Baba 11. Monster Pembunuh

 


Sahabat yang Pergi

BLOG NURLAELI UMAR- S datang ke ruangan J di jam istirahat. Dia datang bersama Ol. J bersikap biasa saja. Mereka bertiga bicara terutama tentang kecemasan Ol dan S perihal pembunuhan di apartemen J.

 ‘’Apa kau tidak ingin pindah ke gedung ini saja, J?’’ tanya Ol mengusulkan.

S tertawa, ‘’Kurasa tidak perlu harus ke gedung ini.’’

 Ol menatap S dari duduknya, ‘’Kenapa? Apa tinggal di sini mahal? Bukankah apartemen J juga kelewat mahal. Kurasa tidak jauh berbeda harga beli atau sewanya kalau malas membeli.’’

S tertawa lagi. ‘’Kurasa sudah sold out kalau untuk kepemilikan pribadi, pilihan lain adalah menyewa.’’

Ol masih belum paham ke mana arah S bicara.

 ‘’Uang J cukup banyak. Jual saja apartemen di sana, atau tanpa menjualnya juga bisa. Kurasa J bisa kalau hanya untuk menyewa. Kau lihat mobil J dan coffe shopnya, bukan? Itu bukan coffe shop seperti biasanya, tapi super mewah.’’

‘’Yang kupikirkan bukan itu.”

 S berusaha memberitahu apa yang dia maksudkan, “Yang kuhawatirkan juga bukan perihal uang atau mampu tidaknya J untuk menyewa dan sebagainya. Tapi, kamu.’’

S mengangguk untuk menambahkan bahwa yang dikatakannya serius.

Ol masih belum paham ke mana arah yang S maksud juga ternyata.

 ‘’Apa hubungannya denganku?’’

S menatap ke arah J. Dia tertawa. J menggelengkan kepala.

 ‘’Dia temanmu, S. Jangan berkelakar berlebihan.’’

‘’Baiklah, ternyata hari ini kamu yang biasanya langusung paham mendadak loading lama. Maksudku begini, kalau J tinggal di asalah satu room apartemen di gedung ini, kurasa sehabis ke roomnya bosmu, kau juga tidak akan melewatan ke roomnya J.’’

“Apa?’’ tanya S baru menyadari apa yang dimaksudkan oleh Ol, ‘’Aku tidak akan ….”

S tertawa. Kali ini dia memutar matanya kea rah J, ‘’Kau percaya aku aatu dia, J?’’ tanya S sambil tersenyum.

‘’Kalian itu sebenarnya sedang tidak punya pekerjaan atau apa?’’ tanya J sambil meneguk kopinya yang sudah dingin. ‘’Dengarkan oleh kalian berdua. Aku tidak ada rencana pindah ke gedung ini, meski pembunuhan itu terjadi di room sebelahku. Andai aku pindah dan tidak ada peristiwa pembunuhan yang sedang ramai di perbincangkan, aku juga tidak akan pindah ke gedung ini. Aku tidak tertarik. Itu alasannya. Kuharap kau tidak meledek Ol seperti tadi. Kalau terdengar bos, akan semakin kacau jadinya.’’

S sekarang tertawa. Dia tetap tidak mengiyakan permintaan J. Dia tahu benar Ol itu bagaimana. Dan, sebenarnya S senang karena J tidak ada niatan pindah ke gedung ini.

 ‘’Apa kau yakin kau akan baik-baik saja dan aman, J?’’ tanya S ingin tahu lebih tentang sikap J dengan dua pembunuhan yang terjadi di apartemen tempatnya tinggal.

‘’Pertama korbannya perempuan. Ke dua, tidak ada. Kurasa dua perempuan itu punya masalah pribadi yang rumit.’’

J mencoba menggiring opini seperti yang diulas oleh pakar kriminologi di televisi. Kedua perempuan yang dibunuh memang mempunyai sesuatu yang memungkinkan menjadikan alasan seseorang untuk membunuhnya. Keduanya ternyata mempunyai hubungan asmara dan uang yang rumit.

‘’Tujuh tembakan di tempat yang sama, adakah pelakunya sama menurutmu, J?’’ tanya Ol.

 Ol sedikit khawatir, mungkin dia khawatir dengan alasan yang J katakan kalau dua perempuan yang mati itu mempunyai alasan yang bisa juga membuat dirinya mati dengan cara yang sama.

‘’Aku bukan ahli kriminologi, jadi aku tidak ingin mengulas tentang itu. Kalian bisa mendapatkannya dari televisi atau media online lain tentang ulasan mendetail tentang itu semua. Aku hanya menganalisa keuangan perusahaan kekasih dari salah satu korban. Itu juga aku hanya melakukan pekerjaannya saja, aku tidak tahu pemilik perusahaannya secara ptibadi. Aku hanya mengerjakan tugas yang R beri. Seharusnya kalau kalian ingin mendikusikan ini semua cocoknya dengan R.’’

‘’Kau benar J. Tapi kami berdua mengkhawatikanmu.’’

Ol mengatakan itu dan S menyetujuinya dengan mengangguk. J mengucapkan terima kasih. Sepertinya kedua perempuan yang berempati kepada J akhirnya harus keluar dari ruangan J. Mereka berdua keluar setelah Ol mengatakan kalau R memanggil S.

J bekerja seperti biasa. Dia sibuk dengan pekerjaannya, sesekali tampak dia menelpon dan berbicara dengan seseorang di telepon, selebihnya dia sibuk mengetik dan menatap laptop di depannya. J pulang lebih lambat setengah jam dari jam pulang kantor. Itu karena dia dipanggil R ke ruangannya dan mendengarkan kekasih perempuan simpanan yang dibunuh atas perintah J mengeluh di telepon yang dikeraskan volumenya oleh R.

J tidak memberikan komentar apa-apa ketika mendengar suara kekasih perempuan yang kekasihnya dibunuh atas perintahnya. J hanya mendengarkan dan mengangguk saja, kemudia pamit pulang kepada Ron dengan alasan ada acara dengan seseorang. R tidak menanyakan siapa orang yang akan J temui, karena J juga tidak pernah ingin tahu dengan siapa saja dirinya bertemu.

Sebuah telepon masuk begitu J masuk ke dalam mobilnya untuk pulang. Kunci yang sedianya akan dimasukkan ke lubangnya, tidak jadi dimasukkan J.

J mengangakat telepon itu. ‘’Halo, selamat malam!’’

Seseorang di balik telepon sepertinya mengabarkan sesuatu dan meminta J melakukan sesuatu. Tampak J mengatakan iya berkali-kali.

J memasukkan kunci mobil ke lubangnya, menyalakan mesin dan kemudian membawa Br keluar dari parkiran. Ada sesuatu yang sepertinya darurat. Wajah J masih tampak santai, tetapi jika diperhatikan J sedikit ada di perasaan tidak baik-baik saja. J keluar membawa Br ke jalan raya dan hilang bersama mobil-mobil lain.

Benar saja, J mengambi arah berbeda dari arah ke apartemen maupun ke rumahnya. Dia tampak menuju ke pinggiran kota. Dia menghentikan Br di depan sebuah mini market. J turun dan tamapak menekan keyworthnya. Sebentar kemudian, ‘’Halo, aku sudah sampai. Dimana?’’

J melihat ke atas ke lantai atas dari mini market itu. Tampak seseorang berdiri dan mengangguk ke arahnya. J menyudahi teleponnya dan berjalan ke arah orang itu. J naik lewat tangga yang langsung ke lantai atas dari mini market itu.

‘’Kau langsung ke mari dari kantor?’’ tanya laki-laki itu setelah keduanya berjabat tanga dan berpelukan.

 J mengatakn ‘iya’ dan mengangguk.

‘’’Duduklah!’’

Orang yang mengundang J untuk bertemu itu adalah X, lelaki penjual senjata. J pun duduk. Lalu, penjual senjata itu melambaikan tangan kepada pramusaji. Setelah pramusaji itu mendekat lelaki penjual senjata menyuruh J memesan apa yang ingin J makan. J hanya meminta minuman bersoda dengan tambahan syrup saja. Pramusaji itu mengangguk dan pergi setelahnya.

‘’Lelaki pemilik kedai kopi dekat sini mati sejam yang lalu, ditembak orang. Anaknya mengabariku dan mengatakan agar aku tidak mendekat, karena polisi sudah datang dan memeriksa tempat kejadian perkara.’’

J sedikit syok mendengar lelaki penjual senjata mengatakan itu. Meski tenang, tapi suara lelaki penjual senjata itu terdengar bergetar.

‘’Dia itu teman semasa kecilku yang sangat baik. Dia dulu yang memberiku uang ketika aku miskin, dan setelah aku kaya dia hanya meminta beberapa rupiah untuk membuka kedai kopi setelah dia yang jatuh miskin.’’

‘’Dia dibunuh? Oleh siapa?’’ tanya J sambil menatap lelaki penjual senjata yang sekarang tampak menunduk sedih.

‘’Siapa lagi kalau bukan orang suruhan perempuan itu. Perempuan yang kusuruh kau membunuhnya. Perempuan yang cintanya kutolak. Dan, perempuan yang sama yang ingin istriku bunuh. Perempuan kacau yang mendendam sampai hari ini, hanya karena masalah sepele.’’

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar