pertanyaan J.

‘’Pertama urusanku sudah selesai. Ke dua aku kangen denganmu, J. Yang ke tiga kau dengar ada pembunuhan di apartemen ini, bukan? Jangan bilang kau tidak mengikuti berita seperti biasanya.’’

J menatap M dengan tatapan sama seperti biasanya, tidak tahu berita penting yang sedang ramai menjadi pemberitahuan di semua channel televisi.

 


“Aku benar tidak tahu apa-apa. Aku tidur begitu selesai mandi. Aku menemani R sampai jam tujuh. Keadaan jalanan macet. Aku sampai pukul sembilan. Aku mandi, dan kemudian tidur. Dan, aku terbangun karenamu.’’

M tertawa dengan jawaban J.

 


‘’Aku tadi masuk ke sini sedikit ada kendala, harus mengeluarkan kartu pengenal dan memastikan kalau aku tahu aku akan menuju room siapa. Ada sedikit pertanyaan, tapi kurasa wajar. Dua pembunuhan dalam waktu dekat, itu sangat mengkhawatirkan, bukan? Apa kau tahu, J, dua pembunuhan yang terjadi di apartemen ini, polanya sama? Tidak ada yang tahu, tidak ada  yang dicurigai, tidak ada yang mencurigakan, dan tujuh tembakan. Anehnya kedua pembunuh di dua kasus di apartemen ini tidak mencuri sesen pun, semua tetap rapi, tidak ada pelecehan, tidak ada perlawanan, dan tidak ada kesempatan korban bahkan untuk melawan. Tujuh tembakan di titik yang sama. Menurutmu apa itu dilakukan oleh pembunuh yang sama atau dibikin seolah sama?’’

 M tampak seperti seseorang yang takut sekaligus penasaran.

 


J menyeruput kopi dan menikmati sandwich yang dibikin oleh M.

 “Kurasa kaiu lebih tahu dari pada aku,’’ jawab J.

Dahi M berkerut tidak mengerti.

‘’Aku tidak paham maksudmu, J. Aku bertanya karena aku tidak tahu.’’

J mengangguk.



‘’Kau lebih tahu berita itu, lalu kau bertanya padaku tentang berita itu. Bukankah itu lucu. Kau tahu, tapi aku yang ditanya. Seharusnya aku yang bertanya, bukan? Kurasa kau harus makan sandwich ini, ini enak sekali. Buatan tanganmu selalu pas dilidahku. Kurasa ini bisa dijadikan bisnis.’’

M tersenyum, dia mengangguk-angguk.

 ‘’Kau itu selalu berlebihan memujiku. Apakau juga memuji orang lain seperti ini?’’ tanya M yang bangun dari duduknya dan sekarang duduk di samping J.

 


‘’Tidak! Tentu saja, berbeda. Kau itu milikku, orang lain bukan milikku. Dari satu hal itu saja berbeda, berarti yang lainnya berbeda.’’

J memberikan sandwich itu ke mulut M. M menggigitnya.

 ‘’Ini enak,’’ kata M setelah mengunyah, kemudian menelannya. ‘’Kurasa kita perlu membuat restoran sandwich, khusus sandwich saja. Maksudku sandwich dan jus misalnya. Konsepnya berbeda denga coffee shop kita.’’

 


‘’Boleh. Minggu depan kita buka. Kau mau lokasi di daerah mana?’’ tanya J sambil menghabiskan sandwich yang ada di tangannya.

 ‘’J?’’’ tanya M merasa heran.

Dengan mudahnya J mengiyakan seolah dia membeli sandwich. Ini bukanmembeli sandwichnya, tetapi membuka restoran, pikir M.

‘’Iya, aku serius,’’ jawab J.

 


‘’Kembali ke pembunuhan yang terjadi di apartemen ini. Apa kau tidak takut?’’ tanya M menatao J.

‘’Kalau aku takut aku akan mengajakmu tidur di sini, simple bukan? Atau aku akan tidur denganmu di rumah.’’

J menuang air putih ke dalam gelasnya.

‘’Seperti kali ini. Kamu membuatkanku kopi, tetapi aku tetap menuang air putih. Kalau kau berpikir aku tidak suka dibikinkan kopi berarti kamu tidak tahu kebiasaan dan jalan pikiranku. Sama seperti hari ini, kamu tahu apartemen ini sedang dalam kasus yang mengerikan dan waktunya berdekatan, kamu datang. Bagiku kamu datang itu ibarat kopi dan aku bisa pulang ke rumah kapan saja atau tetap tingga di sini seperti air putih. Keduanya menguntungkan dan kubutuhkan.’’

 


M mengangguk.

‘’Tapi, aku sangat khawatir. Apa itu salah?’’ tanya M sambil berharap J memberikan jawaban yang membuat dirinya lega.

 ‘’Tentu saja, tidak.’’

J merengkuh M, dia memeluk M erat-erat.

‘’Aku berempati dengan mereka yang menjadi korban, di sini lain aku senang karena aku bisa memelukmu lebih banyak dan lebih lama. Kau itu segalanya bagiku, M. Katakan padaku kapan kau ingin kita menikah, aku akan mengabulkannya bahkan meski kau memintanya tiga hari lagi. Karena kalau kau memintanya hari ini, itu tidak bisa. Kita harus mengurus surat-surat dan banyak hal.’’

M membiarkan dirinya dipeluk J. Dia tertawa.

‘’Kau itu masih bisa bercanda. Aku akan mengatakan kapan aku siap.’’

 


J semalam benar-benar tidur dengan sangat nyenyak. Sampai-sampai berita pembunuhan itu terlewat olehnya. J bangun dari duduknya.

‘’Kemana, J? Apa kau sudah selesai sarapannya?’’

 J meneruskan langkahnya. Dia masuk ke dalam kamarnya mengambil handohone miliknya. Untung saja semalam setelah dipakai dimatikan. Handphone yang J ambil  dari kamar di-charge. Dia pergi untuk membersihkan diri, handphonenya tetap dimatikan. J tahu pasti akan ada pesan dari bawahannya yang masuk.

 


J kembali lagi ke temoat duduknya semula. M bangun dari duduknya dan memeluk J.

‘’Aku tidur di kamarmu. Aku akan mengabari kalau aku keluar. Lanjutkan yang ingin kamu lakukan!’

’ M memeluk J dan J mendongak memberikan sebuah ciuman di kening M yang sengaja dia turunkan.

 


M masuk ke kamar J, setelahnya tidak ada suara atau kembali ke meja makan. J menyalakan handphonenya. Benar saja, bawahannya mengirim foto hasil kerjanya. Tampak di foto yang bawahannya kirimkan bagaimana keadaan perempuan simpanan yang dibunuh anak buah J. Semuanya ada tujuh foto. Terakhir anak buahnya mengirimkan teks pesan; Tugas selesai, Bos.

 J tidak berlama-lama, dia langsung mentransfer sejumlah uang yang sudah dia janjikan. Dia bahkan memberikan tambahan uang hampir setengah jumlah keseluruhannya.

J mengirimkan pesan; Sudah kutransfer sejumlah uang. Lebihnya ambil sebagi bonus. Menjauhlah ke luar kota, atau berdiam di tempat yang menurutmu aman, Laporkan keberadaanmu, apalagi kalau ada sesuatu yang mempersulit.

 



J segera mendapat jawaban anak buahnya; Oke, siap, Bos!

J tidak merespon pesan yang masuk itu. Dia hanya membacanya. J lalu menghubungi seseorang. Dia mengirim pesan; Tolong backing dan cari tahu keberadaan orang ini. Ini alamatnya. Tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya pastikan dia aman.

 


Orang yang dikirimi pesan oleh J hanya mengiyakan. Orang yang J hubungi langsung mendapat transferan. Orang yang ke dua memang ditugaskan untuk membacking pembunuh yang ditugaskan untuk istirahat setelah tugas. J hampir selalu melakukan itu kepada setiap orang yang diberi tugas, membackingi mereka diam-diam.

J membiarkan M tidur lelap setelah dia akhirnya bersiap ke kantor. J hanya membetulkan selimutnya dan meletakkan sejumlah uang dan sedikit catatan. Hanya beberapa kalimat yang menyuruh M menyimpan uang yang dia letakkan itu dan memakainya untuk apa pun yang dia ingin beli.

 


J pergi dan M terlelap tanpa tahu kapan J berangkat. J menyalakan kamera perekam. Dia tidak ingin ada kejadian buruk menimpa kekasihnya ketika dia tidak sedang berada di roomnya. Tetapi, J tidak merasa bersalah sudah membunuh perempuan lain di lantai lain di apartemen yang sama di mana saat ini M tidur memeluk lelahnya.

 


Komentar