Yang
Terlelap
BLOG
NURLAELI UMAR- J menghadapi secangkir kopi setelah mandi pagi. M tampak senang
meski tetap terlihat lelah. ‘’Kenapa kau menatapku seperti itu, J?’’ tanya M sambil
menarik kursi untuk dirinya.
M duduk
berhadapan dengan J di meja makan. J menatap M dan tertawa.
‘’Istirahatlah di sini, jangan pulang ke rumah
dulu. Kamu bisa memakai laptop yang berwarna merah kalau ingin mengecek coffee
shop, atau semua yang ingin kau butuhkan. Kenapa?’’
‘’Apanya
yang kenapa, J? Aku bertanya kenapa sekarang kau juga ikut bertanya kenapa
juga.’’
M meraih
susu segar yang sudah diatuang di gelas untuknya. Dia tidak menemukan jus
instan, di lemari pendingin J hanya ada susu dan minuman bersoda saja.
Selebihnya kopi bubuk yang disimpan dalam toples. Jadi, M memilih susu untuk
menemani J sarapan pagi.
‘’Maksudku kenapa pulang secepat ini? Ada sesuatu yang buruk?’’ J menatap ke dalam bola mata M. Tapi, dia tidak menemukan mendung di mata M seperti yang dikhawatirkannya. J sedikit lega.
M mnyesap
susu dari gelasnya. Dia masih memegang gelasnya, ketika menjawab pertanyaan J.
‘’Pertama
urusanku sudah selesai. Ke dua aku kangen denganmu, J. Yang ke tiga kau dengar
ada pembunuhan di apartemen ini, bukan? Jangan bilang kau tidak mengikuti
berita seperti biasanya.’’
J menatap M
dengan tatapan sama seperti biasanya, tidak tahu berita penting yang sedang
ramai menjadi pemberitahuan di semua channel televisi.
“Aku benar
tidak tahu apa-apa. Aku tidur begitu selesai mandi. Aku menemani R sampai jam
tujuh. Keadaan jalanan macet. Aku sampai pukul sembilan. Aku mandi, dan
kemudian tidur. Dan, aku terbangun karenamu.’’
M tertawa dengan
jawaban J.
‘’Aku tadi
masuk ke sini sedikit ada kendala, harus mengeluarkan kartu pengenal dan
memastikan kalau aku tahu aku akan menuju room siapa. Ada sedikit pertanyaan,
tapi kurasa wajar. Dua pembunuhan dalam waktu dekat, itu sangat mengkhawatirkan,
bukan? Apa kau tahu, J, dua pembunuhan yang terjadi di apartemen ini, polanya
sama? Tidak ada yang tahu, tidak ada yang dicurigai, tidak ada yang
mencurigakan, dan tujuh tembakan. Anehnya kedua pembunuh di dua kasus di
apartemen ini tidak mencuri sesen pun, semua tetap rapi, tidak ada pelecehan,
tidak ada perlawanan, dan tidak ada kesempatan korban bahkan untuk melawan.
Tujuh tembakan di titik yang sama. Menurutmu apa itu dilakukan oleh pembunuh
yang sama atau dibikin seolah sama?’’
M tampak seperti seseorang yang takut
sekaligus penasaran.
J menyeruput
kopi dan menikmati sandwich yang dibikin oleh M.
“Kurasa kaiu lebih tahu dari pada aku,’’ jawab
J.
Dahi M
berkerut tidak mengerti.
‘’Aku tidak
paham maksudmu, J. Aku bertanya karena aku tidak tahu.’’
J
mengangguk.
‘’Kau lebih
tahu berita itu, lalu kau bertanya padaku tentang berita itu. Bukankah itu
lucu. Kau tahu, tapi aku yang ditanya. Seharusnya aku yang bertanya, bukan?
Kurasa kau harus makan sandwich ini, ini enak sekali. Buatan tanganmu selalu
pas dilidahku. Kurasa ini bisa dijadikan bisnis.’’
M tersenyum,
dia mengangguk-angguk.
‘’Kau itu selalu berlebihan memujiku. Apakau
juga memuji orang lain seperti ini?’’ tanya M yang bangun dari duduknya dan
sekarang duduk di samping J.
‘’Tidak!
Tentu saja, berbeda. Kau itu milikku, orang lain bukan milikku. Dari satu hal
itu saja berbeda, berarti yang lainnya berbeda.’’
J memberikan
sandwich itu ke mulut M. M menggigitnya.
‘’Ini enak,’’ kata M setelah mengunyah,
kemudian menelannya. ‘’Kurasa kita perlu membuat restoran sandwich, khusus
sandwich saja. Maksudku sandwich dan jus misalnya. Konsepnya berbeda denga
coffee shop kita.’’
‘’Boleh.
Minggu depan kita buka. Kau mau lokasi di daerah mana?’’ tanya J sambil
menghabiskan sandwich yang ada di tangannya.
‘’J?’’’ tanya M merasa heran.
Dengan
mudahnya J mengiyakan seolah dia membeli sandwich. Ini bukanmembeli
sandwichnya, tetapi membuka restoran, pikir M.
‘’Iya, aku
serius,’’ jawab J.
‘’Kembali ke
pembunuhan yang terjadi di apartemen ini. Apa kau tidak takut?’’ tanya M
menatao J.
‘’Kalau aku
takut aku akan mengajakmu tidur di sini, simple bukan? Atau aku akan tidur
denganmu di rumah.’’
J menuang
air putih ke dalam gelasnya.
‘’Seperti
kali ini. Kamu membuatkanku kopi, tetapi aku tetap menuang air putih. Kalau kau
berpikir aku tidak suka dibikinkan kopi berarti kamu tidak tahu kebiasaan dan
jalan pikiranku. Sama seperti hari ini, kamu tahu apartemen ini sedang dalam
kasus yang mengerikan dan waktunya berdekatan, kamu datang. Bagiku kamu datang
itu ibarat kopi dan aku bisa pulang ke rumah kapan saja atau tetap tingga di
sini seperti air putih. Keduanya menguntungkan dan kubutuhkan.’’
M mengangguk.
‘’Tapi, aku
sangat khawatir. Apa itu salah?’’ tanya M sambil berharap J memberikan jawaban
yang membuat dirinya lega.
‘’Tentu saja, tidak.’’
J merengkuh M,
dia memeluk M erat-erat.
‘’Aku
berempati dengan mereka yang menjadi korban, di sini lain aku senang karena aku
bisa memelukmu lebih banyak dan lebih lama. Kau itu segalanya bagiku, M. Katakan
padaku kapan kau ingin kita menikah, aku akan mengabulkannya bahkan meski kau
memintanya tiga hari lagi. Karena kalau kau memintanya hari ini, itu tidak
bisa. Kita harus mengurus surat-surat dan banyak hal.’’
M membiarkan
dirinya dipeluk J. Dia tertawa.
‘’Kau itu
masih bisa bercanda. Aku akan mengatakan kapan aku siap.’’
J semalam
benar-benar tidur dengan sangat nyenyak. Sampai-sampai berita pembunuhan itu
terlewat olehnya. J bangun dari duduknya.
‘’Kemana, J?
Apa kau sudah selesai sarapannya?’’
J
meneruskan langkahnya. Dia masuk ke dalam kamarnya mengambil handohone
miliknya. Untung saja semalam setelah dipakai dimatikan. Handphone yang J ambil
dari kamar di-charge. Dia pergi untuk
membersihkan diri, handphonenya tetap dimatikan. J tahu pasti akan ada pesan
dari bawahannya yang masuk.
J kembali
lagi ke temoat duduknya semula. M bangun dari duduknya dan memeluk J.
‘’Aku tidur
di kamarmu. Aku akan mengabari kalau aku keluar. Lanjutkan yang ingin kamu
lakukan!’
’ M memeluk J
dan J mendongak memberikan sebuah ciuman di kening M yang sengaja dia turunkan.
M masuk ke
kamar J, setelahnya tidak ada suara atau kembali ke meja makan. J menyalakan
handphonenya. Benar saja, bawahannya mengirim foto hasil kerjanya. Tampak di
foto yang bawahannya kirimkan bagaimana keadaan perempuan simpanan yang dibunuh
anak buah J. Semuanya ada tujuh foto. Terakhir anak buahnya mengirimkan teks
pesan; Tugas selesai, Bos.
J tidak
berlama-lama, dia langsung mentransfer sejumlah uang yang sudah dia janjikan.
Dia bahkan memberikan tambahan uang hampir setengah jumlah keseluruhannya.
J
mengirimkan pesan; Sudah kutransfer sejumlah uang. Lebihnya ambil sebagi bonus.
Menjauhlah ke luar kota, atau berdiam di tempat yang menurutmu aman, Laporkan
keberadaanmu, apalagi kalau ada sesuatu yang mempersulit.
J segera
mendapat jawaban anak buahnya; Oke, siap, Bos!
J tidak
merespon pesan yang masuk itu. Dia hanya membacanya. J lalu menghubungi
seseorang. Dia mengirim pesan; Tolong backing dan cari tahu keberadaan orang
ini. Ini alamatnya. Tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya pastikan dia aman.
Orang yang dikirimi pesan oleh J hanya mengiyakan. Orang yang J hubungi langsung mendapat transferan. Orang yang ke dua memang ditugaskan untuk membacking pembunuh yang ditugaskan untuk istirahat setelah tugas. J hampir selalu melakukan itu kepada setiap orang yang diberi tugas, membackingi mereka diam-diam.
J membiarkan
M tidur lelap setelah dia akhirnya bersiap ke kantor. J hanya membetulkan selimutnya
dan meletakkan sejumlah uang dan sedikit catatan. Hanya beberapa kalimat yang
menyuruh M menyimpan uang yang dia letakkan itu dan memakainya untuk apa pun
yang dia ingin beli.
J pergi dan M
terlelap tanpa tahu kapan J berangkat. J menyalakan kamera perekam. Dia tidak
ingin ada kejadian buruk menimpa kekasihnya ketika dia tidak sedang berada di
roomnya. Tetapi, J tidak merasa bersalah sudah membunuh perempuan lain di
lantai lain di apartemen yang sama di mana saat ini M tidur memeluk lelahnya.

Komentar
Posting Komentar