Sahabat yang Pergi
BLOG NURLAELI UMAR- S datang ke ruangan J di jam
istirahat. Dia datang bersama Ol. J bersikap biasa saja. Mereka bertiga bicara
terutama tentang kecemasan Ol dan S perihal pembunuhan di apartemen J.
‘’Apa kau tidak
ingin pindah ke gedung ini saja, J?’’ tanya Ol mengusulkan.
S tertawa, ‘’Kurasa tidak perlu harus ke gedung ini.’’
Ol menatap S
dari duduknya, ‘’Kenapa? Apa tinggal di sini mahal? Bukankah apartemen J juga
kelewat mahal. Kurasa tidak jauh berbeda harga beli atau sewanya kalau malas
membeli.’’
S tertawa lagi. ‘’Kurasa sudah sold out kalau untuk
kepemilikan pribadi, pilihan lain adalah menyewa.’’
Ol masih belum paham ke mana arah S bicara.
‘’Uang J cukup
banyak. Jual saja apartemen di sana, atau tanpa menjualnya juga bisa. Kurasa J
bisa kalau hanya untuk menyewa. Kau lihat mobil J dan coffe shopnya, bukan? Itu
bukan coffe shop seperti biasanya, tapi super mewah.’’
‘’Yang kupikirkan bukan itu.”
S berusaha memberitahu
apa yang dia maksudkan, “Yang kuhawatirkan juga bukan perihal uang atau mampu
tidaknya J untuk menyewa dan sebagainya. Tapi, kamu.’’
S mengangguk untuk menambahkan bahwa yang dikatakannya
serius.
Ol masih belum paham ke mana arah yang S maksud juga
ternyata.
‘’Apa
hubungannya denganku?’’
S menatap ke arah J. Dia tertawa. J menggelengkan
kepala.
‘’Dia temanmu, S.
Jangan berkelakar berlebihan.’’
‘’Baiklah, ternyata hari ini kamu yang biasanya
langusung paham mendadak loading lama. Maksudku begini, kalau J tinggal di
asalah satu room apartemen di gedung ini, kurasa sehabis ke roomnya bosmu, kau
juga tidak akan melewatan ke roomnya J.’’
“Apa?’’ tanya S baru menyadari apa yang dimaksudkan
oleh Ol, ‘’Aku tidak akan ….”
S tertawa. Kali ini dia memutar matanya kea rah J,
‘’Kau percaya aku aatu dia, J?’’ tanya S sambil tersenyum.
‘’Kalian itu sebenarnya sedang tidak punya pekerjaan
atau apa?’’ tanya J sambil meneguk kopinya yang sudah dingin. ‘’Dengarkan oleh
kalian berdua. Aku tidak ada rencana pindah ke gedung ini, meski pembunuhan itu
terjadi di room sebelahku. Andai aku pindah dan tidak ada peristiwa pembunuhan
yang sedang ramai di perbincangkan, aku juga tidak akan pindah ke gedung ini.
Aku tidak tertarik. Itu alasannya. Kuharap kau tidak meledek Ol seperti tadi. Kalau
terdengar bos, akan semakin kacau jadinya.’’
S sekarang tertawa. Dia tetap tidak mengiyakan
permintaan J. Dia tahu benar Ol itu bagaimana. Dan, sebenarnya S senang karena J
tidak ada niatan pindah ke gedung ini.
‘’Apa kau yakin
kau akan baik-baik saja dan aman, J?’’ tanya S ingin tahu lebih tentang sikap J
dengan dua pembunuhan yang terjadi di apartemen tempatnya tinggal.
‘’Pertama korbannya perempuan. Ke dua, tidak ada.
Kurasa dua perempuan itu punya masalah pribadi yang rumit.’’
J mencoba menggiring opini seperti yang diulas oleh pakar
kriminologi di televisi. Kedua perempuan yang dibunuh memang mempunyai sesuatu
yang memungkinkan menjadikan alasan seseorang untuk membunuhnya. Keduanya
ternyata mempunyai hubungan asmara dan uang yang rumit.
‘’Tujuh tembakan di tempat yang sama, adakah pelakunya
sama menurutmu, J?’’ tanya Ol.
Ol sedikit khawatir,
mungkin dia khawatir dengan alasan yang J katakan kalau dua perempuan yang mati
itu mempunyai alasan yang bisa juga membuat dirinya mati dengan cara yang sama.
‘’Aku bukan ahli kriminologi, jadi aku tidak ingin
mengulas tentang itu. Kalian bisa mendapatkannya dari televisi atau media
online lain tentang ulasan mendetail tentang itu semua. Aku hanya menganalisa
keuangan perusahaan kekasih dari salah satu korban. Itu juga aku hanya
melakukan pekerjaannya saja, aku tidak tahu pemilik perusahaannya secara
ptibadi. Aku hanya mengerjakan tugas yang R beri. Seharusnya kalau kalian ingin
mendikusikan ini semua cocoknya dengan R.’’
‘’Kau benar J. Tapi kami berdua mengkhawatikanmu.’’
Ol mengatakan itu dan S menyetujuinya dengan
mengangguk. J mengucapkan terima kasih. Sepertinya kedua perempuan yang
berempati kepada J akhirnya harus keluar dari ruangan J. Mereka berdua keluar
setelah Ol mengatakan kalau R memanggil S.
J bekerja seperti biasa. Dia sibuk dengan
pekerjaannya, sesekali tampak dia menelpon dan berbicara dengan seseorang di telepon,
selebihnya dia sibuk mengetik dan menatap laptop di depannya. J pulang lebih
lambat setengah jam dari jam pulang kantor. Itu karena dia dipanggil R ke
ruangannya dan mendengarkan kekasih perempuan simpanan yang dibunuh atas
perintah J mengeluh di telepon yang dikeraskan volumenya oleh R.
J tidak memberikan komentar apa-apa ketika mendengar
suara kekasih perempuan yang kekasihnya dibunuh atas perintahnya. J hanya
mendengarkan dan mengangguk saja, kemudia pamit pulang kepada Ron dengan alasan
ada acara dengan seseorang. R tidak menanyakan siapa orang yang akan J temui,
karena J juga tidak pernah ingin tahu dengan siapa saja dirinya bertemu.
Sebuah telepon masuk begitu J masuk ke dalam mobilnya
untuk pulang. Kunci yang sedianya akan dimasukkan ke lubangnya, tidak jadi
dimasukkan J.
J mengangakat telepon itu. ‘’Halo, selamat malam!’’
Seseorang di balik telepon sepertinya mengabarkan
sesuatu dan meminta J melakukan sesuatu. Tampak J mengatakan iya berkali-kali.
J memasukkan kunci mobil ke lubangnya, menyalakan mesin
dan kemudian membawa Br keluar dari parkiran. Ada sesuatu yang sepertinya
darurat. Wajah J masih tampak santai, tetapi jika diperhatikan J sedikit ada di
perasaan tidak baik-baik saja. J keluar membawa Br ke jalan raya dan hilang
bersama mobil-mobil lain.
Benar saja, J mengambi arah berbeda dari arah ke
apartemen maupun ke rumahnya. Dia tampak menuju ke pinggiran kota. Dia
menghentikan Br di depan sebuah mini market. J turun dan tamapak menekan
keyworthnya. Sebentar kemudian, ‘’Halo, aku sudah sampai. Dimana?’’
J melihat ke atas ke lantai atas dari mini market itu.
Tampak seseorang berdiri dan mengangguk ke arahnya. J menyudahi teleponnya dan
berjalan ke arah orang itu. J naik lewat tangga yang langsung ke lantai atas
dari mini market itu.
‘’Kau langsung ke mari dari kantor?’’ tanya laki-laki
itu setelah keduanya berjabat tanga dan berpelukan.
J mengatakn ‘iya’
dan mengangguk.
‘’’Duduklah!’’
Orang yang mengundang J untuk bertemu itu adalah X, lelaki
penjual senjata. J pun duduk. Lalu, penjual senjata itu melambaikan tangan
kepada pramusaji. Setelah pramusaji itu mendekat lelaki penjual senjata
menyuruh J memesan apa yang ingin J makan. J hanya meminta minuman bersoda
dengan tambahan syrup saja. Pramusaji itu mengangguk dan pergi setelahnya.
‘’Lelaki pemilik kedai kopi dekat sini mati sejam yang
lalu, ditembak orang. Anaknya mengabariku dan mengatakan agar aku tidak
mendekat, karena polisi sudah datang dan memeriksa tempat kejadian perkara.’’
J sedikit syok mendengar lelaki penjual senjata
mengatakan itu. Meski tenang, tapi suara lelaki penjual senjata itu terdengar
bergetar.
‘’Dia itu teman semasa kecilku yang sangat baik. Dia
dulu yang memberiku uang ketika aku miskin, dan setelah aku kaya dia hanya
meminta beberapa rupiah untuk membuka kedai kopi setelah dia yang jatuh
miskin.’’
‘’Dia dibunuh? Oleh siapa?’’ tanya J sambil menatap
lelaki penjual senjata yang sekarang tampak menunduk sedih.
‘’Siapa lagi kalau bukan orang suruhan perempuan itu.
Perempuan yang kusuruh kau membunuhnya. Perempuan yang cintanya kutolak. Dan,
perempuan yang sama yang ingin istriku bunuh. Perempuan kacau yang mendendam
sampai hari ini, hanya karena masalah sepele.’’



Komentar
Posting Komentar